Putri memperhatikan interaksi antara gadis berambut ikal tersebut dengan Nando dan juga Adi. Gadis tersebut masih memasang senyum manisnya sembari menunggu Nando dan Adi yang sedang berbicara. Entah hal penting apa yang sedang mereka bicarakan hingga gadis tersebut hanya diam. Tak lama, Nando dan Adi berjalan ke arah Putri. Mirisnya, Nando tak melirik gadis tersebut sedetik pun. Dia benar-benar membuat gadis tersebut seperti tak terlihat olehnya.
Nando tersenyum lebar ke arah Putri. Sementara di belakangnya ada seorang gadis yang menyipitkan mata ke arah Nando. Tak lama gadis tersebut menarik napas lalu menghembuskannya perlahan. Kemudian gadis itu beranjak dari tempatnya berdiri. Gadis itu benar-benar diabaikan oleh Nando.
“Nando nih jahatnya,” ujar Lina begitu Nando bergabung bersama mereka. “Orang cuma mau kenalan, dicuekinnya bah. Kasian loh dia. Cantik pula tuh.”
Putri menatap Nando menunggu pembelaan apa yang akan Nando ucapkan. Apa dia memang secuek itu dengan lawan jenis? Lalu kenapa dia sangat baik pada Putri? Apa karena mereka teman sekelas atau karena hal lain? Putri mulai bertanya pada dirinya sendiri.
Nando membalas perkataan Lina dengan senyum kaku. Adi lah kemudian yang bersuara. “Nando sudah biasa begitu. Dia ndak suka cewek agresif kan, Do?”
Yah, sepertinya memang benar. Bahkan seorang senior pun Nando acuhkan. Apalagi hanya seorang mahasiswa baru seperti gadis berambut ikal tadi. Meski, gadis tersebut terlihat sangat cantik.
“Sudah pernah aku bilang kan?” lanjut Adi. “Nando nih sudah khatam kalau masalah cara menolak cewek. Yah ibaratnya, dia sudah sarjana lah. Hehe.”
Nando tersenyum. Dia terlihat tak ingin membahas hal tersebut. Dia memilih membuka kardus yang berisi camilan. Mengambil sebungkus keripik kentang lalu membuka bungkusan tersebut.
“Makan Dor,” ajak Nando lalu memasukkan tiga iris keripik ke dalam mulutnya. “Ndak lama lagi materi dimulai loh. Mau kelaparan pas materi, iya?”
Meski yang dikatakan Nando tidak sepenuhnya benar. Yah, memang siapa yang bakal kenyang hanya dengan menghabiskan sebungkus keripik? Tapi bukan berarti mereka tak melakukan hal yang sama. Putri, Lina dan Adi turut memilih camilan yang ada di dalam kardus.
Menikmati camilan masing-masing, mereka berbincang-bincang pula sembari bertukar camilan. Adi yang ingin merasakan wafer tanggo milik Putri. Dan juga Nando yang ingin merasakan keripik tempe yang Lina makan.
Tak lama, sebuah suara yang berasal dari toa, mengalihkan perhatian mereka. Kemudian mereka berlari menuju sumber suara. Berbaris menurut kelompok masing-masing. Lalu mendengarkan dengan seksama kalimat yang diucapkan oleh Bungsu.
Saat menoleh ke kiri, tanpa sengaja Putri melihat gadis berambut ikal tersebut tersenyum sembari melihat ke arah Nando yang berada di barisan paling depan. Putri tersenyum simpul.
“Apa Nando semempesona itu sampai tuh cewek belum nyerah juga?”
Putri juga turut memperhatikan Nando. Lelaki itu sangat menonjol selain karena wajah tampan tapi karena tinggi badannya. Putri bisa melihat dengan jelas bagian belakang kepala hingga lehernya. Begitu Nando menoleh ke samping, terlihat jelas pula hidung Nando yang mancung dan bibir yang bentuknya sempurna, tak begitu tebal tapi tak juga tipis.
Tiba-tiba Nando berbalik, melihat tepat ke arah Putri. Gadis itu refleks menunduk. Dalam hati berdoa agar Nando tak lagi melihatnya. Tapi Putri kecele, Nando masih memperhatikannya. Lelaki itu sedang berusaha mengatakan sesuatu kepada Putri.
Putri memperhatikan gerak bibir Nando. Ternyata Nando memintanya untuk berbaris tepat di belakang Nando. Saat Putri berada di belakangnya, Nando berbicara kepada Putri tapi tubuhnya masih menghadap ke depan.
“Put, kau bawa pulpen cadangan kah?” tanya Nando. “Aku lupa bawa. Kusimpan di tasku yang satunya,” tambahnya.
Sedikit memajukan tubuh ke depan, Putri mengatakan bahwa dia membawa banyak pulpen dan kertas.
Nando mengangguk. “Oke, nanti aku pinjam.”
Lalu Ketua Panitia mengarahkan mereka ke acara selanjutnya yaitu pengenalan jurusan masing-masing. Membutuhkan waktu sekitar tiga jam untuk menuntaskan materi tersebut, yang tentu saja dibarengi dengan sesi tanya jawab. Dengan adanya sesi tanya jawab, diharapkan mahasiswa baru bisa lebih memahami seluk beluk jurusannya.
Setelah pemateri menyelesaikan penjelasannya, panitia pelaksana mengambil alih dan mengijinkan peserta untuk istirahat selama dua jam. Puji, yang merupakan sekretaris panitia, meminta mereka untuk mengambil konsumsi yang telah disiapkan oleh panitia.
“Kak, ini makannya boleh dimana aja kan?” tanya Lina pada senior yang bertugas membagikan makan siang kepada peserta.
Perempuan berjilbab hitam tersebut tertawa mendengar pertanyaan Lina. “Boleh dong, asal ndak makan di tengah laut aja sih. Hehe.”
Lina tersenyum kaku lalu meraih nasi yang dibungkus kertas berwarna coklat. Di belakang Lina, ada Putri yang juga sedang mengantri. Setelah mengambil jatah makannya, Putri dan Lina menuju ke sebuah pohon. Di bawah pohon tersebut terdapat tikar berukuran dua kali tiga meter. Di temapt itu pula ada Nando, Supri dan Adi yang sedang menunggu mereka.
“Ayo duduk!” ajak Adi sembari menepuk-nepuk tikar di sebelah kirinya.
Lina lalu duduk di sebelah Adi. Kemudian Putri menyusul Lina pula. Mereka menikmati makan siang sembari berbincang-bincang seputar materi yang baru mereka terima. Tak hanya itu, mereka juga membahas kegiatan nanti malam yang menurut info akan ada api unggun.
“Ini berasa kayak di film-film ndak sih? Ada api unggun terus ada acara tembak menembak gitu,” ucap Lina. “Romantis banget kan?”
Mereka berempat menggelengkan kepala.
“Tadi tuh kira Lina bahas film horor atau pembunuhan kah, karena bahas tembak menembak. Rupanya tembak-tembakan yang lain. Hahaha.”
Sontak mereka tertawa. Lalu kehadiran seseorang membuat tawa mereka terhenti seketika. Di hadapan mereka, tampak gadis berambut ikal yang tadi pagi berusaha untuk mengajak Nando kenalan.
Gadis tersebut berdiri tepat di hadapan Nando. Dengan senyum malu-malu dia menatap Nando. Lalu menyerahkan sebungkus cokelat yang sejak tadi dia sembunyikan di belakang tubuhnya. Tanpa menunggu jawaban dari Nando, gadis tersebut bergegas pergi.
Nando hanya melirik coklat tersebut lalu memasukkan nasi dan potongan ayam yang sejak tadi dia pegang. Makanan tersebut tertunda memasuki mulut Nando karena kehadiran gadis berambut ikal tersebut. Lalu Nando melanjutkan makan siangnya tanpa berbicara.
Mereka saling lirik. Lalu Adi mulai membuka suara. “Aku yakin Nando ndak suka sama cokelat ini jadi buat aku aja ya? Hehe.”
Nando mengedipkan mata perlahan. “Ambil aja, aku punya banyak cemilan. Sangkingnya banyaknya aku bawa, aku sampai lupa bawa pulpen. Hehe.”
“Kau ni, Do. Kasian loh anak orang kau cuekin begitu.”
Nando hanya diam. Tak berniat membalas perkataan Lina. Lalu Adi mulai membuka suara. “Kau ni Lin, sudah kubilang. Nando sudah biasa menghadapi cewek begitu. Kita sebagai temannya, harus siap dengan pemandangan begitu.”
Lina meggelengkan kepala lalu menghabiskan air mineralnya dalam satu tegukan. “Tapi, kalau diperhatikan, kau memang ganteng bah, Do.”
“Kau baru sadar, Lin?” tanya Supri. “Aku aja sebagai cowok sudah sadar dari awal kalau Nando ganteng.” Supri mengerling ke arah Nando.
Nando terkekeh lalu melempar Supri menggunakan bungkus nasi yang telah dia kepalkan. “Gombalanmu, Pri.”
Lina yang masih memperhatikan Nando lantas kembali berbicara. “Kau punya wajah yang nyaris sempurna, Do.” Lina mengusap-usap dagunya. “Mukamu itu tampan tapi keliatan tegas. Hm, apa ya namanya?”
Lina semakin mengusap-usap dagu sembari menengadahkan kepala. “Oooh, berkharisma. Kau cowok tampan yang berkharisma.”
Nando tersenyum lalu memukul kepala Lina dengan botol. “Sadar, Lin! Jangan juga kau ikut-ikutan naksir sama aku,” ucap Nando. “Kau mau kujauhi kayak cewek-cewek yang ngejar aku, iya?”
Deg, seketika napas Putri terasa sesak. Entah mengapa ada rasa sakit yang dia rasakan saat mendengar Nando mengucapkan hal itu. Tapi Putri berusaha untuk tersenyum meski sangat sulit.
“Ada apa denganku? Apa aku mulai menyukainya?” pikir Putri. “Apa aku juga baru menyadari pesona Nando?”
Lina meraih botol tersebut lalu memukul lengan Nando. “Sembarangan kalau bicara! Aku sudah punya pacar ya. meski ndak seganteng kau tapi aku sayang sama dia.”
Mereka tertawa, kecuali Lina dan Putri.
“Aku bukan tipe yang tertarik karena fisik,” ucap Lina lagi. “Aku lebih ke hati.”
“Kau suka makan hati, Lin?” tanya Adi. “Hati ayam mau? Hahaha.”
Mereka tertawa lagi. Lina tanpa ampun memukul Adi dengan botol bekas yang sejak tadi dia pegang.
***
Beberapa kayu tampak tersusun rapi. Kayu tersebut terbakar, warnanya merah menyala. Sekumpulan orang tampak mengelilingi kayu yang terbakar tersebut. Pemandangan yang biasa disebut dengan api unggun itu, membuat orang-orang di sekitarnya merasa sedikit hangat.
Seorang lelaki dengan rambut diikat, sedang bermain gitar. Di dekatnya beberapa orang menyanyikan sebuah lagu yang membuat suasana malam itu semakin meriah. Begitu lagu selesai, semua orang bertepuk tangan.
Lalu lelaki yang bernama Riyo tersebut menawarkan kepada Nando untuk bernyanyi. Nando menolak dengan suaranya kurang bagus. Tapi kemudian Adi kembali mengungkapkan kenyataan yang membuat Nando tak bisa menolak.
“Suaranya bagus, Bang. Memang dia bukan anak band. Tapi pas Pensi di sekolah, dia yang mewakili kelasnya akustik.”
Kompak, semua orang yang hadir menyoraki Nando. Dan Nando serasa ingin menjitak kepala Adi saat itu juga. Tapi mencoba untuk tersenyum kepada semua orang yang melihatnya.
“Nando Nando Nando.”
“Ayo, Do.”
Tak ingin mengecewakan teman-temannya. Terlebih Nando sangat ingat peraturan saat Ospek yaitu pasal satu, senior selalu benar. Dua, jika senior salah maka akan kembali ke pasal satu.
Nando berdiri lalu berjalan menuju Riyo. Lalu duduk di samping Riyo.
“Ini,” ucap Riyo saatmemberikan gitar. “Nyanyikan aja lagu yang kau bisa.”
Nando mengangguk lalu menerima benda yang memiliki enam senar tersebut. Lalu mulai menyetelnya sembari memetik benda tersebut perlahan.
Semua mata tertuju ada Nando, tak terkecuali Putri. Dia terus memperhatikan Nando. Tak lama, suara gitar mulai mengalun. Nando mulai bernyanyi. Semua orang serempak menggoyangkan tubuh ke kiri kemudian ke kanan.
Bila rasaku ini rasamu
Sanggupkah engkau
Menahan sakitnya
Terkhianati cinta yang kau jaga
Sebuah lagu dari Band Kerispatih mengalun begitu indah. Dan semakin teras indah karena seorang Nando yang menyanyikannya. Saat Nando selesai bernyanyi, semua orang masih terdiam. Menunggu lalgu berikutnya tapi Nando menyerahkan gitar tersebut kepada Riyo.
“Ini, Bang,” ucap Nando.
Riyo mendorong benda tersebut. “Sepertinya teman-temanmu masih mau dengar satu lagu dari kau, Do,” ucap Riyo sembari melihat ke arah mahasiswa baru. “Iya kan?” tanyanya lagi.
“Lagi lagi lagi.”
Serentak mereka berteriak. Dengan berat hati, Nando kembali bernyanyi karena dia tau tak ada gunanya berdebat dengan senior. Dia tau, apa akibat fatal dari dua lagu yang dia nyanyikan. Akan semakin banyak orang yang menyukainya. Sesuatu yang sangat dia hindari karena ada hati yang ingin dia raih saat ini.
“Oke, ini yang terakhir ya? Suaraku mahal soalnya.”
Semua tersenyum mendengar perkataan Nando. Lalu lagu dari Ada Band kembali mengalun di pantai tempat mereka berkemah.
Putri yang sejak tadi menutup mata untuk menikmati lagu yang Nando nyanyikan, sontak membuka mata ketika lagu tersebut berakhir. Ada Nando yang menatapnya sembari tersenyum. Senyum yang bagi Putri sangat mempesona. Namun sebuah kalimat terngiang kembali.
“Sadar, Lin! Jangan juga kau ikut-ikutan naksir sama aku. Kau mau kujauhi kayak cewek-cewek yang ngejar aku, iya?”