5. Long Nesh Gila

1504 Kata
Setelah menerima buku kosong tersebut Valerie membuka buku tersebut dan mulai memanasi halaman pertama di atas lilin dengan jarak tertentu. Tak lama kemudian keluarlah sebuah tulisan. "Lihatlah!" ujar Valerie dengan sombong. "Wahh... mantap," ucap Alden. "Aku dapat menunjukkan kamu," baca Elqueena. "Teka-teki aneh apa ini," gumam Elqueena setelah membaca. "Aku rasa cermin," ucap Arvena. "Bukan," ucap Valerie, "Kita gak akan menemukan cermin di hutan, kemungkinan air." "Jenius sekali otakmu, Val!" decak Xander. "Bukan aku jenius, tapi aku sudah biasa main teka-teki dari kecil," jawab Valerie. "Lanjut-lanjut halaman berikutnya!" ujar Alden dengan bersemangat. "Dicabut berat, umumnya ditebang," baca Arvena, "Ini teka-teki apa cuman terdiri dari 4 kata!" "Banyak sih barang yang dicabut berat!" ujar Elqueena. "Perhatikan kata kuncinya, dicabut dan ditebang," ucap Valerie. "Pohon pasti," ucap Alden dengan percaya dirinya. "Aku rasa begitu," ujar Valerie. "Lanjut, Val," ujar Alden, "Aku mulai bersemangat, aku merasa otakku mulai encer." Kemudian Valerie membalik bukunya dan mulai memanasi lembar berikutnya. "Persamaan uang dan rahasia," baca Alden. "Sama-sama susah di peganglah," ujar Elqueena. "Terus apa yang harus kita cari dong?" tanya Xander. "Masa bendanya transparan?" tanya Arvena. "Mmm... antara dua sih ini, bisa jadi bendanya transparan atau berhubungan dengan udara, udara juga gak bisa dipegang," sahut Valerie. "Oke, kita sepakati aja seperti itu jawabannya," ucap Xander, "Lanjutin berikutnya, Val." Kemudian Valerie mulai memanasi lembar berikutnya. "Ada seekor kelinci memancing di danau warna, namun tidak mendapatkan ikan. Keesokan harinya, si kelinci kembali ke danau warna dan mencoba memancing lagi, namun masih tidak mendapatkan ikan. Hari ketiga sang kelinci mencoba memancing lagi, namun tetap tidak mendapatkan ikan," baca Arvena. "Tahukah jawabannya, Val?" tanya Xander. "Gak tau, aku merasa teka-teki ini aneh sekali?" jawab Valerie. "Memang sejak kapan kelinci suka makan ikan?" celetuk Elqueena. "Ah... terima kasih, Kak Queen. Kemungkinan besar yang harus kita cari adalah ladang wortel," ujar Valerie. "Hah?" ujar Alden. "Begini, kenapa kelinci tidak pernah dapat ikan itu menurutku karena kelincinya memancing pakai wortel, karena kelinci hanya punya wortel. Kata kuncinya adalah wortel," ucap Valerie, "Jadi kita cari apapun yang berhubungan dengan wortel." "Masuk akal juga!" decak Xander, "Orang jenius ya kayak gini, pemikirannya memang paling beda sendiri." "Lanjut, lanjut, Val," ujar Elqueena dengan bersemangat, "Aku hampir bisa menjawab." "Halaman terakhir nih," ujar Valerie lalu membalik bukunya dan mulai memanasi halaman terakhir buku tersebut. "Dijala bukan ikan, ditusuk bukan sate." "Konde," ujar Elqueena. "Hmm... kurasa ini adalah jawaban kenapa kita dikasih tusuk rambut," ujar Valerie, "Tapi aku sendiri juga tidak tahu, tusuk rambut ini untuk apa." "Masa kita disuruh mengonde rambut di tengah hutan?" tanya Alden. "Memangnya rambut kalian yang laki-laki bisa di konde?" tanya Arvena balik. "Kenapa harus kita yang laki-laki, tentu saja, kalian yang perempuan lah yang,dikonde," jawab Alden. "Sudah, sudah, untuk apa kalian mendebatkan hal yang penting ini," lerai Xander, "Kita butuh istirahat." "Huh... yang penting teka-teki ini selesai jadi kita sudah siap untuk pertempuran besok," ujar Elqueena, "Segera tidur deh, biar besok tidak terlambat." "Oke," sahut yang lainnya, kemudian membereskan barang-barang di meja dan menyiapkan tas yang akan mereka bawa besok dan kemudian tidur. *** "Bangun! Bangun!" teriak Arvena saat yang lain masih pada tidur. "Jam berapa sekarang, Ar?" tanya Alden sambil mengucek matanya. "Jam 5," jawab Arvena. "Ngapain kamu membangunkan kita sepagi ini, Senior?" protes Xander. "Memang kalian gak perlu mandi dan makan?" tanya Arvena. "Hmm... aku akan mandi dulu deh," ujar Elqueena. "Kalau gitu, aku akan mengambilkan makanannya," ucap Valerie. "Wah... baik deh kamu, Val," ujar Alden. "Terima kasih, Val," ucap Xander. "Gak usah, Val," ujar Arvena menghentikan Valerie, "Kamu mandi aja, kita perempuan mandinya lama, biarin yang laki-laki saja yang mengambil makanan." "Ta-" "Biarin aja, masa laki-laki gak gentle semua gini," ujar Arvena. "Hmm... mana ada gitu perempuan yang mengambilkan untuk laki-laki!" decak Elqueena. "Iya, iya, kami yang akan mengambilkan makanannya," ujar Alden. "Hmm... kami yang akan mengambil, puas kan kalian?" ujar Xander, "Sana kalian mandi aja sepuasnya." "Terima kasih," ujar Valerie lalu mengambil pakaian dan handuknya. "Terima kasih," ucap Elqueena, "Walaupun sepertinya gak ikhlas." "Terima kasih," ujar Arvena, "Tolong nanti kalau ambil makanan jangan cemberut, nanti pas kita makan pada keselek semua." "Iya, ini tersenyum kok," ujar Alden sambil menunjukkan senyum terpaksanya. *** "Baik, karena kalian sudah berkumpul semua," ucap Prof. Wilden, "Silahkan berbaris di depan pintu yang disediakan dan barisnya tolong anggota satu kelompok lengkap, baru di belakangnya diteruskan kelompok lain." "Bila saya bilang silahkan, maka silahkan satu kelompok paling depan masuk, kelompok di belakangnya bisa maju, namun jangan masuk terlebih dahulu," ujar Prof. Wildan. "Silahkan!" ucap Prof. Wildan. Blub blub blub blub blub "Cahaya apa itu?" tanya Valerie. "Itu cahaya dari pintu kalau yang masuk sudah sesuai jumlah kelompok dan menandakan bahwa kelompok itu sudah ditransfer ke tempat yang entah dimana, kalau cahayanya hilang baru kelompok berikutnya bisa masuk," jawab Alden. "Hmm... keren juga," ujar Elqueena. "Silahkan kelompok selanjutnya!" ucap Prof. Wildan. Blub blub blub "Giliran kita nih sebentar lagi," ujar Alden, "Rileks aja nanti masuknya, Val." "Siap, Senior," ucap Valerie. "Semangat!" ujar profesor yang menjaga pintu yang akan dimasuki tim Valerie. "Tentu saja semangat, Prof. Gustav," balas Alden. "Sampai kamu tidak juara satu, siap-siap aja kamu menyalin teks kebajikan murid," ujar Prof. Gustav. "Wah... ini namanya Prof. Gustav memang selalu suka meminta saya menyalin teks kebajikan murid," ucap Alden. "Silahkan!" ujar Prof. Wildan. "Kami masuk dulu, Prof," pamit Alden lalu melangkah masuk yang diikuti Arvena, Valerie, Elqueena, dan Xander. "Selamat memulai penjelajahan!" ujar Alden setelah mereka ditransfer entah di bagian mana hutan. "Val, kamu ingin binatang spiritual yang seperti apa?" tanya Xander. "Memangnya sejak kapan kita bisa memilih binatang spiritual?" tanya Elqueena. "Mungkin saja gitu kan, hehe," jawab Xander. "Abaikan saja tukang pemberi harapan palsu ini, Val," ujar Elqueena. "Mending kita cari bendera dulu aja," saran Valerie. "Tapi tugas utama kita membantu kamu mencari binatang spiritual, Val," protes Alden. "Justru kalau kalian berfokus ke sana, waktunya gak akan nuntut nanti untuk kalian mencari bendera," ucap Valerie, "Karena binatang spiritual yang kita temui belum tentu mau membuat kontrak dengan kita, kalau kita fokus mencari binatang spiritual, waktu kita akan terbuang sia-sia. Mendingan kita fokus cari bendera dengan clue-clue yang sudah kita dapatkan, sekaligus membuat kontrak dengan binatang spiritual yang kita temui di jalan nanti." "Masuk akal juga perkataanmu, Val," ujar Xander, "Pantesan sejak aku masuk academy gak pernah menang, karena selalu fokus mencari binatang spiritual untuk membuat kontrak." "Hmm... ayo kita cari mata air," ujar Valerie. "Kayaknya aku mendengar suara air dari sebelah sana deh, Val," ujar Arvena sambil menunjuk arah barat. "Awas sesat!" ujar Alden. "Benar itu, biasanya insting perempuan itu selalu sesat!" ucap Xander. "Mari kita coba dulu aja," ucap Valerie. "Nah benarkan ada danau," ujar Arvena dengan bangganya. "Kebetulan aja ini," ucap Alden, "Nanti berikutnya pasti sesat." "Daripada kalian berdebat, mendingan kalian bantu aku berfikir apa yang harus kita lakukan untuk mendapatkan bendera," ujar Valerie. "Itu ada perahu, Val," ujar Elqueena. "Kita harus ke tengah danau?" tanya Xander dengan ragu-ragu. "Itu ada yang menonjol-nonjol di tengah danau," ujar Arvena sambil menunjuk sesuatu seperti benjolan di tengah danau. "Jangan-jangan itu monster laut lagi," ujar Alden. "Mungkin itu yang harus kita lawan untuk mendapatkan bendera?" tanya Xander dengan ragu-ragu. "Mari kita coba aja," ujar Valerie. "Ta-" "Kalau kita gak pernah coba, kita gak akan pernah tau," ujar Valerie lalu mulai naik ke kapal duluan dan disusul yang lain. "Siapa yang bisa mendayung kapal?" tanya Elqueena sambil memandang para laki-laki dengan bergantian. "Tenang masalah ini serahkan ke kami yang laki-laki," ujar Alden lalu mengambil kedua dayung dan menyerahkan satu ke Xander. Alden dan Xander pun mulai mendayung, mengejar benjolan putih yang bergerak itu. "Eh... monster laut tunggu kami!" teriak Alden yang membuat benjolan itu berjalan ke arah mereka dan memunculkan dirinya di depan mereka. "Long Nesh!" teriak mereka bersamaan. "Bersiap perang!" ucap Alden sambil memposisikan dirinya posisi siap perang. "Eh... lihat di mulut Long Nesh itu ada bendera!" ujar Xander dengan bersemangat. Sementara itu, Long Nesh itu semakin mendekat ke mereka. "Gawat, gimana ini?" tanya Arvena panik, "Kalau kita serang pakai elemen, dia pergi, kalau kita serang pakai pedang sebelum kita menyerang dia, kita yang sudah diserang." "Ambil tuh sampah kalian!" ujar Long Nesh sambil melepaskan bendera ke mereka dan Alden buru-buru menggunakan elemennya yang kebetulan angin untuk terbang mengambil bendera. "Dasar manusia-manusia pembuat kotor danau!" maki Long Nesh itu lalu memutar tubuhnya dan menyapukan ekornya ke perahu sehingga mereka semua terpental. "Aduh!" ujar Valerie saat mendarat di tepi danau. "Dasar Long Nesh gila!" maki Elqueena. "Cukup sekali saja seumur hidup aku bertemu Long Nesh!" maki Arvena. "Untungnya aku sudah terbang duluan, wkwk," ujar Alden yang baru saja mendarat dengan mulus. "Senior Al, turunin aku!" rengek Xander yang nyangkut di pohon dan ditertawakan yang lainnya. "Memang ada-ada saja kamu ini," ujar Alden lalu terbang menggunakan elemennya lagi. "Kalau aku bisa memilih aku juga gak mau mendarat di atas pohon, Senior," ujar Xander yang membuat lainnya tertawa semakin keras. "Sudah, sudah, ayo kita lanjutin aja," ucap Elqueena. "Benderanya kamu aja yang simpan, Queen," ujar Alden sambil menyodorkan selembar bendera. "Sip, aku simpan di cincin parsial ku aja, jadi aman," ucap Elqueena sambil menerima bendera dari Alden dan memasukan ke cincin partialnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN