•••
Leon terbangun dari tidur siangnya yang cukup membuat tubuhnya terasa segar daripada sebelumnya,kantung mata yang tertera di bawah kelopaknya mulai menghilang ekspresi lelah yang selalu di tunjukan sedari tadi kini sudah menghilang di gantikan dengan ekspresi yang dingin dan datar
Leon mendudukan dirinya, kepalanya masih terasa sakit dan terletak sebuah bantal di sana yang menjadi tumpuan kepalanya ketika sedang tidur, juga jas hitam yang tadinya tersampir di punggung sofa, sekarang menutupi setengah tubuhnya
“Mia? Dimana kau?!” teriak Leon dengan nada tinggi sambil memijat kepalanya
“Aku di sini!” jawab Mia dan menghampiri Leon yang sedang terduduk di sofa
“Siapkan aku teh hangat, setelah itu aku akan mandi jadi ketika aku mandi kau persiapkan dirimu untuk menghadiri perjamuan makan siang dengan klien kita.” Suruh Leon yang membuat Mia menginggit bibirnya
“Tapi bos, kau tadi tertidur selama 2 jam jadi....” Ucap Mia yang membuat Leon membulatkan mata tak percaya dan mendongkak ke arah Mia yang sedang berdiri
“APA?! Kenapa kau tidak membangunkan ku?” bentak Leon yang membuat Mia menunduk. “Tadi kau tertidur sangat pulas, dan pekerjaanmu juga sangat jadi aku tak tega untuk membangunkanmu walaupun kau menyebalkan.” Jawab Mia yang malah membuat Leon semakin memijat pelipisnya dengan kuat.
“Tapi aku sudah mengubahnya dan di gantikan pada sore ini.” Jawab Mia, tapi Leon masih terdiam
“Siapkan aku teh, aku akan mandi.” Ketus Leon dan mulai bangkit
“Kau akan mandi di mana? Lalu bajumu?” tanya Mia panik, karena bagaimana mungkin Leon akan mandi di kamar mandi umum yang ada di kantor? Itu sangatlah konyol dan juga bodoh
“Kau akan segera tahu.” Jawab Leon dan mulai melangkah ke arah pintu yang berwarna cokelat lalu membuka pintunya dan masuk ke dalam, sementara itu Mia masih menatap tak percaya jika ruangan yang terlihat kecil ini ternyata mempunyai fasilitas yang layaknya rumah lalu, jika selama ini ruangan Leon memiliki kamar kecil kenapa Leon tak memberitahu Mia yang selalu turun naik lantai 14 -20 jika di ruangan tempatnya bekerja ada? Leon benar benar orang yang menyebalkan pantas saja jika selama ini tak ada wanita yang mendekatinya karena sikapnya ini.
Walau Mia yang masih kesal dengan Leon akan sikapnya itu dengan terpaksa ia harus menuruti kemauan Leon untuk pergi ke lantai dasar yaitu untuk menyiapkan teh untuknya yang jelas jelas memakan waktu lama jika di kantin kantor tidak terdapat air panas, tapi semenjak Mia di angkat menjadi sekretaris apapun yang diinginkannya seperti mulus begitu saja atau bahkan tidak di persulit jika dulu ia harus mengantri untuk memesan makanan di kantin sekarang hanya dengan menelfon saja makanan tersebut sudah di antarkan ke ruangan Leon, pengaruh Leon di dalam perusahaan ini sangatlah luar biasa.
Yahh, meskipun Mia sebagai sekretaris tapi itu semua hanya formalitas, gajinya masih sama seperti karyawan lain pada umumnya atau bahkan lebih rendah dan juga ia harus selalu menjaga kesehatan Leon, mengatur jadwal Leon, dan menuruti apapun yang di perintahkan oleh Leon selama di kantor sebagai sekretarisnya maupun sebagai babu* (pembantu/b***k [dalam bahasa sunda]).
•••
Mia masuk ke ruangan CEO tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan alhasil ia tak sengaja melihat Leon yang sedang mengenakan kemeja berwarna hitam dan memperlihatkan keindahan otot perutnya itu yang membuat Mia spontan meminta maaf dan kembali menutup pintu dengan teh yang ada di bawanya agak sedikit tertumpah karena terkejut akan penampakan Leon yang bisa membuat mata suci Mia berdosa.
Mia yang tengah menunggu Leon selesai di baju di luar dengan kedua tangannya yang memegang gelas mendengar suara keras yang memanggilnya dari dalam dan itu berarti Leon sudah selesai mengenakan baju, Mia masuk ke dalam pintu dengan hati hati dan perlahan dan memperlihatkan Leon yang tengah terduduk di sofa dengan kemeja yang mencetak otot tubuhnya yang kekar
“Dimana tehku?” tanya Leon, Mia hanya berjalan ke arah Leon sambil menaruh teh miliknya dan kembali ke mejanya untuk membereskan dokumen dokumen yang harus ia siapkan ketika Leon akan menghadiri acara perjamuan
“Mia, Keringkan rambutku menggunakan handuk ini.” Suruh Leon dengan santai sambil menyesap teh hangat miliknya
“Kenapa harus aku?!” protes Mia tak terima, karena ini adalah hal yang tidak terdapat dalam buku ‘cara kerja seorang pendamping CEO’
“Kau sekretarisku dan kau harus menuruti semua keinginanku sesuai yang tertera di dalam kontrak.” Jawab Leon dan kembali menyesap teh miliknya
“Tidak, aku menolak!” tolak Mia dan kembali membereskan dokumen dokumen yang berserakan di meja miliknya dan menghiraukan seolah olah Leon tidak ada
“Baiklah ku potong gajimu 50 % karena menolak perintah.” Ketus Leon yang membuat Mia bangkit dari duduknya
“Hey! Bahkan gajiku lebih kecil di banding karyawan lainnya dan kau tega memotong gajiku?!” lagi lagi Mia protes, Leon hanya terduduk tenang dan santai
“Aku tidak peduli.” Jawab Leon yang membuat Mia mengatupkan giginya kesal
“Berikan padaku!” ucap Mia kesal dan merebut paksa sebuah handuk yang berada di dalam genggaman Leon
“Kau memang benar benar menyebalkan!” ketus Mia sebelum akhirnya ia mengeringkan rambut Leon yang basah dengan handuk yang ada di tangannya secara kasar dan beberapa kali Leon mengaduh serta teh yang berada dalam genggamannya beberapa kali menumpahi bajunya karena Mia yang menarik kepalanya secara kasar
Meskipun begitu, namun Mia tak akan pernah menyangkal jika pesona yang di keluarkan oleh Leon sangatlah menggoda, apalagi saat ini ia hanya mengenakan kemeja hitam dengan dua kancing atas yang sengaja di buka menampakan d**a bidang Leon yang sangat tercetak jelas juga aroma maskulin yang sangat menusuk tajam membuat Mia tak tahan akan pesona Leon dan rambut basah yang menetaskan air membuat Mia berfantasi di pikirannya sendiri, meski begitu rasa sebal Mia tak pernah hilang dari sosok yang ada di hadapannya.
“Aw!” Leon mengaduh ketika Mia menekan kepala Leon keras dengan handuk. “Apa kau tidak berniat mengeringkan rambutku?!” tanya Leon mulai kesal karena ini sudah yang entah keberapa kalinya Mia memperlakukannya seperti ini. “Tidak.” Jawab Mia cepat
“Kau itu aneh! Bagaimana orang sepertimu mandi di dalam ruangan kerjanya sendiri?” tanya Mia yang masih mengusap rambut Leon kasar
“Aku memiliki banyak baju di sini, jika kau menggeser rak buku kau akan melihat baju baju miliku yang tersimpan di sini.” Jawab Leon, Mia hanya mengangguk paham dan memaklumi karena orang kaya seperti Leon apapun yang diingkan pasti akan terlaksana jika ada uang
“Sudah cukup kering.” Ucap Mia dan melepaskan handuk yang melilit rambut Leon
“Sebentar lagi perjamuan, kau harus siap siap, aku akan pulang.” Ketus Mia dan melihat jam dinding yang terpajang dengan sangat besar di seberangnya
“Pulang?!” ulang Leon, Mia menggangguk dan menaruh handuk tadi di atas sofa
“Kau harus menemaniku itu kan tugas sekretaris!” ucap Leon dan mengacak rambutnya lalu merapikannya menggunakan tangannya
“Tidak, itu kan hanya perjamuan sekretaris tidak ada sangkut pautnya dan juga ini sudah jam pulang.” Jawab Mia dan mulai membereskan barang barang miliknya
Leon bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Mia, seketika itu juga aroma maskulin khas Leon menyeruak masuk ke dalam indra Penciuman Mia
“Kau akan pulang dan melalaikan tugasmu?” tanya Leon dan mencekal lengan Mia, Mia spontan memalingkan tatapannya ke arah Leon dan melirik Leon yang berada persis di sampingnya
Mia mengangguk. “Lagi pula gajiku sama seperti karyawan lain, jadi buat apa aku susah payah menemanimu?” Tanya balik Mia dan berusaha melepaskan cekalan Leon di lengannya
“Kau itu menyebalkan! Mana sudi aku menemanimu seharian.” Ketus Mia yang membuat Leon membulatkan matanya spontan
“Apakah ini sebagai ultimatum mengajak perang bersamaku?” tanya Leon
“Ya, tentu saja!” jawab Mia cepat dan berhasil melepaskan cekalan Leon, lalu mengambil tas miliknya dan melenggang pergi meninggalkan Leon yang masih terdiam.
“Dan oh iya! Dokumen sudah kusiapkan kau tinggal membawanya!” ucap Mia membalikan badannya di ambang pintu kepada Leon sebelum akhirnya ia membalikan tubuhnya lagi dan menutup pintu
“Ah wanita itu!” gumam Leon kesal dan rahangnya mulai mengeras.
•••
Sebelum pulang ke rumah, Mia sengaja mengunjungi toko kue untuk membelikan kue favorit neneknya dan membeli beberapa permen gula gula untuk dirinya, karena jika Mia sudah mulai stress atau depresi maka, permen gula gula adalah obat yang paling cocok untuknya
“Terima kasih.” Ucap Mia sopan ketika toko kue itu memberikan satu kresek barang yang diingankan Mia dan Mia menyodorkan uangnya lalu meninggalkan toko tersebut
Hari ini, Mia pulang berjalan kaki karena hari ini merupakan tanggal muda jadi Mia harus menghemat uangnya belum lagi uang gajinya selama sebulan harus di potong oleh biaya sewa rumah, listrik dan air, serta biaya chek up rutin neneknya ke rumah sakit selama satu minggu sekali dan uang selama sebulan yang terlihat besar itu nyatanya hanya sedikit karena terpotong oleh biaya biaya yang besar
“Pekan ini nenek harus chek up ke rumah sakit, sementara uang gajiku hampir menipis karena beberapa hari ini aku terlalu sering menggunakan kendaraan umum, jadi uangku tinggal sedikit.” Gumam Mia di tengah perjalanan menuju rumahnya
“Ah tenang saja, sabtu ini aku akan bekerja di kafe dan aku akan mendapatkan uang lebih!.” Gumamnya lagi kepada diri sendiri dan itu cukup meringankan beban dirinya, ia memasukan kresek tadi ke dalam tas dan mengambil handphone miliknya dan beberapa kali melihat notifikasi berharap Reynold menjawab pesannya
Dan ketika Mia sedang mengecek notifikasi akhirnya Reynold menjawab pesan Mia walaupun singkat, meski begitu Mia sangat senang karena Reynold masih sempat meluangkan waktu untuk dirinya di sela kesibukannya pikir Mia, dan dengan cepat Mia membalas pesan Reynold yang setelah itu tak kunjung di jawab oleh Reynold walaupun Reynold terlihat selalu online tapi Reynold menyangkal itu adalah jika Reynold sedang mengubungi atasannya atau mengabari kedua orang tuanya, meski begitu Mia tak pernah marah dan hanya memaklumi
“Ahhh senangnya!” ucap Mia dan kembali memasukan handphonenya ke dalam tas ketika sudah membalas pesan dari Reynold, rupanya gadis polos ini tak mengetahui di balik layar bagaimana kelakuan Reynold selama ini.