Bab 35. Hancurnya Hati Tifa

1351 Kata

Tifa POV. “Kalau begitu, silahkan pergi dari rumah. Kalau kamu tetap menolak keinginan Mamih. Begitu kamu keluar dari rumah, Mamih anggap kamu bukan anak Mamih lagi.” Hatiku hancur sehancur-hancurnya mendengar ucapan mamih. Perempuan yang melahirkanku itu, yang kusebut sebagai ibu kandungku itu–dia lebih memilih kehilangan aku, dibanding menurunkan ego karena kalah saing dengan tante Endang. Mamih lebih memilih anaknya menderita, dibanding merasa dipermalukan oleh orang lain. Setidak berharga itu aku bagi mamihku sendiri. Aku sungguh sakit hati. Tanpa kusadari, telapak tanganku sudah terkepal kuat. Sangat kuat saat kusadari rasa sakit dari ujung-ujung jari yang menekan kulit. Napasku juga sudah berkali lipat lebih cepat. Detak jantungku terdengar keras. Dadaku terasa panas. Rasa panas

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN