Sekelas

1755 Kata
Sekitar pukul sepuluh, mereka telah membuat lima belas topi dan lima belas papan nama. Sembari membereskan semua alat untuk membuat perlengkapan tersebut, Nando membawa dua kantong besar berisi roti dan aneka buah kepada teman-temannya. Tak lupa satu kotak besar berisi air kemasan dalam bentuk botol 1.500 ml. Adapula slayer berwarna kuning di dalam kantongan besar tersebut. Mereka sangat takjub dengan sikap Nando selaku ketua kelompok. “Ini serius, Do? Bukannya kami kumpul uang cuman lima puluh ribu doang ya? Kenapa jadi sebanyak ini?” tanya Yogi. “Iya, kau nombok ya?” Saskia juga ikut bertanya. “Kurang berapa, sini kami tambahin,” ujar Nadia lalu membuka tas, bermaksud untuk mengambil dompet. “Nando memang baik kok orangnya. Di Ospek Universitas kemarin dia juga yang beliin semua bahan, anggotanya tinggal buat,” ucap Kiki, yang ternyata teman dari Narti, teman sekelompok Nando saat di Ospek Universitas. “Alah, caper banget jadi cowok,” pikir Putri. Berbagai tanggapan dari teman-temannya hanya dibalas dengan senyuman dari Nando. Yah, seandainya Nando mendengar suara hati Putri, mungkin Nando tak akan bisa senyum selebar itu. Begitu teman-teman Nando pulang, Susi menghampiri anaknya dan bertanya mengenai Putri. Susi mengutarakan bahwa dia suka dengan pembawaan Putri yang tenang dan kalem. “Yasmin yang abang suka orangnya kayak apa? Mirip Putri juga kah, Bang?” tanya Susi sembari mengekori Nando yang sedang berjalan menuju kamar, membawa gunting, penggaris dan alat tulis lainnya. “Putri itu Yasmin, Mak. Nama lengkapnya Yasmin Putri Septiananda,” ucap Nando. “Oke Mak, jadi boleh aku istirahat sekarang?” Susi tersenyum. “Boleh dong, Sayang. Mamak restui kalau abang pacarannya sama Putri,” ucapnya lalu meninggalkan kamar Nando. Doakan aja Mak, cewek itu ndak marah lagi sama aku *** Meski telah lewat jam sepuluh malam, jalanan masih cukup ramai. Terlihat banyak motor yang lalu lalang. Putri melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Begitu mendekati lampu lalu lintas, Putri menghentikan motor karena terlihat lampu warna merah menyala begitu terang. Saat lampu kuning menyala, Putri kembali menghidupkan motor. Lalu melajukan motor saat lampu hijau yang terlihat lebih terang dari lampu lainnya. Melewati Jalan Yos Sudarso, Putri menghentikan motor tepat di depan Hotel Tarakan Plaza. Seorang perempuan berkacamata tampak tersenyum padanya. “Yuk?!” ajak Putri. Perempuan yang merupakan teman masa kecil sekaligus tetangganya yang bernama Lina tersebut, menyalakan motor lalu mengikuti Putri dari belakang. Terkadang pula mereka mengendarai motor bersisian. Begitu melewati Kantor Polisi, mereka meperlambat laju motor. Lalu masuk ke dalam gang tepat di sebelah Gedung Bea Cukai. Melewati gang sempit yang hanya bisa dilalui oleh satu buah mobil. Begitu belok ke kanan, kondisi jalan semakin sempit, hanya bisa dilewati dua motor. Tak hanya itu, beberapa belokan dan polisi tidur turut meramaikan gang sempit yang hampir tiap hari mereka lewati tersebut. Empat menit menyusuri gang tersebut, Putri akhirnya tiba di rumah. Sementara Lina masih melajukan motornya sekitar dua puluh meter ke depan. “Makasih, Lin,” ucap Putri tepat setelah dia mematikan motor. Kemudian memarkirkan motornya tepat di sisi jalan. Mengucapkan salam lalu mengetuk pintu tapi tak ada jawaban. Dia menarik gagang pintu. Glek. Tak terkunci. Mungkin ibunya tertidur dan lupa mengunci pintu atau mungkin saja sengaja mengunci pintu agar tak lagi repot membukakan pintu untuk Putri. Sebelum memasuki kamarnya, Putri terlebih dahulu mengecek keadaan Siti. Benar saja, ibunya sedang tidur dalam posisi menyamping dengan tangan meegang ponsel. Setelah menyelimuti ibunya, Putri keluar lalu menuju kamarnya. Putri meletakkan tas ranselnya di meja belajar. Lalu menuju kamar mandi untuk melakukan rutinitas sebelum tidur, sekedar mencuci wajah dan sikat gigi. Setelah itu, dia mengganti baju dengan piyama. Kemudian membaringkan tubuhnya di kasur, berharap bisa tidur secepatnya. Tak lama, dia benar-benar terlelap. Keesokan hari, Putri terbangun oleh suara alarm yang berasal dari ponsel. Alarm yang dia pasang sejak Ospek hari pertama. Dia pun menuju kamar mandi. Setelah itu menelpon Lina, memastikan sahabatnya tersebut telah bangun. Setelah memastikannya, Putri mulai bersiap lalu membuat milo hangat sebagai sarapannya dini hari itu. Tak lupa dia mengambil beberapa potong brownies di dapur untuk menemani segelas milo hangat miliknya. Kemudian Putri menuju ruang tamu, menikmati sarapan sembari menunggu Lina datang menjemputnya. Putri teringat perkataan Susi mengenai Nando yang sangat menyukai milo. Lima menit kemudian, Lina datang. Putri menawarkan segelas milo tapi Lina menolak. “Aku sudah makan tadi, tapi kalau brownies, boleh lah. Hehe,” ujar Lina lalu meraih sepotong brownies kemudian melahapnya dalam dua kali gigitan. “Enak banget. Hm yummy.” Mereka menjelajahi jalanan setelah menghambiskan sepiring brownies. Selama perjalanan Lina terus menceritakan bagaimana keadaan kelompoknya. Dua orang merupakan teman sekolah mereka dulu, adapula sepasang kekasih di dalam kelompoknya. Lina terus bercerita bagaimana romantisnya pasangan tersebut. “Coba aku sama abang sekelompok gitu pas Ospek, enak ada yang jagain. Hehe,” ucap Lina sembari tersenyum sumringah. Senyum yang Putri lihat dari spion motor. Putri menepuk pundak Lina. “Mimpi! Abangmu kan senior, kuliah di luar kota pula. Terima aja kenyataan kalau kau ndak bisa romantis-romantisan sama dia. Hahaha.” Begitu mendekati gerbang, mereka mulai gugup. Tapi tak terdengar suara teriakan. Mereka melewati gerbang, tak jauh dari situ, tepat di depan gedung Fakultas Hukum, terlihat beberapa mahasisa baru sedang berbaris. Mereka menggunakan slayer berwarna merah. Di gedung selanjutnya, terlihat barisan mahasiswa Fakultas Ekonomi. Mahasiswa baru dari fakultas tersebut menggunakan papan nama yang warnanya sepintas seperti uang lima puluh ribu. Mereka berjalan sembari meneriakkan sebuah kalimat secara berulang. Ekonomi sampai mati!!! Setelah itu, tiba lah mereka di gedung Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Beberapa senior menyambut mereka. “Ayo cepat!!” teriak seseorang. “Dorong! Dorong motornya!!” teriak suara yang lain. Putri dan Lina berpura-pura tak mendengar lalu menuju halaman parkir gedung FKIP. Di tempat tersebut mereka disambut lagi oleh senior lainnya. “Ayo, masuk barisan!” teriak lelaki berambut gondrong. “Lin, ini senior kita? Bukannya kalau calon guru itu rambutnya rapi ya?” bisik Putri. “Kita ndak salah gedung kah?” “Hei, ngapain bisik-bisik?! Cepat kesini!” teriak laki-laki itu lagi. “Eh, kau juga botak, cepat baris!” Mereka masuk ke dalam barisan. Tak ingin mencari masalah, Putri dan Lina memilih diam saja selama di dalam barisan. Beberapa senior bergantian melewati setiap orang dalam barisan. Ada yang sekedar bertanya kelengkapan ospek, ada yang memang sengaja mencari mahasiswa baru yang bisa dijadikan objek untuk dikerjain. Sekitar pukul delapan, mereka berkumpul di ruangan yang sama Ospek Universitas. Namun saat ini lebih lenggang karena sebagian mahasiswa baru telah berada di fakultasnya masing-masing. Sama pula dengan Ospek Universitas, setelah sarapan, para mahasiswa baru mendengarkan materi. Namun tentu saja dengan materi yang berbeda. Materi kali ini lebih spesifik menjelaskan mengenai FKIP itu sendiri. Selama sehari dalam Ospek tersebut, Nando mencoba untuk tidak memperhatikan ataupun menatap Putri. Hanya sesekali dia melirik ke arah Putri, karena tak ingin membuat teman-temannya curiga. Bagi Nando, cukup Yogi saja yang mengetahuinya. Beruntung, Yogi bukan tipe orang yang suka ikut campur terlalu dalam. Hanya sesekali, Yogi menggoda Nando, itu pun di saat tak ada yang meperhatikan mereka atau saat mereka berada di kamar mandi. “Gimana, Do? Butuh bantuan?” tanya Yogi sembari mencuci tangan. “Kalau butuh, calling-calling aja ya? Hehe.” Nando yang sedang buang air kecil menoleh pada Yogi. “Aman, Gi. Aku sih slow aja dulu, yang penting ngasih kesan yang bagus dulu. Toh, kami nanti satu jurusan juga dan semoga satu kelas biar enak pedekatenya.” “Jago memang temanku satu ini. Pantas pas sekolah banyak cewek yang naksir tapi herannya aku belum pernah kuliat kau gandeng cewek bah.” Nando berjalan menuju wastafel, mencuci tangan lalu menepuk pundak Yogi. “Doakan aku bisa secepatnya menggandeng dia. Oke?” Dan, Nando benar-benar membuktikan perkataannya. Dia berhasil membuat penilaian Putri terhadapnya berubah. Tepat setelah penutupan Ospek, Putri menghampiri Nando. Perempuan itu mengulurkan tangan sembari tersenyum. Senyum yang memberi efek yang sangat tak biasa bagi Nando. Sebuah senyum yang berhasil menghentikan semua waktu yang Nando miliki. Sebuah senyum yang membuat keriuhan yang berada di sekitar mereka tak terdengar sama sekali di indera pendengaran Nando. “Maaf.” Satu kata yang berefek lebih dramatis lagi. Satu kata yang membuat lidah Nando terasa keluh. Pun, tubuhnya terasa panas dingin. Lalu sebuah tangan menyentuh pundak Nando membuatnya tersadar. “Orang ngajak salaman, malah dibiarkan.” Nando dengan cepat meraih tangan Putri. Merasakan dingin dan lembutnya tangan tersebut. “Aku juga minta maaf ya?” ucap Nando. Putri tersenyum lebih lebar. “Dimaafkan, hehe.” “Aku? Ndak diajak salaman juga?” potong Yogi lalu mengulurkan tangannya pada Putri, yang disambut oleh pukulan dari Nando. “Ganggu aja!” ucap Nando sembari memukul tangan Yogi dengan tangan kirinya. Mereka tertawa. Dalam hati Nando berdoa, ”Semoga kita sekelas, Yasmin. Aku ingin melihat senyum dan tawa itu setiap hari.” Benar saja, mereka berada dalam kelas yang sama. Nando yang terlebih dahulu mengetahuinya memilih duduk di pojok kiri sembari menunggu Putri datang. Sesekali dia tersenyum sembari melihat foto Putri di ponselnya. “Jodoh memang gak kemana,” gumam Nando perlahan. Tak lama, Putri yang dia nanti datang bersama temannya, Lina. Mereka bergandengan sembari tersenyum bahagia. Kebahagiaan yang sama dengan yang Nando rasakan. “Disini aja yuk, Put,” ucap Lina lalu duduk di baris terdepan. Putri mengikuti Lina, dia duduk tepat di sebelah kiri Lina. “Enak deh bisa ke kampus sama-sama tiap hari. Ngerjain tugas bareng., pokoknya semua sama-sama.” Lina tertawa lalu menatap Putri. “Segitu bahagianya kau bisa sekelas sama aku?” Putri mencibir. “Idih, awas aja kau nyontek sama aku nanti.” Lina memutar kursinya sembilan puluh derajat. Bermaksud untuk berbicara panjang lebar dengan Putri. Tapi sebuah sosok di pojokan, membuat fokusnya berpindah. Seorang lelaki tampak tersenyum ke arah Putri. Lelaki itu seolah tak sadar Lina melihat dirinya. Lelaki itu tentu saja Nando. “Put, Put,” panggil Lina sembari mengerling ke arah Nando. “Cowok itu lagi. Hayo?! Ajak kenalan gih!” Putri membalikkan badan. Melihat ke arah mata Lina melirik. “Astaga, kami sekelas? Padahal aku sudah berdoa semoga dia diterima di kelas sebelah loh.” “Ingat perjanjian kita yang terbaru? Kau bakal ngajak dia jalan kalau kita sekelas,” ucap Lina. “Jangan sampai kau mengingkari janjimu sendiri.” Yah, dua hari lalu saat Lina tau bahwa Putri dan Nando sekelompok, dia meminta Putri untuk berkenalan. Tentu Putri menolak. Sangat lucu bukan mengajak orang yang sudah kita tau namanya untuk berkenalan? Putri pun berjanji akan mengajak Nando jalan berdua jika mereka berada dalam satu kelas nantinya. “Huft.” Putri mendengus lalu membalikkan badan, memilih melihat papan tulis daripada harus melihat makhluk di belakangnya. Apalagi harus melihat Lina yang terus mencolek pinggangnya, membuat Putri semakin frustasi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN