Chapter 45: Salah paham

1039 Kata
Malam itu, Ray kembali tak bisa tidur. Ucapan Leon telah mengusik pikirannya, tentang siapa Angel, tentang Mika. Apa benar yang dikatakan Leon soal Mika, apa Mika masih hidup? Tapi itu mustahil. Sudah hampir 7 tahun berlalu, sangat tidak mungkin kecelakaan pesawat itu menyelamatkan nyawanya. Mika, Ray kembali mengucapkan kalimat itu, setiap malam Mika akan hadir di mimpinya dengan senyum manis. Mika selalu mengatakan 'aku di sini Ray... aku di sini' —kalimat yang selalu membuatnya tenang kalau Mika memang selalu ada di sampingnya. Lagipula, jasad Mika juga tak pernah ketemu sampai sekarang, polisi terpaksa menutup kasus kecelakaan 10 tahun silam dengan semua korban tak bisa selamat. Ray kembali mengembuskan nafas panjang, ia bangkit dari tidurnya dan berjalan ke arah laci untuk mengambil kotak musik. Seketika bayangan Mika kembali hadir. Swinggg Hembusan nafas menyeruak melewati bulu kuduk Ray, membuatnya terperangah. Ray merasakan hadirnya Mika yang barusaja lewat. "Mika!" Ray memanggilnya. Huhuhuhu... kali ini Ray mendengar suara anak kecil yang menangis. Ia mencari sumber suara itu. Langkahnya terhenti saat melihat sesosok bayangan anak kecil berpakaian putih tengah menangis di pojokan. Anak itu memeluk kedua lututnya sambil terisak. "Mika!" Ray mendekati anak itu tanpa sadar air matanya menetes. Anak itu masih menangis, semakin terisak. "Mika!" "Mika!" "MIKAAAA!" Ray terbangun dengan keringat bercucuran—mimpi, barusan rupanya hanya mimpi. d**a Ray kembang kempis, ia tak percaya dengan mimpi yang barusan dialaminya. Sangat nyata. Ray melihat Mika yang menangis lagi. Ray bangun dari tidurnya, dan membuka jendela kamarnya. Tak disangka, pandangannya tertuju pada Angel yang duduk di tepian kolam renang seorang diri. "Angel!" Segera, tanpa pikir panjang Ray langsung turun ke bawah menemuinya. Benar saja—Angel duduk disana seorang diri. Dinginnya malam tak membuat Angel bergerak dari tempat itu, pandangannya lurus seperti menyimpan suatu kesedihan. Angel juga tak menyadari kalau ada Ray di belakangnya. Sampai ia menyadari sesuatu yang hangat menyentuh bahunya—sebuah jaket. "Udara malam nggak bagus, kamu bisa kena masuk angin." "Ray? Kok kamu belum tidur?" Angel terkejut menyadari Ray kini duduk di sampingnya dan mnyampirkan jaket tadi. "Harusnya aku yang nanya, kenapa kamu belum tidur?" "Emm, aku nggak bisa tidur." "Mimpi buruk lagi?" Angel mengangguk pelan. "Kemarilah!" Isyarat Ray pada Angel untuk mendekat. "Buat apa?" Tanpa aba-aba, Ray langsung menarik tubuh Angel untuk mendekat. "Aku bilang kemari!" "Tidurlah sekarang!" Perintah Ray pada Angel untuk bersandar ke bahunya. Angel hanya bisa menurut, keduanya saling berpelukan dengan Ray merangkul tubuh Angel untuk semakin mendekapnya. "Ray!" Lirih Angel pelan. "Hemm?" "Apa kamu juga mengalami mimpi buruk?" "Sedikit, tapi aku baik-baik saja." "Aku hanya sedikit takut, Ray." "Aku ada di sini!" Ucapan Ray sedikit membuat Angel tenang, ia memejamkan mata perlahan. Tanpa disadari, Ray kembali diperlihatkan seorang anak kecil berpakaian putih berdiri di depannya. "Mika!" Sesaat setelah menyebutkan nama itu, Angel kembali bangun. "Mika?" ulang Angel. Ia celingukan mencari sesuatu di sekitarnya. "Ada apa Ray?" "Nggak ada apa-apa." Anak kecil itu menghilang entah kemana. * Di sekolah Angel tengah musik berlatih anak-anak yang lain. Tampak Angek tak begitu bersemangat hari ini. Beberapa kali ia tak fokus dan melakukan kesalahan. Sudah 3 kali mereka mengulang. Shila yang mendengarnya pun merasa kesal sendiri.  "Ngel fokus dong!" "Kita ulangi lagi!" Tiba-tiba saat mereka akan kembali memulai, Leon yang entah dari mana masuk ke dalam studio. "Yoooo!" Dengan sikap sok akrabnya, ia mendekati Angel. Shila yang sinis dengan kedatangan Leon mendekatinya. "Jangan ganggu kita, kita ini lagi latihan." Leon malah tertawa, "gini doang latihan kalian?" "Nggak usah ikut campur!" Brian turun tangan. "Ada apa Leon?" Angel akhirnya bersuara. Leon langsung menarik tubuh Angel mendekat, sontak teman-temannya terkejut.  "Gue mau pinjem Angel bentar!" Shila dan yang lain masih syok, apa maksud Leon meminjam Angel, mereka baru latihan. "Angel ikut gue!" "Kemana?" 'Udah, ikut aja!" Dengan sedikit paksaan, Leon berhasil menarik tangan Angel untuk keluar dari ruang studio meninggalkan teman-temannya. "Apa-apaan sih tuh anak!" Kesal Brian. "Kalian ngerasa nggak sih, kalau sikap Leon ke Angel itu agak aneh?" "Ya iyalah, seenaknya ngambil Angel." Brian menambahkan. "Bukan itu Brian, lo nggk lihat tadi? Angel nggak berontak," lanjut Shila. "Jangan-jangan mereka ada hubungan?" Plak, satu tamparan mengenai pipi Brian cukup keras, membuat ia meringis kesakitan. "Shila sakit!" "Sembarangan kalau ngomong." "Tapi emang bener kan? Kenapa Leon tiba-tiba narik Angel gitu aja?" Dave curiga. .... Tarikan Leon membuat Angel kesal, bayangkan saja Leon menariknya di sepanjang koridor kelas dengan sedikit paksaan. "Leon lepasin!" Angel berontak dan langsung melepas tangan Leon. "Mau apa sih lo?" Kesalnya. Dari kejauhan, Ray dan Max yang berjalan tak sengaja melihat kedua. Awalnya Ray tak langsung menghampirinya, ia ingin melihat apa yang keduanya lakukan. "Ray, itukan Angel sama Leon?" Ucap Max. Ray masih mengamati keduanya dari jauh. Ray melihat leon memberikan sesuatu pada Angel dan membisikinya sesuatu. Entah apa yang mereka bicarakan, Ray yang semakin panas tak tahan dan langsung menghampiri mereka. Satu tarikan yang dilakukan Ray cukup membuat Angel terkejut dengan kedatangannya. Beruntung mereka saat ini tak banyak yang melihat keduanya. "Ngapain lo gangguin Angel?" Sinis Ray yang kini berhadapan dengan Leon. "Gue? Gangguin dia?" Leon tertawa singkat. "Gue—" belum sempat Leon menjelaskan, satu pukulan berhasil diterimanya cukup keras hingga membuat Leon tersungkur ke lantai. "Ray udah!" "Gue peringatin sama lo, Leon. Jangan pernah gangguin Angel!" Ancam Ray. "Kalau sampai gue lihat lo ganggu Angel. Gue nggak segan-segan buat lo masuk tumah sakit kaya dulu!" Ck, Leon berdecak kesal Tarikan Ray cukup kuat membawanya menjauh dari Leon. Sementara itu,Leon semakin mengepal tangannya kesal pada Angel. Namun kemudian pandangannya berubah jadi senyuman. "Lo lihat aja Ray, kejutan apa yanf bakal gue tunjukin sama lo nanti!" *** Brak, Ray mendorong Angel tepat di belakang tembok dengan posisi menopak kedua tangannya di belakang kepala Angel. Tatapan Ray begitu tajam padanya sampai membuat Angel ciut hanya untuk menatap wajahnya. "Aku udah bilang kan, jangan deketin Leon. Kamu nggak tahu dia siapa?" "Iya, maaf" Suara Angel lirih. Ray mengembuskan nafas panjang, ia tak mungkin marah-marah sekarang. "Sekarang aku tanya, ada urusan apa sama Leon tadi?" "Enggak kok, nggak ada apa-apa." Percuma saja, Ray dapat melihat kebohongan dari mata Angel. "Jangan bohong!" "Beneran nggak ada apa-apa Ray." Angel tersenyum berusaha meyakinkannya. Ray semakin intens menatap mata Angel. "Kamu jangan bohong sama aku." Wajah keduanya bertemu sangat dekat saat Ray mencondongkan kepala sejajar dengan kepala Angel. Cup, satu kecupan diberikan Angel di pipi kanan Ray singkat. Sontak saja tindakan Angel membuat Ray kaget tak percaya kalau Angel akan menciumnya lebih dulu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN