01
Tampan, muda, kaya raya, pintar, dan seorang penguasa bisnis itu semua terdapat di dalam diri seorang pria bernama Leon Kennedy, anak dari Eren Kennedy yang menjadi penerus bagi perusahaan ayahnya yang bergerak di bidang bisnis tersebut. Dengan parasnya yang tampan dan rambut hitam yang mengkilap membuat siapa saja akan terpesona dengan ketampanan makhluk ciptaan tuhan yang mendekati kata ‘sempurna’ ini, namun karena sifat Leon yang teramat dingin, cuek, dan kasar menjadikan ia tipikal orang yang sulit di dekati karena kepribadiannya yang terlalu individualis.
Hari ini, diadakan acara perjamuan khusus untuk tamu yang menjalin kerja sama dengan perusahaan Kennedy Future di lantai teratas Gedung Kennedy Future yang mewah dan besar dalam rangka memperingati hari jadi perusahaan Kennedy Future yang ke-20 tahun.
“Apa kau mengundang anak dari keluarga Wisteria?” tanya seorang pria parubaya menepuk pundak bahu anaknya yang sedang menatap ke luar jendela yang menyuguhkan pemandangan kota New York di malam hari yang di penuhi oleh lampu
Leon menggeleng. ”Kenapa?” tanya Leon dan melirik ke pria parubaya di sampingnya
“Kenapa kau tidak mengundangya, padahal anak dari keluarga Wisteria dia sangat cantik dan dia juga sepertinya menyukaimu, padahal dia adalah salah satu kandidat untuk menjadi jodohmu kelak.”ucap pria itu agak kesal, karena bagaimanapun pria parubaya yang tak lain adalah Eren Kennedy itu menyuruh putranya untuk mengundang anak perempuan dari keluarga Wisteria dan Leon tidak mematuhinya.
“Cukup pah, berhenti untuk menjodoh jodohkan aku dengan orang lain karena sudah ku bilang aku memiliki tipe idealku sendiri.” Jawab Leon datar melirik pria parubaya itu sesaat
“Tapi mamamu menginginkan kau segera memiliki momongan.” Ucap Eren mengusap bahu anaknya yang lebar
“Aacara akan segera di mulai, pah aku permisi.” Jawab Leon melepaskan tangan ayahnya yang memegang bahunya dan melenggang pergi meninggalkan ayahnya yang masih terdiam.
Sementara itu, pria parubaya itu hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat bagaimana keras kepalanya anak semata wayangnya itu.
•••
“Hey, apa kau yakin kita tidak akan di usir dari sini?” sikut seorang wanita kepada wanita yang mengenakan gaun di sampingnya
“Tenanglah, demi mendapat 2 undangan ini aku rela menangis non stop 24 jam!” jawab wanita yang mengenakan gaun merah sambil berjalan dengan anggunnya
“Tapi jika penjaga di depan pintu sana menanyakan siapa kita, kau akan menjawab apa?” tanya wanita bergaun cream
“Mia, sudah berapa kali kujelaskan kepadamu ayahku mendapatkan 2 tiket ini langsung dari keluarga Kennedy.” Jawabnya
“Tapi aku tidak mempercayaimu karena kau selalu berbohong padaku Ziafli.” Jawab wanita itu dengan nada merengek
“Tenang saja, jika kartu undangan ini palsu, kita akan membunuh ayahku bersama oke?” gadis yang bernama Ziafli itu memberi saran ide yang cemerlang
Gadis di sampingnya hanya tercengir. “Setuju!” jawabnya penuh semangat
Gadis yang bergaun Cream itu tak lain adalah Mia Livail, besar tanpa kedua orang tua, hidup di bawah garis kemiskinan bersama neneknya di sebuah rumah yang sangat kecil, sedangkan gadis bergaun merah itu bernama Ziafli Ortega, seorang anak dari keluarga konglomerat yang di besarkan dengan harta dan pendidikan yang memadai.
Mia dan Ziafli bertemu pertama kali ketika hari pertama mereka melakukan penerimaan anggota mahasiswa kampus yang saat itu Ziafli sedang di hukum dan Mia yang membantunya sehingga keduanya di hukum dan semenjak itu hubungan mereka menjadi dekat hingga berubah menjadi persahabatan.
“Tunjukan kartu undangan anda nona.” Ucap seorang pria berbadan besar yang sedang berjaga di pinggir pintu besar
Mia dan Ziafli menyodorkan undangan secara bersamaan, pria itu mengambilnya dengan cepat, melihat dan meneliti undangan itu sampai akhirnya pria berbadan besar dan kekar itu mempersilahkan mereka masuk
“Nahkan, sudah kubilang bahwa ini berhasil.” Ucap Ziafli yang membuat Mia terkekeh senang
Tujuan mereka berdua datang ke acara ini adalah untuk memergoki pacar Mia yang selingkuh bersama wanita lain karena katanya pacar Mia akan menghadiri acara ini dengan seorang wanita yang sangat cantik dan hal itu membuat Mia memikirkan cara bagaimana ia bisa hadir ke acara itu juga sebelum Mia meminta bantuan Ziafli, Ziafli sudah lebih dulu menyodorkan 2 kartu undangan yang membuat Mia senang bukan main.
“Kita akan duduk ke di mana?” tanya Mia sebelum akhirnya Ziafli menarik lengan Mia untuk duduk di pojokan
“Kenapa di sini?” protes Mia
“Karena jika kau di depan pacarmu akan mengetahui keberadaanmu.” Jawab Ziafli yang membuat Mia terdiam dan terduduk patuh
Tak lama dari itu seorang pria berbadan tinggi dan gagah naik ke atas podium dengan sebuah mic di lengannya dan mulai membuka acara dengan mengucapkan terima kasih kepada tuhan, orang tuanya serta rekan rekannya yang telah membantunya
Ziafli yang tengah memperhatikan sosok pria itu, terkejud ketika melihat Mia yang tengah meminum beberapa gelas minuman alkohol. “Hey! Apa yang kau lakukan?” tanya Ziafli dan menyingkirkan semua gelas
“Arghhh Mia! Aku sudah katakan kepadamu kalau di sini kau jangan mabuk!” omel Ziafli, Mia yang sedikit mabuk mengadahkan wajahnya
“Ini sebenarnya minuman apa sih? Apa ini teh?” tanya Mia polos di selingi batuk batuknya
“Oh god! Ini bukan teh ! ini wine! Apa kau bodoh hah?” Ziafli mulai jengkel dengan tingkah laku Mia yang asal mengambil minuman tanpa bertanya terlebih dahulu
“Dari mana kau mendapatkan ini?” tanya Ziafli, Mia menunjuk seorang pelayan dengan membawa nampan yang berisi belasan gelas di atas telapak tangannya sebagai jawaban dari Mia, Ziafli hanya berdecak kesal
Mia mengangkat wajahnya, pupill matanya bersinar ketika mendapati sosok yang persis seperti pacarnya, walaupun pandangannya kabur namun Mia yakin bahwa itu adalah pacarnya yang sudah lama tidak bertemu.“Hey lihat itu! Pacarku benar benar ada di sana!” tunjuk Mia kepada sosok tinggi yang sedang mengakhiri pembicaraanya di atas podium
“Tunggu kau aku akan membalasmu dasar laki laki buaya!” ketus Mia dan mulai bangkit dengan membawa segelas minuman yang tinggal setengah
Pria itu mengakhiri pembicaraannya dan turun dari podium, ia berpelukan dengan seorang wanita yang tak lain adalah sepupunya sendiri dan sontak itu membuat Mia semakin kesal dan marah, karena Mia menganggap bahwa wanita itu adalah selingkuhannya pacarnya
Dan ketika Mia hendak berjalan tiba tiba langkahnya terhenti dengan Ziafli yang memegang pergelangan tangannya.“Hey! Dia itu bukan pacarmu Mia, dia adalah Leon walaupun wajahnya memang terlihat mirip dengan pacarmu tapi dia bukan pacarmu Mia!” cegah Ziafli menahan pergelangan tangan Mia
Mia melirik kesal ke arah Ziafli.“Berhenti berbohong kepadaku Ziafli, lepaskan aku! Aku akan membereskan pacarku dulu!” Mia berusaha melepaskan cekalan Ziafli yang mencegahnya
“Mia kau itu mabuk! Sadarlah!” ucap Ziafli dan terus menahan pergelangan tangan Mia
“Aku sangat meminta maaf kepadamu Ziafli tapi aku terpaksa harus melakukan ini.” Ucap Mia yang kemudian menggigit lengan Ziafli yang mencekal pergelangan tangannya
Ziafli mengaduh dan refleks melepaskan cekalannya, Mia langsung berjalan menuju sosok tinggi yang sedang menyambut para tamu itu
Leon berjalan menuju meja yang berada di tengah sedangkan Mia berjalan menuju ke arah Leon yang sedang mengarah kepadanya hingga akhirnya mereka bertemu dan Mia sengaja menubrukan dirinya dengan Leon sehingga minuman yang sedang di pegangnya meluncur mulus di atas jas mahal Leon yang berwarna hitam legam itu
“Hey apa yang kau lakukan?!” tanya Leon dengan nada yang tinggi dan melotot tak percaya
Mia hanya tersenyum miring meneliti seluruh inci wajah Leon, “ Kau terlihat jauh lebih tampan dan kau pun lebih tinggi, meski kau agak berbeda dari sebelumnya tapi aku tidak peduli karena aku sudah lama tak melihat lelaki buayaku ini!” gumam Mia yang membuat Leon semakin kesal
“Minta maaf se-“ ucapannya terpotong ketika Mia menarik dasi Leon, otomatis Leon agak membungkuk di hadapan Mia yang tengah merencanakan sesuatu di otaknya
“Dasar kau laki laki buaya! Kita tidak bertemu selama 3 bulan dan kau malah berselingkuh dengan orang lain hah?! Dan akupun tidak mengerti kenapa kau bisa setampan ini!” gumam Mia meraih rahang Leon dan menciumnya lembut.
Selang beberapa detik Mia melepaskan ciumannya. “Apa kau puas?” sambar Leon cepat ketika ciuman mereka terlepas, Mia hanya terdiam dan Leon menarik kasar dasinya dan bangkit dengan wajah yang agak kesal
“Tunggu dulu, kenapa suaramu berbeda?” gumam Mia dan ia beberapa kali menggelang berusaha menghilangkan efek alkohol yang sudah menyerang penglihatannya.
Mia memejamkan matanya dan beberapa kali menampar pelan pipinya sendiri, sampai akhirnya ia mendongkak dan betapa terkejutnya ketika pria di depannya bukanlah pacarnya yang selama ini ia lihat.
“B-bbos?” tanya Mia sambil tersenyum kikuk, ia memperhatikan sekitar dan suasana berubah menjadi sunyi serta orang orang menatap ke arah dirinya.
“Mati aku.” Gumam Mia tetap sambil tersenyum kikuk.
Mia menjadi pusat perhatian di sana di tambah lagi posisinya yang berada di tengah membuat orang orang dengan lebih mudah memperhatikannya termasuk Ziafli yang menunjuk nunjuk Mia dan menggeser lehernya sambil berkata “Mati kau.” Yang membuat Mia menelan ludah dan kembali menatap bos besarnya.
Prok....prok....prok....
Suara seseorang menepuk tangan terdengar jelas, yang kemudian diikuti oleh yang lain membuat suasana gedung tersebut yang semula sunyi kini menjadi ramai akan tepukan orang orang.
“Kenapa dari dulu kau tidak bilang kau sudah mempunyai pasangan, anaku.” Ucap seorang pria parubaya yang menghampiri Leon dan dia adalah pencetus tepukan tangan tadi
Leon hanya tersenyum kecut dan Tiba tiba Leon merangkul pinggang Mia dan menahannya kuat, bagaimanpun Mia tak bisa kabur dengan mudah.
“Aku malu mengatakannya, tapi Pah dia adalah pacarku.” Ketus Leon yang membuat Mia membulatkan matanya dan menganga tak percaya, begitupun Leon yang merasa menyesal ketika kalimat itu telah terlontar dari mulutnya dengan mudahnya.
“ADA APA INI?!” teriak Mia di dalam pikirannya.