Pertemuan kembali

1238 Kata
Erina berangkat diantar oleh Billy menuju ke sekolah nya, Erina terlihat sangat bersemangat ia tidak sabar untuk bertemu dengan kawan kawan lamanya, Billy memperhatikan Erina yang sedari tadi tersenyum ceria. Billy pun dengan jahilnya ia menempelkan telapak tangannya di kening Erina seolah sedang memeriksa suhu tubuh Erina "Kau tidak apa apa? Sepertinya ada sesuatu yang merasukimu!" Erina pun menepis kasar tangan Billy, dengan wajah kesal Erina pun berkata "Apa maksud kata kata mu? Aku sedang berbahagia kau bilang aku kerasukan? Dasar tidak jelas!" Billy pun tersenyum, ia merasa tenang melihat Erina sudah tidak se kaku dulu lagi setiap kali bersamanya. **** Setibanya di sekolah, Erina pun langsung turun dan masuk ke dalam gedung sekolah, Erina sedikit berlari menuju ke kelasnya hingga ia tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang yang juga terburu buru menuju ke kelasnya, "Bugh" Erina pun jatuh tersungkur ke lantai, orang itu pun menolong Erina dan meminta maaf karena tidak sengaja menabraknya, namun setelah memperhatikan Erina dengan seksama, orang itu pun baru menyadari jika seseorang yang ia tabrak adalah Erina, matanya membulat sempurna karena merasa terkejut "Erina?" Panggilnya Erina pun mendongakkan kepalanya menatap ke arah orang tersebut, setelah terdiam sejenak Erina baru menyadari siapa orang yang telah menabraknya secara tidak sengaja itu "Arvin?" Arvin terlihat begitu bahagia saat melihat Erina dalam keadaan baik baik saja, ia sempat khawatir karena kesimpangsiuran berita tentang Erina yang ia dengar, tanpa sadar Arvin langsung memeluk Erina erat, dengan mata berkaca kaca, ia terlihat sangat merindukan Erina, sedangkan Erina hanya terdiam mematung. Di lain sisi, Tanpa sengaja Billy melihat Erina bersama dengan Arvin saat Billy akan pergi, untuk sesaat Billy menghentikan mobil nya dan menatap Erina dari kaca spion mobil nya, namun Billy memutuskan untuk tetap pergi. Sepanjang perjalanan menuju ke kantor, Billy terus memikirkan tentang kejadian tadi, hingga Billy hampir saja menabrak kendaraan yang berada di hadapannya, ia pun mengerem mendadak. "Ckkiiit." Billy mengusap wajahnya kasar, dan mulai melanjutkan perjalanan nya menuju kantor. Sementara itu, Erina kembali mengikuti pembelajaran di kelas, ia duduk disamping Arvin karena tempat duduknya yang dulu telah diisi oleh murid yang lain, Erina pun disambut hangat oleh teman temannya. **** Billy yang sedang melakukan meeting bersama beberapa rekan bisnisnya termasuk Ryan, terlihat tidak terlalu berkonsentrasi, bayangan tentang Erina dan pemuda itu terus saja menghantui pikirannya, Ryan yang menyadari Billy melamun pun mencoba untuk bertanya "Kau kenapa?" Billy pun berpaling ke arah Ryan "Hmm?" "Kau kenapa melamun terus sejak tadi? Billy pun menarik nafas panjang "Entahlah, Tapi aku baik baik saja!" "Benarkah? Kau sedang tidak memikirkan Erina, Kan? Billy pun terlihat gugup mendengar pertanyaan dari Ryan. "T-tentu saja tidak! Untuk apa aku memikirkan bocah ingusan itu? Kau ini, benar benar tidak masuk akal!" Ryan pun terdiam seolah sudah memahami maksud Billy. **** Jam istirahat pun tiba, Arvin mengajak Erina untuk makan bersama di kantin, dan Erina pun menyetujui nya. "Bagaimana kabarmu? Kamu kemana saja selama beberapa bulan ini? Apa kakak kakakmu masih selalu menyiksamu? Kau tinggal dimana sekarang?" Erina pun hanya tersenyum manis saat ia dicecar oleh pertanyaan pertanyaan dari Arvin. Arvin merasa aneh dengan reaksi Erina "Kenapa hanya tersenyum?" "Aku bingung harus menjawab pertanyaanmu yang mana dulu?" Arvin pun terlihat menahan malu saat Erina berkata seperti itu "Maaf," Ujar Arvin. "Tidak apa apa, Aku senang masih ada yang memperhatikan ku." Jawab Erina diiringi senyuman. Erina pun bercerita jika kedua kakaknya sudah tidak pernah memukulnya lagi, dan ia sekarang tinggal bersama pamannya bukan dengan kedua kakaknya, Erina terpaksa berbohong demi menutupi statusnya sebagai istri Billy, karena dia ingin menyelesaikan tahun tahun akhirnya bersekolah dengan tenang. Arvin pun bernafas lega mendengar penjelasan Erina. **** Jam pelajaran pun selesai, Erina tengah menunggu jemputannya. Arvin pun Menawarkan Erina untuk pulang bersama nya, tapi Erina menolaknya dengan alasan sudah ada  pamannya yang akan menjemput nya. Tak lama kemudian Billy pun datang untuk menjemput Erina, "Kenapa kau terlambat menjemput ku?" "Tadi ada meeting," Erina pun masuk ke dalam mobil nya. Selama dalam perjalanan pulang, Erina hanya memainkan ponselnya dan mengabaikan Billy. "Ehem," Billy berdehem berkali kali untuk mencari perhatian Erina, namun Erina tidak memperdulikannya. Billy langsung mengambil ponsel milik Erina. "Tuan!!" Teriak Erina kesal. "Jangan coba coba mengabaikanku Erina!" Erina pun terdiam, dengan wajah yang sedikit ditekuk. **** Setibanya di rumah, Erina langsung melangkah menuju ke kamarnya, Erina terlihat masih kesal dengan sikap Billy terhadap nya. Billy pun menyusul Erina ke kamarnya, dan melihat Erina yang sedang duduk di birai kasur. Billy pun duduk di sampingnya, namun Erina membelakanginya. Billy kemudian memeluk Erina dari belakang, Erina sedikit syok dengan perlakuan Billy. Erina pun mencoba untuk melepaskan pelukan Billy. "Biarkan seperti ini sebentar saja," pinta Billy. Erina pun terdiam.. 'Tuan ini kenapa? Sikapnya mudah sekali berubah.' Batin Erina **** Hari pun berganti, Billy sedang menikmati makan siang nya sendiri di sebuah restoran, sejak Erina kembali bersekolah, Billy tidak lagi mendapatkan kiriman makan siang dari Erina, terpaksa Billy kembali mengkonsumsi makanan cepat saji namun tetap memperhatikan asupan gizi yang harus dikonsumsi, ia dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang dari kejauhan sudah memasang senyuman manisnya. "Sayang!" Panggil Lisa yang langsung memeluk lengan Billy. "Untuk apa kau kesini?" "Aku merindukanmu!" Billy pun mencoba untuk melepaskan tangan Lisa, namun Lisa terus saja bersikap manja padanya. "Dari mana kau tau, Aku ada disini?" "Tentu saja aku tau, ini adalah salah satu tempat favoritmu bukan? Selain itu, ini juga tempat dimana kita sering makan bersama," Billy pun menatap kesal Lisa setiap kali Lisa mengungkit masa lalu mereka. Hingga tanpa disadari, ada seseorang yang memotret kebersamaan mereka, dan mengirimnya kepada Erina. **** Erina tengah mengikuti kelas olahraga, ia sedang berlari bersama teman temannya sambil bercanda tawa, hingga ia menyadari jika ada pesan masuk ke ponselnya, Erina pun membuka pesan tersebut. Langkah Erina pun terhenti saat ia melihat foto Billy yang tengah bersama dengan Lisa, Erina terlihat syok dan mematung, tiba tiba sebuah bola sepak datang dan mendarat di kepala Erina dan membuat Erina jatuh pingsan. Semua orang yang berada di lapangan pun berlarian, termasuk Arvin yang tengah berada di ruang guru, ia diberitahu oleh teman sekelasnya jika Erina terkena tendangan bola. Arvin terlihat sangat panik dan langsung membawa Erina ke ruang UKS. Beberapa saat kemudian, Erina pun sadar "Kau tidak apa apa?" Erina menggeleng pelan Perawat sekolah pun menyarankan Erina untuk pulang dan beristirahat. "Pulang dan beristirahat lah! Kami sudah menghubungi wali mu," Erina pun mengangguk pelan. Tak lama kemudian Billy datang dengan wajah panik dan nafas terengah engah karena berlarian. "Kau tidak apa apa Erina?" Tanya Billy. "Aku tidak apa apa!" Billy yang menyadari sejak tadi ada seorang pemuda seusia Erina yang sedang duduk menemani, mencoba membuka percakapan "Kau siapa?" Tanya Billy penasaran. Arvin pun menyodorkan tangannya "Aku Arvin, teman sekelas Erina." Billy pun mengangguk pelan seraya menatap tajam Arvin tanpa membalas uluran tangan Arvin. Erina yang melihat tingkah Billy pun merasa kesal dan diam diam mencubit perut sixpack Billy. Sontak Billy meringis kesakitan "Aww," Ringis Billy. Erina memberi kode pada Billy, hingga Billy pun menyambut uluran tangan Arvin. "Hey, bocah ingusan! Kenapa kau bisa tidak melihat ada bola yang datang?" Tanya Billy sambil menatap Erina. Erina pun terlihat kesal dan tidak menyukai perkataan Billy "Jangan panggil aku bocah ingusan, Tuan!" Billy pun memaksa menggendong Erina untuk membawanya pulang, "Sudah! Naik ke punggungku! Aku tidak ingin kau pingsan lagi dan merepotkan semua orang!" "Aku tidak merepotkan siapapun!" "Kau mau ibu tau apa yang terjadi padamu hari ini?"  Erina pun kembali terdiam, ia yang awalnya menolak, akhirnya hanya bisa pasrah mengikuti Billy. Arvin yang menyaksikan pun hanya menatap heran melihat tingkah mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN