Tragedi Siku

1817 Kata
Setelah menyelesaikan lagu kedua, Nando langsung meyerahkan gitar kepada senior yang duduk di sampingnya. Senior yang bernama Riyo tersebut tersenyum saat menerima gitar itu. “Calon vokalis band FKIP nanti nih, iya kah Do?” Riyo menaikturunkan alisnya. Nando hanya tersenyum lalu beranjak menuju ke arah teman dekatnya. Di tempat itu ada Putri yang sedang tertunduk. Di sebelahnya ada Lina yang sedang tersenyum pada Nando. Di sebelah Lina ada Supri dan Adi yang duduk bersebelahan. Nando memilih duduk di antara Putri dan Lina. Lalu menyentuh lengan Lina menggunakan lengannya. "Kenapa, Lin? Makin terpesona sama aku kah?” ucap Nando sembari mengerling kepada Lina. Lina mendesis. “ Iiish, kepedean.” “Awas memang kau jatuh cinta sama aku, Lin,” ucap Nando memperingatkan. “Aku ndak suka dikejar-kejar sama cewek soalnya. Apalagi ceweknya modelan kayak kau ini. Hm...” Nando menggelengkan kepalanya sebanyak tiga kali. Membuat Lina merasa tersulut kemudian menatap mata Nando. “Dengar ya, Do. Takdirku itu dikejar, bukan mengejar. Apalagi cowok modelan kayak kau? Yang mirip piala bergilir.” Nando terpingkal-pingkal mendengar perkataan Lina. Untung saja, tak banyak yang mendengar suara tawa Nando. Begitu pun perdebatan mereka karena sebagian besar orang disana sedang bernyanyi bersama, diiringi oleh Riyo. Putri yang berada di samping Nando tersenyum mendengar perdebatan kedua anak manusia itu. Lalu tanpa sengaja siku Nando mengenai wajah Putri. Refleks Nando menoleh ke arah Putri. Tanpa rasa segan menangkup kedua pipi Putri. “Sakit, Put? Yang mana yang kena tadi?” Nando meneliti setiap inci dari wajah Putri, mencari dimana sikunya tadi terbentur. Tak ada apa pun yang membekas disana. Hanya saja, wajah Puri terasa panas. Padahal angin di pantai sangat kencang. Apa karena api unggun? Atau karena? Deg. Nando reflks melepaskan tangannya begitu menyadari apa yang sedang dia lakukan sekarang mungkin saja menjadi penyebab hangatnya wajah Putri saat itu. Menyadari kesalahannya, Nando lalu meminta maaf. “Maaf,” ucapnya kaku. “Aku tadi gak sengaja. Sumpah.” Nando mengangkat tangan kanannya, menampilkan telunjuk dan jari tengahnya yang berdampingan sementara tiga jari lainnya ditekuk. Lalu dia menatap Putri, mencoba meraba-raba apa yang sedang Putri pikirkan saat ini. Apa dia akan marah sama seperti tragedi saat Ospek dahulu? Dalam hati, Nando berdoa agar Putri tak lagi marah. Nando tak ingin memulai semua pendekatannya dari awal lagi. Putri yang tadinya tertunduk saat Nando memegang kedua pipinya, beralih menatap manik mata Nando saat lelaki itu mengucapkan kata maaf. Putri mencari ketulusan di mata Nando. Dia bisa melihat dengan jelas kekhawatiran Nando. “Sebegitu takutnya dia aku terluka atau dia takut aku marah lagi? Atau keduanya?” pikir Putri dengan tatapan yang tak lepas dari Nando. Lalu sebuah suara membuyarkan pikiran mereka. “Oke, ada yang mau nyumbang lagu?” teriak Riyo. Nando melihat ke sekitarnya, beberapa orang terlihat menyikut temannya, meminta temannnya untuk bernyanyi. Adapula yang fokus melihat Riyo, adapula yang sama seperti Nando, meneliti keadaan sekitar. Lalu seorang lelaki tampak berdiri. Sejurus kemudian, teman-teman di dekat lelaki itu berteriak menyemangati lelaki tersebut yang berambut pendek, cenderung botak. Hal yang cukup menjadi bukti bahwa lelaki itu merupakan mahasiswa baru sama seperti Nando. Riyo menyerahkan gitar begitu mahasiswa baru tersebut berada di dekatnya. Kemudian mahasiswa baru terus memperkenalkan diri. Mahasiswa baru tersebut mengaku bernama Halim dan merupakan mahasiswa jurusan PGSD. Halim membawakan lagu yang dipopulerkan oleh Irwansyah yaiut Pecinta Wanita. Semua orang tampak semangat menyanyikan bagian reff dari lagu tersebut. Begitu pula dengan Nando, dia bahkan menyanyikan lagu tersebut dari awal hingga akhir. Putri tentu saja lebih fokus mendengarkan Nando bernyanyi daripada Halim yang berada di hadapannya. Bukan hanya karena Nando sedang duduk di sampingnya. Lebih dari itu, dia meneliti setiap kalimat yang Nando keluarkan. “Sepertinya Nando sejenis pecinta wanita juga,” pikir Putri. Silih berganti, orang yang menyumbangkan lagu. Hingga waktu menunjukkan pukul sebelas malam, panitia menyarankan peserta yang mengantuk untuk tidur dan istirahat. Karena besok kegiatan masih berlanjut hingga sore hari. Banyak di antara peserta yang memilih untuk istirahat. Tapi ada juga yang memilih untuk berbincang-bincang dengan temannya. Adapula peserta yang memilih berbincang dengan panitia. Sementara Nando dan keempat temannya yaitu Putri, Lina, Supri dan juga Adi memilih untuk tetap berada di dekat api unggun tersebut. “Kalian belum ngantuk?” tanya Supri pada Lina dan Putri. Lina menggeleng sementara Putri hanya tersenyum. “Asyik ya suasananya?” tanya Supri lagi seraya memandang ke langit. “Duduk di pinggir pantai ditemani bintang dan api unggun.” Keempat anak manusia di dekat Supri mengangguk bersamaan. “Gimana kalau minggu depan kita ke pantai aja?” tawar Supri. “Kapan-kapan aja ke Rumah Adat Tidung, gimana?” Rencana akhir pekan mereka yang telah tertunda dua kali. Pertama karena Supri tiba-tiba sembelit sehingga mereka menunda rencana tersebut. Meski sebenarnya mereka bisa saja pergi tanpa Supri tapi setelah dipertimbangkan, bukan hanya perihal setia kawan. Tapi karena memang Supri lah satu-satu orang yang belum pernah ke Rumah Adat Tidung, sementara mereka berempat sudah beberapa kali berkunjung ke destinasi wisata tersebut. Penundaan kedua karena Bina Akrab yang sedang mereka jalani saat ini. Lalu Bungsu dan Riyo mendatangi mereka dan duduk dekat di sebelah Adi. Riyo yang membawa gitar, menyerahkan gitar kepada Nando. “Kau yang main,” titah Riyo. “Kami yang nyanyi. Oke?” Nando meraih gitar tersebut. “Lagu apa ni, Bang?” Putri yang duduk di sebelah Nando, mundur agar tak terkena gitar. Membuat Nando berpaling kepadanya. “Kena lagi, Put?” Putri menggeleng sembari tersenyum. “Main lah.” “Lagu dangdut aja, Do,” ujar Bungsu. Nando terkekeh. “Boleh juga, Bang. Begadang aja lah, cocok sama suasana malam ini.” “Oke, Begadang,” jawab Riyo cepat. Mereka mulai menyanyikan lagu tersebut. Diteruskan oleh lagu-lagu dangdut lainnya, dari lagu Sedang-Sedang Saja yag dipopulerkan oleh Veety Vera hingga lagu Wakuncar. Selama mereka bernyanyi, beberapa senior juga turut bergabung. Di sela alunan gitar tersebut juga lah, Putri beranjak meninggalkan mereka. kemudian menu tenda. Tapi bukan untuk istirahat tapi mengambil beberapa minuman untuk orang-orang yang sedang berkumpul. Tentu, Putri mendapat pujian dari seniornya. “Nah, ini yang ditunggu daritadi.” “Astaga Dek, kenapa ndak bawakan makanan juga sekalian. Hehe.” “Cewek begini nih yang bagus dipacari. Super pengertian. Ndak disuruh tapi langsung gerak.” Berbagai pujian yang Putri terima hanya dibalas dengan senyuman. Lalu dia mengambil sekaleng milo kemudian membukanya. Masih dengan senyuman di wajahnya, dia menyerahkan kaleng minuman tersebut kepada Nando. “Kalian pacaran?” tanya Puji. Dengan cepat Putri menjawab tidak. Lalu Nando dengan percaya diri merangkul Lina. “Ini pacarku, Kak.” Lina mencubit perut Nando. “Jangan buat aku jadi bulan-bulanan fans mu ya? Ogah aku diteror sama meraka,” hardik Lina. “Dia ndak punya pacar, Kak. Curigaku dia sukanya sama cowok, bukan cewek.” Semua orang tertawa, tak terkecuali Putri dan Nando. Mereka tentu paham bahwa semua hal itu hanya gurauan. Tanpa mereka sadari, ada sepasang telinga yang sedang mendengarkan pembicaraan itu dan sedang menyusun rencana untuk mencelakai Putri dan Lina. “Oh iya Do, kau ada kepikiran buat jadi ketua jurusan kah?” tanya Bungsu. Nando menyisihkan sejenak gitarnya. Lalu berpikir sejenak. Tak pernah sedikit pun terlintas di benaknya untuk jadi ketua organisasi mana pun. Dia hanya ingin fokus belajar dan bisa dekat dengan Putri. Toh, tanpa ikut organisasi, Nando sudah sangat sibuk mengurus kedua perempuan yang ada di rumahnya. Dari yang ngantar Susi kemana-mana, temani Nindi jalan hingga perkara memasang gas pun menjadi tanggung jawab Nando. Karena ayahnya lebih banyak menghabiskan waktu di tambak. Sejurus kemudian Nando menggeleng. “Ndak, Bang,” “Loh kenapa?” “Yah, memang ndak pernah terpikir sih, Bang.” Bungsu memasang tampang kecewa lalu kembali berujar. “Padahal ya, dari mahasiswa di angkatanmu, kau yang paling cocok dari ketua.” “Iya, bener,” ucap Riyo. “Aku juga sepakat,” tambah Puji pula. “Apalagi kau punya teman-teman kayak mereka, yang bisa dampingi kau selama memimpin,” ucap Bungsu tak menyerah. “Tapi teteplah, harus ada anak-anak dari Lokal A yang jadi pengurus inti juga biar imbang.” “Cewek yang di sampingmu bisa jadi sekretaris,” tambah Bungsu lagi seraya menunjuk Putri. “Dan, dia bisa jadi bendahara. Dua temanmu yang lain jadi wakil sama ketua divisi apakah gitu.” “Dipikir-pikir aja dulu, Do,” ucap Riyo. “Nanti aja kasih keputusan. Malam ini kita santai-santai aja dulu lah.” Nando tersenyum mendengar rayuan seniornya. Dalam hati dia merasa bahwa tawaran untuk menjadikan Putri sebagai sekretaris tak boleh terlewatkan. “Iya bang, nanti kupikir-pikir dulu.” “Kami dukung kau kok, Do,” ucap Supri kemudian. “Iya Do, aku yakin kau bisa.” Adi juga memberi pendapatnya. Lina dan Putri saling lirik. Lalu Lina juga bersuara. “Aku sih tergantung sogokannya ya? Hahaha.” Mereka tertawa. Lalu Bungsu yang masih tertawa kecil berujar, “Jangan jadikan dia bendaharamu, Do. Ciri-ciri tukang korupsi. Hahaha.” Mereka terpingkal-pingkal sementara Lina memajukan mulutnya. “Iiish, Bang Bungsu jahat.” Nando yang juga sedang tertawa masih memikirkan akan bagaimana jika dia dan Putri berada di organisasi yang sama. Hari-hari bahagia sepertinya akan menyambut Nando ke depannya. Cukup lama mereka berbincang-bincang hingga Putri dan Lina memilih untuk tidur lebih dulu. Sementara Nando, Supri, Adi dan senior mereka masih betah berbincang banyak hal. Dari gosip artis hingga gambaran situasi politik di kampus mereka. Termasuk di dalamnya, penjelasan organisasi eksternal dan internal yang ada di Universitas Borneo Tarakan. Sementara Putri yang sedang berbaring di tenda masih asyik berbicara dengan dirinya sendiri. Dia terus memikirkan setiap detail yang terjadi antara dia dan Nando belakangan ini. Meski tak yakin dengan perasaannya, Putri tau dengan jelas kalau dia tertarik dengan sosok Nando yang tak hanya tampan tapi sangat baik dan penyayang. Tapi, dia merasa cukup tau diri untuk tidak menunjukkan perasaannya itu. Tak lama, Putri menyusul Lina yang sedang tertidur pulas di sampingnya. Meski mereka tak berada di kelompok yang sama. Tapi, untuk tempat tidur, tenda untuk tempat tidur perempuan dan lelaki dipisah. Begitu juga dengan tenda yang berisi bahan makanan, minuman serta perlengkapan lain. *** Putri merasa gelisah. Perlahan dia menggoyangkan bahu Lina tapi Lina bergeming. Sekali lagi, Putri berusaha membangunkan Lina tapi kali ini dia memilih untuk menepuk pipi Lina. Perlahan Lina membuka mata. Melihat Putri yang sedang duduk di dekatnya, lantas membuatnya bertanya dalam hati. “Kenapa ni anak?” Seolah tau apa yang Lina pikirkan, Putri lalu berkata, “Temani kencing bah. Kebelet.” Lina meregangkan badannya. Lalu duduk sejenak. Baru akhirnya berdiri setelah merasa tenaganya sudah cukup mampu untuk berjalan beberapa meter menuju masjid. Mereka menuju masjid yang berjarak sekitar lima puluh meter dari tenda. Suasana sangat sepi, hanya suara dedaunan yang tertiup angin sesekali terdengar. Begitu tiba di depan kamar mandi, Putri denag terburu masuk semetara Lina menunggu di depan. Tiba-tiba Lina mendengar mendengar derap langkah yang awalnya perlahan lalu semakin cepat. Lina mulai gemetaran. Terlebih suara langkah kaki itu terdengar mendekat ke arahnya. Lina sontak memejamkan mata ketika suara langkah kaki itu semakin terasa dekat dan akhirnya berhenti dua meter di depannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN