"Clue kedua, pohon," ujar Valerie.
"Pohon yang mana coba?" tanya Arvena, "Satu hutan ini juga penuh pohon."
"Hmm... kita jalan dulu deh sambil cari pohon yang aneh," ujar Xander.
"Setuju," ucap Elqueena.
"Jalan jalan menjelajahi hutan, suram suram sekali-"
"Hentikan nyanyian mu itu, Xan!" ujar Arvena.
"Suaramu membuat telinga sakit, Senior," ucap Valerie dengan nada jijiknya.
"Tega sekali kamu, Val!" ucap Xander sambil memegang dadanya seolah-olah jantungnya sakit.
"Kenapa, Senior? Mungkin ini gunanya tusuk rambut, untuk menusuk d**a Senior Xander biar langsung hilang sakitnya," ucap Valerie.
"Sembarangan aja kamu, Val, bukan sakitnya yang hilang, nyawaku yang hilang," ucap Xander.
"Wkwk, abisnya ada-ada aja," ujar Valerie.
"Guys, ada pohon apel!" seru Arvena lalu menatap Alden dan Xander bergantian.
"Jangan menyarankan sesuatu yang lucu, Ar!" ujar Alden.
"Tidak, aku tidak bisa memanjat pohon!" ujar Xander.
"Senior Al, tolong ambilkan buah apel," ujar Arvena.
"Kenapa gak kamu sendiri aja tuh yang ambil?" tanya Alden.
"Memang susah kalau laki-laki gak peka kayak gini!" gerutu Arvena.
"Iya, memang susah!" ujar Elqueena mendukung opini Arvena.
"Sedihnya kita tidak bisa makan buah selama 3 hari ke depan," ratap Valerie, "Sia-sia aku seumur hidup berusaha menjaga keseimbangan gizi, ternyata akan ada hari aku tidak bisa makan buah!"
Seketika Alden, Xander, Arvena, dan Elqueena melongo karena ratapan Valerie yang cukup unik.
"Hmm... orang jenius kalau mengeluh memang berbeda!" ujar Xander memecahkan keheningan diantara mereka.
"Kamu gak kasihan sama usaha seumur hidupnya Valerie, Senior? Masa gagal cuma karena 3 hari ini," ujar Arvena.
"Iya, kasihan tuh Valerie," ucap Elqueena, "Keringatnya seumur hidup tuh."
"Iya, iya, ini aku ambilkan," ujar Alden lalu terbang menggunakan elemennya.
"Aku tinggal lihat-lihat sekitar sebentar ya," pamit Xander.
"Jangan jauh-jauh, Xan!" peringat Arvena.
"Kayaknya orang yang kamu ambil sangat ajaib, Queen!" sindir Alden sambil menyerahkan sekantong apel ke Valerie.
"Terima kasih, Senior," ujar Valerie dengan bahagia sambil mengambil kantongan yang disodorkan Alden.
"Makanan kita 3 hari ke depan bergantung pada Valerie loh!" ujar Elqueena dengan smirk jahatnya.
"Iya, terserah sudah, terserah kalian!" ujar Alden.
"Lihat, lihat, ada orang nganggur banget," ujar Xander yang entah kembali darimana.
"Apaan? Jangan-jangan hal gak mutu lagi yang kamu amati," ujar Elqueena.
"Aku nemu orang sedang menanam, emang ada-ada aja orang-orang ini, kurang kerjaan sekali, menanam di hutan," ujar Xander.
"Dimana?" tanya Valerie.
"Di sana, tuh," ujar Xander sambil menunjuk suatu arah.
Valerie pun segera berlari ke arah yang ditunjuk Xander dan diikuti yang lainnya.
"Permisi, Kek, saya mau tanya," ujar Valerie.
"Ah... kalian pasti orang yang ditugaskan untuk membantu menanam bibit pohon," ujar sang Kakek.
"Kalian ambil aja tanaman-tanaman kecil itu dan menanamnya ke tempat yang ada tandanya," ujar sang Kakek sambil menunjuk tempat yang terdapat bibit pohon yang masih di tanaman di dalam kantong tanaman.
"Kek, Anda sa-" ucap Elqueena.
Valerie buru-buru memegang tangan Elqueena untuk menghentikan ucapannya, "Baik, Kek."
"Ayo, kalian ikuti aku," ucap Valerie memimpin yang lain menuju tempat bibit pohon.
"Val, kamu nganggur ya, waktu kita terbatas loh," ujar Arvena.
"Percaya saja dengan aku," ucap Valerie, "Aku punya perhitunganku."
"Aku gak tau apa yang kamu hitung, aku percaya aja sih dengan kamu," ujar Xander, "Tapi kalau ternyata gak sesuai perkiraanmu gimana?"
"Gak ada masalah, menolong orang lain kita gak akan rugi apapun, lagian menanam bibit pohon ini gak butuh waktu lama," ucap Valerie, "Ini bibit pohonnya ada 5, satu orang menanam satu."
Valerie mengambil satu dan langsung pergi ke tempat yang sudah diberi tanda. Kemudian mulai menggali tanah dan menyobek kantong bibit pohon, lalu menanam bibit pohon dan menutup tanah. Setelah bibit pohonnya berdiri tegak, Valerie menghampiri teman-temannya yang kesulitan dan membantu mereka satu per satu.
"Kek, sudah kami tanam bibit pohonnya," ujar Valerie, "Kami tinggal dulu ya."
"Sebentar," ujar sang Kakek, "Ini sebagai ucapan terima kasih."
"Bendera?" pekik Xander tidak percaya.
"Terima kasih, Kek," ujar Valerie sambil mengambil bendera yang disodorkan sang Kakek, "Kami pamit, Kek!"
"Kebaikan akan selalu menang pada akhirnya," ujar sang Kakek sambil tersenyum lalu menghilang.
"Kek!" teriak Alden.
"Percuma, kamu teriak sekeras apapun, Kakek gak akan muncul lagi," ujar Valerie, "Kemungkinan Kakek sudah pindah ke tempat lain untuk menguji kelompok lainnya."
"Kenapa kamu bisa tau?" tanya Alden dengan curiga, "Jangan-jangan kamu sudah dapat bocoran orang dalam ya?"
"Aku merasa kecerdasanmu sangat menyedihkan!" jawab Valerie.
"Enak aja! Lagian bukan hanya aku aja yang gak tau tentang ini," balas Alden.
"Setidaknya kami tidak mencurigai Valerie," ujar Arvena sambil memutar bola matanya.
"Lagian rancangan penjelajahan ini gak mungkin bocor, ini dibuat oleh Prof. Wilden sendiri," ujar Xander.
"Baiklah, baiklah, mungkin aku terlalu lelah sehingga mulai melantur," ucap Alden.
"Ngomong aja mau istirahat!" sindir Elqueena.
"Hehe... tuh tahu, kita istirahat dulu sebentarlah," ucap Alden lalu mendudukan dirinya dan diikuti yang lainnya, "Keluarin apel tadi dong, Val."
Valerie membuka tasnya, mengeluarkan kantongan yang berisi apel yang dipetik tadi dan menaruhnya di tengah lingkaran.
"Kak Queen, ini," ujar Valerie sambil memberikan bendera yang didapatkannya ke Elqueena.
"Menurut kalian, teka-teki berikutnya bagaimana?" tanya Xander.
"Hmm... kalau berhubungan dengan udara mungkin masih bisa kita lihat, tapi kalau berhubungan dengan transparan, kita gak punya master array," jawab Arvena.
"Tamatlah kita!" ujar Alden.
"Jangan pesimis dulu, sebelum detik terakhir kita tidak boleh menyerah," ujar Valerie.
"Val, menurutmu nih, kalau teka-teki ini kita kerjakan secara acak bisa gak sih?" tanya Elqueena.
"Seharusnya sih bisa, kan teka-teki ini tidak saling berhubungan," jawab Valerie.
"Baguslah kalau begitu, aku takutnya teka-teki ketiga beneran membutuhkan master array sehingga kita tidak bisa menyelesaikannya," ucap Elqueena.
"Aku juga takutnya begitu," ujar Arvena, "Setidaknya kalau bisa dikerjakan acak, mungkin dengan mendapatkan 4 bendera kita bisa mendapatkan setengah poin, hehe."
"Ada ada saja pemikiranmu ini, Ar," ujar Alden, "Kalau kita gak nemu 5 bendera pasti gak dapat poin lah."
"Kan aku bilang mungkin," ujar Arvena.
"Beginilah perempuan, selalu berusaha menghibur diri sendiri," ucap Xander.
"Eitz... kamu masih lahir dari seorang perempuan loh," ujar Arvena.
"Oke, aku salah," pasrah Xander yang kemudian ditertawakan yang lainnya.
"Sudah, ayo kita lanjut deh," ujar Elqueena dan langsung beranjak berdiri diikuti yang lainnya.
"Selain, udara / transparan apalagi ya teka-tekinya?" tanya Alden.
"Wortel dan konde," jawab Arvena.
"Apa yang harus kita lakukan dengan wortel? Haruskah kita mencuri wortel dari para kelinci?" ujar Xander.
"Dan kamu akan dikejar oleh binatang spiritual berbentuk kelinci dengan jumlah yang tidak terhingga?" ledek Elqueena, "Silahkan kamu lakukan sendiri, aku masih sayang hidupku."
"Hmm... baiklah lupakan saja ide konyolku," ujar Xander.
"Kita bahkan belum melewati sehari dan aku sudah sangat ingin kembali menikmati kasurku," keluh Arvena.
"Hanya 3 hari kamu berpisah dari kasurmu, Ar," ujar Alden.
"3 hari berpisah dari kasur bagiku seperti 3 tahun," ucap Arvena.
"Guys, sepertinya perkataan Xander akan menjadi kenyataan!" ucap Elqueena saat melihat segerombolan kelinci di depan yang memperebutkan sebuah wortel.
"Tenang, jangan gegabah," ujar Valerie, "Menurut academy tidak akan mempertaruhkan nyawa kita hanya untuk opening journey yang gak masuk akal."
"Kita percaya padamu, Val," ujar Elqueena sambil menepuk bahu Valerie.
"Adakah dari kalian yang tau cara berkomunikasi dengan kelinci-kelinci ini?" tanya Valerie.
"Aku," jawab Xander dengan ragu-ragu.
"Kalau begitu aku akan merepotkan Senior untuk berkomunikasi dengan mereka," ujar Valerie.
"Aku coba, tapi aku tidak bisa menjamin," ujar Xander, "Jadi lebih baik, kalian mempersiapkan diri untuk berlari, kalau-kalau aku gagal."
"Apa yang melarikan diri? Sudah coba dulu aja," ujar Arvena sambil mendorong Xander ke depan kawanan kelinci.
"Kenapa senior gak berbicara sama sekali? Apakah senior ketakutan sampai gak bisa bicara?" tanya Valerie.
"Berbicara dengan bintang spiritual itu lewat pikiran, Val, karena binatang spiritual yang bisa berbicara itu hanya yang tingkat ilahi," jawab Alden.
"Ah... begitu, semoga aja senior berhasil," ujar Valerie.
"Gimana?" tanya Arvena saat Xander kembali.
"Me-me-me-reka bilang, mereka gak mau memberikan wortel mereka," ucap Xander dengan gugup, "Mereka sedang berdiskusi untuk memutuskan siapa yang berhak mendapatkan wortel itu."
"Hmm... Kak Queen, roti wortel yang kita beli kemarin kakak bawa?" tanya Valerie.
"Bawa," ujar Elqueena lalu mengambil roti wortel dari cincin partialnya dan memberikan ke Valerie.
"Coba tukar wortel mereka dengan ini," ujar Valerie setelah memotong roti wortel tersebut sesuai dengan jumlah kelinci yang ada.
"Tapi sejak kapan kelinci makan roti?" tanya Xander.
"Ini rotinya berbahan dasar wortel dan berbentuk wortel," jawab Valerie, "Mungkin saja mereka mau, yang penting kan ada wortelnya. Kamu bilang aja ke para kelinci itu, ini wortel raksasa dan sudah dibagi sesuai dengan jumlah mereka jadi setiap kelinci bisa mendapatkan bagiannya masing-masing."
"Oke, akan kucoba," ujar Xander lalu mengambil roti dan melangkah menuju gerombolan kelinci itu lagi.
"Tara...," ujar Xander, "Kita dapat wortelnya dengan menipu si kelinci."
"Apa yang menipu? Jelas-jelas kita sudah menukari mereka," ujar Elqueena dengan tidak terima.
"Tidakkah kamu merasa bersalah menukar wortel asli dengan wortel campuran?" ujar Xander.
"Kenapa harus merasa bersalah? Tahukah kamu roti wortel itu, mengandung lebih dari satu wortel yang berarti kita rugi!" ujar Elqueena.
"Ya terserah kamu deh, ini tukaran roti wortel mu," ucap Xander sambil meraih tangan Elqueena dan meletakkan wortelnya di telapak tangan Elqueena.
"Harus kita apakah wortel ini?" tanya Elqueena, "Kukira setelah kita membantu memecahkan masalah mereka, setidaknya mereka akan memberikan kita bendera."
"Kukira juga seperti itu," ujar Arvena.
"Hmm... aku juga gak tau, simpan aja dulu," ujar Valerie.
"Mungkin untuk bahan makan malam kita, wkwk," ucap Elqueena, "Lumayan kita bisa membuat sup nanti malam."
"Sembarangan aja," ujar Alden, "Pasti teka-teki ini ada lanjutannya."