Erina terlihat sedikit melamun di taman belakang rumah, foto yang dikirimkan oleh seseorang yang tidak ia kenal telah mengganggunya, Erina yang ingin menanyakan pada Billy pun mengurungkan niatnya, karena ia merasa tidak memiliki hak untuk itu, namun ia sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi di antara Billy dengan mantannya Lisa
"Hey! Kau sudah makan?"
Billy yang tiba tiba datang mengejutkan Erina, membuat Erina tergagap menjawab pertanyaan Billy.
"A- ah? Apa?"
Billy pun mengernyitkan dahinya dan duduk disamping Erina, menatap heran ke arah nya
"Huh, Kau sedang memikirkan pemuda yang bersamamu tadi?" Tanya sinis Billy.
"A-apa?"
"Apa kau menyukai pemuda itu?"
Erina langsung berdiri dari duduk nya, dengan raut wajah kesal Erina pun berkata
"Iya! Aku memang menyukai nya, Lalu kenapa?"
Billy sedikit Kaget mendengar nada bicara Erina yang sedikit meninggi terhadap nya.
"Kau itu sebenarnya kenapa?"
"Tanyakan saja pada diri Tuan sendiri!"
Erina pun melangkah pergi dengan marah, sedangkan Billy terlihat kebingungan dengan sikap Erina yang uring uringan.
****
Keesokan harinya,
Arvin terlihat sedang membaca buku di meja nya, dan Erina yang baru saja tiba di kelas menyapa ramah Arvin yang tengah serius membaca buku.
"Selamat pagi!" Sapa Erina diiringi dengan senyuman manis nya.
Namun sapaan hangat Erina tidak mendapat sambutan baik dari Arvin.
Arvin hanya menoleh dan kemudian kembali memalingkan pandangannya ke arah buku yang sedari tadi ia baca.
Erina pun merasa aneh dengan sikap Arvin, ia kemudian duduk disamping Arvin dengan wajah sendu Erina pun bertanya
"Apa aku melakukan kesalahan?"
Tanpa menjawab pertanyaan Erina, Arvin hanya melangkah pergi meninggalkan Erina.
Selama seharian Arvin mengabaikan Erina, membuat Erina merasa tidak enak dan bertanya Tanya kesalahan apa yang telah ia buat sehingga Arvin bersikap dingin terhadap nya.
Saat Arvin mendapat giliran untuk merapikan alat praktek laboratorium, Erina pun menghampiri Arvin dan mencoba kembali untuk mengajaknya bicara
"Vin?"
Mendengar suara Erina yang memanggil nya, Arvin pun terhenti merapikan alat alat tersebut dan mencoba melangkah pergi, namun Erina menahan tangannya
"Tunggu!"
Arvin pun terdiam tanpa berbalik ke arah Erina
"Jika aku melakukan kesalahan, tolong beritahu, jangan mendiamkan aku!"
Arvin tetap terdiam..
"Jika memang kau tidak mau berteman lagi dengan ku, tidak apa apa."
Erina pun melepas pegangan tangannya dan melangkah melewati Arvin, namun belum sampai di muka pintu Arvin pun angkat suara
"Tunggu!"
Langkah Erina pun terhenti mendengar Arvin memanggil nya.
Arvin melangkah mendekat ke arah Erina,
"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu,"
Erina pun berbalik dan menatap lekat Arvin
"Apa?"
Arvin terlihat salah tingkah dan merasa gugup saat ingin menanyakan sesuatu pada Erina.
"Emm, Apa boleh aku tau? S-siapa pria itu?"
Erina nampak berpikir sejenak mencerna perkataan yang dimaksud Arvin, hingga ia pun tersadar jika yang dimaksud Arvin adalah Billy.
Erina mencoba mencari jawaban yang tepat untuk Arvin,
"Emm, D-dia p-pamanku, Iya!"
Arvin pun mengukir senyuman di bibirnya saat mendengar jawaban dari Erina,
"Begitu ya? Maaf karena aku pikir dia.."
Ucapan Arvin pun terpotong.
"Iya, banyak yang berpikir seperti itu ha ha ha," Ucap Erina gugup
Tiba tiba tawa Erina terhenti..
"Apa kau cemburu?"
Terlihat wajah Arvin yang memerah menahan malu dan sedikit salah tingkah.
Erina pun terkekeh melihat reaksi Arvin
"Aku hanya bercanda ha ha ha!"
Arvin pun tersenyum dan kembali bersikap seperti biasa pada Erina.
****
Arvin mengantarkan Erina pulang, mereka terlihat lebih dekat dari sebelumnya, Saat di depan gerbang rumah, Arvin tiba tiba menggandeng tangan Erina dengan senyuman hangat ia pun berkata
"Aku akan mengantarkanmu sampai ke dalam rumah,"
Erina pun langsung merasa salah tingkah, ia takut jika Billy atau yang lain melihat nya bersama Arvin. Erina melihat ke sekeliling untuk memastikan jika tidak ada yang melihat mereka.
"Emm, sepertinya sampai disini saja! Kau tau kan bagaimana Paman ku kemarin? Dia itu sangat galak sekali seperti seekor harimau yang siap menerkam siapa saja! Roaarrrr!!"
Arvin pun tersenyum melihat tingkah Erina,
"Baiklah, Lain kali izinkan aku untuk berkunjung ke rumahmu,"
Erina pun mengangguk diiringi dengan senyuman, Kemudian Arvin berpamitan.
****
Erina yang sedang merebahkan dirinya di atas tempat tidur, mengerjap terkejut dengan kehadiran Billy yang tiba tiba sudah berada di muka pintu, Erina pun langsung terduduk di tempat tidurnya menatap ke arah Billy.
"Siapa yang kau maksud seperti harimau itu?"
"Oh, Emm, I-itu.. Itu temanku, iya temanku he he,"
Billy pun menghampiri Erina dan menatap tajam,
"Aku akan selalu mengawasimu bocah!"
Erina pun hanya bisa menelan salivanya kasar saat mendengar ucapan dari Billy tersebut.
Setelah kepergian Billy, Erina menepuk dahinya
"Mati aku! Dia mendengar semuanya!" Gumam Erina.
****
Beberapa minggu berlalu,
Erina mengikuti pembelajaran di sekolah nya dengan tenang, hubungan Erina dan Arvin semakin dekat, Arvin semakin sering mengantar Erina pulang, beberapa kali Billy memperingatkan Erina untuk tidak terlalu dekat dengan Arvin karena itu akan membahayakan perjanjian mereka, namun Erina tidak menanggapinya.
"Erina! Aku sudah mengatakannya beberapa kali padamu, jangan terlalu dekat dengan Arvin!"
Teriak Billy sambil melangkah mengikuti langkah Erina.
"Kenapa selalu melarangku? Tuan sendiri bersama nona Lisa, aku tidak pernah melarangnya!"
Billy menarik lengan Erina kasar
"Apa maksudmu?"
Erina pun menunjukkan foto di ponselnya, terlihat Billy yang sedang bersama dengan Lisa, di foto itu terlihat Lisa yang memeluk lengan Billy dengan sangat mesra, Billy meraih ponsel Erina dan terlihat wajah marah Billy.
"Apa kau memata mataiku?"
"Apa Tuan pikir aku tidak memiliki pekerjaan yang lain selain mengikuti seseorang yang berkencan? Ada seseorang yang mengirimnya padaku!"
Erina memutar bola matanya dan mengambil kembali ponselnya, Erina pun melangkah pergi meninggalkan Billy yang berdiri mematung.