Nando refleks menghentikan langkahnya begitu Putri melarangnya mendekat. “Hm, gimana ya? Kau sudah makan atau belum? Pasti belum kan? Mau aku belikan makan siang kah? Tunggu bentar ya?!” ucap Nando lalu berlari melewati Putri.
Lina, Supri dan Adi saling pandang. Sementara Putri terlihat lemas, dia menghembuskan napas dengan kasar.
“Duduk aja dulu, Put,” ucap Supri. “Bentar Nando datang bawakan kau makanan.”
Supri berjalan mendekati Putri, diikuti oleh Adi dan Lina.
“Kau ndak papa, Put?” tanya Lina sembari memegang lengan Putri. “Kau beneran pucat loh itu. duduk dulu.” Lina menarik kursi terdekat.
“Lin,” lirih Putri seraya melihat Lina dengan tatapan tak berdaya.
Sementara itu Nando telah berada di kantin. Dia membeli beberapa roti dengan berbagai macam isi, beberapa jenis gorengan serta camilan, tak lupa milo dan juga air mineral. Sembari menunggu uang kembalian, dia berdoa semoga Putri baik-baik saja.
Sebenarnya, tadi saat melihat wajah Putri yang pucat, Nando ingin memeriksa keadaan Putri terlebih dahulu. Mungkin saja Putri demam atau sedang tak enak badan. Ingin rasanya Nando menawarkan diri untuk mengantar Putri pulang. Tapi, mengingat kejadian saat Ospek, dia takut membuat Putri salah paham. Jika Nando langsung menyentuh dahi atau bagian tubuh Putri lainnya meski tujuannya untuk memeriksa keadaan Putri, bisa saja Putri kembali marah padanya.
Begtu mendapat kembalian. Nando berlari menuju ruang kelasnya yang terletak di lantai dua. “Semoga dia baik-baik saja,” gumamnya.
Saat berada di depan pintu, Nando menghentikan langkahnya. Menunduk sembari memegang kedua lututnya. Dia mencoba mengatur napasnya yang terasa sangat berat. Tanpa sadar, empat pasang mata menatapnya heran.
“Dia lari dari kantin kesini?” pikir Supri. “Pantas aja kayak suara orang lari, itu pasti Nando.”
“Nando kesambet kah kenapa? Dua kompek yang dia bawa itu makanan semua?” Adi juga berbicara dalam hati.
“Hahaha, ini cowok kayaknya suka betulan sama Putri,” gumam Lina dalam hati. “Segitu khawatirnya sampai lari demi belikan Putri makanan.”
“Loh, ni anak kenapa pula? Apa aku kayak kelaparan banget sampai dibawakan makanan sebanyak itu?” gumam Putri pula.
Nando tersenyum lebar seraya menghampiri mereka. Meletakkan dua plastik di meja yang diduduki Lina lalu membukanya. Kemudian mengeluarkan sebotol air mineral lalu membuka tutupnya.
“Minum air putih dulu, Put,” ucap Nando lalu menyerahkan botol tersebut tapi Putri bergeming. Refleks Nando menaruh botol tersebut di depan Putri. “Atau mau minum milo biar sedikit bertenaga? Atau mau makan roti? Gorengan? Tadinya aku mau beli bubur tapi di kantin ndak jual.”
Supri dan Adi melongo. Disusul dengan senyum dari Lina. Sementara Putri mengerutkan dahi.
“Aku..;”
Kalimat Putri lagi-lagi terhenti. Dia tak ta uharus mengatakan apa menanggapi sikap Nando yang menurutnya berlebihan. “Aku musti bilang apa ya?” pikirnya.
Nando menunggu kalimat apa yang akan Putri ucapkan. Tapi sepertinya tak ada tanda-tanda Putri akan bersuara kembali.
“Makan dulu baru aku antar pulang, gimana? Mau?” tanya Nando.
Bukannya menjawab, Putri malah bertanya pula. “Kau mau jalan sama aku?”
Tiga pasang mata terbelalak dan mata mereka semakin melotot saat mendengar tanggapan Nando.
“Ooh, kau mau pulang bareng aku?” tanya Nando memastikan maksud dari perkataan Putri.
Putri mengangguk pelan. Nando membalasnya dengan senyuman.
“Minum dulu baru aku antar ya? Oke?” pinta Nando, masih dengan senyum yang tak luntur di wajahnya.
Supri menyikut perut Adi lalu mengerling sembari mengerutkan dahi. Adi membalasnya dengan mengangkat bahu sekilas dan bibir bawah yang sedikit maju, pertanda dia juga tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.
Putri meneguk air putih yang diberikan Nando. Lalu meletakkan botol tersebut kembali. “Hm, aku sudah makan sih sebenernya, hehe.” Putri tersenyum kaku.
Nando baru menyadari perubahan wajah Putri. Dia memang tak lagi terlihat pucat. Mungkin dia memang tidak sedang lapar.
“Jadi sekarang baik-baik aja?” tanya Nando.
Putri mengangguk.
“Mau aku antar atau ndak?”
“Hm, itu...” Putri ragu harus mengatakan apa. “Maksudku itu, hm...”
Putri kembali terdiam. Dia masih berpikir bagaimana cara mengatakan maksudnya yang sebenarnya. Lalu dia menoleh pada Lina, Supri kemudian ke arah Adi. Lalu kembali menatap Nando.
“Kita jalan-jalan yuk?! Gimana?” tawar Putri sembari tersenyum menampilkan lesung pipi miliknya.
Nando melongo lalu mengerutkan dahi. Aku yang salah dengar ataudia yang salah ucap ya? pikirnya. Dia kan lagi sakit, kenapa malah mengajak jalan?
“Mau jalan-jalan sekarang?” tanya Nando pelan. “Atau nanti aja kalau kau sudah sembuh, gimana?”
Putri mencoba tersenyum. “Ini aku ditolak atau apa sih maksudnya? Bingung deh,” pikir Putri.
“Gimana kalau jalan-jalannya akhir minggu ini aja, Put?” timpal Supri. “Mereka mau ngajak aku keliling Tarakan katanya mau ngeliat objek-objek wisata yang ada disini.”
“Nah iya, Put,” tambah Adi. “Sabtu ini kita jalan-jalan. Untuk tempatnya, nanti kita diskusikan lagi bagusnya kemana duluan.”
Putri tersenyum kaku. “Boleh deh, aku sih ngikut aja. Asal bisa jalan sih.”
Lina yang sejak tadi menjadi penonton mulai membuka suara. “Kalian berempat mau jalan-jalan, aku diajak juga atau ndak?”
Putri serta merta merangkul Lina. “Harus dong, masak aku cewek sendiri sih.”
Lina melirik Putri. “Nih anak memang baik banget. Selalu ngajak temannya kalau jalan-jalan.”
“Kalian beteman sejak SMA?” tanya Supri seraya membuka meraih plastik yang berada di depan Lina. “Bagus ngobrolnya sambil makan. Hehe.”
Lina dan Adi juga turut mengambil minuman dan makanan di dalam plastik tersebut.
“Do, kau nih beli buat Putri doang atau memang buat kami juga?” Adi mengeluarkan semua makanan dan minuman tersebut. “Ini juga ada gorengan.” Adi mengangkat satu plastik kecil lalu meletakkannya kembali.
“Ayo diskusikan mau kemana Sabtu ini sambil makan-makan. Hahaha.” Adi tertawa. “Terbaik memang kau, Do.”
Nando tersenyum. “Biasa aja, Di. Cuma makanan kok.”
Dalam hati, Putri bersyukur karena pada akhirnya dia tak harus merasakan malu akibat ditolak. Teman-temannya juga tak menganggap ajakannya khusus buat Nando saja. Utnuk hal terakhir tersebut, Putri merasa sangat bersyukur.
“Kau sudah baikan, Put?”
Putri menatap Nando yang baru saja bertanya padanya. Dia mengangguk. “Makasih ya,” ucapnya tulus.
Satu kalimat tersebut membuat Nando kembali melayang. Dia sangat bahagia mendengar ucapan terima kasih dari gadis pujaannya. “Sama-sama, Put.”
Mereka mulai mendiskusikan tujuan wisata mereka akhir pekan ini. Yah, meski sebenarnya Putri tak benar-benar ikut memberikan pendapat. Dia lebih cenderung diam dan menerima setiap usulan mereka. Hingga diputuskan mereka akan ke Rumah Adat Tidung saja untuk Sabtu ini. Mereka bahkan berencana untuk berwisata setiap dua minggu sekali.
Sebuah rencana yang sangat menyenangkan bagi Nando. Sebuah rencana yang dia harap bisa mendekatkan Putri dengannya. Sebuah rencana yang membuatnya sulit tidur di malam hari karena terus memikirkan kejadian siang itu.
Begitu pula dengan Putri, dia juga sedang sulit untuk tidur. Tapi bukan karena memikirkan Nando namun karena Lina datang mengganggu istirahatnya. Bahkan tanpa rasa bersalah, Lina memohon ijin untuk menginap di rumah Putri. Otomatis, Putri akan sulit untuk beristirahat karena Lina pasti akan membahas kejadian siang tadi.
Benar saja, Lina mulai heboh membicarakan detail bagaimana Nando berlari menuju kantin. Lalu datang dengan napas yang ngos-ngosan. Ditambah percakapan abstrak mereka siang itu. Apalagi saat Lina menceritakan bagaimana tampang Putri ketika ingin berbicara dengan Nando.
Lina terpingkal-pingkal. “Kau pucat betul, Put. Kukira kau bakal pingsan di tempat tadi tuh. Sumpah!”
Putri melirik tajam pada Lina. “Kau juga? Kenapa pake acara bilang ke dia kalau aku mau bicara, ha?!”
Tawa Lina semakin meledak.
“Kau sengaja kan?” tanya Putri dengan tatapan selidiknya. ”Mau buat aku malu, iya? Jahat banget sih. Iiish.” Putri mencibirkan bibirnya.
Lina menegakkan tubuhnya. Memperbaiki posisi bantal yang ada di pangkuannya. “Aku cuma mau bantu kau kok. Biar janjimu bisa cepat kau laksanakan. Ingat, janji adalah hutang dan hutang harus dibayar. Yah, kecuali yang ngasih utang sudah ikhlaskan, boleh lah ndak dibayar. Hehe.” Lina terkekeh.
“Tapi masalahnya, aku ndak bakal ikhlas kalau kau belum ngajak dia jalan. Hahaha,” tambah Lina.
Putri mencubit paha Lina. Membuat tawa Lina seketika berganti dengan ringisan.
“Sakit, Put,” ucap Lina. “Jahat nih.”
Tak mau kalah Putri malah mencibir. “Kau tuh yang jahat. Sengaja mau buat aku malu.”
Lina tersenyum memandang Putri yang sedang memanyunkan bibirnya. “Maaf bah, aku refleks aja tadi ngomong begitu. Tapi yang aku heran kok Nando itu kayaknya ada perasaan deh sama kau.”
Putri merebahkan tubuhnya. “Perasaanmu aja kali tuh.”
“Ndak Put, dia kayaknya baik banget sama kau.”
Putri menarik guling di sampingnya. Memeluknya dengan erat lalu menyerongkan tubuhnya ke arah Lina. “Dia kan memang baik sama semua orang.”
Lina menengadah. “Iya sih, tapi sama kau tuh kayak beda aja gitu.”
Putri menarik selimut yang berada di bawahnya menggunakan kaki. Saat selimut itu sejajar dengan tangan, dia menariknya hingga menutupi bahu. “Sudah Lin, mending kau tidur. Aku juga mau tidur sudah. Ngantuk.” Putri menutup mata.
Lina tak meyerah. Dia menarik selimut Putri. “Ngobrol dulu yuk baru tidur?” pintanya.
Putri kembali menarik selimutnya. “Telpon abangmu bah, Lin. Aku ngantuk loh ini. Serius.”
“Abangku lagi ada kegiatan. Ndak bisa diganggu dia makanya aku kesini. Hehe.”
“Nonton drakor sana atau Facebookan kah?” tawar Putri lalu memejamkan matanya.
“Ide bagus!” ujar Lina. “Nyari nama f*******: Nando ah. Mana tau ada informasi yang menggemparkan. Hahaha.”
Putri menggelengkan kepala. Tak berniat untuk membalas perkataan Lina. Dia memilih untuk tidur saja. Dia cukup lelah karena baru saja selesai membantu ibunya membuat brownies pesanan orang. Lalu tiba-tiba Lina mengguncang-guncang tubuh Putri.
“Put, Put, Put. Bangun dulu. Coba liat ini,” ucap Lina sembari mendekatkan ponselnya ke arah Putri. “Statusnya Nando sore tadi.”
Tanpa membuka mata, Putri bertanya kepada Lina. “Apa memang statusnya?”
“Hari yang melelahkan tapi juga membahagiakan,” ucap Lina. “Ini pasti dia bahagia karena kau ajak dia jalan, Put. Yakin aku.”
Putri menggelengkan kepala. “Heran aku sama kesimpulan yang kau ambil, Lin. Dia tuh senang karena jadi ketua kelas. Bisa-bisanya kau berpikir dia bahagia karena aku. Jangan-jangan kau yang naksir sama dia.”
Lina memukul kaki Putri dengan bantal. “Sembarangan aja kalau bicara.”
“Kau tuh yang sembarangan bicara, Lin,” ujar Putri. “Sudah, tidurlah!”
Di kamar lain seorang lelaki sedang memandang foto Putri dengan senyumnya yang tak juga pudar.”Aku bahagia karena kau, Put. Bener-bener bahagia. Makasih untuk senyummu harii ini.”