Chapter 42: Kecurigaan

934 Kata
"Saya akan mempertemukan dengan anak bapak Angel, tapi sebelumnya, apa bapak bisa memberitahu terkait Angel?" Romi yang saat ini bersama Ardiandra dan ketika Leon tak ada mencari kesempatan untuk mengulik informasi mengenai laki-laki ini. Ardiandra tampak ragu, "a-apa yang ingin kamu ketahui?" Romi lantas mengeluarkan sebuah foto seorang anak kecil yang tak lain Mika. "Anda tahu alasan kenapa banyak orang yang ingin mengejar Anda. Semua ini karena anak kecil ini. Namanya Mika, dia adalah cucu dari keluarga Wiliam." "Mika?" Spontan Ardiandra merebut foto itu dari tangan Romi dan mengamati betul foto anak itu. "Apa anda mengenal anak ini? Tolong kasih tahu saya." Romi sedikit memaksa. Ardriandra curiga kalau orang yang didepannya ini memiliki keterlibatan dengan orang yang menculiknya dulu. Ia bungkam. "Tolong beritahu saya soal anak ini. Anak ini sudah hilang sejak 10 tahun yang lalu." "Bapak, tolong. Saya bisa membantu Anda untuk terbebas dan bertemu dengan anak bapak. Saya hanya ingin mencari sebuah kebenaran." Ardiandra tetap bungkam. "Saya tidak mengenalnya. " "Bapak jangan bohong, pasti bapak tahu sesuatu tentang Mika." Emosi Romi menguar, ia semakin memaksa Ardiandra untuk mengatakan yang sejujurnya. Kejadian itu sontak dilihat Leon yang baru saja datang membawa makan malam untuk mereka di apartemen. Sikap aneh Romi membuat Leon langsung mencoba melindungi laki-laki itu. "Romi!" teriak Leon yang langsung melepas cengkraman kerah baju Ardiandra dari tangan Romi. "Lo apa-apaan sih. Ini tuh orang tua." "Leon, kamu pasti tahu siapa dia. Orang ini pasti tahu sesuatu soal Mika." "Dia itu ayahnya Angel, nggak ada sangkut pautnya sama Mika. Gue udah janji bakal bawa dia sama Angel." Romi perlahan sadar dengan apa yang dilakukannya tadi terlalu berlebihan. "Maaf, maafkan saya tadi. Saya terlalu emosional." "Gue tahu lo kehilangan Mika, tapi bukan gini caranya. Bapak ini harus kita selamatkan," ucap Leon. "Bapak nggak papa kan?" Tanya Leon lagi Ardiandra manggut, ia masih sedikit takut. "Jangan takut, kami bukan orang jahat. Alasan kenapa Romi tadi menanyakan soal Anak kecil dalam foto itu karena anak anda Angel terlibat dalam masalah ini." "Angel? Kenapa Angel terlibat, bukan Angel pelakunya. Anak itu bukan Angel, anak itu hanya saya temukan waktu di pantai 10 tahun yang lalu." Deg! Ardiandra kelepasan bicara. Spontan saja mata Romi dan Leon menajam menatap laki-laki itu. "Apa maksud bapak?" Romi maju ke depan, "bapak mengenal anak ini?" Romi kembali memperlihatkan foto Mika di depannya. Ardiandra mengangguk. "Di mana dia sekarang? Apa dia masih hidup? Bapak tolong kasih tahu saya!" Romi bersikukuh. "Anak itu masih hidup... di dalam identitas anak saya-—Angel!" Sepuluh tahun yang lalu.  " Mulai sekarang ayah akan memberi nama kamu Angel." "Tapikan itu nama Kak Angel. Kalau nanti Kak Angel marah gimana?" "Kak Angel nggak akan marah. Ayah akan menjaga kamu seperti anak ayah sendiri." Gadis kecil itu lantas memeluk ayahnya. "Ayah, sebenarnya siapa nama aku?" Ardiandra menggelengkan kepala. "Mulai sekarang ayah akan memanggilmu Angel." Gadis kecil itu mengangguk dengan polosnya. "Ayah, apa orang yang sudah mati akan pergi ke surga?" Tanyanya lagi. "Tentu, dia akan dibawa malaikat ke surga dan hidup bahagia di sana selamanya." "Jadi Kak Angel sekarang bahagia?" "Iya sayang, Kak Angel sudah bahagia di sana." "Apa aku bisa menyusul Kak Angel nanti?" "Tidak sayang, kamu akan bersama Ayah di sini." "Tapi aku mau ketemu sama Kak Angel!" Ardiandra hanya memeluk anak itu yang masih polosnya membicarakan kematian. Di depan mereka telah ada batu nisan tempat Angel sekarang berada. *** Di rumah kediaman Raveno Malika berjalan barusaja pulang dari tempat kerjaannya, ia berjalan masuk ke dalam rumah. Saat ia melewati kamar Angel, ia berhenti sejenak dan mulai memutar arah menuju pintu kamar Angel yang terbuka sedikit. Malika mengendap-endap masuk ke dalam. Hal itu diketahui Julian yang tak sengaja lewat dan melihat mamanya masuk ke kamar Angel. "Mama ngapain masuk kamar Angel?" Malika masuk ke dalam dan melihat Angel yang tengah tertidur di ranjangnya. Tampaknya Angel telah terlelap dalam tidurnya dan lupa untuk mengunci pintunya tadi. Malika lantas duduk di tepian ranjang dan menyentuh rambut Angel tanpa membangunkannya. Ia tersenyum. "Angel!" "Maafkan Mama sayang! Mama nggak bisa jagain kamu selama ini, mama bukan orang tua yang baik untuk kamu sayang!" "Tapi mama senang kamu bisa ada di sini, mama janji akan jagain kamu sekarang." Malika mengecup pucuk kepala Angel dengan lembut sebelum ia meninggalkan Angel yang masih terlelap di tempat tidur. Saat Malika keluar, ia dikejutkan dengan kehadiran Julian yang sudah bersandar di dinding kamar Angel sambil menatap tajam mamanya. "Julian?" "Mama ngapain masuk ke kamar Angel?" Malika tampak gugup.  Sepertinya Julian sejak tadi mengamati keduanya. "Kamu nggak tidur sayang? Ini sudah malam." "Jawab dulu pertanyaanku Ma, ngapain di kamar Angel?" Julian semakin curiga "Bukan apa-apa Julian..." "Mama nyembunyiin sesuatu?"semakin Julian menaruh curiga. "Nyembunyiin apa, kamu ada-ada aja." "Soalnya sejak Mama pulang, sikap Mama jadi aneh sama Angel. Mama seperti sangat mengenal Angel." "Mama memang mengenal Angel, Julian!" Julian memincingkan mata, semakin penasaran. "Mengenal Angel?" Malika tersadar ia kelepasan bicara di depan anaknya. Tentang siapa Angel dan masa lalunya. "Memang siapa Angel?" "Dia, dia anak teman mama." Julian tak percaya, "beneran?" "Julian, kenapa kamu jadi nyurigain mama sih." "Ya habis sikap mama sama Angel itu beda banget. Temen cewek Julian yang main ke rumah sini aja. Mama bersikap biasa, tapi saat bertemu Angel, sikap mama beda banget." "Julian, itu hanya perasaan kamu saja sayang, mama bersikap biasa sama seperti teman-teman yang kamu ajak kesini." "Tapi tidak dengan Angel Ma. Sikap Mama itu berbeda, Julian tahu sendiri." "Apa mama punya hubungan sama Angel sebelumnya?" "Mama capek Julian. Mama mau istirahat, kamu juga harus istirahat ya!" Pinta Malika. Selepas Malika pergi, Julian yang masih berdiri di sana tetap mencurigai akan hubungan mamanya dengan Angel. "Kalau mama nggak cerita, biar Julian yang akan cari tahu sendiri. Siapa Angel sebenarnya." 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN