Malam telah tiba, Richo dan Kynar sudah bersiap untuk tidur. Sebelum tidur Richo bertanya terlebih dahulu kepada Kynar.
"Kamu mau pipis atau pup gak?"
"Hah,"
"Mau pipis atau pup gak, Kynar?"
"Heh," Kynar semakin bengong.
Richo menatap Kynar kesal, dia mencoba bersabar menghadapi kelakuan Kynar. Kynar tidak salah, penyakitnya yang salah batin Richo.
"Ck,"
Tak sabar Richo segera membopong Kynar ke kamar mandi dan menyuruhnya untuk membuang segala yang di tahannya seperti tadi siang. Anehnya, jika Richo sudah berbicara sepertinya itu Kynar seolah tahu apa yang harus dilakukan nya ketika di dalam kamar mandi. Namun, dia masih belum bisa membersihkan badannya dengan benar masih memerlukan bantuan dari Richo.
Entah ini benar atau salah namun siapa lagi yang akan membantu Kynar. Keuangan nya tidak cukup untuk memperkerjakan seorang pengasuh. Sejauh ini tidak ada yang mempertanyakan siapa Kynar, mungkin orang-orang disini cukup tidak peduli pada sekitar.
Selesai sudah Richo memaksa Kynar untuk membuang hajatnya, dia mengangkat Kynar lalu membawanya ke ranjang kamarnya. Biarlah sekarang gantian tempat tidur untuk mempercepat kesembuhan Kynar.
Richo memberikan gelas dan juga obat yang harus di minum Kynar, dia juga membuka perban yang ada di kaki Kynar lalu mengoleskan salep ke luka luar kemudian memasangkan perban putih kembali.
"Selesai, ayo tidur!" Perintah Richo.
Kynar mengangguk lalu mengucapkan terimakasih.
Richo tercengang menatap Kynar dengan pandangan tidak percaya. Apa dia tidak salah dengar, setelah beberapa detik akhirnya dia tersadar kemudian melihat kepada Kynar lagi, kini dia sudah tertidur di ranjang yang hanya cukup untuk satu orang itu.
Apa ini yang namanya kemajuan? Batin Richo bertanya-tanya. Namun begitu, dia sangat bersyukur sekali. Richo berharap kejiwaan Kynar segera sembuh tanpa harus membawanya ke dokter.
Seperti ada satu beban yang terlepas dari pundaknya, Richo tersenyum senang lalu pergi menutup pintu kamar dan membaringkan dirinya di karpet ruang tamu dengan selimut yang sama tipisnya.
'Hhh' dia menghembuskan napas berat. Meskipun lelah tapi dia harus kuat untuk membantu Kynar melewati rasa sakit nya, setelah itu dia membantu Kynar untuk mencari orang tuanya kemudian selesai sudah tugasnya. Rasanya tidak sabar menantikan hari itu, ucap hati Richo. Selanjutnya Richo tertidur dengan lelap tanpa menghiraukan dinginya lantai dan malam yang semakin larut.
Pagi menjelang Richo sudah mandi dan membuatkan sarapan untuk mereka berdua. Hari ini Richo mulai kerja kembali setelah libur satu hari kemarin. Richo melangkah ke dalam kamar, ternyata Kynar sudah terbangun dan kesulitan untuk mendudukan dirinya sendiri. Tanpa pikir panjang Richo masuk lalu membantu Kynar.
"Mau buang hajat!" Kata Kynar lirih dan malu-malu, suaranya kecil sekali namun karena pendengaran Richo yang tajam kata-kata itu sudah cukup jelas di telinganya.
Richo membawa Kynar ke kamar mandi lalu terdengar suara air dan yang lainnya.
"Awas jangan kena kaki!" Teriak Richo dari luar. Kynar mengangguk meskipun itu tidak dilihat oleh Richo.
"Udah selesai belum?"
Satu, dua, tiga, empat, lima detik tidak ada jawaban dari Kynar.
"Udah atau belum?!" Teriak Richo lagi.
"Udah!"
"Pakaikan lagi celana kamu!"
"Udah!"
Richo masuk ke dalam kamar mandi lalu melihat ke bagian celana Kynar. Sekali lagi dia menghela napas panjang. Celana itu basah kuyup, dia kembali mencoba mengontrol emosinya.
Sabar Richo sabar...
"Ini kenapa bisa basah kuyup begini?" Tanya Richo dengan lembut sambil di tatap oleh mata tajam Richo.
Kynar salah tingkah ditatap seperti itu, dia menunduk dan memainkan bajunya hingga lecek.
"Basah," Cicit Kynar.
"Hmm," Richo keluar lalu mengambil stock kolornya yang- tiba-tiba dia teringat baju-baju adiknya yang masih tertinggal disini. Seketika dia tersenyum lalu mengambil seperangkat pakaian wanita itu dan memberikannya kepada Kynar untuk di pakai.
Selesai sudah Richo membatu Kynar, dia sudah sarapan bersama Kynar lalu Kynar pun sudah memakan obat dan mengoleskan salep pada luka luar dan memasangkan perban itu kembali.
"Nih," Richo mengulurkan lima permen kopi kepada Kynar.
"Waahhh..." Ucap Kynar dengan bahagia.
Richo mendengus.
"Jangan kemana-mana yaa disini aja, aku kerja dulu, oke?!"
Dengan otomatis Kynar mengangguk cepat entah dia mengerti atau tidak. Namun, sekarang sudah waktunya dia berangkat bekerja kalau tidak dia akan terlambat.
"Udah ya, aku pergi dulu!"
Kynar sudah tidak peduli kepada ucapan Richo, dia sudah sibuk memakan permen kopi itu. Richo menggeleng pelan melihat raut wajah bahagia Kynar hanya karena sebuah permen. Kemudian dia berangkat bekerja seperti biasanya.
****
"Haii Richo..." Sapa Bella.
Richo tersenyum tipis membalas sapaan Bella, teman satu sif nya. Satu sif terdiri dari tiga anggota, bila sedang ada yang libur maka mereka hanya jaga toko berdua saja.
"Sekarang Doni libur ya?"
Bella mengangguk, dia sedang sibuk menyapu lantai toko. Tanpa bertele-tele Richo segera membantu untuk membersihkan toko sebelum toko di buka.
Selesai semua mereka hanya tinggal menunggu pengunjung yang datang berbelanja di toko mereka.
"Oh iya, Richo, kemarin katanya Shinta main ke kontrakan lo tapi gak ada. Tumben lo gak ada di kontrakan waktu libur?"
Richo tergagap. Matanya melebar mendengar ucapan Bella, dia sangat terkejut sekali. Namun, dengan segera dia mengontrol raut wajahnya kembali. Dia takut Bella curiga kalau dia sedang menampung seorang wanita di dalam kontrakannya.
"Heii, kok bengong sih,"
"Hmm, gue ada urusan!"
"Tapi-" Ucapan Bella terhenti karena pelanggan telah berdiri menunggu Richo menghitung belanjaannya di depan meja kasir. Richo sangat bersyukur karena ini, dia berharap Bella tidak akan kembali bertanya. Sesungguhnya dia tidak pandai berbohong untuk itu lebih baik dia menghindar.
Hari semakin siang para pelanggan semakin banyak yang datang, tak ada kesempatan untuk Bella bertanya lebih jauh tentang rasa penasarannya.
Di tengah ramainya pelanggan, Kepala toko minimarket temoat Richo bekerja datang. Dia menunggu Richo dan Bella selesai melayani pelanggan-pelanggannya. Setelah sedikit sepi, Kepala Toko memanggil Richo untuk masuk ke dalam ruangan tempat Richo dan teman-temannya makan siang dan menyimpan barang bawaanya dari rumah.
"Maaf sebelumnya ada apa yaa pak?" Tanya Richo setelah duduk di hadapan sang Kepala Toko
Kepala Toko itu tersenyum menatap wajah tegang Richo.
"Gak ada apa-apa, hanya saja setelah melihat kinerja kerja kamu selama ini kami sepakat akan menaikkan jabatan kamu di toko ini menjadi satu langkah lebih tinggi diatas pramuniaga atau kasir,"
Entah kejutan apa lagi hari ini yang terjadi pada Richo. Dia tidak menyangka kerja kerasnya selama ini mulai menampakan hasil. Dia sangat bersyukur, berkali-kali dia mengucapkan syukur dihadapan Kepala Toko.
"Alhamdulilah terimakasih banyak, Pak,"
Kepala Toko ikut senang melihat kebahagiaan yang terpancar dalam wajah Richo.
"Tenang saja gaji kamu juga ikut naik, tapi ingat kamu harus lebih meningkatkan kinerja kamu lagi, saya percaya kamu bisa!" Tegas sang Kepala Toko.
"Siap, pak," Hormat Richo lalu tersenyum.
"Oke, baiklah. Itu saja yang mau saya sampaikan nanti besok acara pelantikan kamu,"
"Sekali lagi terimakasih, pak," Richo dan Kepala Toko berjabat tangan kemudian Pak Kepala Toko meninggalkan toko ini karena masih ada urusan lain.
Richo keluar dari ruangan dan kembali ke meja kasir membantu Bella.
"Cieee, ada yang lagi seneng nih," Goda Bella.
"Apaan sih,"
"Udah deh, gue udah tau toh besok juga semua bakal pada tahu 'kan," Bella memainkan kedua alisnya menggoda Richo.
"Selamat yaa Richo, lo emang pantes sih setelah kerja keras lo selama ini," Puji Bella.
Richo tersenyum, dan menerima ucapan selamat dari Bella.
"Makasih yaa bell,"
"Udaah ah, tuh pelanggan udah nunggu gue mau makan siang duluan yaa udah lapar banget nih,"
Richo mengangguk lalu melayani pelanggan yang sudah mengatri.
Seharian ini toko ramai sekali oleh para pelanggan sampai membuat mereka berdua cukup kewalahan. Namun, masih bisa diatasi dengan baik oleh mereka.
"Hhh, akhirnya pulang," Keluh Bella, dia merenggangkan kedua tangannya karena merasa pegal.
"Mana sih si Shinta dan yang lain belum nongol juga," Richo mengedikkan bahu tanda tak tahu.
"Haaiii semuaaa... Pasti nungguin gue yaa..." Teriak Shinta cempreng.
"Iya, lama amat sih lo!" Gerutu Bella.
"Hehe maaf yaa... Biasaa..."
"Kebiasaan, udah ah gue mau pulang!" Bella meninggalkan Richo dan Shinta.
Shinta mendekati Richo dengan berbinar.
"Richo kemaren gue ke rumah lo tahu, tapi lo nya gak ada," Ucap Shinta dengan manja, bibirnya seketika cemberut ketika Richo bertanya.
"Mau ngapain lo ke rumah gue?"
"Ihh, jahat banget sih. Gue mau maen lah,"
"Kemarin gue sibuk, banyak urusan."
"Oohh yaudah, nanti gue mau main lagi ah kalo lo libur, hehe..."
Richo tak membalas ucapan Shinta, dia sibuk mengemasi tasnya kemudian berlalu dari hadapan Shinta.
"Gue balik yaa," Pamit Richo. Shinta semakin merengut kesal karena lagi-lagi diabaikan oleh Richo. Namun, karena pelanggan sudah mulai berdatangan kembali Shinta berusaha meredam rasa kesalnya.
Richo pulang ke rumah dengan hati gembira, sebelum sampai rumah dia akan membeli bahan masakan terlebih dahulu untuk merayakan kenaikan jabatannya bersama Kynar.
****
Hollaa... Jangan lupa tinggalin jejak yaa gaes.
Mau follow akunku juga boleh kok, hehee...
Makasih;)