Pemilik Mobil Hijau

1586 Kata
Sepasang kaki dengan sepatu flat berwarna hitam tampak keluar dari mobil. Ada sebuah tangan tampak memegang pintu mobil. Ada kepala yang condong keluar. Lalu kepala itu menoleh ke kanan, ke arah Nando dan teman-temannya. Gadis bersepatu flat tersebut tersenyum ke arah mereka seraya melambaikan tangan. Menutup pintu mobil lalu berjalan membelakangi Nando dan teman-temannya. Gadis tersebut menaiki tangga, menuju gedung dekanat. Tepat di sebelah gadis tersebut, ada serang pria berkemeja dengan celana kain serta sepatu hitam mengkilap. Pria itu berjalan berlawanan dengan gadis tersebut. Pria tersebut semakin mendekati mereka. sontak Adi menepuk pundak Nando. “Do Do,” ucapnya dengan mata masih menatap pria yang berjalan tersebut. “Pak Hakim Guys, Pak Hakim. Ayo eh, mau kalian dianggap bolos?” Pak Hakim memberi peraturan tak boleh terlambat lebih dari lima menit jika tidak akan dibolehkan masuk ke dalam kelas. Minggu lalu salah satu teman sekelas mereka terlambat karena ban motornya pecah, diminta untuk meninggalkan kelas. Apalagi mereka yang alasannya ingin menguntit orang, sudah pasti akan dikeluarkan juga. Terlebih, sesuai kesepakatan minggu lalu, hari ini dan minggu-minggu selanjutnya jam kuliah mereka diundur satu jam agar tidak ada lagi yang memiliki alasan untuk terlambat. Nando berbalik. “Ayo ke kelas! Nanti biar aku yang ketemu sama dia sepulang kuliah.” Mereka bergegas menuju ruang kelas yang terletak di lantai dua. Tanpa aba-aba, mereka memilih duduk di pinggir, tepat di dekat jendela, sama seperti sebelumnya. Dan tentu saja dengan harapan bisa melihat mobil yang sejak tadi pagi mereka intai, keluar masuk lingkungan kampus. Di tempat lain, ada seorang gadis yang sedang duduk di ranjang, bersandarkan kepala ranjang. Di tangannya sebuah ponsel terlihat menyala. Gadis itu sedang mengecek sosial media miliknya. Kemudian mengetik sebuah nama di kolom pencarian. Adalah nama Nando Saputra yang dia tulis. Lelaki yang beberapa hari ini memenuhi hari-harinya. Bukan hanya hari-harinya tapi juga pikirannya. Ada kalanya Putri merasa Nando berperilaku baik kepadanya karena Nando memang menyukainya. Tapi, terkadang pula dia merasa Nando memang pribadi yang sangat hangat dan baik kepada setiap orang yang dia kenal. Yah, meski Nando akan bersikap sangat menyebalkan kepada perempuan yang terang-terangan menyatakan ketertarikannya. Jari jemari Putri mulai bergulir, sekedar melihat dan membaca setiap postingan Nando yang sebagian besar foto maupun status yang dibuat oleh orang lain, dengan menambahkan akun f*******: Nando di dalamnya. Ada teman-teman Nando yang sebagian besar memilik nama f*******: yang terkesan berlebihan, adapula seorang gadis yang sepertinya saudara perempuan Nando. Terlihat dari postingan yang dia buat, gadis tersebut menyebut abangku setiap kali mengunggah foto bersama Nando. Gadis tersebut memiliki akun f*******: bernama Nindi ShiChantikzManiesz. Tersenyum geli, Putri kembali memainkan jari-jarinya di ponsel. Bergulir ke atas untuk melihat setiap postingan Nando hingga lima bulan lalu. Merasa cukup lelah, Putri memilih untuk membaringkan tubuhnya lalu berbalik ke kanan seraya memeluk guling. Meletakkan ponselnya sejenak, Putri memejamkan mata hanya untuk membayangkan bagaimana wajah Nando saat memandangnya. Putri merasa hatinya menghangat. Namun seketika sebuah rasa tiba-tiba muncul. Dia merasa ingin bertemu Nando saat ini juga. Padahal mereka baru saja berpisah tiga puluh menit lalu. Putri meraih kembali ponselnya, membuka kontak dan mencari nama Nando disana. Putri menemukannya. Tepat ketika jempol miliknya akan menekan tombol yang berbentuk telepon berwarna hijau, Putri tersentak. Seketika menyimpan ponsel tersebut di dadanya. Putri terkesiap. “Astagaa, apa yang aku pikirkan?” Putri mengeleng-gelengkan kepala dengan dramatis. Memejamkan mata lima detik lamanya lalu kembali membukanya. Menatap langit-langit kamar. Wajah Nando seketika terlihat tepat di hadapannya. Putri kembali memejamkan mata, bayang-bayang lelaki tersebut masih terlihat jelas. Sedikit frustasi, Putri kembali membuka mata. Bayang Nando tak terlihat lagi. Tapi malah pikiran Putri tertuju pada pertemuan pertama mereka. Pertemuan yang sangat dramatis, hal yang tak akan Putri lupakan. Begitu pula dengan tingkah konyol Nando setelahnya. Terlebih sikap tidak sopan Nando saat menyentuh Putri. Sejujurnya, sejak awal Putri tau kalau Nando benar-benar tidak sengaja. Tapi entah mengapa Putri terlanjur kesal saat Nando menabraknya. Terlebih saat tangan Nando tanpa permisi langsung menyentuh Putri, ingin rasanya Putri memaki tapi mulut Putri malah tertutup rapat. Mungkin efek lelah mengurus persiapan Ospek. Ketakutan dengan suasana Ospek yang diluar dugaan Putri sebelumnya. Hingga peristiwa tabrakan itu menjadi cara Putri untuk mengeluarkan rasa lelahnya. Putri menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Mencoba menenangkan dirinya agar tak teringat hal-hal buruk yang dia alami dengan Nando. “Bagus aku tidur,” ucapnya dalam hati. Menyimpan ponsel tepat di samping kepalanya, Putri lalu memejamkan mata. Dia mencoba untuk tidur. Meski sulit karena Nando seolah menguasai pikirannya. Hingga dua puluh menit kemudian Putri terlelap dalam tidur siangnya. Siti yang baru selesai membersihkan rumah. Sekedar untuk menyapu dan mencuci beberapa piring serta perkakas masak yang dia tinggalkan begitu saja saat Lina datang menjemput kemarin. Ibu Putri tersebut tersenyum begitu mengintip ke dalam kamar Putir yang terbuka setengah, dimana Putri sedang terlelap dengan senyum mengembang di wajahnya. Tak berniat mengganggu tidur Putri, perlahan Siti menutup pintu kamar anaknya tersebut. Lalu memutuskan untuk mencuci pakaian yang dia rendam saat datang dari rumah sakit. *** Nando terlihat gelisah, sesekali melihat ke arah jendela. Tak lama setelah itu, dia melirik jam tangannya. Tak jauh berbeda dengan teman-temannya yang duduk tepat di hadapannya. Seratus menit berlalu, mata kuliah terakhir di hari itu telah selesai. Pak Hakim telah mengucapkan kalimat penutup untuk mata kuliah yang dia ajarkan. Pria paruh baya itu mengambil buku tebal yang tergeletak di meja. Lalu berjalan keluar ruangan, tak lupa mengucapkan selamat sore sebelumnya. Nando yang telah memasukkan binder dan alat tulisnya, berdiri lalu menepuk pundak Supri. Dibalas anggukan oleh Supri. Sedangkan Lina dan Adi berbalik ke arah Supri dan Nando. Tanpa aba-aba, mereka bersama-sama meninggalkan kelas. Dengan langkah cepat, mereka melangkahkan kaki. Nando yang memiliki kaki paling panjang, berada di depan menyusul Supri serta Adi yang berjalan bersisian. Sedangkan Lina berada di belakang, gadis itu terlihat susah payah mengikuti langkah para lelaki di hadapannya. Mereka akhirnya tiba di depan gedung fakultas. Beruntung mobil hijau tersebut masih berada di tempat yang sama. Bernapas lega, mereka perlahan berjalan menuruni tangga menuju tempat parkir. “Mau nunggu di mobil aja sama-sama aku?” tawar Nando. “Boleh,” ucap Lina cepat lalu berjalan menuju mobil Nando, mendahului si pemilik mobil. Saat jarak Lina dan mobil tersebut sekitar tiga meter, terdengar suara dari mobil diiringi dengan lampu mobil yang menyala. Lina berbalik lalu tersenyum ke arah Nando. Memilih duduk di depan, tepat di samping tempat duduk pengemudi. Tempat yang sangat strategis untuk melihat si pemilik mobil hijau yang bersebrangan dengan mobil Nando, hanya dibatasi beberapa motor dan lahan kosong yang digunakan untuk pejalan kaki. Beberapa saat kemudian, Nando dan Supri beserta Adi juga masuk ke dalam mobil. Nando yang duduk tepat di belakang kemudi sementara Supri dan Adi duduk di kursi belakang. “Kalau mau makan atau minum, di belakang ada camilan yang aku beli kemarin pas pulang dari rumah sakit,” ucap Nando. “Tadi mau ngasih ke Putri tapi lupa gara-gara nasi kuning. Hehe.” Supri dan Adi berbalik, menyasar plastik hitam dan putih yang tergeletak di kursi paling belakang. Dua plastik yang berisi s**u kemasan satu liter, milo kaleng, roti isi coklat dan bertabur keju serta roti dengan varian isi dan juga toping lainnya. Mereka membuka plastik tersebut. Supri yang berada tepat di belakang Nando memberikan sekaleng milo kepada Lina dan juga Nando. Sedangkan Adi masih sibuk dengan roti-roti yang ada di plastik berwarna putih, meneliti setiap rasa dari roti tersebut. “Ah, yang ini aja deh,” ucap Adi kemudian mengambil sebungkus roti yang setiap potongannya dilumuri mentega bercampur keju yang telah diolah. “Kalian mau yang mana?” Supri menarik plastik tersebut lalu memberikannya kepada Lina yang masih memantau mobil hijau. “Makan dulu Lin, biar fokus.” Lina yang sedang memegang sekaleng milo, menoleh ke arah Supri lalu meraih plastik tersebut. Mengambil sebungkus roti berukuran kecil tanpa memilih. Menaruh roti tersebut di pangkuannya lalu kembali fokus ke mobil hijau. Sementara itu tangan kanannya yang memegang plastik besar terulur ke arah Nando. “Makan, Do.” Nando sedikit kaget saat merasakan ada bneda yang mengenai pahanya. Dia menunduk. Kantongan plastik berisi roti terlihat jelas. Nando memilih roti isi coklat dengan toping keju. Membuka kemasan roti tersebut lalu memotong sedikit roti. Membuka mulutnya kemudian memasukkan roti tersebut ke dalam mulutnya. Ketiga teman Nando juga melakukan hal yang sama, sedang mengunyah dengan mata yang terfokus dengan mobil hijau di sebelah kiri mereka. Lima menit, sepuluh menit hingga tiga puluh menit tapi tak ada tanda-tanda si pemilik mobil datang. “Ini yang punya mobil dua jam lebih di gedung dekanat ngapain coba?” tanya Supri. “Emang disana ada ruang kuliah juga, iya?” Nando menghela napas. “Kayaknya Kak Puji bimbingan skripsi kali ya jadi lama begitu. Yah, setahu aku kalau lagi skripsian itu ribet dan makan waktu.” “Harus selama itu ya, Do?” Lina ikut bersuara lalu membuka kaleng yang daritadi dia genggam. “Aku nih daritadi mikir kenapa Kak Puji bisa tega ngelakuin itu ke Putri? Padahal mereka ndak ada masalah apa-apa. Kak Puji juga kelihatan sangat baik kan?” Lina meneguk minumannya. Membuka kemasan roti miliknya. Mendorong roti tersebut ke atas agar dia bisa menggigitnya sedikit demi sedikit. Sementara tiga temannya hanya terdiam. Mereka semua daritadi memikirkan hal yang sama pula. Mempertanyakan hal yang sama di benak masing-masing. “Aaah, coba aku telpon Putri,” ujar Lina. “Mungkin aja ada sesuatu diantara mereka tapi Putri gak cerita. Putri memang rada tertutup orangnya.” Tuntas mengatakan ha tersebut, Lina mengambil ponsel yang dia simpan di dalam tas. Mencari kontak Putri lalu menekan tombol berwarna hijau. Seketika Lina merasa tegang, begitu pula tiga orang yang sedang berada di dalam mobil bersamanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN