Bab. 45

2268 Kata

Viana pov. Pagi yang indah, udara dingin menyeruak di setiap pori-pori kulitku, matahari mulai menampakkan dirinya, meski malu-malu namun pasti sang surya mulai naik ke singgasananya. Tiga hari sudah aku berada di desa sebuah di kota kecil di Jawa Timur. Rasa sesak menerpa hatiku saat aku mengingat semua perkataan Ragarta padaku. Aku benar-benar tak habis pikir dengan pria yang berstatus suamiku itu, kenapa dia lebih percaya pada Ibu dibandingkan padaku. Dia sendiri yang mengatakan jika akan mencoba menjalani pernikahan ini denganku, tapi apa dia menuduhku yang tidak-tidak, dan terus saja membahas tentang Mbak Ariana. Apa aku menyesal saat memukulnya? Jawabanku tidak hanya saja aku takut dia mati. Jujur saja aku mulai merasakan hal yang namanya getaran di hati saat bersamanya, sikap dingi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN