Gaun pesta
Angel membuka kotak biru yang tadi diberikan salah satu pelayan untuknya, katanya dari Ray—ah cowok itu, kenapa tidak memberikan langsung padanya, kenapa harus melalui pelayan segala, gerutu Angel dalam hati.
Dandan yang cantik malam ini!
Angel tersenyum bangga. Pesta—Ray mengajaknya ke sebuah pesta.
Drttt, handphone milik Angel bergetar. Tertera di atas layar nama Leon disana. Tampaknya Leon mengiriminya sebuah pesan.
From Leon
Lo ingat Angel, hari ini lo harus datang ke pesta sama gue. Itu janji lo kemarin
Angel terperangah, ia melupakan janji dengan Leon kemarin karena telah menolong ayahnya. Tunggu...
Pesta? Leon juga mengajaknya ke pesta? Apa jangan-jangan pesta yang dimaksud adalah pesta yang sama?
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu dari luar sedikit mengejutkan Angel yang tengah melamun.
"Angel!"
Angel panik, itu pasti suara Ray. Ia langsung bangkit untuk membukakan pintu.
"Ray!"
Bukan Ray.
"Julian?!"
Julian berdiri di depan kamar Angel dengan wajah sedikit tertekuk—sedih.
"Ada apa?" Tanya Angel.
"Kamu sibuk?"
"Em, enggak kok. Ada apa?"
"Bisa temani aku sebentar?"
"Julian, kenapa wajah kamu pucet banget. Kamu sakit?" Angel langsung memegang dahi Julian dan benar, dahinya panas.
"Julian, kamu panas. Aku buatin teh hangat ya?" Saat Angel akan pergi ke dapur, tangannya tertahan oleh Julian.
"Nggak perlu Angel. Aku cuma mau kamu menemaniku sebentar!"
"Kamu yakin?"
Julian tersenyum.
***
Sementara Ray yang baru pulang langsung menuju ke kamarnya, saat melewati belakang rumah tak sengaja ia melihat Angel bersama Julian berdua.
Awalnya Ray enggan untuk mengusik mereka berdua, tapi melihat keakraban dari keduanta, timbul kecemburuan dari diri Ray. Langsung saja ia menghampiri mereka.
"Walaupun Ray itu menyebalkan setengah mati, entah kenapa setiap lihat dia. Aku seperti melihat sosok yang aku kenal sejak dulu."
Julian tersenyum. "Syukurlah kalau memang Ray bisa takluk sama cewek kaya kamu." Julian menambahkan.
Ray yang masih menguping dari belakang berhenti sejenak.
"Aku... aku menyukai Ray entah sejak kapan perasaan ini muncul. Tapi ketika bersama Ray, aku merasa tenang." Angel akhirnya berterus terang.
"Bahkan ketika Ray bilang dia masih belum bisa melupakan Mika, sahabat kecilnya itu."
Julian tersenyum menenangkan, "Angel. Mika itu masalalu Ray. Kamu juga tahukan kejadian yang merenggut nyawa Mika? Jadi untuk apa kamu ragu?"
Angel terdiam sejenak, "Aku hanya merasa Mika itu masih ada. Aku bahkan beberapa kali mimpi seorang anak kecil. Aku yakin itu Mika." Angel menambahkan.
"Kenapa masih percaya dengan mimpi, mimpi itu bunga tidur!" Suara Ray mengejutkan keduanya.
Angel dan Julian terkejut dengan kedatangan Ray yang tiba-tiba.
"Ray? Sejak kapan kamu ada di sana?"
"Sejak tadi!" Ucapnya.
"Dasar!" Ray dengam gemas mengacak-acak rambut panjang Angel.
"Ih, Ray rambut aku jadi berantakan tahu!" Geram Angel manyun.
"Biarin!" Ray semakin mengacak-acak rambutnya sambil tertawa.
"Aku kan udah bilang, aku udah bisa lupain Mika. Jadi untuk apa kamu takut?"
Julian yang sejak tadi di tengah-tengah mereka hanya tersenyum. Namun tiba-tiba pandangannya kabur. Tubuhnya limbung dan langsung jatuh ke samping, beruntung Ray dengan sigap menangkapnya.
"Julian?!" Kejur Ray dan Angel.
"Badannya panas banget Ray. Kayaknya Julian demam."
Ray langsung memanggil pak Ari untuk membantu Julian ke kamar. Angel secepatnya menelpon tante Malika soal Julian. Secepatnya Malika yang mendengar Julian sakit segera pulang.
Kedatangan Malika yang langsung menemui Julian membuat Ray yang melihat tampak iri. Malika sangat mengkhawatirkan Julian. Dibalim kasih sayang diterima Julian ada rasa rasa iri yang diterima Ray. Jujur—ia juga sangat merindukan mamanya.
Mama Lara—kapan ia akan bertemu dengan mamanya itu.
....
"Ray... Ray, kamu ngelamun?"Angel melambaikan tangan di depan wajahnya.
Ray tersadar. "I-iyaa?"
"Dari tadi aku panggil nggak nyaut-nyaut?"
Ray kemudian duduk di ķursi sofa diikuti Angel melakukan hal yang sama dan duduk di sampingnya. "Kamu khawatir sama Julian? Dia baik-baik aja kok."
Ray menggeleng. "Bukan!"
"Lalu?"
"Aku kangen mama!"
"Tante Malika kan ada."
"Dia bukan mama aku Angel, dia itu mamanya Julian," tegasnya.
Angel tertegun diam.
"Kamu pengen ketemu sama mama kamu?"
"Sangat, aku sangat merindukannya."
Angel tersenyum kemudian menggenggam tangan Ray. "Aku akan bantu kamu buat ketemu sama mama Lara."
"Caranya?"
Angel kembali berpikir, ia lalu membisikkan sesuatu di telinga Ray.
"Kamu gila?"
"Aku akan menemanimu."
"Kamu yakin?"
Angel mengangguk yakin.
***
Malam itu pesta besar sedang dirayakan oleh keluarga Wiliam. Keluarga Raveno datang sebagai tamu termasuk Ray yang ikut di dalamnya bersama Angel. Soal Leon?
Angel tak terlalu mempedulikan, toh sama aja mereka akan bertemu di pesta bukan?
Tapi dugaan Angel yang menganggap semua baik-baik saja itu salah. Leon datang menghampiri Angel dan Ray. Tampak gaun putih dengan geraian rambut panjang Angel membuat Leon terpana.
"Lo lupa sama janji kemarin?"
"Hari ini lo cantik juga, si cantik yang bersanding dengan si anak Haram." Sengaja Leon menekan kalimat 'anak haram' yang ditujukan pada Ray.
"Leon, ini tuh pesta. Jangan membuat keributan di sini!" Ingat Angel.
"Angel, lo lupa sama janji lo kemarin?"
"Janji?" Ray menaikkan kedua alis sambil menatap Angel curiga.
Tiba-tiba tarikan tangan Leon membuat Angel bersanding di sampingnya. "Lo jadi pasangan gue!"
"Apa-apaan lo. Angel itu cewek gue!"
"Tadi Angel udah janji bakal jadi pasangan gue di pesta ini." Leon ngotot.
"Nggak bisa gitu!" Ray menarik lagi tangan Angel dari cengkraman Leon.
"Nggak usah sok klaim Angel bakal mau jadi pasangan lo. Dia milik gue!"
Angel yang sejak tadi jadi rebutan tampak kesal. "Udah-udah, aku nggk mau ada keributan di sini."
...
Julian yang tengah tertidur di ranjangnya tak sengaja mendengar pembicaraan Malika yang tengah menelpon seseorang.
"Maafkan aku Ardiandra!"
"Ardiandra?" Julian yang mendengar mamanya menyebut nama orang lain yang dari balik telepon membuatnya curiga.
"Ardiandra, siapa dia?"
Tbc