Handphone Mia terus berbunyi membuat pemilik handphone itu terbangun dengan terpaksa, tangan gadis itu meraba dan mencari asal bunyi itu hingga akhirnya suara yang membuat telinganya penat itu dapat di temukannya dan dengan cepat Mia mengangkat telepon yang dari tadi terus menerus berbunyi.
“Hallo?” ucap Mia dengan suara khas baru bangun, matanya masih tertutup dua duanya dan jiwanya masih tersisa di alam bawah sadar
“HARI INI AKU RAPAT KAU JANGAN SAMPAI TELAT! BAWA DOKUMEN YANG KEMARIN AKU BERIKAN KEPADAMU!” ucap seorang pria di seberang sana yang membuat Mia memejamkan matanya dan menjauhkan handpohenya refleks
“Baik bos.” Jawab Mia malas dan menutup telpon sepihak sebelum akhirnya ia bangkit dengan tergesa tergesa karena jam yang sudah menunjukan angka 7
“Oh my God!” Mia terkejud dan langsung turun dari ranjang, membereskan ranjangnya, membuat sarapan,sebelum akhirnya membangunkan neneknya untuk sarapan
“Apa kau tidak akan makan?” tanya neneknya ketika Mia tengah sibuk membuat bekal makan siang di hadapan neneknya yang sedang menyantap bubur sereal
“Tidak nek, hari ini atasanku akan menghadiri rapat jadi aku tidak boleh terlambat jadi aku akan memakan bekal ini di jalan nanti.” Jawab Mia masih sibuk memasukan roti tawar dan beberapa sayur seperti tomat dan selada ke dalam kotak makan
“Rapat? Bukannya kau pegawai biasa?” tanya neneknya itu. “Tidak nek, aku sudah di promosikan menjadi sekretarisnya dan sekarang aku harus menemaninya ke mana mana.” Jawab Mia di sela sela kesibukannya menyiapkan bekal makan siang yang sederhana tetapi cukup rumit
Mia terdiam sesaat menyadari sesuatu. “Maafkan aku tidak memberitahu nenek, aku ingin mengatakannya tapi semalam...” Mia terdiam dan menatap manik mata neneknya menyeseal
Claire tersenyum memaklumi. “Tidak apa, kau tidak harus memberitahu semua hal kepadaku.” Jawab Claire tulus dan Mia memeluknya spontan untuk beberapa saat
Mia melepaskan pelukannya sebelum akhirnya ia kembali sibuk mencari tutup wadah yang berbentuk kotak itu.“Setengah jam lagi rapat di mulai, aku harus pergi sekarang nek.” Ucap Mia sambil menutup kotak yang berisi beberapa potong sandwich sederhana itu dan Mia memasukannya ke dalam tas miliknya lalu mencium puncak kepala neneknya sebelum akhirnya ia benar benar pergi dan meninggalkan neneknya sendiri.
•••
“Kau baru datang?” tanya seseorang dengan suara bazz ketika Mia memasuki ruangan yang bertuliskan ‘Ruang CEO’ dan membuat Mia menoleh spontan ke arah suara tadi dan mengangguk polos
“Seharusnya kau datang lebih dulu bukannya atasanmu yang lebih dulu.” Ketus Leon menyindir Mia secara terang terangan membuat Mia menatap tajam Leon yang sedang memeriksa beberapa dokumen di pagi hari seperti ini
“Siapa suruh kau menjadikanku sekretaris.” Jawab Mia acuh. “Siapa suruh juga kau tiba tiba menciumku.” Jawab Leon tak mau kalah membuat Mia menarik nafas pasrah akan kelakuan bos yang menyebalkan ini
Mia duduk di kursinya lalu mengeluarkan kotak makan yang ada di dalam tasnya dan menaruhnya ke atas meja, Leon masih sibuk dengan berkas berkas yang berada di atas mejanya
“Kau tidak akan membantuku?” tanya Leon dan membuat Mia menggeleng spontan. “Kau itu sekretarisku, seharusnya ketika aku sedang sibuk begini kau harus membantuku bukannya aku yang meminta bantuanmu.” Sindir Leon lagi yang membuat mood Mia turun
“Baiklah baiklah.” Jawab Mia dan menghampiri meja Leon sambil tangannya membawa kotak bekalnya
“Kau sudah makan?” tanya Mia, Leon menatap Mia aneh tanpa menjawab
“Sudah kubilang jangan panggil aku dengan sebutan kau, kita itu berbeda.” Oceh Leon yang tak suka jika bawahannya bersikap tak sopan kepadanya karena selain dingin dan Individualis, Leon juga adalah orang yang gila hormat
“Umur kita terpaut berbeda 3 tahun, tidak apa kau masih muda akupun begitu.” Jawab Mia yang membuat Leon mengacuhkannya karena berkas berkas yang cukup banyak di hadapannya ini harus di baca secara satu satu
“Mana dokumen yang aku suruh kau bawa?” tanya Leon dan membuat Mia berlari kecil ke arah mejanya mengambil dokumen yang di sampul dengan map berwarna cokelat itu yang benar benar sangat formal
Leon membuka map itu dengan tergesa gesa, rambut hitam itu sedikit berantakan dan juga Leon beberapa kali memijat kepalanya serta kelopak mata yang terlihat lelah, bibir yang kering dan pucat menjadi pertanda bahwa saat ini Leon benar benar sibuk
“Buka mulutmu.” Ucap Mia menyodorkan sepotong sandwich ke arah mulut Leon
Leon melirik ke arah Mia spontan dan hendak menghindar. “Aku tahu kau belum makan, maka buka mulutmu.” Ucap Mia yang masih menyodorkan sandwich ke arah mulut Leon
“Lihatlah kertas kertas ini, mana mungkin kau menyempatkan untuk makan, ayo cepat buka mulutmu 10 menit lagi kita rapat aku tidak mau melihatmu pingsan di tengah rapat dengan clien.” Oceh Mia yang membuat Leon terpaksa membuka mulutnya karena alasa Mia yang logis dan juga ia semalam menginap di sini bersama temannya membicarakan sesuatu dan mengerjakan sebuah desain projek yang akan di lakukan secara berkelanjutan sehingga ruangannya adalah ruangan yang tepat untuk mendiskusikannya karena dokumen dokumen penting juga berada di sini di banding apartemennya sebelum akhirnya temannya itu kembali ke London
Hap!
Satu suapan sandiwch mendarat mulus ke dalam mulut Leon, jujur saja ini pertama kalinya Leon di berlakukan seperti ini setelah bertahun tahun karena semua bawahan tidak ada yang seberani dan senekat Mia atau ia akan di pecat, tapi dengan polosnya Mia melanggar aturan yang selama ini Leon pertahankan
“Kau makan dulu saja, ini aku membawa lebih, berkas ini biar aku urus.” Ucap Mia dan mulai memberaskan kertas yang berceraran tak teratur dengan sangat telaten, Leon sempat terpesona akan Mia dalam beberapa detik sebelum akhirnya ia menolak dan kembali mengecek berkas berkas itu
“Tidak.” Tolak Leon dan kembali membaca dengan detail cetakan tinta yang terukir di atas kertas polos itu. “Ah kau itu.” Mia berdecak kesal sebelum akhirnya ia kembali menyuapi Leon walau Leon sempat menolaknya dengan alasan ia tidak lapar walau perutnya sangat membutuhkan asupan tapi egonya terlalu besar
“Buka mulutmu, jika kau pingsan aku tidak bertanggung jawab.” Ketus Mia, namun Leon masih menolak
“Kau ini sangat keras kepala! Bagaimana jadinya kau kurang konsentrasi nanti ketika rapat dan salah menandatangi dokumen?” tanya Mia yang masih memegang sepotong sandwich di lengannya namun Leon tak mendengarkan
“Hey aku ini sekretarismu! Jika kau pingsan atau kenapa napa aku yang di salahkan! Dan kau pasti akan memarahiku, maka dari itu ayo cepat buka mulutmu!” Omel Mia lagi dengan kebawelannya yang mendorong Leon untuk membuka mulut
“Baiklah, baiklah suapan ini terakhir!” Ucap leon dan membuka mulutnya kembali, Mia dengan cepat memasukan satu potong sandwich ke dalam mulutnya
“Untuk berkas ini kau tidak menandatanginya, tadi di bus aku sudah membacanya dan ini tidak menghasilkan kerugian bagi perusahaan.” Ucap Mia yang membuat Leon mengangguk paham
“Ternyata otak bodohmu itu berguna!” ketus Leon yang membuat Mia memukul bahu Leon sebal
“Kau pikir aku bodoh?!” ucap Mia sebal dan menatap Leon dengan tatapan sebalnya
“Orang orang membicarakanmu seperti itu.” Jawab Leon dan menaruh dokumen di atas meja lalu mengusap wajahnya kasar
“ahhh ini sangat melelahkan.” Gumam Leon di tengah usapan pada wajahnya itu dan sedikit mengacak rambutnya kasar
“Lalu jika ini melelahkan kenapa kau mau melakukan pekerjaan ini?” tanya Mia yang tengah merapikan kertas dan memasukannya kembali ke dalam map berwarna cokelat namun dengan beberapa tanda agar membedakannya dengan dokumen lain
“Bukan urusanmu.” Ketus Leon dingin
“Baiklah.” Jawab Mia dan mengembalikan map kembali ke tempat asalnya, setelah beberapa hari bekerja sebagai sekretaris Leon, Mia sedikit demi sedikit mulai bisa beradpatasi jika hari pertama Leon memborbardir Mia dengan cara kerja sekreraris, sistem, apa yang harus di lakukan sekretaris, dan hal lainnya yang membuat Mia sakit kepala di tambah lagi dengan kondisi Mia yang saat itu kepalanya sedang terluka sehingga ucapan dan perkataan Leon tak bisa masuk ke dalam otaknya
Namun ketika di dalam perjalanan menuju kantornya, Mia sedikit membaca dokumen dan buku panduan yang di berikan oleh Leon sehingga sedikit demi sedikit Mia mulai memahami tugasnya sebagai sekretaris dengan terpaksa walau gajinya masih sama seperti karyawan lain, tidak adil memang tapi inilah yang harus Mia lakukan sebagai pertanggung jawaban atas insiden salah paham itu tempo hari.
“5 menit lagi rapat.” Ucap Mia dan mulai kembali ke arah mejanya dengan kotak bekal makan siang yang masih tersisa beberapa potong lagi
“Setelah rapat?” tanya Leon, Mia dengan tergesa gesa kembali ke mejanya dan mengambil sebuah tablet yang di berikan Leon untuk mengatur jadwalnya
“Kosong, kau bisa beristirahat 1 jam sebelum menghadiri acara perjamuan menyambut investor yang berasal dari Prancis.” Jawab Mia yang membuat Leon mengangguk paham.
•••
Setelah kurang lebih satu jam setengah Leon menghadiri rapat walau terkadang beberapa kali ia memejamkan matanya karena mengantuk, tetapi berkat Mia dan rekan rekan yang lainnya sehingga rapat bisa berjalan lancar dan membuahkan hasil yaitu persetujuan akan di izinkannya Leon mengembangkan sebuah proyek di atas tanah pemilik perusahaan minyak yang nantinya akan bekerja sama dengan Leon.
“Aku akan beristirahat, jika ada seseorang yang datang kepadaku katakan jika aku sedang benar benar sibuk dan tidak ingin menemui siapapun.” Ucap Leon kepada Mia ketika mereka berdua sudah memasuki ruangan khusus Leon yaitu ruangan CEO
“Oke.” Jawab Mia
Leon menghampiri sofa panjang yang berada di dekat jendela kaca yang sangat besar, mulai melepaskan sepatunya dan melonggarkan dasinya sebelum akhirnya membuka jas hitam yang memperlihatkan kemeja putih yang mencetak otot lengan dan dadanya dan membaringkan tubuh kekar itu untuk menghilangkan rasa capek dan penat, walau begitu Mia tetap tidak tertarik karena baginya Reynold yang paling sempurna di antara laki laki Leon khususnya Leon, meski setiap hari Mia selalu memberi pesan dan chat kepada Reynold namun Reynold kerap kali membalasnya sehari atau dua hari setelahnya meski Mia mencoba untuk menelfon namun tetap Reynold tidak akan mengangkatnya, meski begitu Mia masih mencintai dan menunggu Reynold ke Amerika untuk bertemu kembali dengan Mia.