Filosofi Kuntilanak

1524 Kata
Hari ini ada dua mata kuliah. Pagi pukul delapan hingga pukul setengah sepuluh. Dilanjutkan pukul setengah sebelas hingga pukul dua belas siang. Setelah, mata kuliah pertama berakhir, Lina dan Putri memutuskan berbincang-bincang saja di dalam kelas. Menggeser jendela yang sebagian besar terbuat dari kaca, hanya rangka saja yang terbuat dari besi. Putri membiarkan jendela tersebut terbuka lebar, membuat rambutnya yang terurai beterbangan oleh angin. Sementara Lina di hadapannya sedang memainkan ponsel. “Put,” sapa Lina lalu memasukkan ponsel miliknya ke dalam kantong jeans hitam yang dia gunakan. “Ke kantin yuk beli minum baru balik lagi kesini?!” Menoleh perlahan pada Lina, Putri menyelipkan anak rambutnya di sela telinga lalu melepaskan headset dari telinganya. Kemudian tersenyum menampilkan barisan gigi putihnya. “Lagi males kemana-mana bah. Boleh nitip aja kah?” Lina mencibir. “Males juga kalau sendirian bah,” gerutu Lina dengan mulut yang sedikit maju. Lalu dia melihat ke arah tiga orang lelaki yang sedang duduk di bawah papan tulis. “Aah, aku tau.” Lina berjalan menghampiri ketiga temannya tersebut. Lalu tersenyum. “Kalian haus ndak?” Ketiga lelaki tersebut saling pandang. Lina kemudian menyahut, “Aku sama Putri lagi haus tapi rasanya males banget ke kantin bah. Apalagi Putri, dia tuh ndak suka berdesak-desakan gitu.” Nando tiba-tiba berdiri. “Kalian mau minum apa?” tanya Nando sembari melihat Lina lalu melirik ke arah Putri yang masih betah berdiri di dekat jendela. “Kau Supri sama Adi mau minum apa? Sekalian aku belikan.” Supri lalu berdiri, diikuti oleh Adi. Serentak mereka menjawab, “Kami ikut.” Nando menunduk, meraih tas miliknya yang tergeletak di lantai. Setelah menggendong tas, dia kembali bertanya pada Lina. “Jadi mau apa?” “Hm, green tea aja. Kalau Putri suka yang rasa coklat-coklat gitu. Milo atau s**u kotak boleh deh,” terang Lina lalu menarik sejumlah uang dari saku celana. “Ini uang kami.” Nando menolak uang tersebut. Kemudain meninggalkan kelas bersama kedua temannya. Sementra Lina menghampiri Putri. “Loh, minumnya mana?” tanya Putri lalu melepas headset daritelinganya. “Bilang tadi mau beli minum.” Lina tersenyum jahil. “Nando yang pergi belikan kita.” Putri menoleh ke arah papan tulis, tempat dimana Nando dan teman-temannya tadi duduk. Lalu menggeleng pelan. “Lina nih, suruh-suruh orang lagi.” “Aku ndak nyuruh loh, dia sendiri yang mau belikan,” ujar Lina. “Tuh dorang bertiga lagi di jalan ke kantin.” Lina menunjuk ke lapangan yang terletak di belakang gedung fakultas mereka. Lapangan futsal yang menjadi tempat berkumpul mereka saat Ospek dahulu. Putri memperhatikan ketiga anak manusia yang sedang berjalan di lapangan tersebut. Satu orang dengan tinggi sekitar 165 sentimeter mengenakan kemeja berwarna hitam dan celana warna senada. Lelaki itu bernama Supri. Di sebelahnya, seorang lelaki setinggi 170 sentimeter dengan kemeja kotak-kotak dengan warna dasar biru dan garis putih serta kuning. Lelaki itu adalah Adi. Di sebelah kanannya, seorang lelaki dengan tinggi 180 sentimeter mengenakan kemeja kotak-kotak dengan warna dasar merah yang ditemani oleh garis berwarna hitam serta putih. Lelaki itu adalah Nando. Nando tampak sangat gagah jika dilihat dari belakang. Dia memiliki bentuk tubuh yang sangat ideal, tidak kurus tapi tak tampak pula lekukan lemak di tubuhnya. Dia juga memiliki tinggi yang diidamkan para kaum adam. Terlebih Nando juga memiliki wajah yang tampan, berwajah maskulin dengan hidung mancung dan kulit putih bersih. Meski sebenarnya Nando juga sering berpanas-panasan ketika di tambak, membantu ayahnya. Tapi kulitnya tidak berubah. Hanya terlihat memerah beberapa hari, setelah itu akan kembali putih. Penampilan yang sangat menarik itulah yang membuat banyak kaum hawa yang tertarik padanya saat masih sekolah Dan, saat memasuki dunia perkuliahan, pesona miliknya tak juga luntur. Terbukti beberapa mahasiswa melirik dan menatapnya. Tak hanya itu, bahkan kakak tingkat pun ada yang secara terang-terangan mengajak Nando berkenalan. Bahkan, gadis tersebut mendatangi kelas Nando. “Haii, masih ingat aku?” ucap gadis berjilbab hijau dengan senyuman di wajahnya. “Aku yang waktu itu nanya-nanya kau.” Dahi Nando berkerut. Dia mencoba mengingat siapa gadis di hadapannya. Tapi cukup lama, dia masih tak mengingatnya. Perlahan, Nando menggeleng. “Maaf, aku lupa.” Gadis itu mendesah. ”Ya sudah, kenalan pale kalau gitu.” Gadis tersebut mengangkat tangan sejajar dengan perut, bermaksud untuk bersalaman dengan Nando. Tapi Nando tak menyambut uluran tangan tersebut. “Maaf, sebentar kami mau kuliah.” Gadis itu melayangkan pandangan ke seisi kelas. Tak banyak orang disana, hal tersebut membuktikan bahwa kuliah tak akan dimulai dalam waktu dekat. Merasa cukup mengerti dengan sikap Nando, gadis itu memilih pergi. Namun sebelum pergi dia mengucapkan sebuah kalimat yang membuat semua orang yang di dalam kelas melongo, tak percaya. “Aku tunggu kau pulang kulaih deh. Bye.” Tak lupa gadis tersebut memberikan sebuah senyum kepada Nando. Putri yang sedang duduk menikmati sekotak milo yang dibeli oleh Nando, hanya menggeleng kepala. “Entah Nando yang agak sombong atau itu senior yang ndak tau malu,” pikirnya lalu memutar kembali musik yang dia dengarkan. Nando lalu berjalan ke arah Putri, dimana Lina, Supri dan Adi juga sedang duduk di tempat tersebut. Begitu duduk, Nando meneguk milo yang dikemas dalam kaleng miliknya. Lalu menatap satu persatu temannya yang juga menatapnya. Kemudian tatapannya beralih ke Putri yang sedang asyik mendengarkan lagu. Tanpa sadar, Nando tersenyum melihat Putri. Membuat tiga pasang mata yang berada di dekatnya semakin melongo. “Do, kok aku perhatikan kau sering natap Putri ya?” tanya Lina tanpa sedikit pun rasa sungkan. “Kau suka sama Putri?” Supri dan Adi terbelalak sementara Nando berusaha menutup mulut Lina. Melihat hal tersebut, Putri tiba-tiba melepas headset di telinganya. “Kalian kenapa sih?” tanya Putri. Nando menggelengkan kepala pelan sembari memberi kode kepada Lina agar tak mengatakan hal baru saja dia tanyakan. “Ndak papa kok, Put.” Nando menampilkan senyum manisnya. Putri mendengus. “Kalian nih, kayak anak kecil aja ake acara tutup-tutup mulut segala,” ujarnya lalu kembali memasang headset ke telinganya. “Do, itu...” Supri tak meneruskan kalimatnya seolah dia tau bahwa apa yang dia pikirkan sekarang adalah sebuah kenyataan. Yah, dia pun yakin kalau Nando menyukai Putri. Telebih ketika mengingat kejadian dua hari lalu, dimana Nando berlari demi membelikan Putri sejumlah makanan dan minuman. Adi juga sepertinya paham dengan apa yang terjadi. Sehingga dia memilih diam saja. Tapi tidak dengan Lina. Gadis tersebut semakin bersemangat. Dia benar-benar ingin mendengar jawaban dari Nando. “Jadi, kau betulan suka sama temanku?” Deg, jantung Nando seperti tak berdetak lagi ketika Lina kembali menanyakan hal yang sama. Perlahan, dia menoleh ke arah Putri. Dia bernapas lega karena Putri sepertinya tak mendengar pembicaraan mereka. tapi Nando kecele. Putri melepas headset lalu bertanya, “Kau suka aku, Do?” Pertanyaan yang Putri layangkan seketika membuat Nando lemas. Tanpa sadar, dia memejamkan mata sejenak. Dalam hati dia berdoa semoga jawaban yang dia berikan tak akan menyinggung Putri. “Belum saatnya nembak, Do. Belum. Musti pedekate dulu. Jangan mempermalukan dirimu! Dia belum tentu suka sama kau meski sudah dimaafkan,” tegas Nando pada dirirnya sendiri. “Yah suka lah, masak ndak sih,” jawab Nando. “Masak aku ndak suka sama temanku sendiri. Aku suka kau, suka Lina. Suka juga sama Supri dan juga si Adi.” “Oooh,” ucap Putri. Nando bernapas lega. Tapi, belum lagi Nando menikmati ketenangan, Lina malah menambah rasa gugupnya. “Alah, Nando bote’. Maksudku itu, bukan suka sebagai teman. Tapi suka sebagai lawan jenis, suka antara cewek dan cowok,” jelas Lina. Ya Tuhan!!! Ingin rasanya Nando membenturkan kepalanya saat itu. Tapi dia mencoba tenang. “Lina nih, jangan mengada-ada.” Supri dan Adi hanya menyimak, begitu juga dengan Putri yang diam-diam sangat penasaran dengan jawaban Nando. “Serius?” tanya Lina lagi. “Terus kenapa pale pas pertama kali kita ketemu di depan rektorat kau sampai melongo liatin Putri? Persis kayak orang yang lagi terpana,” jelas Lina. Supri menyikut Adi dan dibalas dengan gelengan. Sementara Nando menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. “Itu...” Nando tak mampu melanjutkan kalimatnya. Dia terus berpikir jawaban masuk akal apa yang harus dia berikan agar Lina bisa menutup mulutnya. “Hm, sebenarnya...” Sekali lagi, Nando membuat empat orang di dekatnya semakin penasaran. “Aku kira aku lihat hantu.” Mereka melongo. “Yah, aku kira yang aku lihat itu hantu makanya aku sampai ndak berkedip. Kau ingat, waktu itu Putri pake baju putih dan bawahan warna putih. Yah, aku pikir aku ngeliat kuntilanak siang-siang. Setelah dipikir-pikir, kayaknya Putri memang sering banget pake baju warna putih deh. Iya kan?” ucap Nando tanpa jeda. “Lagipula nama lengkap Putri kan, Yasmin Putri Septiananda. Yasmin itu bunga melati kan? Makanan para kunti?” Sontak Putri melihat baju yang dia kenakan. Kemeja putih yang bermotif garis-garis dan bawahan jeans biru serta alas kaki berwarna putih dipermanis dengan pita biru. Sejenak, dia menghembuskan napas dengan kasar. “Aku pulang!” ucap Putri lalu berdiri kemudian berjalan meninggalkan mereka. Ya Tuhan, aku salah lagi deh kayaknya! Lina turut berdiri, bermaksud mengejar Putri. Sementara Supri dan Adi menepuk-nepuk bahu Nando yang sedang lemas. Bahunya terlihat turun, wajahnya juga kusut. Nando mengusap wajahnya dengan kasar. “Apa aku ditolak sebelum nembak?” pikir Nando. “Semua gara-gara kunti!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN