03

1570 Kata
Terlihat mentari yang perlahan sinarnya mulai merambat menuju sebuah rumah kecil dengan cat yang sudah, sinar itu perlahan masuk ke dalam jendela seorang wanita yang kini tengah sibuk membereskan tempat tidur miliknya “Ah jam berapa ini? Aku belum menyiapkan sarapan untuk nenek!” gumam gadis itu dan melirik sebuah jam kecil di meja nakas yang terletak di atas ranjang kecil gadis itu “Oh astaga!” pekik gadis itu dan mulai membereskan kamarnya dengan cepat lalu pergi menuju dapur untuk menyiapkan sarapan neneknya yaitu sup dengan nasi Sambil menunggu sup matang, gadis itu perlahan pergi menuju kamar neneknya dan membangunkannya perlahan dan memapah tubuh yang sudah rapuh itu menuju meja makan “Apa kau sudah makan?” tanya nenek itu dengan suaranya yang pelan, rambutnya sudah berubah yang semula pirang kini berwarna putih karena uban dan tubuh yang dulu sehat bugar kini harus di serang oleh berbagai macam penyakit komplikasi khususnya penyakit jantung yang sudah bersarang di tubuhnya semenjak kepergian mendiang suaminya. Mia menggeleng dan mengisi salah satu mangkuk dengan nasi dan yang satunya lagi dengan sup. “Aku akan makan setelah nenek.” Jawab Mia dan duduk di samping neneknya Mia menumpahkan setengah nasi lalu menuangkannya ke dalam mangkuk yang berisi sup, mencampurnya lalu menyendok nasi tersebut dan ditiupnya perlahan, setelah dikiranya dingin Mia menyodorkan suapan nasi tersebut ke arah neneknya, neneknya yang sudah mengetahui apa yang di lakukan Mia otomatis membuka mulut dan Mia perlahan menyuapi neneknya yang sedang sakit itu “Makanlah perlahan, aku akan berangkat ketika nenek sudah makan.” Ucap Mia dan kembali meniup suapan nasi lalu menunggu neneknya itu selesai mengunyah dan menyuapinya lagi. Setelah kurang lebih 40 menit, Mia telah selesai menyuapi neneknya dan memandikan neneknya,kini saatnya ia pergi bekerja dan meninggalkan neneknya seorang diri di rumah,walau Mia sempat cemas dan khawatir jika nanti ketika ia bekerja dan terjadi apa apa dengan neneknya karena tidak ada siapapun di rumah namun neneknya itu selalu mengatakan kepada Mia bahwa dirinya akan baik baik saja dan membuat Mia sedikit tenang walau rasa khawatir sering kali menghantui kepalanya “Nek, aku akan berangkat kerja dulu, hati hatilah di rumah jika ada seseorang yang mengetuk pintu siapapun itu jangan di buka, jika ingin pergi ke kamar mandi hati hatilah di sana licin, aku sudah menyiapkan roti dan s**u jika nenek menginginkan cemilan.” Ucap Mia dan mencium kedua pipi neneknya dengan tulus karena satu satunya orang yang berharga bagi Mia adalah neneknya “Hati hati di jalan.” Jawab neneknya itu dengan suara yang kecil dan mencium pipi cucu sematang wayangnya Mia menggangguk. “Nek, aku berangkat.” Ucap Mia ketika di ambang pintu dan pergi meninggalkan neneknya yang sedang sakit tersebut, meski ia tak tega tapi jika ia sering terlalu mengambil cuti maka, gaji ia akan di potong apalagi aturan kerja di tempat di hitung perjam dan akan rugi jika tidak masuk kerja selama beberapa hari. “Oh God, jagalah nenek.” Gumam Mia sebelum ia benar benar menghilang di balik pintu. ••• Terlihat seorang wanita yang sedang pergi menuju meja kerjanya yang berada di paling ujung di banding yang lain, atmosfer yang berbeda biasanya memenuhi rungan itu seolah olah akan ada suatu hal yang terjadi yang membuat Mia beberapa kali melirik rekan kerjanya yang lain dengan tatapan penasaran, namun mereka malah menatap Mia tak suka dan mendorong Mia dengan kasar agar ia sampai di meja miliknya “A-aw..” pekik Mia kesakitan ia menghantam sebuah meja karena seseorang yang mendorong dari belakang “Dasar jalang!” ketus seorang wanita yang tadi mendorong Mia dengan kasar dan menjambak rambut Mia “A-aaw! Apa yang kau lakukan Vidiya?” tanya Mia kepada seorang wanita berambut pendek yang menjambak rambutnya kuat, baru saja Mia masuk kerja sudah harus di hadapkan dengan ujian seperti ini Wanita yang bernama Vidia itu memutarkan kepala Mia. “Lihatlah sekelilingmu!” ucap wanita itu, Mia berusaha melepaskan jambakan Vidia dengan cara melawan namun Vidia lebih dulu menahan kedua tangannya. “Kau tahu hal apa yang baru saja kau lakukan?” tanya Vidia yang membuat Mia spontan menggeleng tak tahu “Bos mempromosikan jabatanmu menjadi sekretarisnya! Padahal dari dulu aku sudah berusaha keras melakukan berbagai cara untuk dipromosikan menjadi sekretarisnya! Tapi lihatlah jalang kecil ini! Kau bahkan tak pernah melakukan pekerjaan dengan benar tapi tiba tiba bos melakukan ini kepadamu?! Apa kau menjual tubuhmu kepada bos hah?!” teriak Vidia kesal karena bagaimanapun ia merasa tak terima jika gadis miskin yang jelek tiba tiba di angkat jabatan dan menjadi sekretaris bagi tuan muda Leon dimana itu adalah pekerjaan impian bagi semua wanita yang bekerja di sana. “Aku sungguh membencimu Mia! Arghhh....” Vidia semakin keras menjambak rambut Mia dan beberapa kali membenturkan kepalanya ke atas meja dengan keras sehingga menimbulkan suara gaduh yang membuat para teman teman Vidia di sana menghentikan aksinya karena merasa langkah Vidia terlalu jauh dan bisa menyebabkan bahaya “Hey! Vidia hentikan itu!” ucap seorang wanita berambut pirang panjang mencekal pergelangan tangan Vidia dan beberapa orang lagi mengambil Mia dari cekalan Vidia “Lepaskan aku!” Teriak Vidia berusaha melepaskan cekalan temannya itu. “Hey hentikan! Jika kau terus membenturkan kepalanya itu akan menjadi bahaya dan kau bisa bisa di penjara karena melakukan tindak kekerasan! Bahkan kau bisa di pecat!” teriak perempuan berambut pirang itu yang membuat Vidia sedikit terdiam “ Jangan karena gara gara wanita ini kau menderita! Meskipun aku juga membencinya dan tak suka padanya tapi jangan terlalu jauh!” tambah wanita berambut pirang itu yang bisa membuat emosi Vidia sedikit reda Wanita berambut itu melepaskan cekalannya ketika emosi Vidia sedikit mereda, sementara itu kondisi Mia dia sedang terduduk dengan memegang kepalanya sebelum akhirnya ada seorang pria yang mengatakan kepada Mia bahwa bos besarnya mencarinya Mia berusaha bangkit walau sakit di kepalanya semakin menjadi jadi, rasa pusing menjalar seketika itu juga ketika Vidia membenturkan kepala Mia ke meja bukan hanya sekali namun Vidia beberapa kali membenturan kepala Mia ke atas meja dengan keras “Cukup Vidia cukup!” Teriak wanita berambut pirang itu menahan lengan Vidia ketika ia hendak melangkah ke arah Mia “Kita akan membalasnya lain kali.” Tambahnya yang membuat Vidia terdiam, kini rasa kebencian Vidia kepada Mia semakin menjadi, semenjak kehadirannya Vidia sering kali mendapat masalah dari atasannya karena kerap kali mendapat laporan dan itu semua karena ulah Mia yang tidak becus dalam bekerja dan Vidia juga beberapa kali harus bekerja lembur tanpa upah demi mempertanggung jawabkan laporan yang di buat di divisi nya dan itu membuat Vidia membenci Mia karena Mia kerap kali membuat Vidia berada dalam masalah. ••• “KEMANA SAJA KAU HAH?” Teriak Leon ketika Mia membuka pintu dan duduk di hadapan Leon “Maaf.” Ucap Mia lemas dan menunduk “APA KAU TIDAK MEMBACA BANNER YANG AKU SIAPKAN DI DEPAN RUANGANMU UNTUK KENAIKANMU?” Lagi lagi Leon teriak yang membuat Mia memejamkan mata dan berusaha menahan rasa nyeri di kepalanya Ketika di dalam Lift, Mia beberapa kali sempoyongan dan rasa sakit yang berdenyut di kepalanya tak pernah reda entah karena Vidia yang terlalu keras menjambak atau entah karena dirinya yang tidak sarapan ketika tadi pagi yang jelas rasa sakit di kepalanya terus berdenyut Dan ketika Mia memegang sudut kepalanya yang tadi sempat di benturkan oleh Vidia, di jarinya berbekas noda merah dan itu adalah darah , meski darahnya tidak mengucur banyak tetapi tetap itu terasa sakit. “Maaf.” Ucap Mia dengan kata yang sama “Hey! Apakah ini sikap yang pantas kau tunjukan kepada atasanmu?” tanya Leon dengan nada tinggi yang membuat Mia tak kuasa untuk menahan tangis “Seharusnya kau bersyukur kau di promosikan dengan cepat, bahkan aku rela memecat sekretarisku yang sangat berguna demi untukmu! Tapi kau malah terlambat di hari pertamamu? Bahkan aku harus menyuruh seseorang untuk memanggilmu!” omel Leon yang membuat air mata Mia mulai membanjiri wajahnya yang sedang menunduk, sungguh Mia tak sanggup menahan tangis ketika kondisinya seperti ini tidak ada seorang pun yang menanyakan bagaimana kondisinya, mungkin jika Reynold di sini maka akan ia akan memeluk Mia dengan kuat. “Hey! Apa kau mendengar perkataanku?!” tanya Leon menarik dagu Mia “Kenapa kau menangis?! Arghh wanita memang lemah!” ejek Leon, spontan Mia menepis lengan Leon dari dagunya dan mengusap air matanya cepat “KENAPA KAU MENJADIKANKU SEBAGAI SEKRETARISMU HAH?! JIKA KAU TAK MELAKUKAN HAL INI MAKA AKU MUNGKIN TIDAK AKAN SEPERTI SEKARANG!” Teriak Mia, kini emosi yang sedari tadi ia ingin keluarkan akhirnya meluncur dengan mulus dan membuat beban Mia sedikit mengurang “Kau telah menjalin kontrak denganku, jadi aku harus membuatmu lebih dekat denganku untuk menghindari prakira orang orang yang bisa membuat curiga.” Jawab Leon santai “Aku bahkan tidak setuju!” jawab Mia tegas “Sudah kubilang kupunya uang dan kupalsukan tanda tanganmu karena kau sendiri yang memintanya, dan urusan di antara kita selesai, kau tinggal berpura pura menjadi pacarku dalam 5 bulan dan setelah 5 bulan hubungan di antara kita selesai, kau bisa bersama pacarmu itu dan aku bisa kembali ke pekerjaanku.” Sela Leon dengan mudahnya yang membuat Mia kesal  "Hey! jika aku bilang tidak, maka tidak." Ucap Mia tak mau kalah  "Kau punya hak apa melarangku?" tanya Leon yang membuat Mia terdiam "Ehm... hak sebagai sekretarismu!" ucap Mia yang membuat  Leon tersenyum puas. "Bagus sekarang kau sudah mengakuinya dan itu berarti kau tidak bisa menolaknya." Ketus Leon yang membuat Mia menyesali perkataannya  "Tapi apakah boleh jika aku sekarang izin pulang? kepalaku sangat sakit." Pinta Mia yang terdengar di telinga Leon seolah olah itu adalah alasan  "Itu bukan urusanku, jadi ku katakan tidak!" tolak Leon kasar dan kembali menghadap layar laptop miliknya  "Kau boleh pergi ke hadapanku dan berikan jadwalku hari ini." tambanhya dengan tegas tanpa meliirik Mia sekalipun, Mia hendak membela diri namun dengan cepat Leon memotongnya seolah olah sudah tahu apa yang akan ia lakukan. "Tidak ada tapi, tidak ada penolakan!" tegas Leon yang membuat Mia menarik nafas pasrah walau sakit kepalanya semakin menjalar sebelum akhirnya ia pergi ke arah meja yang berada di seberang meja Leon dengan langkah yang goyah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN