Bertemu Pelaku

1640 Kata
Putri masih terlelap saat ponselnya berdering. Benar-benar terlelap hingga tak merasakan getaran halus tepat di samping kepalanya. Hal tersebut membuat Lina dan tiga lelaki di dekatnya merasa sangat tegang menunggu sambungan telpon terhubung. Lebih dari tiga kali Lina menghubungi Putri tapi belum juga tersambung. Merasa percuma menghubungi Putri, Lina memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Lalu berpaling kepada Nando kemudian ke arah Supri. Gadis tersebut memajukan bibir bawahnya. “Kayaknya Putri tidur deh,” ujar Lina. “Tuh anak memang jarang pegang hape. Kalau ndak bantu mamaknya buat kue, yah baca novel sampai ketiduran.” Tiga lelaki tersebut mendengus. “Kau yakin Lin, Putri ndak pernah cerita apa-apa tentang Kak Puji?” tanya Adi seraya memegang kursi yang Lina duduki sementara kepalanya tepat berada di samping kanan kursi tersebut. Lina menggeleng. “Atau Putri cerita sama orang lain kali ya?” tebak Supri. Sekali lagi Lina menggeleng. “Putri itu orangnya tertutup. Temannya yang cuma aku.” “Satu-satunya jalan ya, kita musti tanya yang punya mobil,” ucap Nando. “Ada masalah apa sampai tega membahayakan nyawa orang lain.” “Bener, Do.” Supri menyandarkan kepalanya ke kaca mobil. “Aku tuh bener-bener ndak nyangka kalau Kak Puji setega itu.” “Yah, siapapun pelaku, dia orang yang sangat tega.” Nando menggenggam kemudi. ”Dan, semoga setelah kita ketemu pelakunya, dia ndak akan ganggu Putri lagi.” Sementara itu, di gedung dekanat seorang perempuan keluar dari ruang dosen dengan wajah lelah. Melewati seorang perempuan yang akan masuk ke dalam ruangan, tak lupa menyentuh bahu perempuan yang hendak masuk tersebut untuk memberi semangat. Sejurus kemudian, perempuan tersebut tersenyum kepada perempuan lain yang sedang duduk di kursi tunggu. “Gimana, Ji?” Perempuan yang ditanya mendengus lalu menggeleng. “Baru ajukan judul sudah seribet ini ya? Apa kabar kakak yang lagi penelitian?” “Belum lagi kalau kau susun draft buat sidang, bakal lebih pusing.” Puji menunduk. “Huft, capek banget ya, Kak.” Perempuan yang merupakan kakak tingkat Puji tersenyum lalu menggenggam bahu Puji. “Semangat!” Perlahan Puji mengangguk lalu pandangannya lurus ke depan. “Masih mau bimbingan? Kenapa belum balik?” Perempuan bernama Asmiati tersebut menoleh ke arah Puji. “Lagi nunggu sepupuku, Kak. Tadi pagi kami bareng naiknya.” “Sepupu kamu jurusan apa?” “Sama kayak aku, Kak,” jawab Puji. “Pengen jadi guru SD juga dia. Katanya gampang ngajar anak SD. Padahal anak sekolah dasar lah yang paling susah diajari.” “Maba?” tanya Asmiati. “Iya Kak, namanya Ayu.” “Oooh.” Asmiati manggut-manggut. Lalu sebuah suara menghentikan percakapan mereka. Adalah suara dari ponsel milik Puji yang sedang berbunyi, suara tersebut memenuhi koridor gedung dekanat. Puji melihat ponselnya sekilas sebelum akhirnya menerima telpon dari seseorang di  seberang sana. “Kak, dimana?” tanya perempuan di seberang. “Kami sudah pulang tapi aku ngobrol sama temenku bentar ya? Mau bahas tugas dari Pak Yasir.” Puji mendehem. “Oke, kabari aja kalau kau sudah mau pulang ya? Aku tunggu di mobil.” Puji memasukkan ponselnya ke dalam tas lalu berpamitan kepada Asmiati. *** Lina terlonjak saat mendengar dering ponsel yang berasal dari saku celananya. Menarik benda tersebut lalu melihat siapa yang menelponnya. Ternyata Putri yang menghubunginya. “Hust,” ujar Lina seraya menempelkan telunjuknya pada bibir. “Halo Put, baru bangun kah?” Lina melihat teman-temannya satu per satu. Adi berbisik agar sambungan telepon tersebut di-loudspeaker. Lina manggut-manggut kemudian membesarkan suara panggilan tersebut. “Iya Lin, maaf. Kenapa kah?” “Kau tau siapa yang punya mobil hijau?” tanya Lina. “Mobil yang nyerempet kau?” “Lina becanda bah. Aku ndak taulah. Kalau tau, pasti kalian sudah datangi orang itu kan?” Putri terkekeh pelan. “Iiih Putri ni, aku serius loh.” “Aku juga serius ndak tau, Lin.” Mendengar perdebatan mereka, Nando mengelengkan kepala. Tanpa permisi, Nando meraih ponel tersebut. Membuat si pemilik ponsel cemberut. “Kau punya masalah dengan Kak Puji, Put?” tanya Nando. “Ndak kok, kenapa?” Menarik napas lalu menghembuskannya kasar, Nando kemudian kembali bersuara. “Orang yang punya mobil itu Kak Puji.” Hening. Tak ada jawaban dari seberang sana. Nando dan tiga sahabatnya saling pandang. “Put?” “Yah, kalian ndak salah kah? Mobil hijau yang lain ndak ada kah?” “Mana ada Put, satu-satunya mobil hijau yang ada disini ya itu,” jawab Supri. “Aku ingat betul nomor polisinya. Ndak mungkin kan ada mobil yang punya nomer polisi yang sama?” “Jadi kau ndak punya masalah apapun sama Kak Puji kan?” tanya Lina lagi. “Mana ada, Dor. Sumpah, aku ndak punya masalah apapun sama Kak Puji. Kau tau kan Lin, aku bukan orang yang suka cari ribut sama orang lain.” Lina mendengus. “Iya sih, aku tau makanya aku nih bingung kenapa Kak Puji bisa begitu ke kau.” Nando yang menyimak percakapan tersebut tapi matanya tertuju ke arah tangga dekanat, tiba-tiba melotot ketika melihat perempuan yang dia tunggu sejak tadi baru saja melangkahkan kaki di tangga. “Dor, tunggu disini ya,” ujar Nando lalu menyerahkan ponsel milik Lina kemudian membuka pintu mobil. “Nanti kukasih kode baru kalian keluar. Oke?” Mereka mengangguk. “Tunggu Put, Nando mau ketemu Kak Puji,” ucap Lina. “Atau nanti aku telepon kau aja lah biar hemat pulsa. Eh ndak ding, nanti aku ke rumahmu ngasih tau langsung.” “Iya Lin, aku tunggu kabar dari kau ya. Makasih,” ucap Putri. “Makasih juga buat kalian semua. Nando, Supri sama Adi.” “Iya Put, sama-sama.” Serentak, Supri dan Adi menjawab pernyataan Putri. Lalu sambungan telepon terputus. Tiga orang di dalam mobil tersebut terdiam, menunggu Nando yang sedang menghampiri Puji. Sementara Putri yang mematikan sambungan telepon terdiam di dalam kamarnya. Perlahan, dia mencoba mengingat hal apa yang telah dia lakukan pada seniornya yang bernama Puji. Menarik kembali semua ingatan yang dia punya, tapi tak ada satu hal pun yang bisa jadi pemicu kebencian Puji padanya. Tak ada satu pun. Interaksi mereka secara langsung hanya pada saat Bina Akrab. Saat itu Putri bersama Lina sedang mengambil jatah makan siang, ada Puji yang juga sedang mengambil makanan yang sama. Mereka bertegur sapa sejenak, sekedar sapaan antara senior dan junior. Interaksi kedua saat mereka berbincang-bincang bersama Nando dan teman-temannya. Itu pun mereka tak pernah berbicara secara langsung, para lelaki yang lebih banyak berbicara. Sedangkan para perempuan lebih banyak mendengarkan, begitu pula dengan Putri dan Puji. Semakin Putri memikirkan, semakin tak menemukan benang merah. Merasa percuma untuk berpikir, Putri beranjak dari tempat tidurnya. Menuju lemari pakaian untuk mengganti baju. Memutuskan untuk tak mandi sore karena merasa malas untuk membersihkan badan. Setelah mengganti baju, Putri meraih ponselnya. Melihat apakah ada panggilan dari Lina. Tapi belum ada. Dia pun duduk di sisi ranjang kemudian menangkat kaki kirinya perlahan. Melihat dengan jelas luka di lutut serta pergelangan kakinya. “Hm, semoga kakiku cepat sembuh.” *** “Kak Puji.” Nando berjalan cepat menuju ke arah Puji yang sedang memegang pintu mobil. Lalu tersenyum pada perempuan di depannya tersebut. Puji berbalik. Melihat siapa orang yang memanggilnya. Begitu melihat sosok Nando yang berdiri di hadapannya, Puji lantas menutup kembali pintu mobil. “Nando?” Berjarak sekitar satu meter, mereka mulai berbicara. Puji bersandar di mobil sedangkan Nando berdiri dengan tangan disembunyikan di belakang paha. “Ini mobil kakak?” Nando membuka percakapan. Lalu menunggu dengan gelisah. Puji mengangguk. “Iya. Kenapa, Do?” Mobil tersebut ternyata memang milik Puji. Diam sejenak, Nando mencoba mencari pertanyaan yang sekiranya tidak membuat Puji tersinggung. Karena walau bagaimana pun, Puji adalah seniornya. “Kakak pernah kasih pinjam orang kah mobil ini?” “Ndak pernah, Do,” jawab Puji cepat. “Kenapa sih?” Dahi Puji berkerut. “Coba ingat-ingat lagi, Kak,” pinta Nando. Dalam hati, Nando berharap ada orang yang meminjam mobil Puji dan orang itulah pelaku. Sementara Puji semakin heran dengan pertanyaan Nando yang terkesan memaksa. Tapi kemudian Puji menyadari bahwa mobil miliknya memang pernah dipinjam seseorang, tepatnya kemarin. “Oh itu, sepupuku kemarin pake mobilku pas Bina Akrab.” Sesuai dengan perkiraan Nando, bukan Puji pelakunya. Tapi seseorang yang telah meminjam mobil tersebut. Lalu siapa sepupu Puji? “Sepupu kakak kuliah disini juga?” tanya Nando lagi. “Seangkatan kakak?” Puji menggeleng sembari tersenyum. “Dia maba juga, kayak kau.” Kali ini giliran dahi Nando yang berkerut. “Maba? Jurusan yang sama kayak aku? Siapa namanya?” Sekali lagi Puji menggeleng. “Bukan. Namanya Ayu, dia jurusan PGSD, sama kayak kakak.” Seketika jantung Nando berdetak kencang. Dia teringat gadis berambut ikal yang berkali-kali dia tolak saat Bina Akrab. Apa mungkin gadis tersebut adalah pelakunya? Jika iya, berarti gadis bernama Ayu itu merasa tersaingi dengan kehadiran Putri.  Bukan kah selain Putri, ada Lina juga yang selalu berada di sekitar Nando. Kenapa malah Putri yang dia sakiti? Tapi bukan berarti Nando berharap Lina yang disakiti. Hanya saja Nando bingung kenapa Putri? Apa karena gadis bernama Ayu tersebut bisa melihat perasaan yang Nando punya untuk Putri? Berbagai pertanyaan bersemayam di pikiran Nando dan butuh jawaban secepatnya. Dia benar-benar tak ingin perasaannya terhadap Putri malah membahayakan gadis tersebut. Puji yang sedang menunggu tanggapan dari Nando sontak menoleh, tepat ketika seorang gadis memanggil namanya. “Nah, panjang umur,” ucap Puji. “Itu sepupuku yang namanya Ayu. Cantik kan, Do? Sesuai sama namanya.” Nando juga turut menoleh ke arah gadis yang memanggil Puji tersebut. Menarik napas perlahan lalu menghembuskannya. Nando mencoba mengatur emosinya dia tak boleh bersikap kasar, terutama terhadap kaum perempuan. Gadis bernama Ayu tersebut menghampiri mereka. Sebuah senyum terkembang di bibirnya. Gadis itu menatap Nando, melambaikan tangan dengan antusias. Dia terlihat sangat bahagia. Berbanding terbalik dengan Nando yang sedang sangat marah. Bahkan utnuk sekedar tersenyum pun, tak bisa Nando lakukan saat itu. “Kita liat, apa kau masih bisa tersenyum setelah ini?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN