Putri mengetek dahi Lina. "Sudah ah, diam. Aku mau tidur." Lina mengaduh kesakitan, "Iiish, dasaar. Ndak jawab berarti iya." Putri tak menanggapi perkataan Lina. Dia menutup rapat mulut dan juga matanya. Tak bergeming sama sekali. Bahkan saat Lina mengguncang-guncang tubunya, dia tetap tak membuka mata. "Bangun, bangun. Cerita bah dulu," pinta Lina. "Aku nginap disini biar kita bisa ngobrol, malah ditinggal tidur. Iiiissh." Tak putus asa, Lina menggelitik perut Putri. Tentu, Putri membuka mata karena merasa geli. "Hahahaha," tawa Putri berderai. "Sudah, sudah. Iya, aku bangun." "Jadi? Suka atau ndak?" "Suka," jawab Putri. "Tapi sebagai teman." "Puuut." "Liiiiin." "Aku sahabatmu loh, Put. Cerita lah bah, susah betul juga. Atau kau ndak anggap aku sahabat, iya?" keluh Lina. "Kayakn

