Hari Pertama Kuliah

1612 Kata
“Oke, sampai disini dulu pertemuan kita hari ini,” ucap seorang wanita berkulit kuning langsat yang tampak sangat bersahaja dengan jilbab yang menutupi hingga d**a. “Sampai ketemu minggu depan. Selamat siang.” “Selamat siang, Bu,” balas mahasiswa yang berjumlah tiga puluh orang. Dosen bernama Mutiah Anggraeni tersebut menghentikan langkahnya tepat sebelum dia keluar dari ruangan, “Jangan lupa untuk memilih ketua kelas ya,” ucapnya lalu meninggalkan ruangan tersebut. Sepeninggal dosen muda berusia dua puluh tujuh tahun tersebut, mereka mulai musyawarah untuk menentukan ketua kelas. Ada dua nama yang diusulkan, salah satunya adalah Nando. Meski sempat menolak tapi beberapa temannya malah semakin ingin Nando menjadi ketua kelas. Bukan tanpa alasan, saat sekolah dia juga merupakan ketua kelas. “Nando nie, jangan sok ndak bisa. Dulu kan kau ketua kelasku. Masih ingat aku kan? Kita sekelas pas kelas satu dulu,” ungkap Adi, teman sekolah Nando. “Setahuku di kelas dua sama tiga kau juga jadi ketua kelas bah, iya kan?” tanya Adi lagi. Mendengar penjelasan Adi, mereka pun meminta Nando untuk menjadi ketua kelas. Nando merasa tidak enak hati, di satu sisi dia juga sangat tidak ingin menjadi ketua kelas. Karena dia ingin fokus untuk belajar dan mendekati Putri. Meski Putri adalah alasannya berada di ruangan itu sekarang, bukan berarti dia harus abai dengan program studi yang telah dia ambil. Dia tetap harus belajar dan benar-benar menjadi seseorang yang pantas menjadi Guru BK nanti. Dia tak ingin fokusnya semakin terbelah jika menerima tawaran tersebut. Mengkoordinir teman sekelas Memastikan ruangan kelas untuk kuliah Menjadi jembatan antara dosen dan mahasiswa Di dalam hati, Nando menyebutkan beberapa tugas ketua kelas. Menjadi jembatan antara dosen dan teman sekelas berarti Nando betugas memberi informasi kepada teman-temannya jika dosen tidak masuk. Itu berarti... “Oke, aku mau,” jawab Nando.”Itu berarti aku punya alasan untuk ngirim sms ke Putri juga. Yess!” ucapnya dalma hati. Mereka bernapas lega. “Fix ya berarti?” tanya Marcus, “Kalau gitu bubar lah.” “Eh tunggu,” tahan Nando. “Catat dulu nama sama nomer hape kalian,” ucap Nando lalu mengeluarkan binder miliknya. Menahan kedua ujung besi yang berada di tengah binder agar terbuka. Lalu mengeluarkan sebuah kertas di dalamnya. Meletakkan kertas tersebut di atas meja dosen. Satu per satu, mulai menulis di kertas tersebut. “Yang sudah tulis, boleh istirahat makan siang. Yang mau pulang juga boleh,” ucap Nando. “Tapi ingat, jam dua kita masih ada kuliah ya?” tambahnya. “Siap, Pak Ketua!” ucap beberapa dari teman Nando lalu terkekeh. Satu ruangan langsung dipenuhi suara tawa. “Ndak salah memang kita pilih ketua kan, teman-teman?” ujar Adi. Tiba giliran Putri, Nando memperhatikan setiap pergerakan dari perempuan itu. Mulai Putri berdiri di hadapannya lalu menunduk dengan tangan menahan baju di bawah leher. Kemudian meraih pulpen berwarna hitam yang tergelatak tak jauh dari kertas di atas meja. Lalu Putri menuliskan nama lengkap serta nomor ponselnya. Kemudian kembali meletakkan benda kecil tersebut. Hingga Putri kembali berdiri tegak, Nando masih betah menatapnya. Lalu Putri menggeser tubuhnya ssmentara Lina juga mulai menulis, dengan Putri yang masih berada di samping Lina. “Yuk makan, Put!” ajak Lina begitu selesai menulis. Putri dan Lina meninggalkan ruangan tersebut. Sementara Nando memutuskan mencatat jadwal mata kuliah yang terpampang di papan pengumunan letaknya tak jauh dari ruang kelas mereka. “Kalian tulis lah ya? Aku catat jadwal dulu sama nama dosennya,” ucap Nando. “Oke,” jawab beberapa dari mereka secara bersamaan. Tersisa dua orang lagi yang masih belum menulis nomor ponselnya. “Kau pulang kah nanti, Do?” tanya salah satu dari mereka. “Oh iya, namaku Supri,” tambahnya. Mereka berjabatan tangan. “Aku Nando.” “Aku mau diajak kenalan juga kah, Do?” tanya Adi dengan senyum di wajahnya. “Males aku kenalan sama kau, Di,” ucap Nando bercanda. “Cukuplah kita bertemu di sekolah selama tiga tahun bah. Hahaha.” Setelah membereskan kertas dan pulpen miliknya, Nando bersama dengan Supri dan Adi menuju kantin. Mereka memilih berjalan kaki karena jarak dari gedung fakultas ke kantin tidak begitu jauh, hanya sekitar tiga puluh meter saja. “Rame banget ya, Bro,” ujar Adi. Nando dan Supri mengangguk setuju. Nando mengedarkan pandangan, mencari sosok Putri tapi tak menemukannya. Terlihat beberapa orang sedang memesan sementara yang lain menungu pesanan di kursi masing-masing. Mereka pun mencari kursi yang kosong. Meletakkan tas di tempat tersebut lalu menuju ke bagian pelayanan dari kantin tersebut. Memesan nasi lalap dan es milo, Nando menikmati makanan tersebut sembari berbincang-bincang dengan kedua temannya. Membicarakan masa sekolah masing-masing. Adi yang merupakan teman sekolah Nando dan berada di kelas XII IPS 4 sementara Nando di kelas XII IPS 1. Berbeda dengan Supri yang merupakan pendatang dari Pulau Sebatik. Sebuah pulau yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Di Pulau tersebut bahkan ada sebuah rumah yang berdiri di dua negara yang berbeda. Bagian teras dan ruang tamu masih merupakan wilayah Indonesia. Sementara dapurnya berada di wilayah Malaysia. Supri menceritakan banyak hal mengenai daerah tempatnya berasal. Begitu pula Nando dan Adi, mereka bergantian menceritakan apa saja objek wisata yang ada di Tarakan. Hingga satu jam lebih mereka di tempat tersebut, baru lah mereka kembali ke kelas karena lima belas menit lagi mata kuliah kedua hari ini, akan dimulai. Sebagai ketua kelas, Nando tentu tak ingin terlambat. Berbeda dengan Putri yang memilih makan siang di warung sekitar kampus. Sebuah warung yang terletak di pertigaan dengan menu andalan yaitu ayam kremes dengan sambel khas yang menggugah selera. “Bagaimana, Put?” tanya Lina seraya mencubit sedikit daging ayam lalu mencoleknya dengan sedikit sambel. “Kapan mau ajak cowok itu jalan?” tanyanya lagi lalu memasukkan daging ayam kremes tersebut ke dalam mulutnya kemudian memasukkan sesuap nasi pula. Putri yang baru saja ingin menyuapkan nasi beserta ayam kremes yang bercampur dengan nasi dan sambel memilih meneguk air dingin yang terletak di sebelah kirinya. “Besok aja, gimana? Aku ndak tau musti bilang apa ke dia bah,” ujar Putri lalu menyuapkan nasi ke dalam mulutnya, mengunyah perlahan sembari menunggu jawaban Lina. Lina yang sedang mengunyah menoleh ke arah Putri. “Bilang aja, aku mau ajak kau jalan Nando. Kau mau kah? Gitu doang kok.” “Trus kalau dia ndak mau, gimana?” tanya Putri lalu kembali menikmati makan siang yang terasa sangat nikmat. “By the way, ayam sama sambelnya enak kan, Lin?” Lina mengangguk. “Iya, ayamnya crispy banget terus gedek-gedek pula,” ucapnya. “Mana sambelnya enak lagi. Kayaknya bakal jadi pelanggan tetap kita disini,” ujar Lina lagi. “Bener, Lin,” ucap Putri lalu mencuci tangannya di dalam kobokan yang tersedia. “Pantes disini rame banget. Untung kita dapat tempat duduk kan.” “Jadi kapan, Put?” Lina kembali menanyakan hal itu. Putri meminum air dingin miliknya hingga tersisa setengah gelas. Sementara Lina mulai mencuci tangan pula lalu meneguk es teh pesanannya. “Kalau dia ndak mau, gimana?” Perkara mengajak jalan saja sudah sangat memalukan bagi Putri. Terlebih jika ternyata ajakan tersebut ditolak. Entah bagaimana Putri harus menghadapi Nando ke depannya. Harus bertemu selama empat tahun dengan orang yang sudah menolakmu akan sangat tidak nyaman bukan? Terlepas ada atau tidaknya rasa suka di antara mereka. “Kalau ditolak, ya sudah, kan perjanjian kita adalah kau musti ngajak dia jalan,” ucap Lina. “Kalau ditolak, yah ndak papa. Yang penting kau sudah penuhi janjimu.” Ditolak atau diterima bakal tetap sama-sama memalukan bagi Putri. Tapi akan lebih memalukan jika ternyata ditolak sih. Dalam hati, Putri berdoa semoga Nando menerima ajakan tersebut tapi Nando ternyata sangat sibuk sehingga tak bisa jalan berdua dengannya. Itu adalah harapan Putri. Lalu bagaimana Nando menanggapinya? “Put, saranku pulang kuliah nanti kau ajak dia,” ucap Lina. “Biar ndak jadi beban pikiran juga buat kau.” Lina tersenyum lalu berdiri kemudian menghampiri pemilik warung. Putri mengikuti langkah Lina. Setelah membayar, mereka kembali ke kelas yang ternyata sudah ramai. Karena lima menit lagi perkuliahan akan dimulai. Selama perkuliahan, Putri tidak fokus dengan semua hal yang disampaikan oleh dosen. Beruntung, hari itu adalah hari pertama kuliah jadi mereka lebih banyak perkenalan dan membahas peraturan-peraturan yang harus yang diberi dosen tersebut. Diantaranya, tak boleh terlambat lebih dari lima belas menit. Jika terlambat, mereka dianggap bolos meski tetap mengikuti materi. Hanya itu yang mereka bahas. Bahkan, tak sampai tiga puluh menit, perkuliahan dibubarkan. Perkuliahan yang begitu cepat berakhir membuat Putri semakin gugup. Ingin rasanya dia pulang saja tapi Lina kembali mengerling ke arahnya, memberi kode untuk segera menghampiri Nando. “Tunggu anak-anak lain pulang dulu Lin, baru aku bicara sama dia,” pinta Putri. “Yah, setidaknya jangan serame ini lah. Biar pulang dulu sebagian,” tambahnya sembari memasukkan alat tulisnya ke dalam tas. Mereka pun bertahan di tempat duduknya. Menunggu sebagian temannya pulang. Setelah agak sepi, Lina tiba-tiba beranjak lalu berjalan menuju ke arah Nando yang masih berbincang-bincang dengan Supri dan Adi. “Do, temanku mau ngomong bentar,” ucap Lina begitu berhadapan dengan Nando. Empat pasang mata langsung tertuju pada Putri yang sedang tersenyum kaku. Perlahan, Putri menarik ke atas meja yang tersambung dengan kursi tersebut agar lebih mudah berdiri. Sembari menguatkan diri, Putri berjalan pelan menuju ke arah empat orang di hadapannya. “Hm, aku...” Kalimat Putri terhenti. Tiba-tiba dia merasa tenggorokannya sangat kering, seperti tak mampu lagi untuk bersuara. Sementara itu empat anak manusia menunggu Putri untuk menyelesaikan kalimatnya. “Kau kenapa, Put?” tanya Nando saat melihat Putri yang terlihat pucat. “Sakit? Mukamu pucat sekali loh itu. Mau kuantar ke dokter?” tawar Nando seraya berjalan menghampiri Putri. Semakin Nando mendekat, semakin pucat pula wajah Putri. Lina tersenyum simpul sementara Supri dan Adi terlihat khawatir pula. “Berenti disitu!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN