Chapter 44: Queen

1039 Kata
Hari itu, tak seperti biasanya Julian rela mengantar Queen sampai rumahnya. Sementara si gadis begitu sangat senang diantar olehnya. "Makasih my prince!" Queen dengan gaya malu-malu. "Yaudah, gue mau pulang!" "Lho kok pulang?" Queen sedikit tak rela. Ia menarik tangan Julian dengan tatapan memohon. "Jangan pulang dulu, mau masuk ke dalam? Mama pasti seneng banget kamu datang." Julian menatap gadis itu jengah, berusaha menolaknya percuma, gadis itu pasti akan menahannya dengan cara lain. "Plis Julian!" Queen dengan mata berkaca-kaca. "Bailklah, tapi sebentar saja. Gue harus segera pulang." "Tentu!" Queen dengan girangnya menarik Julian untuk masuk ke dalam rumahnya. Julian, walau ia sering mengantar Queen bahkan kedekatan mereka sudah terjalin saat mereka masih duduk di bangku SMP. Saat itu, Queen bukanlah gadis centil dengan segala popularitasnya, bahkan bisa dibilang ia terlihat cupu saat masih SMP. Pertemuan dengan Julian lah yang membuatnya berubah. Queen telah menyukai Julian. Laki-laki dengan senyum yang begitu ramah dengan sikap layaknya seorang malaikat telah menolongnya, mengulurkan tangan dan membantunya saat ia mendapatkan bullyan di sekolah. Gadis cupu berkacamata, dengan kepang miring—itulah gambaran Queen saat itu. Tak ada yang menyangka kalau masa lalunya tak seindah yang dibayangkan. Namun sekaranh, kata cupu tak berlaku lagi padanya. Hinaan yang diterimanya dibayar dengan perubahan  layaknya putri yang haus akan popularitas, bahkan sikapnya dibilang 180% dari yang dulu. Queen telah berubah, dia bukan gadis cengeng yang menangis di pojokan toilet cewek dengan rambut acak-acakan. Julian—telah merubahnya, merubah segala yang dulu dibenci Queen menjadi sesuatu yang sangat dicintai gadis itu. Hanya saja—sikap Queen ikut berubah. "Taraaa, aku buatin kue buatan aku sendiri lho. Cobain!" Queen terlihat antusias dan duduk di depan Julian setelah menghidangkan sepotong kue bolu buatannya. Julian mengambil sendok kecil yang telah disediakan, sambil masih dilihat Queen, laki-laki itu tampak canggung saat memakan satu suapan. "Gimana?" Queen menunggu respon. Julian mengunyah kue itu pelan, lalu meletakkan sendok itu lagi. "Enak kan?" Lanjut Queen lagi. Belum ada jawaban, Julian masih mengunyah kemudian menelannya. "Iya, enak kok!" Jawaban Julian tentu membuat Queen kegirangan. Melihat tingkah Queen yang begitu gembira membuat Julian tertawa kecil. * "Ayah!" Satu panggilan Angel saat melihat ayahnya duduk sofa bersama Romi. Sesaat setelah mendengar panggilan itu. Ardiandra menoleh, ia terkejut melihat anaknya Angel tepat di depan matanya. "Angel!" Pelukan anak-ayah itu cukup haru dengan disaksikan dua orang yang ikut bahagia melihat keduanya akhirnya bertemu. "Angel kangen banget sama Ayah!" "Ayah juga kangen sama kamu Angel." Setelah melepas kerinduan, Angel melonggarkan pelukannya. "Ayah kemana aja?" Tanyanya kemudian. "Maafin Ayah Angel." "Aku pikir Ayah kenapa-napa." Ardiandra tersenyum sambil menyentuh pipi putrinya lembut. "Ayah baik-baik saja." "Kenapa Ayah nggak ngabarin Angel?" Angel sedikit cemberut. Ardiandra terdiam,"ceritanya panjang, Ayah dibawa pergi oleh seseorang, tapi beruntung Ayah bisa melarikan diri dan akhirnya bertemu dengan mereka berdua yang membantu Ayah." Ardiandra menunjuk Romi dan Leon. "Leon?" Angel masih tak percaya kalau Leon menolong ayahnya. "Benar sayang, dia temen sekolah kamu." Angel tak mengira kalau apa yang ia pikirkan tentang Leon selama ini salah. Laki-laki ìtu tak seburuk yang ia kira. Nyatanya, Leonlah yang berhasil menemukan Ayahnya. .... "Leon!" Angel berjalan mendekati Leon yang berdiri membelakanginya. Merasa terpanggil, laki-laki itu memutar tubuhnya ke belakang. "Angel!" Gadis itu mendekat dengan sedikit malu-malu. "Gue mau bicara." "Silakan!" Balas Leon santai. Angel masih ragu bagaimana ia mengatakan pada Leon sekarang. "Aku—" Angel menggantungkan kalimatnya. Belum selesai ia berbicara, Leon malah mendekatinya. Ia langsung menyentuh kepala Angel sambil menyeringai menundukkan wajah dan mensejajarkan kepala pada gadis itu. "Sama-sama!" Seperti sudah mengetahui apa yang akan diucapkan Angel padanya, laki-laki itu telah tau jawabannya. "Eh? Tapi gue belum selesai bicara." Leon terkekeh, "gue tau lo mau bilang apa sama gue. "Terima kasih" bukan?" Tak bisa dipungkiri memang kalimat itu yang akan diucapkan Angel padanya. "Tapi—" Belum selesai bicara, Leon kembali menyeringai seperti ingin mengatakan maksud lain. "Di dunia ini nggak ada yang gratis." "Lo mau meras gue?" Hilang respect Angel saat mendengar permintaan Leon. "Ya udah kalau nggak mau." "Ehh, tunggu!" Angel menahannya. "Lo mau minta apa sama gue?" Leon berpikir sejenak, kemudian menyeringai kembali, "Temenin gue makan malam, gimana?" "Makan doang?" Angel memastikan ucapannya. Leon mengangguk, "iya, makan." "Oke, gue setuju." "Makan malam di pesta keluarga Wiliam, itu artinya lo harus jadi pasangan gue." Angel kaget, "pa-pasangan lo?" "Itu nggak sulit bukan? Lo bilang ini cuma makan malam." Angel menatap Leon dengan sedikit kesal, laki-laki itu memang memiliki segala tipu daya untuk menjebaknya. "Baik, gue mau." Leon menatap Angel puas. "Tapi lo harus ingat, gue cuma makan malam doang, nggak lebih." "Setuju, besok malam gue akan kirimkan gaun buat lo." "Nggak perlu, gue udah punya gaun sendiri. Nggak usah repot-repot." "Oh, oke. Tapi lo harus ingat. Pesta keluarga Wiliam itu sangat penting. Jangan buat kesalahan." "Lo ngeremehin gue di pesta, gue udah pernah sebelumnya di pesta, jadi lo nggk perlu takut gue ngelakuin kesalahan. Gue lakuin ini karena rasa terima kasih gue sama lo." "Okee, tapi pesta keluarga Wiliam, bukanlah pesta sembarangan Angel. Lo nggak akan tahu apa yang terjadi besok Angel." Setelah perdebatan keduanya, Leon memilih pergi meninggalkannya. Angel yang masih terdiam di tempat tak begitu paham maksud dari ucapan Leon yang terakhir. Malam itu, Angel terpaksa diantar Leon kembali ke rumah keluarga Raveno. Untuk sementara Ayahnya akan tinggal di tempat Leon untuk sementara. Kedatangan Angel yang diantar Leon tentu membuat Ray yang sudah menunggu dari siang tadi merasa kesal, bahkan pesan dan telepon darinya dihiraukan. Dan ketika Angel sudah masuk ke rumah, tak disangka Ray telah menunggunya sejak tadi di ruang tamu. "Dari mana saja?" Angel menghentikan langkahnya, menatap Leon dari kejauhan yang berjalan mendekatinya. "A-aku dari..." Langkah Ray semakin dekat. "Kenapa jam segini baru pulang?" "Tadi ada pelajaran tambahan di sekolah Ray." "Sampai semalam ini?" Ray curiga. Angel pura-pura menguap, "huaa, aku ngantuk Ray, mau tidur. Besok aja ya cerita." "Angel!" Langkah Angel kembali terhenti saat dipanggil, kali ini ia memilih memunggungi Ray. "Besok ada pesta, kamu temeni aku ya?" Angel menoleh, "pesta?" "Pesta keluarga Wiliam, aku mau kamu temani aku." "A-aku..." Angel merutuki kebodohannya. Kenapa ia baru sadar pesta untuk besok itu. Keluarga Wiliam dan keluarga Raveno cukup dekat, jadi dipastikan ketika ada pesta, keluarga mereka pasti akan bertemu. "T-tapi—" "Aku sudah siapin gaun buat kamu, besok kamu pakai ya." Angel terpaksa mengangguk dengan gerumun di kepalanya. Bagaimana ini, Leon juga mengajaknya bukan? Dan sekarang Ray juga mengajaknya. Untuk siapa dia pergi besok? Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN