Perbincangan Menjelang Istirahat

1702 Kata
Putri sedang duduk melihat ibunya membuat pesanan brownies ketika Lina mengirimkannya sebuah pesan. Putri membaca pesan tersebut berulang kali, membuat dirinya menggelengkan kepala berulang kali pula. Dia mendengus. “Kenapa, Sayang?” Siti yang sedang menyiapkan loyang sembari menunggu adonan yang sedang diaduk oleh mesin, sontak bertanya ketika melihat ekspresi wajah Putri yang tiba-tiba berubah. Dia melihat dengan jelas Putri menghembuskan napas dengan kasar. Putri tersenyum lalu memberitahu isi pesan dari Lina. Put, yang nyerempet kau itu cewek yang berambut ikal Dia cemburu bilang karena kau dekat sama Nando Nanti aku cerita lengkapnya sama kau. Tunggu aku ya.. :) “Jadi bagaimana? Cewek itu mau minta maaf? Mau ganti rugi?” tanya ibu Putri. Putri menggeleng. “Ndak tau Mak, Lina ndak ngasih tau. Katanya nanti dia datang cerita detailnya.” “Kalau misalnya cewek itu minta maaf, Putri mau maafin?” Putri diam sejenak. Dia berpikir. Tidak dimaafkan, tak akan ada yang berubah. Toh, kakinya sudah luka. Dimaafkan pun, tetap sama. Tentu Putri akan memaafkan perempuan yang menyerempetnya jika perempuan tersebut meminta maaf dengan tulus. Dan harus berjanji tak akan mengulangi kesalahan yang sama. “Anak mama memang baik. Bijak sekali.” Putri tersenyum. “Ndak ada gunanya nyimpan dendam, Mak.” Bukan hanya itu alasan itu yang membuatnya ingin memaafkan perempuan yang berniat mencelakainya tersebut, ada hal lain yang mendasari Putri. Semua itu karena teman-temannya. “Ngomong-ngomong mamak mau buat berapa loyang?” Putri mengalihkan pembicaraan agar tak keceplosan membicarakan hal-hal yang tidak seharusnya. Mengatakan dia menyukai Nando misalnya, hal tersebut tak boleh terucap dari bibir Putri. “Tujuh aja. Empat itu pesanan orang, tiganya buat teman-teman barumu.” Putri mengerutkan dahi. Dia berpikir siapa teman-teman barunya sekarang. Lalu dia teringat tiga sekawan yang akhir-akhir ini selalu bersamanya. Bahkan menemaninya saat di rumah sakit. “Nando?” “Nando, Supri sama Adi dong,” jawab Siti seraya menuangkan adonan ke dalam loyang. "Teman barumu kan ada tiga orang, bukan cuma Nando. Mentang-mentang Nando yang temani selama di rumah sakit, dia terus yang diingat." Putri tersenyum malu. Bisa-bisanya hanya Nando yang dia ingat padahal selain Nando ada Lina, Supri dan juga Adi yang turut mendampinginya saat sakit. Yah, meski Nando yang punya andil besar. “Mereka mau kesini kan nanti?” Putri mengangguk. “Tadi siang sih bilangnya gitu.” Namun hingga menjelang maghrib. Tak ada satu pun dari teman Putri yang datang. Bahkan Lina juga tak muncul batang hidungnya. Penasaran apa yang telah terjadi, Putri menghubungi Lina. Panggilan pertama, tak tersambung karena nomor Lina sedang sibuk. Putri mengirim pesan singkat lalu menunggu balasan. Tapi sudah dua jam berlalu, masih tak ada kabar dari Lina. Putri kembali menghubungi sahabat sekaligus tetangganya tersebut. Tak lama panggilan tersambung bersamaan dengan pintu kamar yang terbuka. Lina telah berada di ambang pintu. Perempuan tersebut tersenyum manis seraya memainkan alisnya naik turun. Masih dengan ponsel yang melekat di telinga dan telepon yang tersambung, Lina menyapa Putri. “Lamanya juga datang,” keluh Putri begitu Lina duduk di sampingnya. Lina menjelaskan perjalanannya. Dia yang mendapat telepon dari pacarnya saat di bengkel, memilih langsung pulang ke rumah. Karena sejak masuk dunia perkuliahan, Lina sangat sibuk dengan berbagai tugas dan kegiatan. Biasanya Hendri, pacar Lina yang sibuk. Tapi akhir-akhir ini mereka berdua sama-sama sibuk sehingga jarang bertegur sapa lewat suara. Mereka hanya sekedar mengirim pesan singkat saja sebagai penghapus rindu. “Makanya punya pacar Put, biar tau rasanya rindu.” “Ndak harus punya pacar Lin,” ujar Putri sembari meletakkan ponselnya di meja yang terletak di samping ranjang. “Kau ndak pernah ngerasa rindu sama orang tua atau adek-adekmu? Pacaran mulu sih.” Putri memukul Lina dengan bantal yang dia pangku. “Sewot aja,” balas Lina. “Ngomong-ngomong, kau sudah baca pesanku kan?” Putri mengangguk. “Tau ndak, bilang Nando awalnya tuh cewek ndak mau ngaku.” “Trus?” tanya Putri sedikit penasaran mengenai pertemuan mereka. Dengan menggebu-gebu Lina menjelaskan bagaimana pertemuan Nando dengan perempuan bernama Ayu. Berikut dengan tanggapan Supri dan juga Adi. Lina menjelaskan sedetail mungkin. Tak kurang, malah dilebihkan, ditambah dengan perjalanannya menuju bengkel. “Jadi kau bakal maafin tuh cewek kalau misalnya dia minta maaf?” Putri mengangguk. “Sudah kuduga,” ucap Lina cepat. “Tapi bagus deh, daripada mikirin cewek gila itu, mending mikir kuliah kan? Sama cari pacar juga, hehe.” Lina mengerling kepada Putri. Dibalas dengan gelengan oleh Putri. “Oh iya, baru ingat, tadi mamakku buat brownis buat dorang bertiga,” ucap Putri. “Tapi dorang malah ndak datang.” Lina yang mendengar hal itu tersenyum bahagia. Lantas bertanya mana bagian untuknya. Putri menggeleng. “Gak ada?” Putri mengangguk, membuat Lina memajukan bibir bawahnya. “Serius bah, Put.” Lina masih tak yakin jika dia tak dibuatkan brownis juga seperti teman-temannya yang lain. “Serius, Lin.” Putri tersenyum jahil. “Alah, kau sudah sering makan brownis disini, bukan lagi seloyang. Berloyang-loyang sudah.” Lina terkekeh. “Beda dong, kan ceritanya ini buat teman-temanmu. Aku termasuk temanmu kan, Put? Jangan bilang tante ndak anggap aku lagi?” “Lina nih, makanan aja cepat betul bah. Kau ndak dibuatkan memang tadi,” ucap Putri. “Tapi kan di dalam, ada brownis untuk stok di rumah. Biasanya juga kita makan itu sama-sama kan?” Lina mencolek pipi Putri. “Sayang banget sama temanku yang satu ini bah.” “Iish, ada maunya baru bilang sayang. Dasar!” Mereka mulai menbicarakan hal lain. Tentang perkuliahan hari ini. Beruntung tak ada tugas yang harus Putri kerjakan. Satu hari itu hanya berisi penjelasan dari dosen. Putri hanya perlu membaca catatan singkat yang telah Lina tulis. “Kau mau brownis kah?” “Kenyang, Put,” tolak Lina. “Besok aja deh aku kesini sarapan. Hehe.” “Dasar!” ucap Putri. “Kau mau nginap disini lagi?” Lina menggeleng. Dia tak menginap karena besok musti mencuci pakaian kotor miliknya. Tak hanya miliknya sebenarnya, ada pakaian kotor orangtua dan adik-adiknya yang dia harus cuci juga. Jika tidak ada kuliah pagi, biasanya Lina memang bertugas mencuci pakaian seluruh keluarganya. Setelah berpamitan dan tak lupa menyerahkan kunci motor milik Putri, Lina beranjak dari tempat tidur. “Aku pulang ya,” ucap Lina setelah berdiri di dekat ranjang. “Cepat sembuh biar kita bisa kuliah bareng-bareng lagi.” Putri tersenyum. “Iya Lin, makasih.” Sepeninggal Lina, Putri meraih ponsel miliknya. Kemudian berbaring seraya membuka kotak pesan. Mencari nama Nando lalu mengirim pesan kepada lelaki tersebut. Tak lupa mengirim pesan yang sama untuk Supri dan juga Adi. *** “Iya Kak, makasih.” Nando mematikan sambungan telepon. Merebahkan badannya begitu saja di kasur lalu melepaskan ponsel yang dia genggam. Menatap langit-langit kamar dan mulai berpikir. Seandainya bukan karena dia, mungkin Putri tak akan celaka. Dalam hati dia merasa bersalah meski memang orang yang paling bersalah adalah Ayu. Yah, seharusnya Ayu lah yang meminta maaf pada Putri, bukan dia. Tapi separuh hatinya mengatakan, dia harus menghubungi Putri untuk minta maaf terlebih dahulu. Baru kemudian menceritakan hal yang dia bicarakan dengan Puji beberapa saat lalu. Setelah merasa yakin, Nando meraih kembali ponselnya. Baru saja meraih ponsel, benda tersebut bergetar di tangan Nando. Perlahan Nando melihat ponselnya. Sebuah pesan dari Putri, membuat senyum Nando merekah ketika membacanya. Tanpa berniat membalas pesan tersebut, Nando lantas menelpon Putri. Panggilan terhubung pada nada tunggu pertama. Nando menyapa Putri dengan senyum merekah. Meski di seberang sana, Putri tak akan bisa melihatnya. “Iya, Do?” “Serius mamakmu buat brownies buat aku.” Nando menepuk mulutnya. “Maksudku buat kami bertiga?” “Iya Do,tadi kalian ditunggu tapi malah ndak ada satupun yang datang.” “Besok setelah kuliah kelar, kami kesana ya? Gimana?” “Boleh.” Beberapa saat mereka terdiam. “Oh iya, aku minta maaf ya. Semua ini karena aku.” “Ndak perlu minta maaf, Do. Ini bukan salahmu kok.” “Kak Puji tadi nelpon.” “Dia bilang apa?” Nando menjelaskan apa yang dia bicarakan dengan Putri. Dua hari lagi, Ayu dan Puji berencana akan menemui Putri untuk meminta maaf secara langsung. Seharusnya Ayu minta maaf lebih cepat tapi karena terbentur dengan kegiatan Puji. Rencana minta maaf diundur besok lusa. Ayu mengaku takut dan juga malu jika hanya sendiri bertemu dengan Putri. Putri yang memahami posisi Ayu mengucapkan pemaklumannya. Putri bahkan tak masalah jika Ayu hanya sekedar menelpon atau mengirim pesan saja kepadanya. Yang terpenting, Ayu mau minta maaf dengan tulus, itu sudah cukup bagi Putri. Nando yang mendengar penjelasan Putri, semakin menyukai Putri. Kali ini tak hanya suka, dia juga mengagumi kepribadian Putri. Dalam hati dia berharap bisa mengenal Putri lebih dalam lagi. Setelah tuntas membicarakan hal terkait insiden kecelakaan tersebut, Nando bertanya kapan Putri akan mulai kuliah seperti biasa. “Tiga hari lagi aku musti kontrol. Mau lihat lukanya sudah sembuh dan mengering atau belum,” jelas Putri. “Mau aku antar?” tawar Nando. Putri tertawa. Nando hanya diam mendengar suara tawa Putri hingga Putri berhasil menghentikan tawanya. “Jangan deh, Do. Mobilmu ndak muat sampai depan rumahku. Kau mau aku jalan kaki keluar dengan kaki yang kayak gini?” Sekali lagi Putri tertawa. Nando memejamkan mata, membayangkan wajah Putri. Hal tersebut membuat hatinya menghangat. Nando tersenyum. Setelah tawa Putri mereda, Nando kembali menawarkan diri. “Aku jemput pake motor bah, Put.” Putri terkekeh pelan. “Motormu tinggi, Do.” “Aku pinjam motor adekku bah,” ucap Nando cepat. “Motor yang aku pake pas Bina Akrab.” Putri berpikir sejenak. “Hm, liat nanti ya. Aku tanya mamakku dulu.” “Besok aku ijin sama mamakmu pas ke rumahmu ambil brownis, gimana?” “Ijin?” tanya Putri memastikan dia tidak salah dengar. “Iya, ijin. Oke?” “Hm, oke lah.” “Ya sudah, kau istirahatlah,” ucap Nando. “Jangan lupa minum obat ya.” “Iya.” Sambungan telepon terputus. Nando menatap ponsel miliknya. Membuka galeri lalu tersenyum bahagia melihat foto seorang gadis yang tak lain adalah Putri. “Meski aku masih takut seseorang akan menyakitimu lagi karena kedekatan kita, tapi aku ndak bisa begitu saja menjauhimu. Terlebih kita sudah cukup dekat sekarang. Kau adalah mimpiku, Put. Mimpi yang harus aku wujudkan.” Nando kembali menatap langit-langit kamarnya. Dia kembali tersenyum, seolah sedang melihat Putri. Tak lama, dia menutup mata lalu tertidur pulas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN