"Argh!" teriak Valerie.
Tiba-tiba cahaya putih menyilaukan keluar dari tubuh Valerie dan menghantam sang rubah, membuat sang rubah terpental cukup jauh. Setelah bangkit, sang rubah mendekati Valerie dan langsung menggigit jari Valerie.
"Kamu, apa yang kamu lakukan?" tanya Valerie dengan bingung saat sang rubah hanya menggigit jarinya bukan membunuhnya.
"Kamu adalah tuan rubah yang suci ini," ujarnya dengan sombong mengklaim Valerie menjadi tuannya bahkan tanpa persetujuan Valerie.
"Kamu gila ya?" bentak Valerie.
"Aku waras," ujar sang rubah.
"Kamu seenaknya aja mengklaim aku sebagai tuanmu, kalau kamu gak gila terus apa?" ujar Valerie.
"Kamu seharusnya bersyukur, rubah suci ini memilihmu sebagai tuannya," ujar sang rubah dengan sombong.
"Memang siapa yang mau menjadi tuanmu?" sinis Valerie.
"Tapi kontraknya sudah dibuat, maka kamu hanya bisa menerima menjadi tuan rubah suci ini," ujar sang rubah.
"Val, mundur, biar Kak El yang menghadapi rubah licik ini," ucap Elqueena sambil menarik Valerie mundur.
"Gak perlu, Kak Queen, rubah ini adalah binatang kontrakku," ujar Valerie membuat semua yang hadir melongo gak percaya.
"Hmm?" Elquino mengernyitkan dahinya kemudian memandang perempuan yang berhasil menaklukan rubah ekor sembilan yang terkenal kelicikannya.
"Kamu gak papa kan, Val?" tanya Ivy sambil memindai tubuh Valerie.
"Tenang, aku gak terluka kok," ujar Valerie.
"Karena masalah temanmu sudah selesai, kami tinggal dulu," ujar Yura, "Ivy, jangan membuang waktu kami!"
"Terima kasih, Senior," ucap Elqueena.
"Hati-hati!" peringat Elquino lalu mengikuti kelompoknya pergi.
"Iya, Kak," ucap Elqueena.
"Gimana cara kamu menaklukan rubah licik ini, Val?" tanya Elqueena.
"Tuan rubah suci ini punya nama," sahut sang rubah.
"Tuan rubah suci apanya, ubahlah ke wujud manusiamu, aku mau tahu kamu tuan apa!" kesal Elqueena.
"Wah... cantik sekali!" decak Alden.
"Keindahan langkah!" decak Xander.
"Humph! Lihat kamu adalah perempuan dan masih menyebut dirimu tuan, segera sebutkan namamu kalau gak mau dipanggil rubah licik!" perintah Elqueena.
"Rubah suci ini hanya menerima perintah dari tuannya!" ujar sang rubah.
"Nama!" ucap Valerie.
"Cleir," ujarnya dengan genit.
"Hmm... baik," ucap Valerie.
"Jangan marah lagi, Tuan," ujar Cleir memberikan jaminannya, "Tuan pasti tidak akan menyesal mengambil aku sebagai binatang kontrak."
"Aku tidak pernah mengambil menjadi binatang kontrak! Kamu yang memaksakan diri," bantah Valerie.
"Baik, baik, aku yang memaksakan diri," ujar Cleir sambil memberikan suatu benda, "Ini sebagai permintaan maafku."
"Dapat darimana kau bendera ini? Kenapa bentuknya aneh?" tanya Valerie.
"Memang satu bendera bentuknya lingkaran seperti itu," sahut Xander.
"Di atas," ucap Cleir yang membuat mereka melihat ke atas.
"Sungguh sulit dipercaya, benderanya hanya akan disebar di langit-langit seperti itu," ujar Alden.
"Hanya disebar di langit seperti itu, tapi kalau aku tidak membilangi kalian, kalian pasti gak akan tau dan hanya mengira itu bintang besar," ucap Evie dengan sombong.
"Sebagai tanda terima kasih dari kami, ini untuk kamu semua!" ujar Alden mengambil daging yang selesai dipanggang.
"Terbaik!" ujar Cleir dengan puas dan langsung menerima daging panggang tersebut.
"Kalau semua kamu kasihkan ke Cleir, kita makan apa?" protes Arvena.
"Kita segera mencari pintu keluar aja dan makan makanan yang lebih normal aja," jawab Alden.
"Cleir, kamu tahu pintu keluarnya?" tanya Xander dengan penuh harapan.
"Tentu saja," jawabnya dengan sombong dan masih menggigit daging panggang.
"Kamu pimpin kita!" perintah Valerie.
Cleir pun mulai berjalan memimpin mereka menuju pintu keluar.
"Cleir, kamu masuk aja ke ruang kontrak," ujar Valerie saat mereka di depan pintu keluar.
Setelah Cleir masuk ke dalam ruang kontrak, barulah Valerie dan yang lainnya melangkah keluar.
"Kalian cepat sekali sudah kembali?" tanya Prof. Wilden.
"Karena kita sudah menyelesaikan misinya," jawab Elqueena lalu menyerahkan kelima bendera ke Prof. Wilden.
"Sepertinya ada yang bilang gak mungkin jadi juara nih!" sindir Prof. Gustav.
"Yah... aku juga gak menyangka ternyata Valerie sepintar itu," ujar Alden.
"Pasti kamu yang namanya Valerie ya," ujar Prof. Gustav dengan sangat antusias ke arah Valerie.
"Iya, Prof," ucap Valerie.
"Boleh juga," ujar Prof. Gustav sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
"Kalian asrama Azure ya, sepertinya tenda kalian belum dibongkar. Kalian boleh kembali ke tenda kalian untuk beristirahat dulu karena sudah malam dan besok setelah sarapan kalian berkumpul di sini," ujar Prof. Wilden.
"Baik, Prof," ujar mereka lalu langsung kembali ke tenda.
***
"Pagi, Prof!" sapa Valerie sesampainya di lapangan tempat pintu masuk hutan.
"Teman-temanmu mana?" tanya Prof. Gustav.
"Masih tidur, Prof," jawab Valerie.
"Kamu Valerie?" tanya Prof. Wilden.
"Iya, Prof," jawab Valerie.
"Kamu ditunggu Prof. Fey di ruang pengujian elemen sekarang," ujar Prof. Wilden.
"Ruang pengujian elemen dimana, Prof?" tanya Valerie.
"Gedung kegiatan, ruang 201," ujar Prof. Wilden.
Setelah mengucapkan terima kasih, Valerie langsung beranjak menuju ruang pengujian elemen.
***
"Permisi, Prof," ujar Valerie menghampiri 3 profesor yang menunggunya di dalam ruangan.
"Kamu murid tahun pertama?" tanya Prof. Eldenio.
"Iya, Prof," jawab Valerie.
"Saya melihat kamu mengeluarkan elemen cahaya saat penjelajahan di hutan kemarin," ujar Prof. Fey dengan langsung, "Tujuan kami memanggil kamu untuk menguji apakah kamu benar-benar mempunyai elemen yang menjadi dasar untuk masuk kelas khusus dan menguji kamu apakah layak menjadi murid untuk kelas khusus."
"Hmm... mungkin ada kesalahan, Prof, elemen saya adalah api," ujar Valerie.
"Batu penguji tidak bisa mendeteksi selain 5 elemen utama dan tingkat kepadatan energi," jelas Prof. Grant, "Tentu saja sebelum kelas pengendalian elemen kalian dimulai akan dilakukan pemeriksaan elemen lanjutan dengan menggunakan bola crystal uji dan yang memiliki elemen langkah akan diuji semua untuk dipilih masuk kelas khusus. Karena kemarin kamu mengeluarkan elemen cahaya tanpa sengaja, kemungkinan terbesar kamu memilikinya, alangkah baiknya kita langsung mengujinya sehingga jika kamu cocok kamu bisa masuk kelas khusus secepatnya."
"Letakkan tanganmu di atas crystal itu!" perintah Prof. Fey.
Valerie segera meletakkan tangannya di atas bola crystal dan tidak lama kemudian bola crystal itu mengeluarkan 3 lambang yang mewakili api, cahaya, dan es.
"Kamu memang memiliki elemen cahaya, kamu ada kesempatan untuk memasuki kelas khusus alkimia," ujar Prof. Fey.
"Sebenarnya kamu juga memiliki kesempatan untuk masuk ke kelas khusus array," ucap Prof. Grant, "Tapi itu semua masih bergantung pada hasil tesmu."
"Aku rasa Prof. Eldenio bisa mencari murid lain, gimana pun elemen cahaya lebih jarang daripada elemen es," ujar Prof. Fey.
"Tapi bukankah kita harus membiarkan Valerie memilih sendiri?" ujar Prof. Grant.
"Tidak masalah, biarkan Valerie menguji alkimianya terlebih dahulu, jika memang tidak bisa, baru menguji Array," pasrah Prof. Eldenio.
"Kalau saya mau bergabung dengan keduanya apakah bisa, Prof?" tanya Valerie.
"Apakah kamu yakin?" tanya Prof. Fey, "Masuk ke kelas khusus tidak seperti masuk ke kelas biasa, kamu akan diberikan pelajar 2 kali dalam seminggu dan sesi percobaan mandiri 1 kali dimana setiap sesi percobaan mandiri kamu harus menyerahkan 1 hasil yang menunjukkan kemajuan mu dari minggu sebelumnya."
"Saya yakin, Prof," ujar Valerie dengan bersemangat, "Bagi saya jika ada kesempatan kita harus menghargainya."
"Setiap tindakan akan ada konsekuensinya, setelah ini kamu temui saya di gedung kelas khusus, lantai 3," ujar Prof. Fey lalu pergi meninggalkan 3 orang di ruangan.
"Terima kasih, Prof," ucap Valerie.
"Sepertinya kita tidak ditakdirkan," ujar Prof. Grant, "Saya tinggal!"
"Terima kasih, Prof," ujar Valerie.
"Berdasarkan caramu menyelesaikan seluruh masalah yang mampu membuat seluruh academy pusing 7 keliling yang dibuat oleh Prof. Wilden sebenarnya saya tidak perlu lagi untuk menguji kamu," ujar Prof. Eldenio.
"Untuk berarti saya bisa langsung bergabung dengan kelas khusus array, Prof?" tanya Valerie dengan bersemangat.
"Selamat," ujar Prof. Eldenio sambil menyerahkan token yang biasanya melambangkan muridnya.
"Terima kasih, Prof," ujar Valerie dengan membungkuk.
"Biarkan kamu tidak terhambat untuk kelas, saya akan membiarkanmu masuk ke kelas inti dengan Elquino, nanti saya akan membiarkan Elquino menemuimu untuk menjelaskan hal-hal yang kamu perlu perhatikan," ujar Prof. Eldenio, "Semoga saja kamu memang layak untuk masuk kelas inti sehingga saya tidak perlu mengembalikanmu ke kelas biasa, anggap saja itu bantuan dari saya, karena kamu berencana mengambil 2 kelas khusus."
"Terima kasih, Prof," ujar Valerie.
"Dan saya akan langsung mengurus masalah asramamu," ujar Prof. Eldenio.
"Apakah saya harus pindah asrama, Prof?" tanya Valerie, "Lebih baik tidak perlu pindah asrama untuk menimbulkan perhatian yang tidak perlu."
"Si pencinta kedamaian rupanya, tapi masuk asrama Azure, sangat menarik," ujar Prof. Eldenio, "Lagi pula masalah pindah asrama bukan hanya sekedar untuk status, tapi ini lebih fasilitas, hanya di asrama Vermilion kamu akan punya ruang belajar sendiri yang bisa kamu gunakan untuk percobaan untuk mendukung kelas khusus mu. Jadi kamu tetap harus pindah."
"Baik, Prof," ujar Valerie, "Jika sudah tidak ada yang lain, saya pamit dulu, Prof."
"Silahkan," ujar Prof. Eldenio.
***
"Prof. Fey," panggil Valerie setelah berdiri di depan Prof. Fey yang entah sedang menulis apa.
"Apakah kamu pernah belajar Alkimia?" tanya Prof. Fey sambil meletakkan kuasnya.
"Tidak pernah, Prof," jawab Valerie.
"Kamu tidak dari keluarga-keluarga besar?" tanya Prof. Fey.
"Papaku hanya seorang jenderal," jawab Valerie.
"Status yang cukup baik, kenapa tidak belajar lebih awal?" tanya Prof. Fey.
"Sebelumnya saya sibuk belajar membaca dan menulis, kemudian saya berlatih dasar beladiri, menyerap energi dan mengaturnya sehingga saya tidak punya waktu untuk mempelajari hal lain sebelum masuk academy," jawab Valerie.
"Bukan kah banyak kediaman besar membeli pil sehingga mereka dapat menaikan dengan cepat tingkat energi?" tanya Prof. Fey.
"Karena papaku adalah seorang jenderal, papaku tahu lebih daripada orang lain pentingnya kepadatan energi sehingga menentang untuk menggunakan pil dan harus berlatih untuk meningkatnya," jawab Valerie.
Jawaban Valerie membuat Prof. Fey menampakan sedikit senyum, "Hmm... bagus, mari kita lihat hasil ujianmu apakah kamu bisa atau tidak masuk kelas alkimia."
Prof. Fey berjalan menuju rak buku dan mengambil sebuah buku yang kemudian diserahkannya ke Valerie, "Kamu bisa membaca buku ini, dalam 2 hari saya akan akan mengujimu!"
"Baik, Prof," ujar Valerie.
"Apakah kamu layak atau tidak masih bergantung pada dirimu sendiri, silahkan pergi jika tidak ada yang lain!" ucap Prof. Fey.
"Terima kasih, Prof," ujar Valerie.