Sepasang Sepatu

1670 Kata
Sepeninggal Nando dan teman-temannya untuk kuliah, Putri membersihkan diri sebisanya. Dia mandi dengan cara duduk di closed sementara kakinya terjulur bertopang di kursi berbahan plastik. Perlahan menyiram tubuhnya agar tidak mengenai kaki yang lukanya belum kering. Tentu akan sangat perih jika harus terkena air sedangkan lukanya masih basah. Setelah mandi, Putri mengenakan baju yang dia bawa saat Bina Akrab. Dia membawa baju lebih untuk mengantisipasi jika ternyata bajunya basah atau kotor. Dan baju tersebut akhirnya dipakai saat di rumah sakit. “Sudah mandi?” Siti yang sedang merapikan tempat tidur, berpaling ke arah Putri yang baru saja keluar dari kamar mandi. Menghentikan aktifitasnya sejenak, Siti berjalan ke arah Putri, bermaksud untuk membantu Putri berjalan. Dia memapah Putri di sebelah kiri karena tangan kiri Putri sudah sembuh sementara tangan kanan masih terpasang infus. Putri berjalan perlahan. Sesekali terdengar suara dari roda tiang infus yang dia gunakan. Meski terasa perih, Putri harus tetap berjalan agar kakinya tidak terasa kaku. Terlebih luka di lututnya masih sangat perih jika Putri bergerak. “Siang ini kita jadi pulang kan, Mak?” Siti membantu Putri untuk naik ke atas ranjang. Memasang kembali air infus ke tiang yang terpasang di ranjang. Lalu menggeser posisi bantal kemudian menepuknya sebelum akhirnya Putri mendaratkan kepala. “Iya Sayang, mamak simpun barang-barang dulu ya?” Putri mengangguk. “Jadi infusnya kapan dilepas?” Siti yang sedang berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil baju kotor serta perlengkapan mandi, tetap berjalan sembari menjawab pertanyaan Putri. “Agak siang kali dilepas. Tunggu aja perawatnya datang,“ ucap Siti sebelum akhirnya menghilang di balik pintu. Putri menutup mata seraya melepas ikat rambutnya. Mencoba untuk istirahat meski sangat sulit. Dia masih memikirkan siapa orang yang berniat jahat kepadanya. Putri yang hampir tak pernah berinteraksi dengan orang lain kecuali teman sekelasnya, apa mungkin ada yang tersinggung dan marah dengan sikap ataupun tingkah lakunya. “Hm, tapi ndak mungkin teman sekelas deh,” pikir Putri dengan mata masih terpejam. “Kayaknya mereka rata-rata pakai motor ke kampus. Mobil hijau itu pasti punya anak jurusan lain.” Meski Putri jarang berbicara pada teman sekelasnya tapi dia cukup memperhatikan teman-temnnya ketika pulang, terlihat sibuk menuju motor masing-masing. Lalu siapa? Apa benar mahasiswa jurusan PGSD seperti yang teman-temannya pikir? Sekilas Putri menggelengkan kepala. Dia masih tidak menemukan benang merah apapun. Entah dari jurusan apapun orang itu, apa alasannya mencelakai Putri yang tidak bersalah sama sekali. Seketika kepala Putri terasa sakit. Sementara Nando dan tiga orang temannya yaitu Lina, Supri dan Adi memutuskan kembali masuk ke dalam mobil. Mereka ingin mengintai mobil hijau yang mereka yakini mobil yang telah mencelakai Putri. Tapi bukan pemilik mobil yang mereka lihat masuk ke dalam mobil tapi justru dosennya yang terlihat akan masuk ke dalam gedung. Pertanda kuliah akan dimulai sebentar lagi. Nando terlihat berpikir sejenak. Lalu berpaling ke arah luar mobil. “Kuliah dulu yuk?” ajaknya kemudian mendorong pintu mobil. “Semoga kita bisa ketemu sama yang punya mobil itu setelah kuliah.” Baik Lina, maupun Supri dan juga Adi serentak mengikuti Nando. Berjalan berdampingan, mereka menuju ke lantai dua untuk mengikuti perkuliahan. Meski separuh hati Nando ingin sekali menunggu di dalam mobil. Tapi dia memikirkan teman-temannya, dia tak ingin teman baiknya juga ikut bolos sepertinya. Mereka mengikuti perkuliahan hingga selesai. Sengaja memilih duduk di pinggir, tepat di jendela agar sesekali bisa memantau kendaraan yang melewati gedung. Tapi mobil tersebut sepertinya tak pernah lewat sekali pun. Entah mobil tersebut memang tak pernah keluar dari kampus atau mereka yang memang tak menyadari ketika mobil tersebut telah pergi. Benar saja, ketika mereka keluar dan berdiri tepat di depan gedung, mobil tersebut sudah tak terlihat. Mereka saling pandang. Lalu Nando mulai menuruni tangga, diikuti oleh teman-temannya. “Kita antar Putri dulu,” ucap Nando sembari tetap melangkah. “Entar kita naik lagi kan. Mudahan mobil itu ada. Mana tau yang punya pergi makan siang kan?” Mereka mengangguk setuju. Masuk ke dalam mobil, tak lupa memasang sabuk pengaman. Mobil itu pun melaju dengan kecepatan sedang. “Do, ini bukan ulah fansmu kah?” tanya Lina tiba-tiba. Nando sekilas melihat Lina melalui cermin lalu kembali fokus dengan jalanan. Dengan jelas Nando mengetahui kalau Lina sedang berpikir keras. “Mobil itu ada pas kita mau Bina Akrab kan? Yah, meski gak ada pas di lokasi karena mungkin aja yang punya mobil nebeng sama teman sekelompoknya,” jelas Lina. ”Kau ingat cewek berambut ikal yang sibuk mau ngajak kau kenalan? Aku kok ngerasa curiga sama dia,” tambah Lina lagi. Supri dan Adi refleks berpaling kepada Lina sedangkan Nando masih menjalankan mobilnya. “Terus?”tanya Nando. “Malam pas dari pipis malam itu, aku ndak langsung tidur. Aku berusaha tutup mata tapi karena jengkel jadi susah tidur deh. Nah, pas bukamata aku ndak sengaja liat tuh cewek jalan di pantai, entah dia darimana. Mana sendirian pula. Kupikir hantu laut. Sempat aku merinding,” jelas Lian. Terkekeh pelan, Nando malah mengingat kemarahan Lina malam itu. Nando kembali bertanya karena merasa penjelasan Lina bukan sebagai bukti, hanya prasangka yang tidak berdasar. “Dan, pas sore kita mau pulang, aku liat dia natap ke arah kita. Kukira dia liatin kau, Do. Tapi pas kau jalan duluan, dia masih liat ke arah aku sama Putri sambil senyum. Entah apa maksud dari senyumnya itu.” “Ehm.” Nando tampak berpikir. Begitu pula dengan Supri dan Adi. Hingga akhirnya Nando kembali membuka suara. “Biar bagaimana pun, kita butuh bukti,” ujar Nando. “Bagaimanapun caranya, kita harus tau siapa pemilik mobil hijau itu karena itu satu-satunya kunci dari kecelakaan kemarin.” Mereka diam. Hanyut dalam pikiran masing-masing. Hingga mereka sampai di depan rumah sakit. Menurunkan ketiga temannya terlebih dahulu kemudian memarkirkan mobilnya. Namun mereka menunggu Nando lalu bersama-sama menuju ke ruang perawatan Putri. “Siang, Tante,” ucap Nando sembari mencium telapak tangan Siti, diikuti oleh teman-temannya. “Gimana? Sudah siap pulang?” Siti tersenyum. “Sudah, Nak. Kalian bawa motor masing-masing kan? Tante sama Putri ikut sama kalian ya karena motor Putri kan masih di bengkel. Bisa ditangkap polisi kalau Lina tante sama Putri sekaligus.” Nando menepuk jidatnya. “Astaga, motor Putri belum kita ambil ya?” Nando melihat ke arah Supri. Lelaki yang ditanya hanya cengengesan sembari menggaruk kepala. “Tapi aku bawa mobil sih,” ucap Nando. “Emang sengaja bawa biar bisa antar Putri pulang.” Lina tertawa terbahak-bahak. Sementara Putri dan ibunya, Siti, hanya tersenyum. Sedangkan Supri dan Adi yang lebih sering tak mengerti dengan apa yang terjadi hanya bisa saling sikut dengan dahi berkerut. Tapi kerutan d dahi mereka tak separah kerutan di dahi Nando. “Do, aku kasih tau ya, rumah kami itu jauh banget masuk gang. Mobil ndak bisa masuk jadi percuma bawa mobil.” “Serius, Lin?” Nando melihat ke arah Lina lalu menatap Siti. “Bener, Tante?” Siti mengangguk dengan senyum geli yang terlihat jelas. Supri dan Adi sontak tertawa. Tapi tak lama karena Nando menatap mereka dengan mata melotot. Siti menggelengkan kepala lalu menawarkan solusi. “Gimana kalau tante sama Putri ikut di mobil sama Nando. Nanti sampai depan gang, baru deh Lina sama Suri atau Adi yang antar kami sampai rumah. Gimana?” “Boleh deh tapi kita makan siang dulu, gimana?” tawar Nando. “Jadi nanti setelah antar Putri sama tante, kami langsung ke kampus. Masih ada satu mata kuliah lagi jam dua lewat nanti.” “Oke, tante yang traktir,” ucap Siti seketika. Nando baru ingin bersuara tapi Siti kembali bersuara. “Jangan ada yng protes,” tegasnya. “Yah, lumayan lah anak kost bisa berhemat,” ucap Supri. Mereka tertawa kemudian Siti mengajak mereka untuk bergegas secepatnya agar mereka tak harus ketinggalan mata kuliah siang nanti. Mereka pun meninggalkan ruangan tersebut. Siti dan Lina memapah Putri. Sementara para lelaki di belakang membawa barang milik Putri serta ibunya. Setelah menyelesaikan makan siang, mereka melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Putri. Mereka singgah di depan gedung Bea dan Cukai, agar bisa berboncengan masuk ke dalam gang. Putri bersama dengan Lina, Supri bersama Siti sementara Adi berboncengan dengan Nando. “Wah, ndak nyangka aku Putri tinggal di lingkungan seperti ini,” Ucap Nando sembari memperhatikan sekitarnya. Setiap rumah hanya berjarak sekitar satu meter. Adi yang mengendarai motor tersenyum. “Kau ndak pernah masuk gang sini, Do?” “Belum pernah, Di. Kau sering?” Adi membelokkan motornya ke kanan. “Beberapa kali, teman SMP ku tinggal daerah sini juga soalnya.” “Oh ya? Kalau ke Beringin sering aku, Di. Kalau mau masuk tambak, kami biasanya lewat beringin atau di Perikanan.” Adi menghentikan motornya tepat di belakang Supri. “Mau mampir dulu?” tawar Siti. “Kapan-kapan deh, Tante,” jawab Nando. “Entar sore aja kita kesini sekalian antarkan motor Putri, gimana?” usul Supri. Nando dan Adi mengangguk. Mereka lalu berpamitan. Putri tak lupa mengucapkan terimakasih kepada teman-temannya. Setelah itu, mereka bergegas ke kampus. “Nanti aku kesini lagi, Put,” ucap Lina lalu naik ke atas motor Supri. “Titip motorku. Hehe.” Sengaja Lina tak mengendarai motornya sendiri karena dia lah yang akan membawa pulang motor Putri nanti. “Kau mau bawa mobil atau ikut aku juga, Do?” tanya Adi begitu mereka hampir tiba di depan Bea Cukai. Nando memilih untuk membawa mobil karena dia tidak membawa helm. Akan sangat berbahaya jika tidak menggunakan helm. Mereka pun menuju kampus. Tak disangka, ketika akan memasuki gerbang kampus, mobil hijau yang mereka cari pemiliknya juga seang memasuki wilayah kampus. Dengan jelas Nando melihat teman-temannya di depan sedang berbicara. Dia yakin mereka pasti membicarakan mobil tersebut dan berniat mendekatinya. Benar saja, perlahan mereka melajukan motor, begitu pun dengan Nando. Mobil tersebut berbelok ke kiri, menuju gedung Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Sekilas Nando melihat teman-temannya sedang menunggu pemilik mobil tersebut keluar. Sementara Nando mencari tempat untuk memarkirkan mobilnya. Setelah memarkirkan mobil, Nando menghampiri teman-temannya. “Belum keluar?” tanya Nando seraya melihat ke arah mobil tersebut. Mereka menggeleng dengan attapan yang masih tertuju ke arah mobil hijau tersebut. Lalu mobil terbuka. Sepasang kaki dengan sepatu flat berwarna hitam tampak keluar dari mobil tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN