Chapter 48: Rumah Sakit

914 Kata
Tap tap tap... Suara langkah kaki berlari dari koridor rumah sakit dengan sedikit terburu-buru. Ray dan Angel berlarian menuju ke ruang operasi tempat Malika kini berada. "Ray, di sebelah sana!" Angel melihat Julian dari kejauhan, keduanya langsung menghampiri. "Julian!" Kondisi saat ini, Julian masih syok berat dengan kejadian yang barusaja dialaminya, ia merasa bersalah atas dirinya dan penyebab kecelakaan itu terjadi. Beberpa kali Julian memanggil-manggil mamanya sambil terisak. "Mama!" "Jul!" Ray duduk di sebelahnya dan menepuk bahunya sekilas. Julian masih tertunduk lesu. "Ini semua salah gue Ray, mama jadi kecelakaan." "Udahlahh, ini kecelakan. Lo nggak usah nyalahin diri sendiri." Ray menenangkannya. Angel yang melihat Julian ikut menenangkannya. "Julian!" lirih Angel pelan. Julian mendongak melihat Angel juga ada di sana. Tiba-tiba isak tangisnya terhenti saat melihat Angel, ia langsung bangkit dan langsung mendorong Angel begitu saja. Sontak Ray yang melihat sikap Julian ikut terkejut. "Ini semua salah lo!" Tuduh Julian memandang sinis Angel. "Julian, lo apa-apaan sih!" Ray menarik kerahnya marah. Namun wajah yang ditunjukkan Julian sama sekali tak ada rasa bersalah sedikitpun. "Kenapa lo dorong Angel segala?" Julian menatap datar gadis itu." Kenapa? Karena-akar permasalahan ada pada gadis itu!" Tunjuk Julian. "Julian?!" Angel tak tahu maksd ucapannya. "Aku kenapa?" "Lo pikir aja sendiri!" Setelah mengucapkan kalimat itu, Julian memilih pergi meninggalkan keduanya. Ray dan Angel tak habis pikir dari ucapan Julian tadi, salah Angel? Apa maksudnya? "Julian marah sama aku?" Angel tak percaya. Ray mencoba menenangkannya, "kamu nggak salah, mungkin tadi Julian lagi emosi." *** Arghhhhh, Julian mengepalkan tangan dan langsung mengarahkan ke tembok dengan sekali pukul penuh emosi. Darah keluar dari tiap sisi jemarinya. Ia frustasi. Kakak? Dia kakak aku?" Malika mengangguk. Julian tak percaya, " nggak mungkin, nggak mungkin kami ini saudara." Julian melangkah mundur. "BAGAIMANA AKU BISA MENYUKAI SAUDARAKU SENDIRI MAH?!" Arghhh, sekali lagi tangan Julian ia oukulkan kembali ke tembok hingga bekas darah tertempel di tembok berwarna putih itu. Julian beringsut jatuh ke bawah. "Nggak mungkin!" Arghhhhh, Julian kembali berteriak kencang. Sementara itu, Ray dan Angel masih menunggu ruang operasi. Wajah kecemasan menyelimuti keduanya. "Ray!" Angel memanggilnya. "Apa Julian benar-benar marah sama aku?" "Angel, udahlah. Kecelakaan ini nggak ada kaitannya sama kamu, okey!" Beberapa menit kemudian, Stefanus dan pak Ari datang dari kejauhan. Diikuti omanya yang ikut ke belakang. "Papah... oma!" Lirih Ray berdiri melihat kedatangan mereka. "Ray, bagaimana keadaan mama kamu?" Stefanus terlihat sangat khawatir. "Masih ditangani dokter pah!" Oma yang berada di belakang tiba-tiba berdiri di depannya. Plak, satu tamparan diterima Ray dari tangan omanya cukup keras, hal itu dilihay langsung oleh Angel dan Julian dari kejauhan. "Ini pasti ulah kamu? Anakku dalam bahaya!" "Mah, udah. Ray nggak salah apa-apa!" Ray pasrah dan diam saja, satu tamparan tadi begitu keras hingga membuat nya nyeri di pipinya. "Julian, mana cucuku Julian?" Omanya langsung mencari keberadaan Julian. "Mana Julian?" Tanyanya kembali pada Ray dengan nada tinggi. "Aku di sini Oma!" Oma langsung menghampiri Julian dan memeluknya."kamu pasti sangat syok sayang!" Julian mengangguk. "Mama kamu pasti akan baik-baik saja!" Angel sekarang paham ada perbedaan dari kedua saudara itu di sini, antara kasih sayang dari omanya pun tak diterima Ray dengan tulus. Seperti ada kesenjangan dan pilih kasih yang dialami kedua saudara itu. "Ray!" Angel memanggil lirih diikuti tangannya menggenggam erat tangannya. Perasaan sakit hati Ray perlahan hilang dan kembali tersenyum saat Angel menggenggam tangannya. Sementara untuk urusan perawatan Malika yang sudah diurus oleh keluarga Raveno. Kini Ray memilih untuk pulang ke rumah meninggalkan Julian yang masih ada di rumah sakit Di mobil. Brian dan Max yang mendengar kabar itu ikut syok. "Terus gimana keadaan nyokap lo Ray?" "Ada Julian yang jagain nyokap!" "Gue sama Angel sekarang!" Tut tut tut... ponsel sengaja diputus sepihak oleh Ray. "Ray!" Angel kembali memanggil namanya. Dapat terlihat bagaimana terpukulnya Ray saat mendapat tamparan tadi. .... "Mama nggak perlu nampar Ray tadi, Ray tadi nggak salah apa-apa mah!" Bela Stefanus selaku ayahnya. "Bukan apa-apa kamu bilang? Ray bukan cucuku!" "Dia cucu mama, darah dagingku!" Oma berdecak, "anak berandal itu? Bisa apa sekalian merusak nama baik keluarga Raveno?" Julian yang mendengar hanya bisa diam, membantah ucapan omanya tak pernah berhasil, kekuasaan wania tua itu sungguh diluar kekuasaannya bahkan anaknya pun tunduk pada wanita yang ia sebut 'mama' itu. ... "Dari dulu oma nggak pernah suka aku ada di keluarga ini!" Ray mulai bercerita. "Kamu nggak pernah nanya, alasan dan kenapa sikap oma seperti itu?" tanya Angel. Ray menggeleng. "Untuk apa? Untuk aku ditendang dari keluarga Raveno?" Ray tertawa singkat seakan kesal pada diri sendiri. "Aku bahkan meragukan siapa dan di mana aku berasal, seperti kata orang-orang tentang rumor anak haram itu." "Ray!" "Mungkin rumor itu, aku memang anak haram dari keluarga Raveno. Alasan mama dikirim ke Singapura, dan alasan kenapa aku nggak boleh bertemu dengan mama kandungku. Bukankah ini aneh Angel?" "Kamu nggak nanya sama papa kamu soal kebenaran itu?" "Kalau aku anak haram? Iya?" "Ray!" Angel makin kesal. "Aku tahu kamu kesal sama oma, tapi kamu harus lebih memahami situasi ini. Pasti ada alasan kenapa  sikap oma benci sama kamu." "Alasan apa lagi Ngel? Dari kecil sikap oma nggak pernah berubah, dia nggak pernah mandang aku, sama sekali!" Angel tak bisa berbuat apa-apa selain mencoba menenangkan Ray. Di sisi lain, ia juga mulai penasaran alasan dan kenapa sikap oma sangat berbanding terbalik dengan Julian. Apa yang salah dengan Ray? Bukankah Ray juga cucunya? *** 22.30 WIB Setelah dipindah ke ruang perawatan dengan kondisi yang masih kritis. Julian terus mendampingi mamanya bahka tak beranjak sedikitpun dari mamanya. "Mah bangun. Maafin Julian!" .... "Selamat malam Angel!" "Selamat malam!" Ray langsung masuk ke kamarnya setelah melihat Angel lebih dulu masuk ke kamarnya. Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN