Terlihat seorang wanita yang sedang membuka pintu dengan perlahan masuk ke dalam rumah ketika pintu yang berdecit itu sudah setengah terbuka dan betapa kagetnya ia ketika menemukan sosok wanita tua yang sedang duduk di meja makan dengan sepasang piring dan sendok.
“Nenek? Kenapa belum tidur? Ini tidak baik untuk kesehatan nenek.” Ucap wanita itu di ambang pintu dan melepaskan sepatu miliknya lalu menghampiri neneknya yang sedang terduduk itu
“Kau sudah pulang? Tadi nenek menghangatkan sup untukmu tapi sekarang sudah dingin, maafkan nenek.” Ucap neneknya itu membuat wanita itu tersenyum lesu
“Tidak apa nek.” Jawabnya dan duduk di kursi di sebelah samping neneknya
“Apa nenek menungguku?” tanya wanita itu membuat nenek tua di depannya menggangguk, wanita itu tak bisa berkata apa apa.
“Nenek menunggumu di sini karena kau sedari pagi belum makan, kau bilang kau akan makan tapi kau langsung pergi begitu saja.” Ucap neneknya itu, walaupun sudah tua tapi kasih sayang kepada cucunya itu tak pernah memudar
“Sejak kapan nenek menunggu?” tanya wanita itu yang tak lain adalah Mia mengusap lengan neneknya itu
“Jam biasa ketika kau pulang ke rumah.” Jawab neneknya itu menangkup wajah Mia dengan tangan keriputnya
“Maafkan aku telat pulang nek, tadi ada beberapa tugas yang harus di selesaikan.” Ucap Mia berbohong, padahal keadaan yang sebenarnya adalah Leon selalu menyuruh Mia untuk melakukan ini-itu sehingga ia pulang telat namun Leon enggan untuk mengajak Mia pulang sehingga ia harus menunggu bus yang datang melintas dan itu cukup lama apalagi di malam hari.
“Tak apa, nenek tidak mau melihat cucu nenek yang cantik ini sakit dan menderita.” Jawab neneknya mengusap rambut cucu nya itu yang wajahnya terlihat seperti putrinya
Mia menatap sosok tua yang sudah keriput itu sosok yang selalu menemaninya di saat sendirian sosok pengganti ibu yang selama ini ia sangat rindukan, lalu tiba Mia tiba memeluk neneknya spontan, ia menumpahkan semua emosi yang selama mengendap di pikirannya yang selalu menghantui pikirannya sebelum tidur, rasa lelah, kecewa, dan tentunya rasa sesak yang selama ini ia rasakan, kini air matanya sudah tak bisa di bendung lagi dan mengucur secara tiba tiba
“Nek, apakah aku telah membuat kesalahan sehingga orang orang membenciku?” tanya Mia di sela isakannya dan tetap memeluk neneknya erat
Neneknya itu mengusap punggung dan puncak kepala cucunya lembut. “Tidak kau tidak melakukan kesalahan apapun.” Jawab neneknya berusaha menenangkan
Dan ketika tangan keriput itu mengusap sebelah kiri kepala Mia, di sana seolah olah ada noda yang mengendap dan lembab sontak nenek Mia atau yang bernama Claire itu melepaskan pelukannya dan bertanya kepada Mia mengenai noda apa yang ada di kepalanya itu
“Apa ini, Mia?” tanya Claire mengelus rambut Mia yang terdapat noda
Mia sontak ikut mengusap rambutnya sekilas dan tersenyum kepada neneknya. “Ah ini, ini karena rambutku kusut jadi seperti ini.” Elak Mia dan tersenyum lalu menarik tangan Claire dari rambutnya
“Kau terluka?” tanya Claire menyelidik, Mia berusaha menyela dan berbohong namun Claire melihat syal yang terdapat di dalam Mia yang terdapat noda darah
“Ini apa?” tunjuk Claire ke arah syal yang membuat Mia menarik nafas panjang
“Apa mereka melakukan hal jahat kepadamu?” tanya Claire, Mia berusaha untuk tidak menangis walau air mata sudah tak bisa di bendung lagi ketika mengingat bagaimana perlakuan Vidia terhadapnya
“Tidak.” Tolak Mia halus. “Mia....” ucap Claire halus karena ia tahu bahwa selama ini orang orang di kantor Mia sering kali berbuat hal yang tidak senonoh atau membuat hati Mia cukup terluka karena hampir setiap malam Mia menangis dan Claire selalu menemaninya.
Manik mata Mia sudah berkaca kaca, perlahan demi perlahan cairan bening hangat itu mengucur di pipi Mia dan bahu Mia bergetar sebelum akhirnya Claire menarik kepala Mia agar terbenam di dalam dekapannya
“Vidia membenturkan beberapa kali kepalaku ke atas meja, dan itu sedikit terluka jadi aku membalutnya dengan syal agar darahnya tidak kemana mana dan terserap oleh syal.” Ucap Mia di tengah isakannya, meski tadi Mia harus mematuhi Leon tapi untungnya Tuhan masih menyayanginya, meski Leon tak memberikannya untuk cuti setidaknya Leon memperbolehkan Mia melilit kepalanya menggunakan syal walau itu sangat sangat memalukan
“Ssshhh....sshhh.....cukup kau maafkan saja mereka, hatimu akan merasa lebih tenang nantinya walau memaafkan itu sulit.” Claire mengusap rambut Mia lembut sebelum akhirnya Mia tertidur di dekapan Claire dan Claire mengobati lukanya dengan obat yang seadanya.
•••
Terlihat seorang pria yang sedang berjalan masuk ke dalam rumah besar dan mewah, rumah itu seperti rumah orang orang kaya yang ada di drama drama, dan seorang pria yang berbalut kemeja putih dengan dasi yang masih menggantung di dadanya dan di bahunya tersampir jas hitam miliknya berjalan menuju pintu
Kedua tangannya selalu menempel di saku celananya ketika ia berjalan, dan ketika ia membuka pintu tersebut seketika itu juga funiture mahal terlihat di dalam seisi rumah, pria itu masuk semakin dalam hingga akhirnya bertemu dengan sosok wanita parubaya yang sedang memasak di dapur di tengah larut malam seperti ini
“Leon?!” ucap wanita itu antusias ketika melihat sosok anaknya tengah menatapnya di meja makan wanita parubaya itu yang tak lain adalah Rose atau Mrs. Kennedy ibu dari Leon
Wanita itu menghentikan kegiatannya dan menghampiri putra semata wayangnya itu lalu memeluknya rindu. “Maafkan mama, mama kemarin tidak bisa datang ke acara mu karena bibimu sakit jadi, mama tidak tega meninggalkannya.” Ketus Rose yang membuat Leon tersenyum dan memperlihatkan lesung di pipi kanannya
“Tidak apa, setelah acara pembukaan selesai aku langsung pergi menuju LA untuk menghadiri acara temanku.” Jawab Leon.
Rose melepaskan pelukannya. “Apakah papahmu bersama wanita lain?” tanya Rose yang membuat Leon menggeleng tidak tahu
“Tapi, aku sudah menyuruh seseorang untuk memata matainya dan dia bilang jika papahmu hanya mengobrol dengan sahabat sahabat sewaktu dia kuliah dulu.” Ucap mamahnya itu, Leon hanya mengangguk paham
Rose dan Eren betemu pertama kali ketika penerimaan mahasiswa baru di Oxfrod, di mana yang saat itu Rose di jodohkan oleh kedua orang tuanya Eren yang sama sama holang kaya, Rose mah setuju setuju aja karena tampang Eren yang sangat keren dan tampan seperti abang Louis Partridge apalagi Eren memiliki rambut hitam yang sangat mirip sekali dengannya bagaimanapun Rose setuju namun Eren menolak karena sikap Rose yang masih kekanak kanakan, namun perlahan Eren mulai terbiasa dengan sikap Rose dan mulai menyukainya hingga akhirnya mereka menjalin sebuah rumah tannga dan memiliki buah hati yang bernama Leon Kennedy, usia mereka terpaut 3 tahun dengan Eren yang lebih tua dibanding Rose.
Leon menarik kursi dan duduk di meja makan, sementara itu Rose sedang mengambil segelas air putih untuk putra sulungnya ini yang masih sempat mengunjungi dirinya walaupun di tengah malam di sela sela kesibukannya apalagi saat ini Kennedy Future sedang masa masa puncaknya, jadi membuang waktu seperti ini cukup merugikan
“Apakah kebiasaan mama ini tak pernah hilang? Selalu saja memasak di tengah malam seperti ini.” Tanya Leon, Rose hanya tersenyum polos sambil menyodorkan segelas air putih kepada Leon yang tengah duduk dan memainkan handponenya
Setika itu juga, Leon menaruh handphonenya dan mengambil gelas yang di sodorkan oleh ibunya dan meneguknya
“Dimana pacarmu?” ketus Rose dan melihat sekeliling rumah yang membuat Leon menyemprotkan air yang ada di dalam mulutnya dan membuatnya tersedak hingga batuk batuk
“Uhuk...Uhuk...”Leon terbatuk batuk sambil menekan nekan dadanya sementara itu Rose yang panik kembali menyodorkan air putih dan spontan Leon langsung meneguknya habis
“Kau tidak apa?” tanya Rose mengusap bahu Leon yang mulai melemas Leon menjawab hanya dengan anggukan,nafas Leon naik turun secara cepat dan tak teratur
“Ada apa dengamu?” tanya Rose ketika Leon sudah agak membaik dan tenang
Leon menggeleng. “Apakah papah yang memberitahukan kepada mama?” tanya Leon dan melirik Rose yang masih berdiri di sampingnya, Rose mengangguk
“Sekarang apa dia ikut bersamamu?” tanya Rose yang di jawab oleh Leon dengan gelengan kepala yang membuat raut wajah Rose sedikit kecewa, padahal ia sangat ingin sekali melihat wajah pasangan putera nya ini
“Jadi tujuan mama memanggilku ke sini hanya untuk melihat dia?” tanya Leon dan mulai melihat arloji miliknya
“Jadi mama sedari tadi menelfonku dengan alasan penting dan darurat hanya untuk itu?” Tanya Leon dan mulai memakai jas hitamnya yang terletak di kursi sebelah kanannya menutupi kemeja putih ketat yang mencetak otot lengan Leon dan d**a bidangnya
Rose mengangguk. “Eren bilang dia berambut hitam sama sepertimu, padahal di sini sangat sulit sekali untuk menemukan seseorang berambut hitam, kenapa kau tidak membawanya?” tanya Rose kecewa
“Ahhh, dia sedang sibuk jadi aku tadi lupa mengajaknya.” Elak Leon walau yang sebenarnya adalah Mia menolak dengan alasan sudah terlalu malam
"Leon, mama ini sudah tua mama ingin sekali melihatmu bahagia dengan sebuah keluarga dan seorang anak kecil yang nantinya akan menjadi cucuku kelak, mama ingin sekali menggendong seorang bayi dari hasil pernikahan mu. " Akhirnya Rose mengutarakan isi hatinya selama ini, karena jika Rose sudah menyinggung pernikahan Leon akan segera pergi maka dari itu Rose jarang sekali membicarakannya.
“Baiklah ma, jika mama tidak ada hal lainnya lagi aku akan pamit pulang ke apartemenku, temanku mengatakan bahwa ia sudah sampai di sana.” Pamit Leon dan membuat Rose menahan lengan Leon apa yang di diprediksi nya benar, Leon akan segera melenggang pergi
“Tunggu dulu ada satu hal lagi.” Rose menatap manik mata Leon, Leon hanya bisa diam dan setuju lalu menarik nafas panjang
“Sudah berapa lama hubungan kalian?” tanya Rose yang membuat Leon memutarkan bola malas. “Mama akan tahu sendiri, aku menjalin hubungan dengannya hanya demi mama dan papah yang selalu saja memintaku untuk mencari pasangan.” Jawab Leon lalu berpamitan kepada mamanya setelah itu melenggang pergi melangkah menuju ke arah luar
“Kau tidak akan menginap? Ini sudah larut malam!” teriak Rose yang kembali ke aktivitas semulanya yaitu membuat spageti di tengah larut malam seperti ini sambil menunggu Eren pulang
“Tidak ma, temanku sudah menunggu di apartement.” Jawab Leon dan melenggang pergi
“Siapa temanmu itu?” Tanya Rose yang masih kepo sambil teriak di dapur sementara Leon sudah hampir sampai di ruang tamu
“Pria blasteran yang menyebalkan itu!” jawab Leon ikut teriak sebelum akhirnya ia benar benar menghilang dari balik pintu