"Kakak! Ya Tuhan, ya Tuhan." Gemetar pada tubuh Anne tidak berkurang. Alih-alih dia berusaha menyingkir, tangannya malah meremas tangan kanan Aksel yang bebas. Saat pria itu tampak kepayahan dan berusaha menarik napas panjang guna mengisi paru-paru yang kosong. "Tolong, dokter. Tolong. Tolong kakakku." Anne menangis. Airmatanya tidak lagi terbendung saat dokter dan dua perawat lain berusaha membantu Aksel yang kesulitan bernapas sejak sepuluh menit lalu. Mereka berusaha memasang alat-alat medis lain yang terlihat mengerikan di mata cokelat Anne yang buram, basah akan airmata. "Anne ..." Panggilan lemah itu berhasil merebut perhatian Anne seluruhnya. Saat tubuh rapuh itu bergetar, menciumi punggung tangan kurus sang kakak yang terlihat semakin tak berdaya. "Adelia dalam perjalanan. Be

