Pengakuan Pelaku

1546 Kata
Lina dan dua lelaki di dalam mobil terlihat antusias melihat Nando yang keluar dari dalam mobil. Tepat ketika Nando berjarak satu meter dengan Puji, mereka bertiga tak berkedip. Meski tak melihat bagaimana raut wajah Nando karena posisi Nando yang membelakangi mereka. Tapi setidaknya mereka bisa melihat dengan jelas bagaimana ekspresi Puji. Puji yang terlihat santai bahkan tersenyum saat berbicara dengan Nando, tentu membuat mereka bertiga kebingungan. Adi yang wajahnya hampir menempel pada kaca mobil karena sangat ingin melihat Nando dan Puji dari jarak terdekat, sontak menoleh ke belakang. Menoleh pada Supri yang hanya berjarak lima sentimeter darinya, nyaris menempel. “Adi ni, ngomong kalau mau balik bah,” ujar Supri yang seketika mundur ketika melihar wajah Adi persis di depan mukanya. “Kau mau cium aku? Aku masih normal ya, Di.” Adi sudah membuka mulutnya, siap untuk menimpali perkataan Supri. Tapi Lina lebih dahulu bersuara, membuat dua lelaki tersebut terdiam. “Hust, diam.” Lina menempelkan telunjuknya di bibir tapi matanya masih tak berpaling dari Nando dan Puji. Terlihat Nando berpaling ke kiri sementara Puji berpaling ke kanan. Mereka melihat ke satu arah. Lina mengikuti arah pandangan mereka. Ada seorang perempuan berjalan menghampiri Nando dan Puji. Perempuan tersebut terlihat tersenyum sangat lebar ke arah Nando. Lina seketika shock. Tak hanya Lina, Supri dan Adi juga merassa shock. Ketiga anak manusia di dalam mobil tersebut tengah memikirkan hal yang sama. Mereka meyakini bahwa pelaku adalah perempuan yang sedang berjalan ke arah Nando. Perempuan melambai ke arah Nando dan Puji. Berjalan mendekat dan semakin mendekat.membuat Lina semakin tak tenang. “Lin, kayaknya tebakanmu bener,” ujar Supri pelan dengan tatapan yang sama sejak tadi. “Cewek itu kayaknya yang celakai Putri. Salah satu fans Nando.” Lina hanya diam. Dia sedang menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia menunggu kode dari Nando. Dia sangat ingin menjambak rambut ikal gadis tersebut sekarang. Lina mencoba menenangkan diri. Mengatur napasnya beberapa kali. “Jangan su’udzon dulu. Siapa tau tuh cewek cuma mau nyamperin Nando aja kayak biasanya.” Adi memberi pendapatnya. Meski dia juga sangat curiga. Bukan berarti dia lantas menuduh perempuan tersebut begitu saja. Harus ada bukti tentunya. Toh, selama ini, yang dia tau. Tak ada satu pun penggemar Nando yang tega mencelakai orang lain dengan cara seperti itu. Yah, hal terparah adalah jambak-jambakan versi perempuan hingga masuk ruang BK. “Tunggu dulu kode dari Nando,” sambung Adi lagi. Terlihat perempuan berambut ikal berada di dekat Nando. Perempuan tersebut bahkan ingin menyentuh tangan Nando. Tapi Nando menghindar. Lina semakin gregetan melihat cara perempuan itu bersikap. Sementara diluar sana, Nando juga sedang berusaha untuk meredam emosinya. Dia teramat sangat marah sekali dengan perempuan yang bernama Ayu tersebut. Sikap agresifnya sudah sangat menganggu Nando, terlebih dengan keberaniannya mencelakai Putri. Ingin rasanya Nando memaki perempuan itu. “Kemarin kau pakai mobil ini pulang dari Bina Akrab?” Pertanyaan tersebut keluar begitu saja dari mulut Nando. Bertanya tanpa ekspresi tapi dibalas dengan senyuman oleh Ayu. Senyuman yang sangat lebar. Perempuan itu merasa sangat bahagia karena Nando akhirnya mau bertegur sapa dengannya setelah beberapa kali mendapat penolakan. “Iya, aku yang bawa. Kenapa?” ucap Ayu dengan senyum yang tak juga surut. “Kamu gak bisa bawa mobil? Mau aku ajari?” Rahang Nando mengeras. Dia menggengam tangannya sendiri dengan kuat. Menarik napas perlahan lalu menghembuskannya. Nando terdiam sejenak. Meredakan amarahnya yang sudah berada di ubun-ubun. “Kak,” ucap Nando sembari menatap Puji. “Kemarin mobil ini nyerempet temanku sampai masuk rumah sakit.” Dahi Puji berkerut. Dia diam. Puji mencoba mencerna maksud dari perkataan Nando.begitu sadar dengan apa yang sebenarnya terjadi. Puji menoleh pada Ayu. “Bener, Yu?” Ayu hanya diam. Dia menunduk. Dengan kedua tangan terkepal. “Bohong, Kak. Dia bohong.” Ayu seketika menyangkal. Membuat amarah Nando semakin tak tertahan. Lalu Puji sekali lagi bertanya pada sepupunya tersebut. “Yu, bener kau nabrak teman Nando. Iya?” Puji menatap Ayu dengan intens. Ayu hanya menggeleng. “Aku kenal kau, Yu,” ujar Puji. “Aku sangat tau bagaimana caramu supaya bisa dituruti semua inginmu. Tapi bukan begini caranya.” “Bukan Kak, sumpah.” Ayu masih menyangkal. Membuat Nando semakin naik pitan. Puji seketika mengeluarkan ponselnya. Dia terlihat sedang menelpon seseorang. Ayu terlihat semakin gelisah. “Kakak telpon siapa? Bapak aku?” tanya Ayu seraya berjalan mendekati Puji dan berusaha menarik ponsel Puji tapi tak berhasil. “Sumpah bukan aku, Kak.” Puji mengeraskan suara panggilan tersebut. Sementara tangan yang memegang ponsel terangkat ke atas. Dia menunggu panggilan tersebut terhubung. Begitu juga dengan Nando dan Ayu. Nando penasaran, apa benar Puji menelpon ayah dari Ayu. Padahal Ayu belum mengakui kesalahannya. Apa gunanya menelpon orang tersebut, pikir Nando. Ternyata tidak, Nando kecele. Bukan Ayah Ayu yang Puji telepon karena suara perempuan terdengar dari ponsel tersebut. “Halo Kak, kenapa? Ayu sudah balik kok tadi.” Sebuah suara terdengar sedang berbicara. “Kemarin pas pulang dari Bina Akrab, kalian habis nyerempet orang kah?” Hening sejenak. Tak ada jawaban dari seberang. Puji dengan pandangan yang tak luput dari Ayu kembali memanggil perempuan yang dia telepon. Tak lama, benda tersebut kembali mengeluarkan suara. “Iya Kak, Ayu yang bawa mobil,” ucap perempuan di sambungan telepon. “Kenapa Kak? Mobil kakak lecet?” “Ndak kok, makasih yah, Dek.” Puji mematikan sambungan telepon begitu saja tanpa menunggu tanggapan dari si penerima telepon. Puji menurunkan tangannya kemudian memasukkan benda pipih tersebut ke dalam tas miliknya. “Kenapa kau tabrak teman Nando?” Ayu diam. “Kenapa, Yu?” tanya Puji lagi. Tapi Ayu masih terdiam. “Oke, kita telepon bapakmu aja biar kau dipulangkan ke tanjung. Daripada disini buat masalah.” Puji kembali mengeluarkan ponselnya. “Aku ndak suka dia dekat-dekat sama Nando.” Kalimat tersebut keluar begitu saja dari mulut Ayu. Tanpa rasa bersalah. Membuat Puji meggelengkan kepalanya perlahan. Puji merasa malu pada Nando. “Kau harus minta maaf sama orang yang kau tabrak,” tegas Puji. “Kalau ndak, berenti kuliah dan balik kampung aja. Aku sudah janji sama orangtuamu untuk jaga kau tapi kalau begini, aku ndak mau lagi.” Nando yang mendengar perdebatan keluarga tersebut memilih untuk pergi. Dia tak ingin ikut campur lebih dalam. Dia hanya butuh maaf dari Ayu dan pernyataan dari perempuan tersebut agar tak mengulangi perbuatannya. Yah, meski sebenarnya sekarang Nando ingin sekali mengucap sumpah serapah. Biar saja itu menjadi tugas Puji. “Kak, aku tinggal ya,” ucap Nando. “Hubungi aja aku kalau sepupu kakak ini sudah siap untuk minta maaf sama temanku.” “Maaf banget ya, Do.” Nando mencoba tersenyum pada Puji lalu berbalik. Meninggalkan tempat tersebut tanpa sedikitpun melirik ke arah Ayu. Membuat perempuan tersebut semakin merana. Begitu sampai di dalam mobil, Nando sontak memukul kemudi. Membuat teman-temannya kaget. Nando menghembuskan napas lalu menatap teman-temnnya satu per satu. “Cewek itu yang nyerempet Putri.” Berbagai tanggapan meluncur dari mulut tiga teman sekaligus sahabat Nando. Supri yang masih setengah percaya mengungkapkan keheranannya. Begitu pula dengan Adi yang tidak habis pikir ada seorang perempuan psikopat di lingkungannya. Sementara Lina yang sejak awal mencurigai Ayu, sontak mengeluarkan beribu macam makian. Tiga lelaki di dekat Lina, geleng-geleng kepala melihat Lina yang sedang marah tak karuan. Sebagai sahabat Putri, dia tentu sangat sakit hati. Apalagi Putri memang tak pernah sekalipun mencari masalah dengan orang lain, malah bertemu dengan Ayu yang psikopat. “Sudah Lin, simpan tenagamu untuk cerita sama Putri nanti.” Nando mengingatkan janji Lina kepada Putri beberapa waktu lalu. Lina sontak terdiam. Memejamkan mata lalu menghembuskan napas. Lina berbalik, ingin melihat Ayu. Tapi Ayu maupun Puji telah pergi meninggalkan kampus. “Tunggu aja tuh cewek minta maaf ke Putri. Nanati Kak Puji hubungi aku bilang.” Mereka mengangguk, pertanda paham dengan maksud dari perkataan Nando. “Dia ngaku kalau nyerempet Putri? Apa alasannnya, Do? Cemburu karena kau?” Lina yang masih penasaran lantas bertanya. Nando lagi lagi mendengus lalu mulai menjelaskan bagaimana pertemuan mereka tadi. Dari kebohongan hingga pengakuan Ayu. “Dia masih sempat-sempatnya bohong? Ndak ngaku?” Lina menggelengkan kepala. “Gila memang tuh cewek.” Nando mengangguk. “Ya sudah, pulang yuk, Dor! Aku capek banget rasanya hari ini.” “Ndak ikut ke rumah Putri?” Nando menggeleng. “Salam aja buat Putri dan Tante ya, Lin.” “Kalian berdua?” Lina melihat Supri dan Adi bergantian. “Aku juga pulang aja deh, biar jadi pembicaraan para wanita aja lah,” ujar Supri. Adi juga tak ingin bergabung dengan Putri dan Lina. Supri dan Adi lantas turun dari mobil. Sementara Lina bersama Nando untuk mengambil motor Putri di bengkel. Baru kemudian ke rumah Putri untuk bercerita. Awal perjalanan mereka diam. Larut dalam pikiran masing-masing meski memikirkan hal yang sama. Mereka prihatin dan ingin melindungi Putri. Terlebih Lina yang sangat tau bagaimana karakter Putri yang sangat pemaaf. “Sampaikan maafku buat Putri ya, Lin,” ucap Nando sembari mengemudikan mobil. “Semua karena aku. Karena cewek itu suka sama aku.” Lina menggeleng. “Bukan salahmu. Ini murni karena cewek itu sudah gila.” Nando mendengus lalu kembali fokus dengan jalanan di depannya. Pikirannya kembali melayang. Dia benar-benar tak ingin kejadian serupa menimpa Putri. Sangat tidak ingin. Lina mengeluarkan ponsel. Membuka aplikasi pesan lalu mengirim sebuah pesan kepada seseorang. Sekilas melirik ke arah Nando lalu kembali melihat ke depan, pada beberapa kendaraan yang sedang lalu lalang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN