Bina Akrab

1007 Kata
“Bahkan ya, pas perpisahan itu, banyak yang mau ngasih dia kado tapi ndak ada satu pun dia ambil,” ungkap Adi. “Aku dengar-dengar sih, mereka pada ke rumah Nando ngasih kado itu. Gila banget kan?” “Segitunya, Di?” Adi mengangguk. “Ada cewek di kelasku itu namanya Sasha. Dia asliii, suka banget sama Nando dari kelas satu sampai lulus. Tiap tahun dia ngirim kado ke rumah Nando karena dia tau Nando ndak bakal mau terima kado dari dia.” “Berasa kayak fans sama artis ndak sih? Iya kan, Put?” tanya Lina lalu melihat pada Putri. Putri tergugu. Dia tidak tau harus menjawab apa. “Hm, iya,” ucapnya sembari tersenyum. “Mungkin dia mau berubah makanya ndak secuek itu sama lawan jenis. Dia juga baik sama kau kan, Lin?” Sebuah kalimat yang Putri harap bisa mematahkan pandangan teman-temannya bahwa Nando menyukainya. Juga untuk melindungi dirinya agar tak merasa kecewa lagi. Apalagi jika harus patah hati, Putri sangat tidak menginginkannya. Lina mengangguk.”Iya sih. Whatever lah, yang penting kalian baikan lagi. Hehe.” “Iya, apalagi kalian sekelompok nanti. Sayangnya kita berlima ndak sekelompok ya? Putri sama Nando aja yang barengan,” ucap Supri. “Enak yang sekelompok sama Nando, bakal sejahtera. Hahaha.” Mereka tertawa. Sudah bukan rahasia umum lagi kalau Nando adalah teman yang loyal. Dalam hati, Putri bersyukur bisa sekelompok dengan Nando. Mereka mulai membicarakan hal lain. Dari peraturan dosen yang kadang tak masuk akal, mata kuliah yang mreka rasa sangat mudah dipahami hingga mata kuliah yang sulit dipahami. Lima belas menit kemudian Nando datang dengan dua plastik berukuran sedang. Satu berisi minuman, plastik lainnya berisi beberapa camilan. “Do, kapan-kapan ke kost ku ya?” ajak Supri. “Tapi bawa makanan. Hahaha.” Mereka tertawa. *** Pagi-pagi sekali, sekitar pukul enam, Nando telah bersiap. Dia tampak gagah mengenakan kaos berwarna hitam dan celana jeans dengan warna senada. Lelaki itu berdiri melihat ke dalam cermin. Menatap dengan seksama kaos berkerah yang menempel di tubuhnya. “Ini baju pertama kami yang sama. Semoga ke depannya akan ada baju couple lainnya. Hehe,” gumamnya. “Tapi yang ini bukan couple sih, tapi triple. Eh, bukan tapi double double triple. Hahaha.” Nando tertawa terbahak-bahak. Lalu tak lama dia tersipu malu ketika kembali memikirkan akan mengenakan baju couple dengan Putri. Kemudian dia menegakkan tubuhnya kembali sembari memperingatkan dirinya agar tak memperlihatkan rasa sukanya pada Putri. “Ingat Do, ingat! Main halus aja, oke?” ucapnya pada potret dirinya di cermin. Setelah puas bercermin, Nando segera menuju kampus. Tapi, hari ini dia mengendarai motor matic adiknya karena membawa banyak makanan untuk camilan teman sekelompoknya. Untuk perlengkapan lain, anggota kelompoknya lah yang bertugas membawanya. Setengah jam kemudian, Nando telah sampai di parkiran fakultas. Terlihat banyak mahasiswa yang telah berkumpul. Setelah memarkirkan motor, dia menghampiri anggota kelompoknya. Nando tersenyum pada Putri yang telah datang lebih dulu. Dua puluh menit kemudian, mereka diminta berbaris menurut kelompok masing-masing. Lalu mereka ditanya mengenai perlengkapan masing-masing. Untung saja, semua kelompok membawa perlengkapannya masing-masing. Lalu, Bungsu, selaku Ketua Panitia menjelaskan beberapa hal mengenai kegiatan yang sebentar lagi akan di mulai. “Jadi, begitu sampai di lokasi. Kalian harus membuat tenda untuk tempat tidur kalian masing-masing,” ucap Bungsu dengan suara lantang. “Terus, jam sembilan akan ada materi dari kepala jurusan masing-masing tapi biasanya diwakilkan oleh sekretaris atau dosen sih. Jadi kalian akan dipisah berdasarkan jurusan Lalu dilanjutkan dengan ISHOMA. Terus, jam dua akan ada materi lagi dari himpunan. Nah, materinya sama aja karena jurusan BK memang belum punya HMJ. Buat yang mau tau HMJ itu apa? Makanya ikuti kegiatan dengan baik. Ingat, dengarkan apa yang senior bilang!” tambahnya panjang lebar. “Baik, Bang,” teriak semua mahasiswa baru. Lalu mereka menuju lokasi yang berada di bibir pantai. Lokasi yang cukup strategis karena tak jauh dari tempat tersebut ada masjid yang bisa digunakan untuk mandi atau sekedar buang air kecil. Mereka mulai membuat tenda menggunakan terpal yang ada. Setiap kelompok bahu membahu membuatnya. Tentu saja dibantu oleh senior yang lebih berpengalaman. Setelah tenda terbentuk, mereka mulai memasukkan barang-barang kelompok mereka. Begitu pula dengan kelompok Putri dan Nando. “Oke, sudah semua,” ucap Nando. ”Bilang Bang Bungsu, kita boleh istirahat bentar sambil nunggu pemateri datang.” Mereka menghela napas. Beberapa orang terlihat membaringkan tubuhnya, adapula yang hanya sekedar duduk. Ada juga yang mendekati kotak yang berisi air mineral. Sedangkan Putri memilih duduk bersandar pada pohon di dekat tenda. Lalu Lina datang menghampiri Putri. ”Besarnya tenda kalian,” ucap Lina begitu duduk di samping Putri. “Muat dua puluh orang disini. Aku boleh numpang tidur disini kah, Do?” Nando yang sedang meneguk air di botol sontak menoleh ke arah Lina. “Boleh Lin, tapi bayar. Mau?” Lina mencibir. “Iiish, pelit bah.” Putri terkekeh. Tak lama, Nando juga turut duduk di samping Putri. Lalu dia menawarkan air minum untuk Puri dan Lina. “Minum dulu.” Lalu seorang gadis datang menghampiri mereka. Gadis yang menggunakan baju dengan warna yang sama dengan Putri, Lina dan juga Nando. Namun lambang berbeda di belakang bajunya, yang menandakan mereka berada di jurusan yang berbeda. Gadis tersebut terlihat sangat cantik dengan kulit putih bersih, rambut ikal yang dibiarkan tergerai. Gadis itu berjalan sembari tersenyum ke arah mereka, lebih tepatnya ke arah Nando. “Hei,” sapa gadis itu. “Kamu Nando kan? Kenalin aku...” Kalimat gadis itu terpotong begitu saja karena Nando tiba-tiba berdiri sambil berteriak. “Di, kau darimana aja?” tanya Nando dengan suara yang sengaja dibesarkan lalu berlari menuju orang yang dia sebut namanya. Putri dan Lina hanya mengulum senyum. Sementara gadis di hadapan mereka melongo melihat Nando yang berlari tepat di sampingnya. Lalu tiba-tiba gadis tersebut kembali tersenyum kemudian berjalan ke arah Nando. Putri dan Lina menggelengkan kepala. Mereka saling menatap lalu tertawa kecil. Namun ada setitik rasa yang menggelitik hati Putri saat melihat gadis itu dan juga Nando. Entah itu perasaan cemburu atau hanya risih melihat seorang gadis yang terlalu agresif. Tentu sangat berbeda dengan pembawaan Putri yang cenderung pasif dan pendiam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN