Sebelum membaca, dipersilahkan untuk menyiapkan hatinya terlebih dahulu ❤
*****
MATA tajam Aurel menatap kearah seseorang di hadapannya, pria paruh baya yang juga menatapnya dengan sendu. Dia adalah kakek Aurel.
"Apa?" tanya Aurel tanpa minat menatap Bagas.
"Kakek hanya ingin menjengukmu," jawab Bagas tersenyum lembut tapi mampu membuat Aurel berdecih tidak suka.
Aurel masih sangat membenci pria paruh baya di depannya, walaupun sudah berumur tapi Bagas masih terlihat bugar dan sehat.
"Jangan basa basi," ucap Aurel sarkastik, dia lebih suka langsung to the point daripada bertele-tele seperti ini membuat Bagas hanya menghela nafas pelan.
Bagas tau ini karena dirinya juga, bayangkan saja ketika cucunya di dalam keterpurukan tidak ada yang menghiburnya sama sekali. Bahkan dirinya pun ikut andil saat itu.
Bukan, bukan karena Bagas tak mau peduli pada apa yang dialami cucunya. Bahkan dia juga merasa kehilangan saat anak semata wayangnya Kenzie meninggalkannya untuk selama-lamanya begitu juga dengan menantunya.
Hanya tersisa Aurel sendirian dan dirinya pun keluarga satu-satunya yang Aurel miliki, itu sebabnya seharusnya dia berada di samping cucunya saat itu. Tapi Bagas harus menyelesaikan urusannya yang bersangkutan dengan kematian anak dan menantunya maka dari itu dia tidak berada di sisi Aurel saat gadis itu terpuruk.
Bagas mencoba menjelaskan semuanya, namun Aurel sudah berhati dingin dan seolah-olah tidak peduli lagi karena keterbiasaan gadis itu sendirian menjadikannya tak peduli lagi dengan alasan apapun yang Bagas berikan.
"Kakek senang jika keadaanmu baik-baik saja, kakek hanya takut kamu terlalu lelah melakukan semuanya, Sha," ucap Bagas sendu, "Stop memanggil saya dengan nama itu, hanya orang tertentu yang boleh memanggil saya dengan nama itu," tekan Aurel.
Gadis itu tidak ingin ada yang memanggilnya dengan nama panggilan kesayangan keluarganya dahulu bahkan kedua orang tuanya memanggil dirinya dengan nama itu juga, jika gadis itu mendengar kembali rasanya terlalu sesak dan sakit.
"Jika tidak berkepentingan silahkan anda pergi," usir Aurel secara halus dengan wajah datarnya, "Sampai kapan ini terus terjadi? kamu tidak akan memaafkan kakekmu ini? kejadian itu sudah berlalu lama, kenapa semuanya belum bisa membaik dengan sedia kala," ucap Bagas mencoba memberi pengertian untuk Aurel.
Aurel memandang kearah lain, muak melihat pria paruh baya di depannya, "Kejadian itu memang sudah lama, tapi apakah luka saya sudah sembuh? jawabannya tidak dan tidak akan pernah sembuh karena selamanya luka ini akan terus saya rasakan," ucap Aurel.
"Seharusnya anda mengerti bahwa semuanya sudah berakhir, urus urusan anda sendiri dan bukankah kau sudah mempunyai penerus perusahaan selanjutnya? jadi untuk apalagi anda kemari?"
Bagas yang mendengar perkataan Aurel hanya terdiam, cucunya sudah tau bahwa ada penerus selain Aurel nantinya karena Bagas tau Aurel butuh seseorang yang juga membantunya karena Bagas yakin Aurel tidak akan sanggup mengurus perusahaan besar keluarganya yang berada dimana-mana.
"Terkejut? Saya berikan semua berkas perusahaan yang saya urus dengan anda, segera saya kirimkan tapi tertinggal sedikit pun, saya yakin itu,"
"Qenisha!"
"Apa!!"
Suara nyaring keduanya membuat rumah yang sepi tersebut terasa mencekam, tidak ada orang lain selain mereka berdua yang berada di ruang keluarga. Bi Arum yang selalu mondar-mandir di rumah Aurel pergi pulang kampung sejak pagi karena ingin menjenguk anaknya.
"Salah saya mengatakan demikian? jika memang dari dulu kakek tidak ingin saya melanjutkan perusahaan keluarga ini harusnya dari dulu kakek mengatakannya! Kenapa harus membuat saya lelah dengan semuanya!!" teriak Aurel melampiaskan amarahnya.
Seharusnya kakeknya tidak seperti ini kepadanya, jika kakeknya tidak menginginkan dirinya menjadi pewaris harusnya bisa dikatakan dari dulu bukan diam-diam mencari pewaris lainnya yang tidak berhubungan darah dengan keluarganya.
Aurel tau alasan kakeknya mengangkat seorang cucu lagi sebagai pewaris keluarga karena kakeknya tidak ingin dia mengurus semuanya dan berakhir tidak punya waktu sedikit pun untuk beristirahat. Tapi Aurel tidak menyukai jika pewaris lainnya bukan berasal dari keluarganya.
Itu seolah-olah mengatakan dirinya tidak pantas untuk mengemban semuanya.
"Kakek bukan bermaksud seperti itu, kakek hanya ingin kamu tidak terlalu lelah dengan semuanya. Cobalah untuk mengerti dan turunkan egomu," ucap Bagas menatap tegas cucunya, tapi Aurel malah acuh saja.
Aurel hanya menghela nafas kasar, "Lalu dengan tanpa memberitahuku dan menjalankan semuanya diam-diam apa itu bagus? Tidak salah jika dari dulu aku membencimu kek, karena kamu tidak mau menghargai pendapat orang lain dan memilih mengaturnya sendiri dan memperbudak semuanya untuk menjalankan tanpa mendengar pendapat orang yang bersangkutan,"
Setelah mengatakan kalimat itu, Aurel segera pergi dari rumah. Dia butuh ketenangan dan rumah bukanlah tempat yang tenang selama kakeknya masih berada disana.
Bagas yang mendengar perubahan bicara Aurel hanya menghela nafas pelan, laki-laki tua itu memilih duduk di sofa. Semuanya terasa lebih kacau dari perkiraannya, bukan dirinya bermaksud tidak ingin memberitahu Aurel, hanya saja dia ingin Aurel mendengarnya secara langsung saat keduanya sudah akur bukan seperti ini.
Aurel melangkahkan kakinya memasuki sebuah tempat, dia berangkat kesini hanya dengan menggunakan motor kesayangannya.
"Yo yo siapa yang datang!" seru laki-laki dengan wajah sumringahnya melihat kehadiran Aurel yang baru masuk.
Aurel hanya menatap datar dan bergabung bersama yang lainnya.
"Anjir Queen, tumben jam segini udah dateng? biasanya malam kan lo kesini abis balapan?" pertanyaan dari perempuan berambut hitam dengan sedikit berwarna biru itu menatap Aurel.
"Suntuk," jawaban Aurel membuat semuanya mengangguk paham. "Mau latihan langsung apa mau ke belakang dulu? Ada Angga ama yang lain tuh di belakang," ucap Flora, gadis yang memiliki rambut hitam dengan sedikit warna biru itu.
"Gue ke belakang dulu," Aurel beranjak dari kursinya dan memilih ke belakang.
Jika dilihat pun tempat yang Aurel datangi ini seperti basecamp tongkrongan teman-teman Aurel, ya sebagian ada teman balap Aurel dan sebagian lagi teman diluar area balapan. Jadi tak ayal jika Aurel banyak yang mengenali.
Aurel menatap ruangan belakang yang berkesan outdoor dan disulap menjadi tempat latihan menembak dan memanah. Luas halamannya pun cukup untuk menampung puluhan orang, dan entahlah tempat ini dulunya milik keluarga Aurel juga lalu Aurel kelola menjadi basecamp dengan teman-temannya yang lain.
"Queen," panggilan Angga membuat Aurel menoleh lalu kembali menatap ke depan.
Angga menghampiri Aurel yang masih diam di tempatnya, "Sama siapa lo? sendirian aja? Audy ama Salsha mana? katanya Sherren ama Rakha juga udah datang kan? kaga kesini?"
Aurel hanya memutar bola matanya mendengar Angga yang bertubi-tubi mengeluarkan pertanyaannya, "Berisik," balas Aurel lalu meninggalkan Angga yang terdiam.
"Anjir tetep aja kek es batu," gerutu Angga.
Aurel memilih mengganti pakaiannya di ruangannya yang tersedia disana dan hanya dia yang bisa memasuki. Dia segera melepaskan jaket hitam miliknya, dan hanya memakai baju berlengan panjang berwarna hitam dengan bahu terbuka.
Gadis itu hanya melepas jaketnya saja lalu mengganti sepatunya dengan warna hitam, gadis itu segera mengambil pistol miliknya dan berjalan keluar.
"Sini Queen!" teriakan Flora memanggil membuat Aurel menghampirinya.
"Nih gue udah siapin tempat lo, biasanya lo disini kan? lagian pemandangannya bagus nih sore-sore," ucap Angga. Aurel tak menanggapi dan lebih memilih menyiapkan dirinya.
Gadis itu sebenarnya sudah sangat mahir dalam memainkan senjata api dan juga panahan tapi tetap saja gadis itu merasa belum puas.
Entah kapan Aurel sudah menekuni bela diri seperti ini, sejak kedua orang tuanya pergi meninggalkannya Aurel sudah dilatih untuk bisa melindungi dirinya sendiri.
Karena musuh dari keluarga besar Mackenzie tidaklah sedikit bahkan sangat banyak sekali, membuat Aurel juga tidak bisa jika tidak berlatih. Jika mengandalkan pars pelindungnya pun tidak akan bisa juga.
Ya, Aurel tau bahwa kakeknya pasti sudah menyediakan beberapa Bodyguard untuknya tanpa ada yang tau.
"Gila ini mah ke sekian kalinya lo berhasil terus, udah pro ini mah. Bisa buat ngajarin yang lain," celetuk Angga dan Flora yang hanya bertepuk tangan.
Flora bahkan masih belum mampu menembak dengan jitu, padahal sudah lebih dari 4 bulan dirinya belajar. Sedangkan Aurel, gadis itu sudah menguasai semuanya dalam kurun waktu 2 bulan saja.
Keluarga Mackenzie memang tidak bisa diragukan lagi dalam kehebatan dan kepintarannya. Sungguh diluar batas.
"Good job Queen, lagi-lagi lo berhasil nembak semuanya tepat sasaran," seru laki-laki lebih dewasa dari Aurel, Flora, dan Angga.
Dia adalah pelatih menembak yang mengajarkan Aurel dan yang lainnya, tidak hanya Zeck pelatih disini, ada satu orang lagi bernama Adel yang khusus melatih skill memanah.
"Zeck, gue kapan latihan nembak kek gini. Gue mau nembak botol-botol bergerak itu juga," rengek Flora menatap Zeck.
Zeck hanya menggeleng pelan, "Belajar lagi Flo, jangankan nembak botol bergerak. Nembak benda yang diam aja lo masih salah-salah," ucap Zeck membuat Angga yang mendengar tertawa.
"Anjir ngakak, makanya kaga usah kebanyakan nyalon lo njir. Kaga tamat-tamat latihan lo," ejek Angga menatap Flora.
"Serah gue lah, cewek mah udah biasa nyalon. Itu kebutuhan sampingan seorang cewek asal lo tau," balas Flora tak mau kalah.
Angga mencibir pelan, "Halah, buktinya Queen kaga kek lo yang ke salon seminggu bisa lima kali. Itu lo ngapain aja si? Kerja apa gimana?" ejeknya.
"Queen punya alat nyalon pribadi anjir, beda lah ama gue," Flora menatap sinis kearah Angga.
"Katanya anak sultan," Angga masih terus mengejek Flora yang wajahnya memerah menahan amarah.
"Angga bangke!" geram Flora lalu segera mengejar Angga yang menjauh.
Tinggalah Zeck dan Aurel berdua, Zeck yang melihat tingkah Angga dan Flora hanya terkekeh pelan sedangkan Aurel lebih memilih menikmati langit sore yang terlihat indah.
Langit berwarna keungu-unguan bercampur oren itu terlihat menenangkan hati Aurel, perasaannya mulai tenang walaupun keadaan sekitar bisa dikatakan tidak sunyi sama sekali.
Tapi hanya dengan menatap langit, emosi Aurel menguar entah kemana.
"Queen," panggil Zeck yang memperhatikan Aurel yang terus menatap langit sore di depan mereka.
"Hm?"
"Gue kira lo kenapa, diem bae mana sambil liat langit pula. Entar kesambet baru tau rasa," ucap Zeck mencoba mencairkan suasana.
"Oh iya, katanya ada orang baru yang mau masuk latihan disini. Gue gak tau juga darimana," ucap Zeck.
Aurel mendengarkan dengan teliti, walaupun matanya fokus ke depan namun telinganya tetap menghargai orang yang berbicara di sampingnya.
"Siapa?" tanya Aurel, "Gue gak tau, kayaknya sih orang baru, gue baru liat juga dan yang penting dia buka mata-mata rama Gengnya Rama," kekeh Zeck.
Aurel yang mendengarnya mencoba menebak siapa sebenarnya orang baru tersebut, setau Aurel cukup sulit untuk masuk ke tempat miliknya dan tempatnya yang lain.
Bahkan basecamp ini pun dari luar terlihat seperti rumah biasa dan tidak ada yang tau menau tentang ada apa saja di dalamnya, dibalik pagar yang cukup tinggi dan halaman luasnya.
"Bentar lagi kayaknya datang, btw dua curut lo kemana? Itu si Sherren ama Rakha katanya udah balik bener?" tanya Zeck sama seperti pertanyaan Angga.
"Gak tau," jawaban acuh Aurel lalu meninggalkan Zeck sama seperti Angga.
Gadis itu tidak suka dengan orang yang terlalu berisik dan menganggu. Setelah melepas perlengkapan menembaknya, kini dia sudah siap dengan alat memanahnya.
"Queen, lo latihan lagi hari ini?" tanya Adel tersenyum melihat murid unggulannya itu karena kecepatan gadis itu menangkap materi yang diberikan.
"Menurut lo?' tanya balik Aurel sarkastik, gadis itu bersiap dengan busur panahnya.
CTARR!!
Suara anak panah yang berhasil tertancap membuat Adel berdecak kagum, memang tidak bisa diremehkan.
"Gue rasa lo makin mahir sama panahan ama nembak, ga mau coba latihan yang lainnya?" tanya Adel menatap Aurel yang kembali melesatkan anak panahnya.
Aurel melirik sebentar kearah Adel saat dia berhasil menancapkan anak panah keduanya.
"Maksud lo?" tanya balik Aurel. "Ya maksud gue, kayak lo mau latihan pedang mungkin?" tanya Adel duduk di kursi di belakang Aurel berdiri.
"Gue udah pernah," jawab Aurel kembali melesatkan anak panah untuk ke sekian kalinya hingga anak panah terakhir.
Adel menggeleng pelan, "Hampir semuanya lo kuasai Queen, udahlah kalo lo ikut kejuaraan kayaknya pulang dapet piala ama duit banyak lo," goda Adel.
Aurel hanya berdecak, "Terserah lo," sahutnya lalu meminum air mineral yang di sediakan.
"Btw Queen, katanya ada orang baru masuk kesini. Gue baru denger juga sih, anak-anak pada ngomongin, lo kenal?" tanya Adel dibalas celengan Aurel.
"Gue kira lo tau, soalnya banyak yang bilang nih orang baru maunya diajarin sama orang yang paling mahir sama semua bidang disini terkecuali pelatih, dan mereka pikir lo yang bakal latihin dia," jelas Adel panjang lebar.
Aurel mengernyitkan dahinya, tidak ada yang memberitahunya masalah ini bahkan orang baru yang akan masuk pun Aurel tidak mengenali nya sama sekali, bagaimana dia bisa ditunjuk untuk melatih.
"Apa gunanya pelatih disini?" tanya Aurel menatap datar kearah Adel, "Gue juga gak tau," jawab Adel.
Tak lama suara bisik-bisik mulai terdengar, sepertinya orang baru yang dibicarakan sejak tadi sudah datang.
Adel yang duduk pun menoleh ke belakang untuk mencari tau siapa sebenarnya orang baru tersebut?
Sedangkan Aurel tak terlalu menanggapi dan lebih memilih menghabiskan air mineralnya dibandingkan kepo seperti yang lainnya.
"Astaghfirullah, ganteng banget ini woi!" pekik Adel disebelah Aurel.
"Queen lo harus liat ini, astaga cogan," jerit Adel menggoyang lengan Aurel, membuat Aurel kesal.
"Apaan sih!" ketus Aurel mencoba melepaskan tangan Adel dari tangannya namun nihil.
Flora yang baru saja datang dan berdiri di sebelah Aurel pun nemenin, "Astaga pangeran darimana tuh datang!" jeritnya.
Aurel yang melihat tingkah gila dua gadis di depannya pun berdecak makin kesal, siapa sebenarnya yang membuat semua orang terpesona?
"Siapa sih?" Tanya Aurel tak tahan lagi dan membalikkan badannya untuk mencari tau.
Mata abu-abu Aurel menangkap seseorang yang memakai pakaian santai, baju kaos hitam, celana jeans hitam, sepatu putih, dan Boomber jacket berwarna Army.
Bukan itu yang membuat Aurel terdiam sekarang, melainkan laki-laki yang berdiri tak jauh dari dirinya dan ditatap banyak orang itu laki-laki yang pernah membuat hatinya berdesir.
"Angkasa," gumamnya pelan bahkan sangat pelan.
Hingga manik mata keduanya bertemu dan saling tatap cukup lama, bahkan suara pekikan setiap orang terdengar saat dua pasang mata itu saling menatap seolah ingin menyampaikan sesuatu.