Chapter 43: Pertemuan

998 Kata
SMA Galaxy. Angel dan Shila duduk bersama di kantin dan memesan makan siang. Dua siomay dan jus mangga menjadi pilihan makan siang hari ini. Saat keduanya tengah berbincang-bincang muncul Brian yang tiba-tiba duduk di depan Shila dan mengambil jatah makanan Shila seenaknya. "Brian, ini makanan gue!" Geram Shila. "Kalau lo mau makan, pesan sana!" "Ya ampun beb, akukan laper." "Emang gue pikirin!" Shila masih cemberut dengan ulah Brian tadi, hilang nafsu makannya dan membiarkan siomay yang baru ia makan setengah tak habis. Angel yang duduk di sebelah Shila hanya gedek melihat keduanya yang masih saja bertengkar setiap kali bertemu. "Brian, Ray mana?" tanya Angel. Brian mengedikkan bahunya. "Entah, dia bilang sih tadi dia mau latihan sendiri di lapangan," jawab Brian Benar saja, Ray saat ini tengah bermain basket sendiri di lapangan saat tak sedang dipakai tempatnya. Masih mengenakkan seragam, sengaja ia melipat lengan kemeja panjangnya dan melonggarkan dasi miliknya. Tampaknya Ray sedang banyak pikiran, beberapa kali bola yang ia lemparkan ke ring tak pernah berhasil masuk, selalu meleset. Hal itu dilakukannya berkali-kali. "Permainan lo payah!" Suara dari belakang menginterupsinya. Raya menoleh dan melihat Leon berjalan ke arahnya. Ray terpaksa menyudahi permainannya saat dihampiri Leon. "Mau apa lo?" "Santai aja kali, gue di sini bukan mau nyari ribut sama lo." "Terus?" Ray ketus. Ray berjalan maju melewatinya, lantas mengambil bola yang ada di lantai, ia mendribel dan langsung melempar ke ring hingga masuk. "Ray, apa lo masih belum bisa melupakan sahabat kecil lo itu?"tanya Leon tiba-tiba. "Maksud lo?" "Mika, gadis sekaligus cinta pertama lo." "Kenapa lo tanya itu." Leon menyeringai, ia lalu berbalik dan kembali menatap Ray. "Kalau ternyata Mika masih hidup, apa yang akan lo lakuin?" "Lo jangan mengada-ada Leon." "Gue bicara tentang segala kemungkinan yang ada Ray. Kalau Mika masih ada, siapa yang akan lo pilih sekarang? Angel atau Mika?" "Jangan main-main sama gue Leon, apa mau lo sekarang?" "Gue hanya pengen tahu reaksi lo kalau tahu Mika ternyata masih hidup." Cengkraman tangan yang dilakukan Ray melemah saat mendengar apa yang dikatakan Leon. Sorot mata laki-laki terlihat yakin dengan omongannya, tak ada kebohongan ataupun bualan darinya. "Jangan pernah bercanda sama gue Leon!" Ancaman Ray tak menciutkan Leon. Laki-laki itu kembali menyeringai. Setelah mengucapkan itu, Leon menepuk bahu Ray sekilas sebelum ia pergi meninggalkan Ray yang masih mematung di sana. Mungkin Ray sedikit syok dengan apa yang diucapkan tadi. *** Sementara itu, Angel yang tengah berjalan mencari keberadaan Ray dikejutkan dengan kemunculan Leon yang secara tiba-tiba di depannya saat mereka berpapasan di koridor sekolah. "Ih Leon. Ngagetin tau nggak!" Gerutu Angel kesal. "Mau ke mana?" "Bukan urusan lo!" Angel melengos pergi meninggalkan Leon yang masih menghalangi jalannya. "Angel!" Panggilnya dari belakang. Langkah Angel terhenti tanpa menoleh ke belakang. "Apa lo sedang mencari bokap lo?" Ucapnya tiba-tiba. Angel yang mendengar Ray menyebut 'ayahnya' pun membalikkan tubuhnya ke belakang. "Maksud lo?" "Gue tahu di mana sekarang bokap lo." "Leon, lo lagi nggak bercanda kan?" Angel curiga "Buat apa gue bercanda. Gue bisa bawa lo ke bokap lo kalau lo mau," tawarnya. "Lo tahu dimana ayah gue berada?" Leon mengangguk, "ayah lo diculik oleh seseorang dari keluarga kaya raya, tapi beruntung dia berhasil kabur dari mereka dan-" "Leon!" Angel memotong ucapan Leon. Sepertinya laki-laki ini berkata jujur. "Lo beneran tahu dimana ayah gue berada?" Leon mencoba menatap intens pada mata Angel yang masih mencurigai kebohongannya. "Apa menurut lo, gue bohong? Kalau lo nggak percaya ya udah." "Gue percaya!" Leon menyeringai mendengarnya. "Dimana dia sekarang? Gue mau ketemu sama Ayah, Leon." "Ssst, lo pasti akan bertemu ayah lo, dia sekarang baik-baik saja di apartemen gue. Kalau lo mau ketemu sama dia, lo bisa ik-" "Bawa gue ke sana Leon!" Pintanya. "Lo yakin?" Angel dengan polosnya mengangguk. "Oke, sepulang sekolah, lo naik motor gue, gue akan bawa lo ke ayah lo. Mengerti?" ... Sepulang sekolah. Awalnya Angel ragu harus naik ke atas motor Leon, ia mengambil helm yang diberikan Leon padanya. Setelah memakainya, Angel pun segera naik ke atas motor Leon dengan hati-hati. Beruntung suasana parkir sekolah saat ini sedikit sepi, Angel tadi juga sempat berbohong pada Ray untuk pulang bersama Shila. Akhirnya, Angel berhasil duduk di atas motornya dengan sedikit cemberut. Ini baru pertama kali ia dibonceng motor selain motor Ray. "Pegangan yang kenceng. Gue mau ngebut!" Dan benar saja, setelah mengatakan itu. Leon langsung menarik gas motor dengan sedikit mengejutkan Angel untuk berpegangan dengannya. Hampir saja Angel terperanjak menubruk punggung Leon. "Pegangan yang erat, mengerti?" Motor ninja putih Leon keluar dari gerbang depan dengan membawa Angel bersamanya. Beberapa pasang mata berhasil menangkap momen keduanya saat berboncengan. Sementara itu, Ray yang baru saja keluar dari kelas langsung bergegas menuju ke parkiran motor. Tampak dari kejauhan saat ia hendak menyalakan motornya, matanya tertuju pada Queen yang mengikuti Julian dan masuk ke mobil Julian. Saat ia akan menyalakan motor, Brian berlari dengan sedikit tergesa-gesa ke arahnya. "Ray!" Ray langsung mematikan motornya. "Untung lo belum pulang." "Ada apa?" "Gue bonceng lo ya, motor gue mogok. Barusan udah minta orang buat bawa ke bengkel." "Mana Max? Lo nggak bareng dia?" "Tau tuh anak, waktu gue butuhin malah ilang. Plis Ray," mohonnya. Ray menghela nafas panjang, "yaudah buruan." Brian girang, ia langsung naik ke motor Ray. .... "Leonnn, pelanin motornyaa!" "Hah?" Leon berpura-pura tak mendengar. "Pelanin motornya Leon." "Gue nggak dengar, lo ngomong apaan?" "PELANIN MOTORNYA, LEON!" "APA?" Angel frustasi, berkali-kali ia mengingatkan Ray namun tak digubris olehnya atau justru ini memang akal-akalan Leon yang berpura-pura tak mendengarnya. "LEON!" Angel semakin mengeratkan pegangannya saat dirasa laju motor Leon semakin cepat. Leon hanya nyengir ketika mendapat sentuhan dari kedua pinggangnya, "pegangan yang erat, gue mau ngebut!" "Apa, ngebut?!" *** Tut...tut...tut... Panggilan telepon tak dijawab, setelah mengantar Brian tadi, Ray menepikan motornya di jalan dan mengeluarkan ponselnya untuk menelpon Angel. Berkali-kali ia mencoba menghubungi gadis itu, tapi tak ada jawaban. "Kemana tuh anak?" Ray sedikit kesal. Ray kembali menelponnya. Namun percuma, panggilan tak dapat diteruskan kemudian mati. "Arghhh!" "Awas kalau pulang nanti!" Ancam Ray yang terlanjur marah. Ray kembali menghidupkan motornya dan segera pulang ke rumah. Mungkin saja Angel sudah lebih dulu sampai rumah sebelumnya. Harapnya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN