The Queen [11]

1422 Kata
Sebelum membaca, dipersilahkan untuk menyiapkan hatinya terlebih dahulu ❤ *****       MATA Aurel mengerjap pelan, dia mulai duduk dan membuka matanya. Dapat Aurel lihat langit masih berwarna kebiruan dan itu masih terlalu pagi untuk bangun di waktu weekend sekarang. Aurel memasuki kamar mandi, mengganti pakaiannya dengan pakaian olahraga. Dia akan berolahraga seperti biasanya, sejak kecil Aurel memang terbiasa olahraga terlebih dahulu di pagi buta. Aurel melangkahkan kakinya turun dan melihat rumahnya yang sepi, tanda belum ada yang bangun sama sekali. Saat Aurel ingin mengambil air minum di dapur, matanya menangkap Angkasa yang juga sudah duduk manis di meja makan dengan gelas di tangannya. "Lo udah bangun?" suara Angkasa membuat Aurel mengerjap pelan lalu kembali tersadar. "Hm," "Olahraga?" tanya Angkasa lagi melihat pakaian Aurel, "Ya," jawab Aurel singkat dan meminum airnya dengan cepat. Aurel mulai beranjak pergi tapi baru beberapa langkah, Angkasa menghentikannya dan membuat Aurel menoleh dengan pandangan bertanya. "Apa?" tanya Aurel bingung. Angkasa menghampiri Aurel yang menatapnya dengan penuh tanya, Aurel merasakan tubuh Angkasa dengan jarak dekat seperti ini membuatnya menahan nafas namun berusaha bersikap biasa. Mata Angkasa menatapnya lekat sebelum menundukkan badannya, tangan laki-laki itu terulur memperbaiki tali sepatu Aurel yang lepas dan itu membuat Aurel tersentak. "Tali sepatu lo lepas," ucap Angkasa kembali berdiri, Aurel masih diam tak percaya dengan tindakan Angkasa yang tak terduga. "Makasih," Aurel segera berlalu pergi, Aurel tidak mau Angkasa mendengar detak jantungnya yang berpacu cepat. Tindakan Angkasa tadi sungguh membuatnya kaget tak percaya. Aurel berusaha menenangkan detak jantungnya dan mulai berlari pagi. Sedangkan Angkasa hanya terpaku dengan apa yang dia lakukan, dia tidak berniat sedikit pun tapi itu semua terjadi secara spontan dan Angkasa merasakan getaran yang berbeda. "Napa lo?" Angkasa tersentak saat mendengar suara dari arah tangga, disana berdiri Athala dan Sherren yang memandangnya heran. "d**a lo sakit?" tanya Sherren lagi, "Eh malah diem si kutu monyet di tanya," sosor Athala melihat Angkasa masih diam. "Masih pagi jangan ngatain orang Bahrudin," toyor Sherren membuat Athala mendengus. "Gue ga papa," jawab Angkasa kembali bersikap normal, sungguh jantungnya bekerja terlalu cepat tadi, "Terus ngapa lo pegang d**a sambil diem?" tanya Athala lagi. "Berisik lo," Angkasa melanjutkan kembali langkahnya menuju kamar yang dia tempati, bersiap untuk membersihkan diri. "Aneh banget, ga biasanya dia kek orang salting gitu," gumam Athala heran. "Udahlah, gue mau minum dulu," balas Sherren tidak terlalu peduli dan melanjutkan langkahnya ke dapur diikuti Athala. Keduanya tak sengaja berpapasan saat sama sama membuka pintu kamar lalu berjalan bersama menuju kearah dapur tapi malah menyaksikan pemandangan Angkasa yang menepuk dadanya pelan dengan tatapan kosong. Athala hanya bersedih, dia tau pasti Angkasa tadi bertemu dengan Aurel tapi laki-laki itu memilih tidak menjawab dan pergi. *****      Semua sudah berkumpul di meja makan,  terlihat Audy yang sedang mengomeli Samuel karena laki-laki itu terus menjahilinya dengan berbagai cara. "Samuel, jangan ganggu Audy!" geram Audy melihat Samuel yang selalu menginjak kakinya pelan atau menarik sedikit rambut gadis itu. Tawa membahana Samuel membuat Audy semakin mengerucutkan bibir, sedangkan Salsha yang sedang jengah memutar bola matanya malas lalu--- BRAKK "SAMUEL!" Semua menatap kearah Samuel yang terkapar di lantai, Salsha kembali memakan makanannya dengan tenang. Tak mau menghiraukan keadaan sekitarnya yang terjadi karena ulahnya. "Lo ga papa?" tanya Sherren melihat Samuel yang meringis dan kembali duduk. Samuel menggeleng pelan dan menatap Salsha dengan sinis, gadis itu tiba-tiba saja menendang kursinya dengan kuat membuat dirinya terjengkang ke belakang. "Lo ada dendam kusumat ama gue ha?! Sakit woi," ringis Samuel memegang pinggangnya dan menatap Salsha yang acuh. "Apasi anjir!" Salsha memekik keras saat Samuel menarik rambutnya sedikit kuat. "Mulai lagi," gumam semuanya melihat keributan keduanya. Aurel pun tak sedikit peduli, dia menghabiskan sarapannya dengan tenang tanpa merasa terganggu. Hingga suara Bi Arum menghentikannya. "Non rere, ada Tuan Keano datang," Aurel yang mendengarnya menghentikan makanannya sebentar Tumben sekali tangan kanannya menghampirinya sepagi ini. Apa ada masalah? Pikiran Aurel kesana kemari, tidak memperdulikan sekitarnya yang bertanya-tanya sosok Keano. "Nona Aurel," Suara berat seseorang mengalihkan atensi semua orang di meja makan menghadap kearah jalur yang menghubungkan ruang makan di rumah ini. Mereka dapat melihat laki-laki berpakaian santai dengan kaos hitam ditutupi kemeja putih, rambut ditata rapi dengan celana jeans hitam. Tidak terlihat seperti tangan kanan yang sering dipikirkan orang-orang, biasanya yang memakai jas resmi dimana pun berada ketika bertemu atasannya. "Astaghfirullah ganteng," celetuk Audy membuat semuanya menatapnya, hingga membuat Audy meringis melihat tingkah lakunya. "Audy jangan malu-maluin," gumam Rakha mengingatkan, "Maaf Audy kelepasan," balas Audy tersenyum kikuk. Aurel menatap Keano dengan datar, lalu beranjak dari kursinya. "Lanjutin aja," ucap Aurel menatap teman-temannya lalu melangkah pergi bersama Keano. Keduanya nampak serasi saat berjalan bahkan Sherren mengira laki-laki yang datang itu adalah kekasih sahabatnya. "Itu pacarnya Queen? Gila ganteng banget," ucap Sherren tak percaya, "Masih gantengan gue juga," sahut Athala tak mau kalah. "Mata lo," balas Sherren berdesis, "Udah gue aja yang paling ganteng dan lo semua rakyat jelata," ucapan Samuel menghadiahkan decakan kesal dari teman-temannya. "Lah gue mikirnya tuh cowok temen Queen doang karena setau gue Queen ga pernah cerita punya doi," ucap Rakha kembali memasukkan nasi goreng ke dalam mulutnya. "Audy ama Salsha ga pernah denger Queen punya doi kok, apalagi sampe jalan ama cowok. Kayak bukan Queen," sahut Audy membenarkan kalimat Rakha. "Bisa jadi kan dia punya tapi belum mau cerita, ntar coba gue tanya Bi Arum. Kan dia tau semua tentang Queen," ucap Salsha lalu memanggil Bi Arum yang sedang berkutat di dapur. Sedangkan Angkasa memilih diam mendengarkan, entah kenapa dia merasa tidak suka mendengarkan pembicaraan di meja makan sekarang. Dia menginginkan topik yang baru selain kedua orang yang baru saja pergi tadi. "Ada apa non?" jawab Bi Arum yang sudah berada di dekat Salsha dan menatapnya dengan bingung. "Tadi siapa bi? Pacarnya Queen?"  tanya Salsha. "Oh yang baru dateng terus manggil non Rere?" tanya Bi Arum memastikan, "Rere?" tanya Athala heran. "Dia di rumah di panggil Rere, ya sejenis panggilan orang rumah dari kecil buat dia," jawab Sherren membuat Athala mengangguk paham. "Nah iya bi, itu siapa? Kok ganteng banget?" celetuk Audy membuat Rakha menoyor kepala gadis itu pelan. "Ih Rakha apaan sih, Audy kan jujur. Dia emang ganteng banget, kayaknya Audy terpesona deh," ucap Audy tersenyum sendiri membuat Samuel mendelik jijik. "Tampang lo kek tante girang yang nemu mangsa njir," ucap Samuel membuat Audy melotot tak percaya dan bersiap melempar sendok nya jika saja Sherren tak menahannya. "Lanjut bi," ucap Salsha. "Namanya Tuan Keano, kalo ga salah lengkapnya Keano Arthrecus Mahendra. Dia tangan kanannya Nona Rere non, mereka emang sudah dekat sejak Nona Rere megang perusahaan," Bi Arum menjelaskan dengan perlahan agar semuanya dapat mendengar dengan baik. "Perusahaan?" tanya Samuel tak mengerti, "Iya tuan, Nona Rere sudah memegang perusahaan saat umurnya belum genap 15 tahun sejak kepergian orang tuanya," ucap Bi Arum. Angkasa sedikit terkejut mendengar bahwa orang tua Aurel telah tiada, pantas saja Angkasa tidak melihat sama sekali keberadaan orang tua Aurel. "Gila, gue umur segitu masih mabar anjir ama temen-temen," celetuk Samuel tak menyangka, "Ampe sekarang kali ah," ucap Sherren memperjelas membuat Samuel hanya memasang cengiran. "Oke bi, makasih ya infonya," ucap Salsha dan Bi Arum hanya mengangguk lalu pamit pergi. "Ga nyangka sih gue, gue kira Queen megang perusahaan kaga umur segitu, itu terlalu muda anjir," ucap Athala juga sama terkejutnya, "Tuntutan makanya harus bisa," balas Rakha. "Nama perusahaan dia apa dah?" tanya Samuel dan seketika semua hening, tak ada yang berbicara bahkan Sherren yang ingin menyuapkan makanannya terhenti. "Kenapa? Pertanyaan gue salah?" tanya Samuel heran, "Gue juga penasaran, apaan dah? Dari dulu kaga ada infonya sama sekali," sambung Athala membenarkan. "Kita ga bisa ngasih tau sebelum waktunya," ucap Sherren menghela nafas, "Dan ga usah nyari tau, kalo udah waktunya lo berdua juga bakal tau nama perusahaannya," ucap Salsha. "Yaelah gitu amat dah," celetuk Samuel terlihat kesal tak mendapatkan jawaban. Mereka kembali melanjutkan sarapan mereka dan ketika selesai semuanya beranjak menghabiskan waktu di tempat yang mereka mau, karena rumah Aurel tergolong besar dan fasilitas lengkap jadi tak menutup kemungkinan setiap orang yang datang merasa nyaman dan betah berlama-lama di rumahnya. Dan itu tidak membuat Aurel merasa terganggu, gadis itu membiarkan saja asal tak menganggu dirinya. "Gede juga nih rumah, kalo buat lapangan sepak bola kayaknya seru," canda Athala membuat Samuel terkekeh di sebelahnya. "Bukan Sepak bola lagi tapi golf," lanjutnya tertawa. "Ada kok tempat golfnya," celetuk Audy membuat keduanya menoleh kaget. "Jangan bercanda lo," ucap Samuel. Audy mengerucutkan bibirnya, "Audy ga bohong tau, itu Rakha lagi main golf di belakang sama Angkasa," ucapnya lalu berlalu pergi ingin menyusul Sherren dan Salsha. Samuel dan Athala berpandangan tak percaya lalu menggeleng bersamaan. Ternyata kekayaan keluarga Aurel memang tidak bisa diragukan lagi. Hingga 10 turunan lebih pun tidak akan habis harta kekayaannya, dan yang pasti itu bukan kebahagiaan yang Aurel inginkan. Karena memiliki kekayaan yang sangat banyak maka ancaman besar pun akan terus berada di sekitarnya. Ya siapa yang tidak ingin kaya? Tidak ada gang tidak mau, bukannya manusia itu penggila uang? Apapun yang menghasilkan uang agar bisa bertahan hidup maka akan mereka lakulan bukan? Jadi bagi Aurel itu sudah hal lumrah jika dirinya selalu dikatakan dalam situasi keadaan berbahaya bahkan sejak dirinya lahir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN