* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Malam itu, dimana seharusnya Shara bisa beristirahat sebelum nanti akan bangun untuk melembur, justru waktunya ia habiskan untuk menangis. Ia tidak mati rasa untuk mengerti bahwa satu bulan terakhir, ada yang salah dengan hubungannya bersama Deril. Mengingat mereka berdua sama-sama sibuk dan tak punya waktu banyak untuk berkomunikasi—hanya sekedar meluangkan lima sampai sepuluh menit untuk memberi kabar—Shara pikir itu cukup, setidaknya mereka berdua tidak menghilang tanpa pamit. Di Malang, Shara juga tak bisa bersantai, tak bisa tenang karena banyaknya pekerjaan yang harus ia selesaikan dalam jangka waktu singkat. Deril pun begitu. Ia bisa mengerti

