Mimpi atau bukan

1734 Kata
Sekitar pukul empat sore, tiga orang lelaki dan tiga orang perempuan sedang berkumpul di ruang tamu. Mereka tampak tertawa, menikmati perbincangan. Di meja tersaji sepiring brownies yang telah dipotong beberapa bagian, lengkap dengan minuman dingin. “Serius ini punyaku yang kita makan?” Supri bertanya seraya melihat ke arah piring berwarna cokelat. Perlahan meraih sepotong brownies. Menggigitnya sekali, dia terdiam. Seketika tersenyum merasakan sesuatu yang sangat enak di indera perasanya. Sekali lagi dia menggigit camilan bercita rasa cokelat tersebut. Dia mendengus. “Tante, serius ini jatah aku yang kami makan?” Siti tertawa pelan mendengar pertanyaan tersebut. Sedangkan orang-orang di sekitarnya tertawa terbahak mendengar pertanyaan Supri yang terus berulang. Lucu sekali memang mengerjai orang lain. “Ndak kok, punya kalian bertiga masih aman di dalam,” ucap Siti. “Nanti mau pulang baru tante kasih ya? Kita makan ini aja dulu.” Supri bernapas lega, membuat tawa temannya yang mereda kembali terdengar jelas. Putri dan Lina bahkan mengusap setitik air yang keluar di ujung mata mereka. Tentu tak jauh berbeda dengan Nando dan Adi yang duduk mengapit Supri. Lelaki yang ditertawai seolah tak peduli. Dia benar-benar menikmati makanan yang dia pegang sekarang. Dia telah menghabiskan tiga potong brownies di sela tawa teman-temannya. “Ketawa aja terus,” ujar Supri seraya menggigit brownies di tangannya. “Biar aku aja yang habisin ini semua. Kalau perlu, jatah kalian aku bawa ke kost juga.” Adi menyikut Supri. “Enak aja.” Dia pun turut memasukkan sepotong brownies ke dalam mulutnya. “Enak banget tante,” ucapnya sembari melihat ke arah Siti. Nando yang merasa penasaran dengan makanan yang tersaji di hadapannya, tersenyum kepada Siti. Sebagai bentuk ijin untuk mengambil makanan tersebut dan dibalas senyum pula oleh Siti. “Enak banget loh ini,” ucap Nando begitu mengunyah brownies tersebut. Tak butuh waktu lama, brownies di tangan Nando lenyap hanya dalam dua gigitan. “Ya sudah, kalian ngobrol lah. Tante masuk dulu.” Siti berdiri. “Jangan lupa kasih temen-temen kamu browniesnya ya, Put?” Putri mengangguk. “Iya, Mak.” Siti meninggalkan ruang tamu. Mereka masih menikmati hidangan di hadapannya hingga Lina bersuara. Perempuan tersebut menanyakan kepastian apakah Ayu bakal datang besok malam. “Kata Kak Puji sih gitu. Aku diminta temani dia juga kesini karena dia kan ndak tau rumah Putri. Kenapa Lin? Kau mau nimbrung juga?” Lina menggeleng. “Males ah, entar bikin emosi pula. Aku nanya aja sih, biar bisa kesini setelah si Ayu Ayu itu pulang. Hehe.” Supri melempar Lina dengan selembar tisu yang telah digumpal. “Dasar! Pasti kau mau begosip kan?” Lina terkekeh. “Tapi bukan bergosip juga sih namanya, bercerita tepatnya. Iyakan, Put?” Putri yang duduk tepat di sebelah Lina hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Lina. “Tapi serius kau mau maafin dia, Put?” “Iya, Pri.” “Setelah semua yang dia lakukan?” Sekali lagi, Putri mengangguk. “Putri memang baik,” ucap Lina. “Kalau aku digituin, kubalas dulu baru kumaafkan.” Putri menggeleng sembari tersenyum. “Bukan karena aku baik. Aku juga marah kok, sama kayak Lina,” ucapnya. “Tapi setelah kupikir-pikir, dari musibah ini aku bisa dapat banyak hal. Salah satunya kalian.” Putri menatap tiga lelaki di hadapannya, membuat tiga lelaki itu terdiam. Di kepala mereka terlintas pertanyaan yang sama. “Yah, seandainya aku ndak kecelakaan, aku ndak bakal tau kalau ada orang lain yang juga sangat peduli sama aku. Selain mamakku sama Lina tentunya. Jujur, aku bukan orang yang gampang dekat sama orang lain. Orang sebaik apapun sama aku, aku tetep ngerasa kayak aneh aja gitu. Suka mikir, ini orang serius ndak sih? Tulus ndak sih?,” ucap Putri lagi. “Dan, sekarang. Aku berasa punya sahahat baru. Aku bahagia sekali rasanya. Akhirnya aku tau rasanya punya banyak teman. Teman yang benar-benar teman.” Tiga lelaki tersebut masih terdiam. Sementara Lina dengan airmata mengenang, memeluk Putri. *** Nando tiba di rumah sekitar pukul enam sore. Dia langsung masuk ke kamar. Meletakkan tas miliknya di meja belajar, berikut dengan kantong plastik berisi brownies. Mengambil handuk lalu menuju kamar mandi. Sepuluh menit kemudian, Nando telah selesai mandi dan mengenakan pakaian. Dia membaringkan tubuhnya di kasur. Mengingat pemberian Putri, dia beranjak mengambilnya. “Hm,” gumam Nando ketika mengunyah brownies tersebut. Baru memakan sepotong brownies, Nando beranjak menuju dapur. Menyimpan brownies tersebut ke dalam kulkas kemudian membuka tudung saji. Seketika dia mendengar perutnya bergemuruh. Tak ingin menunggu lebih lama lagi, Nando mengambil piring. Kemudian memasukkan satu per satu lauk, sayur serta dua sendok nasi. Dia masih menikmati makan malamnya yang lebih cepat, saat ibunya masuk ke dapur. Nando pun memberitahu ada brownies di kulkas. Lalu sang ibu membuka kulkas, mengambil sepotong brownies. Kemudian duduk di hadapannya Nando. Dahi Susi berkerut ketika mengunyah. Dia meresapi makanan tersebut, mengunyahnya perlahan. Kemudian beranjak menuju kulkas lalu kembali duduk di hadapan Nando, tak lupa membawa browneis yang terbungkus kemasan berwarna coklat. “Beli dimana, Do?” tanya Susi. “Besok beli lagi ya? Mau kirimin bapakmu di tambak. Enak banget loh ini.” Nando tersenyum mendengar penuturan ibunya. Dalam hati dua berujar, “Tenang Mak, kalau aku sudah nikah sama Putri, mamak bisa makan brownies itu tiap hari. Hehe.” “Do,” panggil Susi. “Ditanya malah senyum-senyum. Ingat memang belikan bapakmu besok ya?” Nando memberitahu bahwa brownies itu buatan ibu Putri. “Serius, Do?” Nando mengangguk. “Putri juga pinter loh buat brownies, Mak.” “Jelas lah Do, pasti dia bantu mamaknya buat,” ujar Susi. “Mamak tau sekarang, pasti kau sengaja baa brownies itu ke rumah biar mamak makin suka sama Putri kan? Biar mamak restui kalian kan?” Nando terkekeh seraya menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. “Mamak kasih tau ya, Do. Kau ndak perlu sampai repot-repot bawa browniEs, mamak memang sejak awal ketemu Putri, sudah suka sama pembawaannya yang kalem. Yang musti kau lakukan itu membuat dia juga suka sama kau. Belum kan? Mamak yakin pasti belum. Iya kan?” Nando mendengus lalu menatap piringnya yang telah kosong. “Dia memang baik tapi susah buat ditaklukkan, beda banget sama cewek-cewek yang ngejar-ngejar aku sebelumnya.” “Cewek baik-baik memang susah ditaklukkan, Do,” ucap Susi sembari menutup kemasan brownies. “Bahkan jika dia juga suka sama kau, dia ndak akan dengan mudah bilang.” Nando berdiri. Meletakkan piring di wastafel. Tak lupa membersihkan tangannya dengan air kemudian menuangkan sedikit sabun lalu kembali membasuh tangannya tersebut. “Jadi aku musti gimana, Mak?” tanya Nando begitu dia mengeringkan tangannya dengan kain yang bergantung di dekat wastafel. “Belikan mamak brownies tapi ya?” Susi tersenyum jahil pada anaknya. “Kan sekalian kau pedekate. Gimana?” “Astagaa, mamak ni. Bisa-bisanya mikir begitu,” ucap Nando. “Tapi mamak bener juga sih, hehe.” “Cara terbaik taklukkan dia itu yah jadi teman terbaik buat dia. Kalau kau bisa, mamak yakin, bakal lebih mudah untuk menaklukkan dia. Rasa cinta itu bisa tumbuh karena terbiasa bersama.” Nando mencerna setiap kalimat yang ibunya ucapkan. Cukup lama dia berdiri di tempat. Bahkan saat ibunya pamit untuk kembali ke kamar, Nando masih betah berdiri. Sekitar sepuluh menit kemudian, Nando perlahan berjalan menuju kamarnya. Namun baru saja ingin memasuki kamar, Nindi datang menghampirinya. Adiknya itu juga ingin merasakan brownies yang menurut ibunya sangat enak itu. “Ada di kulkas, Nindi yang cantik. Ambil aja sendiri,” ucap Nando lalu masuk kemudian menutup pintu kamarnya. Nindi mencibir menanggapi sikap cuek kakaknya. Lalu berjalan menuju dapur. “Memang bener ya kata orang-orang, jatuh cinta bikin kita jadi aneh. Sebentar senyum-senyum sendiri, ketawa ndak jelas. Eh, tiba-tiba merengut kayak orang yang hidup segan mati tak mau. Aneh.” Nindi menggelengkan kepala. Sementara itu, Nando sedang larut dalam lamunannya. Dia masih memikirkan nasehat dari ibunya saat di dapur. Apa itu berarti Supri dan Adi bisa saja menjadi salah satu cowok yang Putri suka? Mereka berdua juga sudah dianggap teman baik Putri kan? Apa mereka bakal jadi saingan aku ya? Astaga, apa yang aku pikirkan sih? Nando memukul-mukul kepalanya menggunakan telapak tangan. “Gila kau, Do.” Nando meraih ponselnya lalu mengirim pesan kepada Putri. Dia memberitahu bahwa ibunya memesan tiga loyang brownies. (Yasmin) Serius, Do? Nando mulai mengetik balasannya. Dia menyatakan keseriusannya. Lalu bertanya kapan kira-kira bisa diambil. (Yasmin) Entar aku tanya mamaku dulu ya? Semoga mamakku lagi ndak banyak pesanan jadi pesananmu bisa dibuat secepatnya. Tapi banyak juga sih yang pesan sehari sebelumnya. Hehe. (Nando) Ndak harus besok kok, santai aja Ini buat dikirim untuk bapakku di tambak Oh iya, bapakmu di tambak juga kah? (Yasmin) Orangtuaku cerai, Do. (Nando) Oh maaf, aku ndak tau Biasanya anak-anak jadi bandel kalau orangtuanya cerai Tapi kau ndak, malah jadi anak yang sangat baik menurutku (Yasmin) Astaga Do, nanti kukasih bonus piring cantik di dalam pesananmu ya. Hehe Nando tersenyum membaca lelucon Putri. Dia kemudian membalasnya dengan cepat. (Nando) Jangan piring cantik dong, fotomu yang cantik aja, gimana? Nando terkikik setelah mengirimkan pesan tersebut. Dia merasa sangat bahagia karena bisa becanda dengan Putri. Tapi, cukup lama, tak ada balasan dari Putri. Sudah lima belas menit tapi masih tak ada balasan. “Apa dia marah?”gumam Nando. “Aduh, mampus aku!” Lalu ponsel Nando bergetar. Tersenyum, Nando menatap ponselnya. Namun senyumnya hilang begitu melihat nama orang yang sdang menghubunginya. Dia meletakkan kembali ponsel tersebut. Tak berniat mengangkat telepon dari orang tersebut. “Kak Puji juga nih. Kenapa pula ngasih nomerku ke cewek gila itu? Berasa diteror aku ya.” Ponselnya bergetar lagi. Sebuah pesan dari Ayu. Nando sama sekali tak berniat membaca pesan dari perempuan itu. Jangankan membaca, membuka pesannya saja dia enggan. Lalu sebuah pesan masuk lagi, masih dari orang yang sama. Nando beranjak menuju dapur. Mengambil beberapa potong brownies dan sekaleng milo. Dia membawa makanan dan minuman tersebut ke dalam kamar. Lalu membuka aplikasi f*******:. Dia mulai berselancar. Tentu Putri adalah tujuan pertamanya. Tak ada yang berubah. Masih sama seperti saat terakhir kali Nando mengeceknya siang tadi. Dia menuju beranda, sekedar memberi like postingan teman-temannya. Kemudian sebuah pesan kembali masuk. Saat membaca siapa mengirim pesan tersebut, Nando terlonjak. Buru-buru dia membukanya. (Yasmin) Maaf Do, tadi abis makan Mau fotoku? Boleh deh Mau yang ukuran berapa? Entar aku tempel di browniesmu itu, gimana? Hehe Alamat kau ndak nafsu makan nanti. Wkwkwk Nando tersedak. Dengan cepat dia meraih minuman kaleng miliknya, meneguknya hingga tandas. “Ini serius Putri yang ngirim pesan ke aku? Jangan-jangan aku mimpi lagi?” ujar Nando lalu mencubit lengannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN