* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Satu bulan berlalu begitu cepat. Akhirnya tiba juga hari dimana siang ini, Deril punya kewajiban untuk menjemput sang kekasih di stasiun—seperti apa yang dilakukan Shara kala ia pulang ke Malang. Hm, pulang. “Kamu mau kemana, Ril?” Adalah pertanyaan ibunya, Hanin Anaya, kala Deril mengikat tali sepatu di ruang tamu. Sendirian, dan sedikit tergesa-gesa. “Hah?” Deril meminta mamanya mengulang pertanyaan karena ia memang tidak dengar. Jarak antara pintu kamar mandi lantai bawah dan ruang tamu juga memang tidak dekat. “Kamu mau kemana?” “Ke stasiun.” Ibunya baru akan membuka mulut tapi Deril mendahuluinya. “Jemput Shara. Dia pulang ke Jakarta,” j

