7. Wortel Pembuat Masalah

1534 Kata
"Kayaknya hari ini sampai di sini dulu aja deh," ujar Valerie, "Kita lanjutin besok aja mencari bendera berikutnya, sekarang kita cari tempat yang aman untuk mendirikan tenda aja dan mencari buruan untuk dipanggang, aku sudah lapar." "Oke," ujar yang lain. Duk duk duk duk "Bagus, kita membangkitkan array tersembunyi!" decak Alden. "Sepertinya nasib kita malam ini dibantai binatang spiritual di tengah hutan," ratap Xander. Kemudian keheningan menyergap mereka entah karena sibuk sendiri-sendiri memikirkan cara keluar dari kurungan yang memenjarakan mereka atau sudah pada pasrah akan takdir mereka. Kriuuk "Saat darurat seperti ini kamu masih bisa lapar, Queen?" ujar Alden dengan tidak percaya. "Memangnya apa yang salah dari lapar," ujar Elqueena. "Ya tolong gitu ya, laparmu datang di saat yang tidak pas," ujar Alden. "Kalau aku bisa pilih waktu lapar, aku juga gak akan milih saat ini lagi," ucap Elqueena. "Kita masak aja dulu," putus Valerie, "Mungkin setelah makan ini kita berpikir lebih jernih." "Mau masak apa di dalam kurungan gini, Val?" tanya Arvena. "Daripada kita semua jatuh sakit karena kelaparan, kita masak aja wortel yang tadi," ujar Valerie. "1 wortel dibagi berlima, Val?" tanya Alden. "Kita buat sup wortel aja, wortel hanya membuat supaya ada rasa aja," jawab Valerie, "Sementara kita tahan dulu perut kita dengan sup wortel, selain itu juga untuk menghangatkan badan kita." "Tapi nanti kalau kita butuh wortel untuk menyelesaikan teka-teki bagaimana?" tanya Xander. "Ya mau gimana lagi, anggap aja kita gak beruntung," jawab Valerie, "Berharap saja kita bisa menemukan wortel lagi atau relakan saja, yang penting kita kembali dengan selamat." "Aku sih gak ada masalah, aku ngikut kalian deh," ujar Xander. "Ya sudah gitu aja, lagian buat apa kita punya wortel, kalau kita sendiri gak bisa keluar dari kurungan ini," ucap Alden, "Mungkin ini adalah makanan terakhir kita, sebelum kita jadi makanan binatang spiritual." "Kak Queen, tolong pancinya," ujar Valerie lalu Elqueena menyerahkan panci yang diambilnya dari cincin partial. "Ada kain gak Kak Queen?" tanya Valerie. "Hmm... kantong kain yang buat apel wadah apel tadi," jawab Elqueena. "Boleh," jawab Valerie, "Senior Xander tolong batu besar yang di belakang senior." "Ini," ujar Elqueena. "Batu untuk apaan, Val?" tanya Xander sambil mendekat ke Valerie dan menyerahkan batu ke Valerie. "Buat menumbuk wortelnya," jawab Valerie sambil memasukan batunya ke dalam kantong kain. "Biar aku bantu, Val," ujar Xander sambil mengambil ahli panci yang berisi wortel dan kantongan yang berisi batu dari Valerie. Dak dak dak "Val, kamu yakin wortelnya ditumbuk seperti itu?" tanya Arvena agak ragu. "Hmm... biar lebih cepat terasa aja, karena kita gak punya bumbu," ujar Valerie, "Aku hanya punya bumbu untuk membakar daging, aku tak menyangka kita akan terjebak seperti ini sehingga tidak bisa berburu." "Ya, sekali-sekali kita makan hal-hal aneh seperti ini," ujar Arvena, "Anggap aja kita lagi gak beruntung." "Eh... bendera!" pekik Xander dengan bersemangat dan mengangkat benderanya. "Sungguh terlalu academy ini!" decak Elqueena sambil mengambil bendera dari tangan Xander dan menyimpannya ke dalam cincin parsial. "Ck... ck... bisa-bisanya mereka menyimpan bendera di dalam wortel!" decak Alden tidak percaya. "Aku gak sabar untuk bertemu Prof. Wilden yang mampu membuat teka-teki konyol seperti ini," ujar Valerie. "Terus ini diapakan?" tanya Xander setelah menumbuk wortelnya. "Keluarkan air minum kalian," ujar Valerie, "Dan tuangkan kira-kira semangkuk aja." "Kita gak punya mangkuk, Val," ujar Alden. "Siapa bilang gak punya!" ujar Elqueena dengan sombongnya, "Lalu mengeluarkan mangkuk dari cincin partialnya." "Gila, kalian memang datang dengan penuh persiapan ya!" ujar Alden. "Tentu saja!" ujar Arvena, "Ini adalah perbedaan laki-laki dan perempuan!" "Sombong!" ujar Alden, "Padahal itu pasti ide Valerie." "Biarin, Valerie juga termasuk perempuan!" ujar Arvena lalu memeletkan lidahnya. "Guys, segera tuangkan airnya," ingat Valerie. "Terus masaknya gimana, Val?" tanya Alden. "Gampang, Kak Queen, nyalakan api kecil aja mengelilingi panci," jawab Valerie. "Oke," ujar Elqueena lalu segera melakukan permintaan Valerie. "Kreatif juga kamu, Val," ujar Arvena. "Ini namanya kekuatan dari kepepet," ucap Valerie, "Gak pernah aku membayangkan memasak dengan cara ini." "Wkwk, aku walaupun gak pernah memasak, juga gak pernah membayangkan akan ada cara memasak seperti ini," ujar Elqueena. "Kayaknya sudah matang tuh," ujar Xander. "Biar aku aja yang bagi," ujar Arvena lalu mengambil sendok kuah yang diserahkan Elqueena. "Lumayanlah, walaupun lebih seperti minum air yang berasa," ujar Alden. "Wkwk, iya, tapi setidaknya lebih ada gizinya daripada minum air aja," ucap Valerie dengan canggung, "Nanti kalau kita bebas dari kurungan ini aku pasti panggangin kalian daging." "Janjimu loh ya," ujar Xander. "Iya, maka segera habiskan kuah wortel ini dan pikirkan cara untuk keluar," ujar Valerie. "Segera melaksanakan perintah demi kesejahteraan perut," ujar Arvena yang langsung menghabiskan supnya diikuti yang lainnya. Duk ting "Gila, kamu ngapain nyerang kurungan pakai elemen, Queen?" ujar Alden. "Kukira bisa melawan besi dengan logam, eh... gak taunya malah aku yang mental!" ujar Elqueena dengan polosnya. "Sudahlah, aku gak tau harus berkata apalagi," ujar Alden. "Seharusnya ada benda yang mengunci kurungan ini gak sih?" ujar Arvena, "Aku barusan dengar bunyi ting saat kurungan ini bergetar." "Coba cari!" perintah Valerie yang membuat mereka berpencar ke sisi yang berbeda. "Gak ada!" ujar keempatnya bersamaan lalu kembali ke tengah lagi. "Hmm...," gumam Valerie. "Kita belum periksa bagian atas, Val," cetus Elqueena. "Sejak kapan kunci berpindah di atap?" sindir Alden. "Namanya aja menebak segala kemungkinan," balas Elqueena, "Lagian gak ada ruginya memeriksa, kalau salah ya sudah." "Periksa ke atas senior Al," ujar Arvena. "Yang benar saja kalian ini?" tanya Alden dengan tidak percaya dan menatap ke Valerie memastikan. "Coba aja dulu," jawab Valerie yang membuat Alden dengan terpaksa terbang menuju atap kurungan. "Ada, tapi aku juga gak tau cara membukanya," ujar Alden. "Senior bisa membawa orang untuk terbang ke atas?" tanya Valerie. "Bisa, tapi kalau terlalu banyak orang dan lama bisa membuat energiku lebih cepat habis," jawab Alden. "Hmm... cukup bawa aku aja," ujar Valerie, "Aku kemungkinan tau cara membuka kuncinya." "Maaf," ujar Alden lalu merangkul Valerie dan membawanya terbang ke atap kurungan. "Wah... romantisnya," ujar Xander. "Apanya romantis?" cecar Elqueena. "Sinis amat!" ujar Xander, "Kalau cemburu bilang aja!" "Siapa yang cemburu?" balas Elqueena, "Aku bertekad menjodohkan Valerie dan Kak El, hmph!" "Kujamin Valerie gak akan mau dengan kakakmu yang sombong itu," ujar Xander. "Sembarangan aja, Kak El bukan orang seperti itu, hanya saja memang dia irit bicara!" ujar Elqueena. Klik "Awas!" teriak Valerie dan Alden bersamaan. Buk buk "Kalian gak papa?" tanya Xander. "Sejak kapan orang jatuh gak papa, apalagi dari ketinggian seperti itu!" sinis Elqueena. "Mereka hanya nyungsep kali, entah mereka mengejar apa, terbang ke bawah terburu-buru gitu sampai gak sempat menghentikan dan berakhir nyungsep," jelas Xander. "Bantu cari gembok dan tusuk rambut yang jatuh," ujar Valerie. "Gak ada barang jatuh sih, Val," ucap Arvena sambil memindai sekitar. "Eh... ada bendera!" ujar Arvena dengan bersemangat dan mengambil bendera yang dimaksudnya. "Guys, kurungannya juga hilang!" ucap Elqueena. "Kurasa memang ini dibuat oleh Prof. Wildan!" ujar Xander. "Aku yakin tanpa keraguan!" ucap Arvena menyetujui pendapat Xander. "Mungkin saja beliau dibantu profesor lainnya," ujar Valerie. "Percayalah, di academy kita tidak ada yang memiliki imajinasi di atas Prof. Wildan," ucap Elqueena. "Sangat mengerikan imajinasinya!" ujar Alden. "Sepertinya saat kelas beliau aku harus extra berhati-hati," ucap Valerie. "Tentu saja!" ucap yang lainnya serentak. "Oke, santai, santai," ujar Valerie, "Lebih baik kita segera mencari tempat untuk beristirahat." "Hmm... mari kita mencari lapangan terbuka," ucap Alden. "Kenapa gak yang banyak pohon-pohonnya saja sehingga kita tidak akan bertemu kelompok lain?" tanya Elqueena. "Kamu berniat menjadikan kita santapan bintang spiritual?" sindir Xander. "Tahun lalu kita di lapangan terbuka diserang kelompok lain," ujar Elqueena. "Mending diserang kelompok lain, daripada mengorban diri untuk disantap binatang spiritual," ucap Alden. "Kita coba cari lapangan yang kosong aja," ujar Arvena. "Begitu juga boleh, sambil berburu binatang untuk dimakan," ujar Xander. "Jangan lupa kumpulkan kayu bakar juga," ucap Alden. "Kita yang perempuan mengumpulkan kayu bakar dan kalian yang laki-laki memburu binatang," ujar Elqueena. "Baik, kita buat seperti itu aja," ucap Xander. Mereka mulai menelusuri hutan dan mendapatkan 1 kelinci serta 2 burung pegar, setelah menemukan lapangan terbuka yang kosong Valerie membagi tugas. Menyuruh Xander dan Alden membersihkan buruan, sementara dia, Elqueena, dan Arvena menyusun kayu bakar. "Sudah, Val," ujar Xander dan Alden membawa kembali 3 binatang yang sudah bersih dan ditusuk. "Sini, biar aku taburin bumbu dulu," ujar Valerie lalu menaburi satu per satu. "Langsung taruh aja di penyangganya, nanti biarkan Kak Queen menyalakan apinya," ucap Valeria. "Hmm... bau daging." "Rubah ekor sembilan!" teriak Alden. "Lari!" instruksi Arvena. Alden, Arvena, Xander, dan Elqueena segera berlari. "Mau lari kemana kamu? Sudah terlambat bagimu untuk berlari, tidak kusangka respon kamu jauh lebih lambat dari teman-temanmu!" ejek sang rubah. "Jangan mendekat!" ujar Valerie sambil melangkah mundur. Sementara itu, sang rubah terus melangkah maju mendekati Valerie dan terakhir melesat ke depan Valerie. "Argh!" teriak Valerie. *** Di lain sisi, Alden, Arvena, Xander, dan Elqueena yang berhasil melarikan diri bertemu dengan tim Elquino. "Kak El, hosh... hosh...," sapa Elqueena. "Masa kecil kurang bahagia?" sindir Elquino. "Sembarangan aja, kita habis bertemu rubah ekor sembilan," ujar Elqueena. "Queen, gawat, Valerie kita tinggal!" ujar Arvena dengan panik. "Kalian meninggalkan Valerie?" tanya Ivy dengan tidak percaya. "Seperti yang bisa diharapkan dari sekelompok sampah!" sinis teman setim Elquino. Mendengar itu emosi Alden yang terpancing langsung meraih kerah baju Steven, "Apa maksudmu, hah?" "Jangan memicu pertengkaran yang gak perlu, Steven!" peringat Yura, "Kalian segera bawa kita kesana untuk menyelamatkan teman kalian." "Ba-ba-baik, Senior," ujar Elqueena lalu langsung memimpin jalan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN