Chapter 47: Dia Mika

1178 Kata
Yudha yang berada dari kejauhan mengamati sekitar, tampaknya ia mengamati setiap gerak-gerik Angel. "Target sudah ditemukan!" Beberapa pengawal yang membantu pengamanan di pesta itu pun siaga. Sementara sang pemilik rumah—kakek William memberi sambutan, banyak tepuk tangan dari para kolega-kolega yang menghadiri acara pesta itu. Tampaknya Romi juga ikut di sana dan mengamati jalannya acara. Namun tiba-tiba, sesuatu terjadi saat tak sengaja Ray mendorong Leon hingga menimbulkan keributan kecil hingga menajatuhkan beberapa makanan dari nakas yang tersaji di meja panjang. Leon tersenyum licik melihat amarah Ray saat ini. Sementara Angel berusaha menahan Ray untuk tak membuat keributan di sana. "Ray udah!" Leon tersenyum picik. "Mau mengulang kejadian yang sama Ray?" Ray tersadar kalau dirinya telah dijebak Leon sekarang. Kini semua orang tertuju menatapnya. Bahkan ada beberapa berbisik-bisik tentang dirinya. "Bukannya itu cucu dari keluarga Raveno?" "Julian?" "Bukan, Julian tidak mungkin bersikap sekasar itu. Atau mungkin anak haram yang dimaksud itu.." "Iya, anak dari keluarga Raveno yang memiliki dua istri." Suara demi suara membuat Ray semakin geram. Kejadian ini sama persis dengan kejadian 1 tahun yang lalu dan alasan kenapa keluarga Raveno dilarang menghadiri pesta besar. Tapi entah kenapa pesta besar ini, keluarga Wiliam mengundang keluarga Raveno untuk datang. Ray mengepalkan tangannya marah. Namun, saat itu juga Angel langsung menenangkanya dengan menggenggam tangan Ray untuk tak tersulut emosi. Leon yang melihatnya terlihat geram. Leon bangkit seakan menentang Ray kembali. Namun Ray seperti tak terpengaruh. Ia justru membawa Angel untuk pergi dari pesta itu secepatnya. Tak peduli banyak pasang mata menatap mereka angkuh termasuk kakek Wiliam yang mengenal gadis yang bersama Ray itu. ... "Maafin aku Angel!" Angel paham, tadi sikap Ray hanya terbawa emosi bukan karena keinginannya. "Aku melakukan kesalahan lagi." "Ray!" Angel memanggilnya. "Kamu nggak salah!" "Aku memang anak haram, seperti yang dikatakan Leon. Aku bahkan nggak seharusnya berada di keluarga Raveno." "Ray, jangan bilang gitu. Kamu tetap keluarga Raveno bukan anak haram." "Jangan pedulikan ucapan Leon. Dia hanya ingin membuatmu marah bukan? Dan dia berhasil tadi, tapi kamu—kamu bisa menahan amarah itu. Itu hebat!" Ray terdiam. "Ray, tentang siapa kamu dan dari mana kamu berasal itu nggak penting. Kamu tetap Ray yang aku kenal!" Saat itu sebuah pelukan diterima Angel dari Ray erat. "Terima kasih!" Angel tersenyum sambil membelai punggung Ray berusaha menenangkannya. *** Malam itu, Julian diam-diam masuk ke kamar mamanya. Ia mendapati kamar itu kosong. Kamar itu juga tampak rapi dan bersih, menandakan Malika memang belum pulang. Wanita itu memang sangat sibuk dengan bisnis fashionnya. Malika sosok wanita karir yanf memiliki kepintaran dalam mengelola fashion, sudah banyak produk yang telah ia kembangkan dan telah memiliki toko dari usahanya. Kecintaannya terhadap Fashion ia tekuni sejak masih kuliah dan meneruskan jurusan Fashion yang ia impikan. Dari semua foto-foto yang terpajang di kamar itu, Julian lebih banyak melihat foto kesuksesan mamanya saat mendapatkan banyak penghargaan. Salah satu yang Julian ingat ketika Mamanya sedang menggelar ajang fashion show, saat itu Julian mendampingi mamanya di balik bangku penonton sambil membawa bunga untuk mamanya. Saat Julian tengah mengenang bingkai foto yang terpajang di atas meja, tak sengaja ia menyenggol salah satu foto itu hingga pecah. Beruntung tak ada yang mendengarnya, segera Julian mengambil bingkai foto itu. Saat akan mengambil pecahan kaca bingkai itu, Julian tak sengaja melihat foto lain yang disembunyikan dari bingkai yang jatuh itu. "Apa ini?" Julian mengambil foto yang tersembunyi di baliknya. "My dear Angel." "Angel?" Julian menautkan kedua alis, bingung. "Ini foto Angel? Kok bisa ada di sini?" "Mama memang menyembunyikan sesuatu." Karena penasaran, Julian bermaksud menggeledah kamar mamanya mulai dari laci meja, dan meja kerja mamanya, sampai ia menemukan sebuah amplop cokelat di atas meja meja mamanya. *** Apa maksud dari semua ini Mah!" Julian masuk ke kantor tempat kerja Malika dengan membawa amplop berisi foto seorang anak kecil dan laki-laki, di dalam foto itu juga terdapat surat yang ditujukan untuk Angel. Untuk anakku, Angel. Kedatangan Julian yang tiba-tiba mengejutkan beberapa karyawan bawahan Malika yang bekerja di butik itu. "Kamu apa-apaan Julian?" "Jelaskan semua ini, kenapa ada foto Angel dan seorang pria, dan ada juga foto mama dengan pria lain yang bukan papah. Siapa dia Mah?" Malika mengeluarkan berkas itu dari dalam amplop. Betapa terkejutnya ia melihat banyak foto masa lalunya di sana, dan salah satunya ada foto Angel saat kecil. "Untuk apa kamu mencari tahu semua ini Julian?" Bentak Malika. "Julian hanya ingin tahu, apa hubungan Mamah dengan Angel. Kenapa sikap Mamah begitu beda sama Angel." "Julian, mamah bisa jelaskan!" "Dan siapa pria ini Mah, kenapa begitu mesra sama Mamah?" Julian semakin curiga. Malika mengatur nafasnya, pikirannya bergerumun kacau. Bagaimana ia harus menjelaskan semuanya pada Julian padanya. "Julian, dari mana kamu mendapatkan semua ini?" "Mamah nggak perlu tahu. Julian hanya perlu kejelasan." "Apa yang perlu dijelaskan lagi Julian?" "Hubungan mamah dengan pria itu, dan kenapa ada surat untuk Angel juga. Ini nggak masuk akal mah. Jelasin semuanya sama Julian sekarang!" Geram Julian meninggikan suaranya di depan Malika. Malika mengembuskan nafas panjang, ia mulai merilekskan tangannya. Menatap Julian sejenak lantas duduk di kursi. "Pria itu adalah cinta pertama mama...yang tak lain adalah... ayah Angel, anak mama." Deg! Lidah Julian merasa kelu untuk kembali bersuara, apa yang didengar barusan itu nyata. Anak? Angel adalah anak mamanya? "Maksud mama?" "Bagaimana mama bisa memiliki anak bersama pria lain, apa Angel itu adik aku?" Malika menggelengkan kepala, "bukan begitu Julian. Mama akui, mama salah. Mama melakukan kesalahan besar sebelum menikah dengan papa kamu." Mata Julian menyipit, "sebelum pernikahan? Maksud mama?" "Mama sebenarnya nggak mau ngasih tahu soal ini. Papa kamu juga sudah tahu sejak awal kalau mama memiliki anak dengan pria lain." "Ja-jadi?" "Maafkan mama Julian. Mama tahu, mama salah. Alasan kenapa Angel dibawa ke sini, ini semua karena kemauan Mama. Mama ingin bertemu dengan anak mama, sayang." Julian tak bisa berkata-kata lagi. "Mama tahu hubungan kamu sama Angel bagaimana, mama juga senang kamu akrab dengan kakak kamu sendiri, mama senang Julian." "Kakak? Dia kakak aku?" Malika mengangguk. Julian tak percaya, " nggak mungkin, nggak mungkin kami ini saudara." Julian melangkah mundur. "BAGAIMANA AKU BISA MENYUKAI SAUDARAKU SENDIRI MAH?!" "Apa? Apa tadi kamu bilang?" "Aku menyukai Angel Mah." Malika tak percaya. "Itu nggak boleh, kalian itu saudara." "Tapi aku nggak menganggap Angel saudara aku mah. Ini benar-benar aneh, mama pasti bohong kan?" Julian yang merasa kesal semakin mundur ke belakang dan langsung keluar dari ruangan Malika dengan perasaan kesal. "Julian!" Belum sempat memanggil, Julian telah keluar begitu saja. Langsung saja Malika memuruskan untuk mengejar Julian yang masih tak jauh dari tempat itu. "Julian tunggu!" Julian telah keluar dari butik dan berjalan keluar dengan perasaan campur aduk. Suara Malika dari belakang tak dihiraukannya. Ia mulai melangkah menyebrangi jalan karena mobilnya berada di seberang. Ketika Julian akan menyabrang, ia tak begitu menyadari sebuah truk besar bermuatan pasir melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke arahnya. Suara klason dari sopir truk yang memperingatkan Julian tetap tak didengarnya. Sampai Malika menyadari anaknya dalam bahaya, naluri keibuannya muncul. Sesaat hampir truk itu menuju ke arahnya dengan cepat, Malika langsung mendorong Julian ke depan untuk menyelamatkannya. Bruk! Julian berhasil terlempar jauh dan tak terluka sedikipun. Namun, saat ia berbalik arah, ia mendapati mamanya tergeletak dengan darah menggenang di sepanjang jalan. "MAMA!" "MAMAA!!" To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN