Richo membeli banyak bahan makanan yang berbeda kali ini, ada ayam, sayur telur, dan bumbu-bumbu lainnya. Sampai kesusahan dia membawa bahan makanan yang tak biasa dia beli di tanggal tua ini.
"Habis belanja yaa mas Richo?" Tanya salah seorang tetangga depan rumahnya.
"Iya nih bu," Balas Richo seadanya.
Ibu-ibu tetangga depan rumahnya mendekati Richo yang akan masuk ke dalam rumah.
"Mas-mas tunggu-"
"Iya, ada apa ya bu?" Ucap Richo bingung.
"Itu loh mas- mmm ... Gimana yaa bilangnya," Ibu Gian, nama itu lah yang dia tahu. Katanya anaknya bernama Gian, jadi ibu itu di sebut ibu Gian.
"Bilang apa bu?" Tanya Richo penasaran, sekaligus agar lebih cepat karena tangannya merasa kebas kelamaan menenteng belanjaan banyak.
"Mmm, itu kata Gian tadi waktu lewat depan kontrakannya mas Richo, dia kayak ada melihat bayangan gitu di rumah mas Richo," Ujar ibu Gian dengan takut-takut, matanya melirik sana sini mencari sesuatu yang janggal.
Richo tersentak, jantungnya berdegup kencang. Dia belum siap memberitahukan orang lain kalau dia sedang membawa seorang perempuan ke rumah kontrakannya. Seketika Richo jadi tergagap, namun dengan handal dia merubah raut wajah juga nada bicaranya.
"Hmm, itu mungkin hanya siluet orang yang lewat. Gian pasti salah lihat, mungkin karena kebanyakan nonton film horor kali bu, hehe," Jawab Gian dengan gestur bijak.
"Ooh iya juga yaa, mana ada hantu siang-siang begini, hehe... Maaf yaa Mas Richo sudah ganggu," Ibu Gian menjadi salah tingkah karena ucapan sendiri.
"Gapapa bu, namanya juga anak kecil. Wajar kalau dia ngadu-ngadu gak jelas, hehee..."
"Hehee... Iya Mas Richo, sekali lagi maaf yaa, ibu pulang dulu," Ibu Gian sudah berbalik hendak menyebrang jalan.
"Iyaa bu gapapa,"
Hhh, Richo menghembuskan napas lega. Satu hari ini banyak sekali kejadian yang membuat jantungnya memompa dua kali lebih cepat. Dia mengelus dadanya sekali, rasanya lega sekali seperti sudah membuang hajat.
Namun, entah sampai kapan dia mampu menyembunyikan keberadaan Kynar dari sekitarnya.
'Ah, itu urusan nanti saja!' pikir Richo cepat, sekarang dia tak mau pusing-pusing dulu.
Richo membuka kunci rumahnya lalu segera masuk ke dalam.
Kynar menyambut kedatangan Richo dengan semringah, matanya berbinar-binar tangannya langsung menengadah ketika Richo duduk di sampingnya. Richo menyandarkan punggungnya seperti Kynar, mencoba meluruskan punggungnya yang terasa pegal sekali.
"Apa?" Tanya Richo datar, melihat tangan Kynar menengadah.
"Mm-men,"
"Hah?!" Richo tersentak, seketika dia menegakkan tubuhnya. Dia menatap Kynar dengan serius setengah melotot, kedua tangannya menekan bahu Kynar membuat Kynar menjadi takut. Matanya turun naik ke atas dan ke bawah, mencari sesuatu berwarna merah.
Kynar mengkerut ketakutan, melihat Richo yang seperti ini. Pikiran Richo berlalu kemana-mana, dia menyalahkan dirinya sendiri karena telah menolong Kynar seharusnya dia tahu konsekuensi akibat menolong dan menampung Kynar di rumahnya, apalagi tidak ada orang lain di rumah ini. Sudah cukup dia melihat sesuatu ketika membantu Kynar membersihkan tubuhnya, seharusnya dia tidak membantah kalau Kynar wanita dewasa yang-
"Mm- mau men!" Ucap Kynar kembali, tangannya kembali menengadah.
Astaga! Richo baru tersadar, segera dia lepaskan tangannya yang menekan bahu Kynar, satu tangannya menepuk jidatnya sendiri. Membuat Kynar tertawa lucu.
Richo melongo melihat Kynar tertawa bahagia, lalu mempraktekan gerakan menepuk jidat pada keningnya sendiri.
Astaga! Sekarang dia malah mengikuti gerakan ku. Gerutu Richo.
Dia menahan tawanya sendiri, harusnya dia tidak berpikir terlalu jauh terhadap Kynar. Dia jadi malu sendiri sekarang terhadap pemikirannya yang berlebihan.
Kynar masih tertawa, dia tetap menepuk jidatnya berkali-kali seperti apa yang dilakukan Richo tadi.
Richo mengambil tangan Kynar yang sedang menepuk jidatnya, di taruh nya dia permen kopi pada telapak tangan Kynar. Hal itu membuat Kynar girang sumringah, dengan cepat dia membuka bungkus permen lalu memakannya.
Richo pergi meninggalkan Kynar dan membawa barang belanjaannya ke dapur. Hari ini jantungnya bekerja terlalu lelah, berkali-kali dia dibuat spot jantung hanya karena seorang Kynar.
Setelah meletakkan bahan masakannya, dia mengambil handuk lalu membersihkan badannya yang terasa lengket.
Rasa senang dihatinya muncul kembali kala ingat dia sudah naik jabatan, lalu ingatannya berganti pada kejadian tadi seketika pipinya memerah dan wajahnya memanas. Secepat kilat dia menyelesaikan ritual mandinya lalu memakai baju.
"Ngghh ... Enggghh..." Suara Kynar terdengar panik, buru-buru dia menemui Kynar. Richo melihat Kynar sedang memegang area terlarangnya, hal itu membuat pikiran Richo mengembang kemana-mana.
'Kalau memang Kynar menstruasi, apa yang harus dilakukannya?' pikirnya rumit.
Rintihan Kynar kembali terdengar, dia menarik-narik tangan Richo yang sedari tadi berdiri. Richo panik, dia bingung, apa yang harus dilakukannya sekarang.
"Enggh, itu itu..." Kynar menunjuk pintu kamar mandi. Richo semakin bingung, namun tarikan ditangannya membuat dia tersadar.
Sebaiknya dia segera membawa Kynar ke kamar mandi, pikirnya.
Tanpa pikir panjang lagi dia membopong Kynar ke kamar mandi lalu mendudukan Kynar di closed duduk, kemudian menutup pintunya. Di balik pintu Richo terus berjalan mondar-mandir seperti setrikaan, pikirannya semrawut. Dia bingung, dia tidak tahu masalah perempuan. Pacaran saja belum pernah, sekarang harus mengurusi wanita dewasa yang seperti anak kecil.
"Haduh!"
Suara keran air berhenti. Lalu Kynar berteriak, "Sudah!" Katanya.
Richo tersentak, dia membuka pintu kamar mandi dengan hati-hati, dia takut melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat. Bisa-bisa ternoda sudah matanya yang suci ini.
Krieett...
Kynar tersenyum ceria, "Sudah," Katanya lagi. Richo mengernyit, dia tidak percaya Kynar bisa membersihkan dirinya sendiri dari dari darah menstruasinya. Mandi saja tidak bisa, apalagi membersihkan diri dari darah menstruasi.
Teriakan Kynar yang menjadi-jadi menyadarkan Richo, Kynar memandang Richo dengan kesal. Kedua lengannya dilipat di d**a, lalu memalingkan muka.
Richo memangku Kynar dengan hati-hati, dia takut menyentuh darah yang mungkin ada di balik celana Kynar. Ketika menstruasi hari pertama adiknya, darahnya selalu tembus ke celana luar.
Richo bergidik ngeri, secepat kilat dia mendudukan Kynar di tempat semula lalu pergi ke luar untuk membeli pembalut.
Hari sudah menjelang malam. Richo sudah sampai kembali lalu menaruh pembalutnya disisi Kynar. Melihat itu Kynar berbinar, dia langsung membuka bungkus pembalut itu dengan cepat lalu memakannya.
"Ehh bukan gitu!" Richo menghentikan aksi Kynar, dia langsung merebut satu pembalut dari tangannya membuat Kynar cemberut.
"Mauu..."
"Iyaa tapi bukan untuk dimakan, aduh gimana ya ngomongnya," Richo menggaruk kepalanya bingung, sebenarnya dia juga tidak tahu.
"Mauu... Ih," Kynar merebut kembali benda keramat itu tapi secepat kilat pula Richo mengambilnya dan menggantinya dengan biskuit.
"Ini makan!" Kynar memakan biskuit itu senang lalu segera melahapnya. Sementara Kynar asik memakan biskuit, dia segera membaca tata cara pemakaian benda keramat para wanita ini.
Setelah mengerti, sekarang dia bingung bagaimana menyuruh Kynar membuka celana dalamnya sendiri. Rasanya dia mau mati saja menghadapi hal seperti ini, dalam hati dia sudah merutuk habis-habisan. Dia menyesal sudah menolong Kynar, dia menyesal sudah lewat jalan yang sudah tidak terpakai itu dan berbagai penyesalan lain mampir di hati dan pikirannya membuat dia semakin gila.
"Kalau begini caranya, aku bisa ikutan gila!" Sentak Richo frustasi.
Kynar terkejut mendengar suara Richo yang keras, dia menatap Richo dengan takut.
"Apa lo liatin gue!" Bentak Richo.
Kynar semakin mengkerut, bahunya bergetar lalu tangisnya meledak.
Hah, Richo menarik napas berat. Salah lagiii...
"Kynar, cepat buka celana dalam kamu!"
Kynar menggeleng ketakutan membuat Richo jadi semakin serba salah. Richo mendekat tapi kynar semakin mengkerut.
"Gak mau, gak mau!"
"Tapi nanti darah kamu kemana-mana Kynar!"
"Gak mau! Gak mau!"
"Kynar! Jangan membantah!"
"Tapi aku gak mau!"
"Kynar!!!"
"Gak mauuu!!!" Teriak Kynar kencang, satu tangan Richo segera membekap mulut Kynar dengan cepat. Suara Kynar yang kencang bisa memancing kecurigaan orang lain.
Richo berbisik, "Kynar jangan teriak, oke?!"
"Stttt...." Satu jari telunjuk Richo di taruh di depan mulut.
Kynar mengangguk dan mengikuti gerakan Richo, "Stttt...."
"Bagus!"
Dengan sangat terpaksa Richo menarik celana kolor yang di pakai oleh Kynar perlahan-lahan. Otomatis pula dia memejamkan matanya, pikiran untuk menghubungi adiknya untuk tinggal di kontrakannya kembali berkelebat di kepalanya-
BRAKKK
"BENARKAN PAK RT MEREKA ITU PASANGAN m***m!!!
****
Hoalah aku kembali gaess setelah tidur panjang gara-gara cuaca yang mendukung banget untuk rebahan hehe...
Maafin yaa;)
Jangan lupa tinggalin jejak yaa gaess;)
Makasih;)