Srett, Julian membuka pintu keluar dan dikejutkan kedatangan Queen yang ada di depannya. "Surprisee!!!"
"Queen?" Julian tak percaya Queen ada di rumah sakit apalagi membawa buah-buahan segar.
"Nih aku bawain buah sama bekal makan, aku yang buat sendiri lho!" Queen menyombongkan diri
Julian menerima pemberian Queen dan menpersilakan Queen masuk ke dalam ruang rawat. Kondisi Malika masih sama, belum ada tanda-tanda kesadaran.
"Aku yakin kamu pasti belum makan, jadi aku buatin bekal." Queen meletakkan bekal itu di meja dan mengeluarkan isinya.
Sementara Julian, dengan kondisi masih terpuruk—selain karena mamanya yang saat ini tengah dirawat juga karena kebenaran yang ia dapat dari mamanya sebelum kecelakaan.
Saudara?
Dirinya dan Angel?
Julian bahkan sulit menerima kenyataan kalau dirinya dan Angel adalah saudara.
"My Prince!" Queen menghampiri Julian yang saat ini terduduk melamun.
"My Prince!" Panggil Queen lagi membuyarkan lamunannnya.
"Julian!" Queen kembali meneriaki namanya. Julian tersentak kaget.
"I-iya?!"
"Kamu ngelamun ya? Ini aku buatin makanan, kamu makan ya!" Queen menyodorkan bekal yang dibawanya.
Bekal yang berisi nasi lengkap dengan sayuran dan telur gulung. Saat Julian menerimanya dan akan menyendok salah satu telur gulung itu, tampak ada beberapa bagian yang gosong.
"Maaf, aku baru belajar masak dari mama, tadi waktu goreng telurnya, eh gosong deh, tapi aku udah nyoba kok beberapa kali, ya sama aja sih. Tapi ini yang ketiga kalinya dan sedikit berhasil."
Julian mengulas senyum tipis, ia lantas mengambil telur gulung yang gosong itu dan memakannya. Queen begitu antusias.
"Gimana?" Queen ingin tahu respon dari makanan pertama yang dibuatnya. "Enak nggak?"
Uhuk, Julian tersedak. "Asin!"
"Benarkah?" Queen lalu mencicipinya dan benar saja—asin bahkan bisa dibilang sangat asin.
"Asin!" Queen tampak kecewa dengan apa yang dibuatnya. Kembali ia mengambil bekal itu. "Jangan dimakan, nanti kamu sakit perut. Besok aku buatkan yang lebih enak lagi."
Saat Queen hendak menutup bekal itu, Julian mencegahnya. "Siapa yang bilang aku nggak mau makan, sini!" Julian merampas bekal itu lagi dan kembali memakannya.
"T-tapi??" Queen ragu. Namun terlihat Julian makan dengan lahapnya sampai habis tak tersisa. Queen yang melihat Julian makan makanan kesukaannya sangat senang.
"Makasih Queen!"
Queen tersenyum menganggukkan kepala. "Besok akan kubuatkan lagi!"
"Nggak, nggak usah repot-repot."
"Tapikan aku mau buat lagi."
"Nggak usah Queen!" Julian sadar kalau makanan Queen sangat kacau. Bahkan bisa dibilang semuanya asin. Julian sendiri hampir muntah. Namun ia tahu niat baik Queen yang membuatkan bekal untuknya dan Julian menghargai itu.
***
Hari itu, tak disangka Angel dipanggil oleh Oma secara pribadi di ruang kerjanya. Hal itu sama sekali tak diketahui Rey, dan ini untuk pertama kalinya Angel berhadapan dengan Oma dari keluarga Raveno. Rasa canggung dan takut dapat dirasakan Angel ketika ia menginjakkan kaki masuk ke ruangan besar itu.
Di sana sudah ada Stefanus dan oma yang menunggu kedatangannya. "Permisi Oma!"
Oma langsung menoleh saat kedatangan Angel, ia langsung bangkit dan menyambut kedatangan Angel. "Angel Alia?"
Angel mengangguk. Ia sendiri tak tahu kenapa Oma sangat ingin menemuinya.
"Oma mencari saya?"
Oma berjalan mendekati Angel. Gadis itu tertunduk takut. "Jadi kamu yang bernama Angel?"
Angel mengangguk.
"Stefan, apa dia anaknya?" tanyanya pada anak Stefanus—anaknya.
Stefanus mengangguk."benar Ma, dia Angel!"
Oma mengangguk, Angel sendiri tak paham dengan apa yang sedang dibicarakan keduanya. "Maaf oma, memangnya ada perlu apa saya dipanggil kesini, apa saya melakukan kesalahan?"
"Bukan Angel!" ujar Stefanus.
"Ayah kamu bernama Ardiandra?"
Angel terkejut, bagaimana omanya tahu tentang Ayah.
"Kamu tahu kenapa saya memanggilmu ke sini Angel?" Angel kembali menggelengkan kepala.
"Angel, kamu tahu siapa Malika itu?" Stefanus kembali berbicara.
"Tante Malika?" Angel bingung kenapa tiba-tiba membicarakan Malika.
"Dia istri om," jawab Angel mantab.
"Angel, kamu tahu alasan kenapa ayah kamu membawamu ke keluarga ini?"
Angel menggeleng, "ayah bilang, saya harud bertemu dengan keluarga Raveno.
"Hanya itu saja yang Ayah kamu katakan?"
"Ayah juga bilang, saya harus menemui seorang perempuan bernama Malika," lanjutnya lagi.
"Ayah kamu benar Angel, dia memang sengaja membawamu kesini karens suatu hal."
Angel semakin tak paham dengan arah pembicaraan ini. "Maksud Om?"
Stefanus menghela nafas panjang dan mendekati Angel. "Istriku pernah meminta padaku untuk menjagamu, dia lah alasan kamu mendapatkan beasiswa di sekolah itu dan membawamu kesini."
...
Ray yang baru keluar dari kamar dan saat hendak turun ke bawah, tak sengaja pandangannya malah tertuju pada Angel yang saat ini berada di ruangan omanya.
"Angel?!" Langkahnya terhenti, Ray lantas mendekat pelan.
"Kenapa Angel ada di ruangan Oma?" tanyanya penasaran.
....
"Kamu tahu siapa Malika sebenarnya Angel?" Stefanus kembali bertanya. "Dia tak lain adalah mama kandungmu."
Deg!
Angel kaget. Malika? Mamanya?
"Kamu dan Julian adalah saudara, hanya saja, Julian memilih darah denganku sementara kamu memiliki darah dari laki-laki itu—ayah kamu."
Deg!
Angel masih mencerna dari apa yang barusan diucapkan Stefanus. Mama? Jadi selama ini Malika adalah mamanya?
"Om Stefan nggak bercanda kan. Pasti om Stefan bercanda nih, masa saya saudara Ray dan Julian?" Angel tak percaya.
Stefanus mengangguk.
Angel masih sulit menerimanya. Saudara dengan Julian? Ray? Itu nggak mungkin
"Apa-apaan ini Pah?!" Ray masuk secara tiba-tiba ke dalam ruangan omanya.
"Apa maksud papa barusan? Saudara, aku dan Angel saudara?" Ray rupanya menguping pembicaraan mereka dari luar.
"Ray!"
"Ray, apa kamu tidak punya sopan santun masuk tanpa izin?" Bentak omanya marah.
"Maaf oma, aku hanya ingin memastikan kalau Angel bukanlah kita." Ray bersikukuh.
Ray yang masih mematung tak sempat untuk sekedar mengucapkan kata. Ia masih tak percaya sebuah kenyataan yang mengatakan kalau Julian dan Ray adalah saudaranya.
"I-ini nggak mungkin!"
"Aku juga nggak percaya, mana mungkin Angel adalah anak mama Malika, itu artinya dia adik Julian begitu?" tanya Ray dengan nada tinggi.
"Ray, Angel memang bagian dari keluarga ini, dia adalah kakak kalian."
"Kakak?" Ray semakin tak percaya. "Ini nggak mungkin pah, ini mustahil. Bagaimana bisa Angel adalah kakak kita? Kakak dari ayah yang berbeda begitu?" Ray benci dengan omong kosong ini.
"Sandiwara apa yang sedang kalian mainkan?"
"Dia sama sepertimu Ray. Anak haram!" ucapan oma kali ini membuatnya semakin kesal.
"Mah, jangan katakan itu pada Ray!"
Oma membantah, "untuk apa kamu masih membela anak ini, jelas-jelas perempuan pembawa sial bernama Lara adalah dalang dari semua masalah ini."
"Mama Lara? Kenapa kalian jadi membicarakan mama Lara?"
"Ray, sebenarnya..."