The Queen [12]

1949 Kata
Sebelum membaca, dipersilahkan untuk menyiapkan hatinya terlebih dahulu ❤ *****    ANGKASA menjalankan mobilnya di jalanan kota, hari ini dia sudah pindah ke apartement barunya. Dia sudah merasa tidak nyaman tinggal bersama Athala dan keluarganya. Bukan, bukan karena Athala dan keluarganya membuat kesalahan. Hanya saja tidak nyaman merepotkan orang lain dalam waktu yang cukup lama. Bagaimana tidak, orang tuanya baru saja menghubunginya bahwa rencana pulang ke Indonesia harus diundur. Angkasa memarkirkan mobilnya di basement yang ada, lalu membawa sedikit barangnya menuju Apartementnya. Ya Angkasa memilih Apartement elite untuk dia tinggal, dia pikir dia akan lama tinggal disini walaupun orang tuanya nanti pulang karena jarak ke sekolahnya yang dekat itu bisa menjadi alasannya kepada orang tuanya nanti. Baru saja Angkasa sampai di depan pintu apartementnya, matanya tak sengaja menangkap gadis dengan dress peach yang terlihat formal dengan tas dompet di tangannya. Mata Angkasa sedikit mengerjap, apa dia tidak salah melihat? Angkasa dapat melihat Aurel yang berjalan berlawanan arah dengannya, gadis itu seperti sedang menelpon seseorang dilihat dari gadis itu memegang ponselnya kearah telinga. "Saya harap mereka tidak hanya mengumbar janji kepada perusahaan, jika saya tau itu hanya sekedar janji belaka maka kamu tau apa yang harus kamu lakukan," Angkasa mendengar dengan jelas suara gadis itu yang mengintimidasi hingga Aurel mematikan sambungan pun Angkasa tetap fokus dengan Aurel. Langkah Aurel terhenti saat melihat seseorang yang menatapnya, dirinya terdiam. Dia tidak tau bahwa ada Angkasa yang tak jauh berada di depannya, sedang apa laki-laki itu disini? "Ngapain?" Angkasa akhirnya mengeluarkan suaranya, memecahkan keheningan mereka berdua yang sama-sama terdiam sambil menatap satu sama lain. "Bukan urusan lo," Aurel kembali melangkah menjauh dan ingin segera masuk ke dalam lift, dia ada janji lagi setelah ini. Yah, weekend Aurel dihabiskan dengan berbagai rapat, janji dengan CEO perusahaan besar, lalu mengecek laporan-laporan dari Sekretarisnya. Tidak ada waktu istirahat bagi hidup Aurel. Bahkan Aurel dapat menghitung jari berapa jam dia dalam sehari bisa istirahat, belum lagi jika hampir mendekati tengah malam dia akan kembali berkutat ke dunia balapannya. Belum sampai jari Aurel memencet tombol lift, Angkasa sudah menarik tangan itu dan membalikkan badannya menatap dirinya. Angkasa menatap lekat mata gadis di depannya. Entah kenapa semakin hari Angkasa semakin ingin tau tentang kehidupan Aurel, gadis itu mempunyai daya tarik sendiri. "Kenapa?" tanya Aurel setelah sekian lama mereka bertatapan dalam diam. Angkasa tetap diam tak menyahut tapi pegangan itu semakin erat. "Mau kemana?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Angkasa membuat Aurel mengernyitkan dahinya bingung. Maksud Angkasa sebenarnya apa? Aurel hanya menatap datar dan berusaha melepaskan cekalan tangan itu namun nihil. Sulit melepaskannya karena Angkasa yang memegang sangat erat. "Sorry gue banyak urusan bisa lo lepasin," ucap Aurel jengah, dia harus segera pergi karena jam terus bergerak cepat dan mungkin saja Sekretarisnya sudah menunggu di bawah. Angkasa tetap mempertahankan posisinya, "Lo mau kemana?" tanya Angkasa lagi. Dia menuntut sebuah jawaban dari Aurel. "Itu bukan urus---" "Lo mau kemana?!" Sentakan dari Angkasa yang agak keras membuat Aurel makin tidak mengerti dengan Angkasa, ada apa dengan laki-laki itu sebenarnya? Aurel menatap tajam Angkasa dan segera menarik tangannya dari genggaman Angkasa dengan kuat, ekspresi Aurel sulit ditebak. "Jangan pernah mau tau urusan gue, lo harus tau batasan Angkasa," desis Aurel dengan tajam lalu segera masuk ke dalam lift. Angkasa termenung, baru pertama kali gadis itu menyebutkan namanya dari bibirnya secara langsung. Angkasa mengusap kasar rambutnya, dia menggeram menahan amarah. Semua ini membuatnya hampir gila, gejolak rasa ingin tahu dari dalam dirinya terus memberontak membuat dia tidak bisa mengendalikan diri dengan kuat. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Angkasa? *****       Salsha menatap Athala dengan tajam, tangannya berada di pinggang. Gadis itu sedang kesal dengan Athala yang selalu gila setiap harinya, sebenarnya kapan laki-laki itu bisa kembali normal? "Tha, balikin anjir!" seru Salsha mulai mengomel. Mereka sedang berada di rumah Salsha, entahlah tidak ada yang pernah betah di rumah masing-masing. "Apasi Sal, gue minjem bentar elah. Lagian anak cewek malah main PS, aneh lo," seru Athala yang duduk anteng di atas sofa ruang santai dengan layar televisi di hadapannya. "Bodo amat, gue belum selesai main anjir. Sial sial sial!" Salsha memukul tubuh Athala dengan bantal sofa secara brutal, membuat Athala hanya mengaduh kesakitan. Sherren dan yang lainnya hanya fokus dengan kartu UNO mereka. Semuanya berkumpul di rumah Salsha terkecuali Angkasa dan Aurel, Angkasa berpesan akan menyusul nantinya sedangkan Aurel tidak ada kabar sama sekali. "Mana si Angkasa dah, katanya mau nyusul?" celetuk Samuel yang memegang segelas es jeruk, Rakha hanya mengedikkan bahunya acuh. "Tadi katanya sih nyusul, gue dikasih tau Athala," jawab Sherren lalu mengeluarkan kartu UNO nys, "UNO!" serunya gembira. Dia sudah memenangkan permainan selama 3 putaran, membuat yang lainnya hanya berdecak malas. "Kenapa Sherren mulu sih yang menang, ga seru ah," bibir Audy mengerucut tak terima, gadis itu selalu mendapatkan tambahan kartu yang banyak. Memang gadis itu dasarnya tidak bisa memainkan permainan seperti ini. "Rezeki gue lah," balas Sherren dengan bangannya, "Queen ga dateng lagi Sal?" tanya Rakha kearah Salsha yang masih memukul Athala dengan brutal. "Gue gak tau, udah gue hubungin tadi tapi kaga diangkat," jawab Salsha, "Berenti woy! Sakit nih" ringis Athala merasakan pukulan mematikan Salsha. "Dia sibuk kali, lo tau sendiri lah weekend gimana padatnya jadwal Queen," ucap Sherren. "Gue cuma takut dia kecapean, jadwal dia ga pernah longgar selalu padat," balas Rakha meminum es jeruknya. "Emangnya weekend gini si Queen kaga libur apa?" tanya Samuel, "Di dalam kamus kehidupan Queen setelah orang tuanya udah pergi, ga ada kata weekend. Selalu dipenuhi tuntutan kerja dan hal-hal yang dia sukai," ucap Sherren. "Iya bener kata Sherren, Queen ga pernah mau punya waktu longgar katanya kalo waktunya longgar bisa aja dia malah nginget orang tuanya lagi. Kan kasian," ucap Audy dengan wajah dibuat-dibuat. "Geli gue liat muka lo Dy, serius," Athala bergidik ngeri. Dia dan Salsha sudah berhenti, sekarang keduanya malah beradu tanding bermain PS. "Nah itu Angkasa!" Seruan Audy membuat semuanya menoleh kearah Angkasa yang baru saja datang, laki-laki itu bilang ingin ke Apartement barunya dulu mengecek sesuatu baru menyusul. "Lama amat sih anjir, lo ngapain dah?" sungut Athala kesal karena satu jam lebih laki-laki itu pergi. "Bacot," jawab Angkasa santai dan memilih duduk tenang di sebelah Rakha. "Semua udah kumpul tinggal Queen aja yang kaga ada, adoh," keluh Samuel. Angkasa yang mendengar itu menoleh, dia baru menyadari tidak ada Aurel disini. Padahal jelas-jelas tadi dia bertemu gadis itu. "Dia ga kesini?" tanya Angkasa beralibi, "Kaga tau tuh, dihubungin ama Salsha tapi ga diangkat," jawab Audy dengan jujur. "Tadi gue ketemu dia," "APA?!" Seruan kompak itu membuat Angkasa mengernyit bingung. Apa yang aneh dengan perkataannya? Haruskah semuanya berekspresi dengan sealay itu? "Ih dimana dimana?!" Audy bertanya dengan bertubi-tubi begitu juga dengan Athala. "Tadi pas di lobi apartement gue," jawab Angkasa seadanya. "Ha jangan bilang lo berdua di satu unit apartement yang sama?!" Angkasa mengedikkan bahunya pertanda tak tau apapun. Dia juga tidak tau apakah Aurel memang tinggal di apartement yang sama dengannya atau tidak. "Soalnya si Queen juga tinggal di Apartement Sa," Perkataan dari bibir Rakha membuat Angkasa mengernyit bingung, "Rumahnya?" "Rumah itu bisa dia datengin seminggu sekali atau 2 minggu sekali si, tergantung mood dia mau balik apa kaga. Dia lebih nyaman tinggal di apartement katanya dibandingkan di rumah sendiri. Emang aneh tu anak," jelas Sherren. "Gila emang si Queen, rumah udah kek istana malah tinggal apartement," ucap Samuel heran dengan jalan pikiran Aurel. "Anak sultan bebas aje lah yaw," balas Athala. "Oh iye lupa gue," kekeh Samuel kembali memakan cemilan di toples yang berada di atas pangkuannya. "Ngomongin gue?" Suara seseorang membuat semuanya menoleh, terlihat Aurel yang sudah berdiri dengan wajah tanpa ekspresinya. Gadis itu sudah mengganti bajunya dengan memakai pakaian santai dan jangan lupakan jaket hitam yang sudah menjadi ciri khas seorang Aurel. "Queen!!" Pekikan Audy membuat semua sontak menutup telinga, Audy langsung berlari memeluk Aurel yang kaget dengan gerakan cepat Audy. Aurel mendorong pelan tubuh Audy yang memeluknya dengan kencang. "Alay amat dah kek udah berabad-abad kaga ketemu," celetuk Samuel melihat tingkah Audy. Audy sendiri hanya mencebikkan bibirnya. Sherren pun menghampiri keduanya, "Darimana aja lo? tumben baru datang jam segini, biasanya lebih telat," Aurel hanya menatap datar Sherren yang hanya nyengir. "Bercanda elah, ayo duduk,"  Aurel segera melangkahkan kakinya duduk di mini bar, memilih salah satu kursi disana. Karena ruang santai rumah Salsha menjadi satu dengan mini bar. Mata Angkasa menatap Aurel, mengamati dalam keterdiamannya. "Ngeliat apa lo?" Angkasa menolehkan wajahnya kearah Rakha, Angkasa menggeleng pelan. "Suka?" tanya Rakha membuat Angkasa hanya diam tak menyahut pertanyaan itu. Dia tidak tau jawaban apa yang harus dilontarkan. Angkasa kembali menatap kearah Aurel dan sialnya gadis itu juga menatap kearahnya dengan tatapan sulit ditebak, bahkan ketika gadis itu meminum air dari gelasnya, mata itu masih menatap lekat Angkasa. Angkasa semakin tidak mengerti dengan tatapan Aurel kepadanya, disana Angkasa dapat melihat bahwa ada arti dibalik setiap tatapan Aurel. Tatapan kosong, kehilangan, dan tidak ada sinar kebahagiaan yang terlihat dari tatapan mata Aurel. "Mau cari tau tentang dia?" Suara Athala memutuskan tatapan Angkasa, laki-laki itu sudah duduk anteng di sebelahnya menggantikan Rakha yang pergi entah kemana. Angkasa melirik sekilas kearah Aurel yang kini sudah fokus dengan ponsel gadis itu. "Gue perhatiiin lo berdua daritadi saling liat-liatan si, lo ga tertarik cari tau tentang dia?" tanya Athala menatap Angkasa. "Maksud lo?" tanya balik Angkasa tak mengerti. Athala menghembuskan nafasnya, senyum tipis laki-laki itu terlihat. Athala menyenderkan tubuhnya ke sofa dengan nyaman. Untungnya sekarang hanya mereka berdua disini, semuanya pergi kearah belakang termasuk Aurel yang pergi entah kemana sambil membawa ponselnya. "Queen itu punya banyak rahasia yang ga sedikit pun orang tau, bahkan gue ama yang lain yang udah berteman sejak lama ga banyak tau tentang dia sendiri," suara Athala mulai terdengar, laki-laki itu mulai menceritakan semuanya yang dia ketahui. Angkasa diam mendengarkan, kepalanya mulai berproses untuk mencerna semuanya dengan baik. "Dia memang punya aset kekayaan dari keluarganya yang memang banyak, bahkan bisa dibilang terlalu banyak. Queen itu anak tunggal di keluarganya bahkan cucu satu-satunya pewaris Mackenzie. Sejak orang tuanya meninggal, Queen udah ga punya tujuan hidup lagi," tutur Athala. "Bahkan dia berpikir bahwa hidupnya yang sekarang cuma untuk melanjutkan perusahaan keluarganya terus punya anak, udah selesai sampai disitu," Angkasa terkejut mendengar pernyataan dari bibir Athala, apa Aurel hanya memikirkan sesederhana itu. Dia hanya ingin sampai penerus selanjutnya lahir lalu dia akan segera pergi. "Banyak yang coba deketin Queen, cari tau tentang dia tapi ya ga berhasil. Bahkan akhirnya banyak yang jatuh sama pesona Queen, tapi ya gue bingungnya padahal Queen ga ngelakuin apapun," kekeh Athala membuat Angkasa hanya memutar bola matanya malas. Athala menepuk pundak Angkasa pelan, "Coba lo cari tau, gue yakin lo bisa masuk ke kehidupan dia dan selametin dia dari zona dia. Gue mau nyusul yang lain ke belakanhg, semangat bro," Athala beranjak dari duduknya dan melangkah ke belakang rumah tempat semuanya berkumpul. Meninggalkan Angkasa seorang diri disana. Dilain sisi Aurel berdiri di dekat sebuah kolam ikan di rumah Salsha, gadis itu dengan tenang berdiri disana ya tidak dipinggir kolam renang itu, melainkan di bawah pohon yang rimbun. Matanya menatap kosong kearah kolam renang, pikirannya berkelana kemana-mana. Rasanya sangat lelah menjalani kehidupan dengan jadwal yang sangat sibuk seperti ini. "Ngapain disini?" Aurel menolehkan kepalanya dan mendapati Rakha yang berdiri di sebelahnya. "Gak ada," jawab Aurel seadanya membuat Rakha hanya tersenyum, "Orang lain pada ngumpul di belakang Queen, ngapain disini coba? Ayo ke belakang," Rakha meraih tangan Aurel dan mengajaknya untuk pergi namun Aurel menahan tangan Rakha. Gadis itu menatap Rakha dengan tatapan menolak. "Gue masih mau disini," suara Aurel terdengar sangat datar. Rakha menatap Aurel dengan pandangan bingung, "Mau cerita?" tanya Rakha seolah tau bahwa Aurel sedang mempunyai beban berat di pundaknya. Aurel hanya menghela nafas kasar dan melepaskan tangannya dari Rakha, gadis itu berjalan kearah ayunan yang tersedia disana. "Pergi aja," ucap Aurel menatap kearah kolam renang. Tatapan yang terlihat sangat kosong. "Masih gak mau berbagi?" tanya Rakha mendekati Aurel lagi lalu mengusap kepala gadis itu dengan lembut. Aurel tetap diam, dia bukannya tidak ingin berbagi tapi rasanya ad ayang menahan dirinya untuk bercerita kehidupannya kepada siapapun. Bahkan rasanya sangat sulit untuk menceritakan semuanya. Sampai sekarang gadis itu memilih memendam semuanya daripada bercerita, kalau pun dia bercerita itu pun hanya sedikit tidak menjabarkan semua masalahnya. Padahal dia tau bahwa dengan bercerita bisa saja rasa beban di hidupnya berkurang sedikit demi sedikit. Tapi sampai sekarang Aurel masih belum bisa, dia belum menemukan orang yang tepat untuk berbagi masalahnya. Dia hanya mencoba menunggu kapan sosok itu datang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN