"Selamat pagi." Ilana menyapa ramah. Saat dia membuat sepiring roti isi daging dan s**u hangat untuknya. Dan mata hijau itu menangkap gestur angkuh sang suami yang menunduk membaca tablet. Dengan cangkir kopi panas dan pakaian formal siap bekerja. "Aku bangun terlambat," kata Adelia saat atensi Ilana belum lepas darinya. "Maaf." "Kenapa meminta maaf?" Suara suaminya menyela bingung. Saat Adelia duduk, mencium aroma roti yang manis dan potongan daging. Semalam dia baik-baik saja makan daging, pagi ini pun sama. Anaknya memang pintar. "Karena bangun terlambat?" Ilana tersenyum di balik meja dapur. "Itu hal yang normal. Jangan terlalu dipikirkan." Adelia mulai menyantap sarapannya dalam diam. Teringat semalam saat dia selesai memakan habis makan malamnya, Aksa bergerak mencuci semua p

