* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Serius? Kamu ini ngomongnya beneran apa ngarang, sih, Ril?” Hanin yang mendengar cerita Deril pagi ini jelas melotot tak percaya. Pagi ini adalah pagi kedua setelah kemarin ia pulang dari Malang. Sebelumnya, ia memang tidak sempat izin kepada orang tuanya bahwa ia harus ke Malang dadakan. Itupun juga karena ia berangkat dari kos—mengingat urusannya di kampus belum benar-benar selesai. Jadi usai kembali ke Jakarta usai menghabiskan satu minggu di Malang sampai Shara benar-benar sembuh dan tidak kesusahan untuk berjalan—sebenarnya bisa berjalan, sih, Deril aja yang lebay—akhirnya dia pulang ke rumah. Sekarang, Deril fokus menceritakan keadaan Sha

