07

1581 Kata
Sudah kurang lebih satu minggu Mia bekerja sebagai sekretaris kontrak ini, sejauh ini tidak ada masalah jika sedang di hadapan umum Leon terkadang berbuat manis terhadap Mia khususnya di depan klient yang terkadang membuat klient Leon sedikit iri akan pasangan yang sedang di mabuk cinta walau kenyataannya sebaliknya  Dan tepat hari ini Mia harus pergi ke rumah sakit untuk mengantar neneknya ke rumah untuk chek up mingguan jantung neneknya setelah mendapatkan gaji sampingan Mia selama kerja di kafe milik keluarga Ziafli yang selalu ramai di kalangan orang Amerika khususnya di kota New York apalagi Mia notabennya sebagai sahabat Ziafli membuat gajinya sedikit lebih besar tanpa harus bekerja lelah  “Nek, ayo duduk dulu.” Ucap Ziafli sambil mendudukan neneknya di kursi halte bus Claire duduk dengan patuh dengan Mia yang berada di sampingnya sambil menunggu bus bertingkat itu datang, namun hampir setengah jam menunggu bus yang di tunggu Mia tak kunjung datang, Mia yang melihat kondisi neneknya yang mulai kelelahan merasa tak enak dan bersalah  “Nek, apakah nenek haus?” tanya Mia berusaha mengalihkan agar neneknya itu tak terus menerus menatap jalanan dengan bus yang tak kunjung datang  Claire mengangguk. “Minumlah dulu aku sudah membawa air dari rumah.” Jawab Mia dan menyodorkan botol minuman ke arah Claire, Claire mengambilnya dan mulai meneguk cairan bening yang cukup menyegarkan kerongkongannya yang kering itu “Tunggulah sebentar lagi nek, aku sedang memesan taksi.” Ucap Mia sambil mengecek kembali handphonenya  “Eh? Bukannya biaya taksi lebih mahal dari bus? Tak usah Mia, nenek bisa nanti saja chek up nya.” Tolak Claire namun Mia malah tersenyum dan mengatakan bahwa taksi mereka satu menit lagi akan datang karena Mia memesannya secara Online  Dan benar perkataan Mia, kendaraan besi berwarna kuning itu berhenti di depan trotoar, Mia langsung memapah Claire masuk ke dalam walau Claire menolaknya tapi Mia tetap bersih kukuh untuk mengecek keadaan jantung neneknya karena selama beberapa hari ke belakang Claire sering mengeluh sakit di sebelah d**a meski obatnya belum habis tapi rasa sakit itu semakin menjadi dan itulah yang membuat Mia khawatir  “Rumah Sakit Liberty, sir.” Ucap Mia kepada pria parubaya yang sedang duduk di kursi pengemudi, Mia dan Claire duduk di kursi belakang. ••• Terlihat seorang pria yang sedang bersantai di atas kapal pesiarnya yang mewah dengan beberapa gadis yang menemaninya di sampingnya, pria itu membuka kacamata hitam yang bertengker di hidung mancungnya dan meraih laptop miliknya yang terletak di meja tepat di samping dirinya  Kemeja bermotif flora yang dipadukan dengan sebuah kalung yang authetik membuat style dan wajahnya menyatu dengan sempurna apalagi 2 kancing atas kemeja pria itu terbuka sehingga menampilkan d**a bidang miliknya, sungguh pemandangan yang sempurna “Apa kau ingin minum tuan?” tanya seorang gadis yang memakai bikini kuning yang membuat Leon melirik tak suka sekaligus terheran heran karena pikirnya Leon tak pernah menyewa layanan para gadis sekalipun tidak pernah Leon membuka kacamata hitamnya dam membenarkan posisi duduknya.“Siapa yang menyuruh kalian kemari?” tanya Leon dengan nada yang agak keras sehingga semua gadis yang ada di sana bisa mendengarnya  Semua gadis dengan pakaian bikini itu hanya terdiam tak bisa menjawab pertanyaan Leon.“Aku tidak menyewa kalian, maka keluarlah dari kapalku.” Ketus Leon mulai menyilangkan kakinya dan mulai menyalakan laptopnya  “Dan jika kalian memasuki kapalku lagi tanpa izin, aku tak segan segan untuk mengusir kalian secara paksa.” Tambahnya dan membenarkan kemeja miiknya “Baik tuan.” Jawab semua gadis itu serempak dan mulai meninggalkan Leon satu per satu dengan wajah yang agak sedikit murung  Leon tak menggubris semua gadis yang ada di sekitarnya ia hanya sibuk mengetik bebarapa berkas yang di anggapnya penting untuk nanti di jadikan kontrak dengan klient nya, meski hari ini adalah akhir pekan tapi bagi Leon semua hari adalah sama saja tetap bekerja hanya berbeda tempat saja jika selama hari normal Leon bekerja di kantor dengan pemandangan yang membosankan, jika akhir pekan Leon bisa berpergian menggunakan kapal pesiar pribadi miliknya untuk melihat lautan yang terletak di samping kota New York  Namun ketukan jarinya di keyboard laptopnya terhenti ketika temannya menelfonnya melalui laptopnya dengan terpaksa Leon mengangkatnya dan membunag waktu secara sia sia  “Ada apa?! Aku sedang sibuk.” Jawab Leon dan hendak mematikan telfonnya itu sepihak. “Tunggu dulu tunggu dulu, aku mempunyai kabar penting.” Ucap pria itu yang membuat Leon mengurungkan niatnya  “Apa? Cepatlah aku sedang bekerja tidak ada waktu untuk membuang buang waktu seperti ini.” Ucap Leon yang di jawab oleh cengiran dari pria yang ada di dalam layar laptopnya itu  “Dia pergi ke rumah sakit, apa kau tidak khawatir?” tanya pria itu, namun tetap wajah datar Leon tak berubah ekspresi sedikit pun  “Apa hubungannya denganku?” Tanya Leon heran “Entahlah, rasanya jika aku tidak memberitahumu itu tu kurang afdol.” Jawabnya sambil terkekeh dan menggoda Leon  “Apa kau tidak akan melongoknya? Jika dia sakit lalu siapa yang akan mempersiapkan semua kebutuhanmu selama di kantor jika bukan dia?” godanya lagi yang membuat Leon memutar bola malas “Nampaknya dia sangat pandai mengrusmu! Lihatlah! Kau tambah tampan sekarang, di mana wajah kusut dan lelah yang selalu kau tunjukan padaku itu?” ejek temannya itu yang membuat Leon melipat kedua tangannya di depan dada “Bukan urusanmu!” jawab Leon dan menutup panggilannya membuat pria yang ada di layar laptopnya itu mengumpat akan kelakuan Leon yang selalu semena mena terhadapnya Leon kembali melanjutkan pekerjaanya, namun di tengah pekerjaannya itu bayang bayang dan perkataan dari temannya itu terus terngiang di telinga dan di dalam pikiran Leon yang membuat konsentrasinya buyar, Leon menutup laptopnya dan menunda pekerjaannya, menaruhnya kembali ke tempat semula, merebahkan dirinya yang dan memakai kacamata hitamnya kembali sambil berjemur di bawah sinar matahari pantai Miami  “Tenang Leon, itu bukan urusanmu.” Gumamnya dan kembali menatap langit yang cerah berwarna biru yang di selimuti oleh awan yang berbentuk bagaikan segerombolan domba dengan bulu yang tebal. ••• Terlihat sangat kontras sekali perbedaan antara Leon dan Mia, jika akhir pekan Leon pergi bersantai dengan fasilitas mewahnya berbanding balik dengan Mia yang setiap akhir pekan harus buntang banting mencari uang untuk membiayai chek up neneknya yang membutuhkan dana besar, jika Leon bersenang senang melepas penat Mia harus memutar otak memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang meski ia bekerja di perusahaan yang ternama dan besar namun, gajinya setara dengan karyawan honorer karena memang Mia masih baru di sana sehingga gajinya tidak terlalu besar “Ahh...” Mia mengeluarkan nafas yang sedarai tadi terasa berat baginya, ia menyandarkan kepalanya kepada dinding rumah sakit di deapan ruangan dengan pintu putih dengan sebuah jendela bulat di tengah dirinya tak kuasa masuk ke dalam ruangan yang seolah olah ruangan itu adalah ruangan terburuk bagi Mia setelah Ruang CEO, ia memejamkan mata dan beberapa kali menghembuskan nafas gusar  “Mrs. Livail?” tanya seorang wanita yang membuat Mia membuka matanya dan menatap seorang wanita dengan rambut pirang dan mata biru yang tengah berdiri di depannya dengan sebuah lembaran kertas yang di pegangnya “Ah, Ya itu saya.” Jawab Mia cepat dan memperbaiki posisi duduknya dengan sopan  “Kau bisa mengunjungi nenekmu, dan untuk biaya pengobatannya kau bisa tanyakan kepada orang yang berada di meja resepsionis, aku akan menitipkannya kepadanya.” Ucap wanita bule yang membuat Mia mengangguk paham dan beberapa kali mengucapkan terima kasih  Setelah Mia mengunjungi dokter yang biasa ia temui ketika akhir pekan, tiba tiba neneknya itu mengeluh sakit di bagian dadanya dan pingsan saat itu membuat Mia panik dan untung saja Mia masih berada di dalam area rumah sakit jadi banyak suster yang membantu Mia membantu Claire pergi ke ruang ICU. Dan ketika Mia tengah menunggu, perawat yang selalu menemani dokter langganannya itu mengatakan bahwa neneknya harus di rawat inap hingga berbulan bulan karena kondisinya yang semakin memburuk, jika tidak hal yang tidak inginkan akan terjadi, dan karena itu Mia terduduk lemas di kursi tunggu dengan pikiran yang terus memikirkan bagaimana caranya mencari uang untuk membayar perawatan inap setiap harinya. Mia bangkit dari duduknya dan mulai membuka pintu itu, dan ketika pintu terbuka memperlihatkan sosok wanita tua yang sedang tertidur lelap dengan selang infus dan oksigen yang hampir melilit seluruh tubuhnya Tangis Mia pecah ketika di samping Claire, ia menggenggam lengan keriput Claire. “Nek, maafkan aku jika nanti aku harus terpaksa menjual diriku.” Isak Mia dan mengusap lengan keriput itu “Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan saat ini.” Ucap Mia lagi masih dengan isakannya, perasaannya kini sangat menyiksanya dia sungguh benar benar lelah dengan semua kehidupan ini Terkadang Mia membayangkan bagaimana dia jika di posisi gadis lain yang cukup bahagia akan hidupnya, namun ia berusaha meyakinkan bahwa hidupnya pun lebih bahagia dari orang walau kenyataannya sungguh sangat pahit Dulu, tawa selalu menghiasi hari hari Mia dan keceriaannya tak pernah pudar dari wajahnya dengan beberapa sosok lengkap yang selalu menemaninya, juga beberapa teman dan sahabat yang selalu menghiburnya, meski keadaanya seperti itu Mia tetap bersyukur namun kali ini berbeda, tanpa sosok kedua orang tua, dan tanpa sosok sahabat sahabatnya yang selalu menghiburnya perlahan mental Mia terkikis sejak kehilangan orang tua, hanya Ziafli lah yang masih tetap setia menemani Mia walau akhir akhir ini Ziafli sibuk akan usahanya dan Mia memaklumi itu karena dia adalah penerus bagi perusahaan papanya berbanding balik dengan dirinya yang hanya seorang karyawan dengan gaji rendah yang harus di jadikan boneka oleh bos nya sendiri. “Nek, aku putus asa.” Ucap Mia parau sebelum akhirnya ia tertidur di samping neneknya karena rasa lelah yang bersarang di tubuhnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN