"Aku tidak mau makan, Ilana." Ilana mendesah panjang. Cukup bosan mendengar gerutuan majikan perempuannya yang sejak tadi menolak makanan apa pun untuk makan malam. Perutnya hanya terisi beraneka roti isi yang sudah habis. Ilana harus pergi pagi-pagi sekali nanti untuk membeli roti kesukaan Adelia. "Katakan padaku, biar aku yang membelikan makanan itu di depan gang nanti." Senyum Adelia berubah manis. Saat mata teduhnya menyapu Ilana yang bersiap untuk pergi dengan mengambil jaket, tapi selintas dia merasa tidak tega. Karena samar-samar mendengar gemuruh keras. "Tidak, Ilana." "Kenapa?" "Lihat, mau hujan sebentar lagi." Adelia mengendik pada pintu kaca perbatasan dapur dan taman belakang. Pantulan kilat itu berbayang pada permukaan kolam yang tenang. Dan pada hembusan angin yang mene

