Chapter 41: Ingatan itu

1059 Kata
"Kamu jahat Angel, kamu mengambil Ray dari aku. Kamu jahat Angel!" Angel hanya menggelengkan kepala saat dihadapkan sesosok Mika di depannya dengan raut wajah marah. "Kamu mengambil Ray dari aku!" Angel merusaha menutup telinganya. "Enggak, aku nggak ngambil Ray..." "Kamu jahat Angel." "Kamu jahat!" "Angel!" "Enggak Mika, hentikan!" "Mikaaa!" Deg! Peluh keringat membasahi dahi Angel yang terbangun dari mimpi buruknya. Dadanya kembali sesak. Mika Kenapa gadis kecil itu muncul lagi di mimpinya, apa Mika sekarang marah karena merebut Ray. Angel memegang dadanya yang masih kembang kempis kehabisan nafas, tiba-tiba tangannya menyentuh sesuatu di lehernya-sebuah kalung kunci. Angel menyadari sesuatu, kalung ini adalah kalung yang diberikan kakaknya waktu ia masih kecil. Angel juga berjanji akan menjaga kalung ini. Angel lalu pergi menuju ke dapur untuk mengambil segelas air putih, saat melewati ruang tengah, Angel tak sengaja bertemu dengan Malika yang sedang duduk sendirian sambil memandang sebuah foto anak kecil. "Wah, cantik sekali Tante. Itu siapa?" Suara Angel mengejutkan Malika yang tengah duduk santai. "Angel? Kok kamu belum tidur sayang?" "Tadi Angel kebangun karena mimpi buruk, terus Angel ke dapur buat ambil minum. Itu foto siapa Tante, cantik banget." Malika menyuruh Angel untuk duduk di sofa sebelahnya, lantas menunjukkan sebuah foto anak kecil. "Ini foto anak Tante, kaka Julian." "Anak Tante? Kok Julian nggak pernah cerita, apa dia ada di luar negeri?" "Tidak Angel." Malika mengusap-usap foto itu sambil tersenyum. "Kami sudah lama tidak bertemu." "Memang kenapa Tante?" "Karena Tante nggak bisa bertemu dengannya, oma pasti melarang." "Apa sama seperti Ray yang nggak bisa bertemu mamanya?" Angel teringat saat Ray menceritakan mamanya. "Ray?" Angel mengangguk, " Ray bilang dia ingin sekali bertemu mamanya, Angel pikir dulu Tante itu mamanya Ray juga." "Ray cerita banyak sama kamu sayang?" Ray kembali mengangguk." Dia selalu cerita sama aku Tante. Apapun itu, Julian juga." Malika ikut senang mendengarnya, "Tante lihat kamu juga sangat dekat dengan Julian." "Julian itu sangat baik, dia itu orang pertama yang bersikap manis waktu Angel datang ke rumah ini." "Syukurlah Julian memperlakukan kamu dengan baik." "Oh ya Tante siapa nama anak itu?" "Namanya ?? Namanya Ang-" "Mama belum tidur?" Keduanya dikejutkan dengan kedatangan Julian yang tak sengaja lewat dan mendapati Angel dan Mamanya berada di ruang tengah. "Julian?" Spontan Malika langsung menyembunyikan foto di tengah-tengah buku. "Mama sama Angel ngapain di sini?" tanyanya "Ini, Tante Malika barusan lihat foto anak-" "Kami hanya cerita biasa kok, iyakan Angel?" Malika langsung merangkul bahu Angel dengan sedikit mengisyaratkan tangannya agar Angel tak memberitahu Julian soal foto anak kecil itu. "Foto?" Julian sempat curiga. "Foto siapa?" "Foto kamu waktu kecil, Mama kasih tahu Angel." "Mamah, kenapa kasih tau Angel?" Julian tampak malu. Angel hanya tertawa kecil. "Angel juga ingin lihat foto masa kecil kamu sayang." "Julian malu tahu!" Julian cemberut. "Kenapa malu? Waktu kecil kamu lucu tau, iyakan Tante?" "Oh ya Angel, waktu duduk di bangku SD, Julian pernah ngompol di celana lho," beber Malika yang langsung ditertawakan Angel saat itu juga. "Mamah, jangan cerita aku yang aneh-aneh dong. Nanti Angel mikir apa sama aku." Angel menahan tawanya, tak disangka, pandangannya tertuju pada Ray yang melihat dari kejauhan. "Ray!" Sontak tawa mereka berhenti. Julian menoleh ke belakang dan melihat Ray justru pergi menjauh. "Sebentar ya Tante, Julian!" Angel langsung mengejar kemana Ray pergi. Angel mengejar Ray sampai ke kamarnya, namun belum sempat ia memanggil namanya, Ray telah menutup pintu kamar rapat. "Ray!" Panggil Angel dari luar. Ia mengetuk pintu kamar Ray. "Ray!" "Ray, buka pintunya-" Tiba-tiba pintu terbuka sebelum Angel mengetuk pintunya kembali. "Apa?" Ketusnya. Angel tampak canggung. "Aa, nggk papa. Yaudah aku balik ke kamar!" Kecanggungan Angel membuat dia lupa ingin mengatakan apa pada Ray. Namun saat kaki Angel melangkah menjauh, tangannya spontan ditahan Ray dari belakang. "Mau bilang apa?" Angel menggelengkan kepala. "Angel, mau menemaniku sebentar?" Pintanya. "Angel!" Bersamaan Julian muncul dan memanggil namanya. Angel menoleh ke bekalang. Sorot mata kedua laki-laki itu bertemu. Tangan Angel sedikit sakit saat Ray mengeratkan cengkraman tangannya. Ia kembali menoleh ke arah Ray dan Julian bergantian. Julian datang mendekat. "Udah malam, kamu belum tidur?" "Iya ini mau tidur kok!" Ucapnya Mata Julian dapat melihat Ray mencengkran tangan Angel erat dan terlihat Angel sedikit kesakitan. "Ray lepasin tangan Angel!" Bukanya melepaskan kini Ray menarik Angel di belakang tubuhnya. "Apa urusanmu?" "Lo menyakitinya. Bukan begini memperlakukan seorang perempuan Ray." "Urusan Angel itu urusan gue. Gue juga nggak nyakitin dia kok." Angel yang merasa atmosfir yang diterima dari kedua saudara itu yang masih bermusuhan, ia langsung menengahi mereka. "Ray, Julian udah. Aku nggak mau ada keributan tengah malam begini." "Kita nggak ribut kok Ngel." Ray berdecak, "mendingan lo balik ke kamar dan nggak usah ikut campur urusan gue sama Angel." "Angel, bisa bicara sebentar?" "Eh, gue yang ada perlu sama Angel duluan." Ray menolak. "Tadi Mamah nunjukin foto siapa?" Julian tak menggubris larangan Ray. Angel bungkam. "Angel, itu foto anak kecil kan?" Sekilas sebelum Julian menghampiri mamanya, ia tak sengaja melihat foto yang dipegang mamanya-foto anak perempuan. "B-bukan siapa-siapa kok." "Angel, plis kasih tahu aku." Ray yang tak tau menahu hanya memandang dengan kebingungan. "Siapa yang kalian bicarain?" "Foto anak kecil?" "I-itu..." Angel ragu. "Yang pasti itu bukan Angel. Lo gimana sih, kalau lo pengen tahu, tanya sama mamah, jangan sama Angel." Ray menyela. "Ayo Angel!" Ray langsung menarik paksa Angel dan pergi meninggalkan Julian yang masih berdiri di sana. *** "Ray!" Tarikan Ray terhenti saat keduanya kini sudah berada di belakang rumah tepatnya di dekat kolam renang. "Ray, udah malam." Ray menoleh menghadap ke arah Angel, kedua tangannya menyentuh bahu Angel-menatapnya intens. Kedua sorot mata mereka bertemu, Ray masih terpaku dengan tatapan mata mereka sampai ketika ia menoleh pada leher Angel yang terpasang sebuah kalung berbentuk kunci. Seketika itu, tangan Ray melonggarkan sentuhannya. Angel bingung dengan sikap Ray yang aneh saat menatapnya. "Ray?" Ray seketika ingat ucapan Leon dulu padanya. Kayaknya emang lo belum menyadari sesuatu? " Leon menyeringai. "Siapa Angel sebenarnya! " "Ray?!" Panggil Angel kembali Ray tersadar dari lamunannya, ia tampak canggung sekarang. "Kamu kenapa?" "Enggak kok, nggak papa." *** "Bukan gue yang bawa Angel tapi Romi, orang kepercayaan keluarga William. Dan lo pasti tahu kenapa kakek Willy sepertinya tertarik sama Angel." Satu persatu kejadian yang menyangkut Angel tiba-tiba muncul dalam ingatannya. Sikap Angel, perilaku Angel dan bahkan kebiasaan yang dilakukan Angel selalu mengingatkan akan seseorang. "Nggak mungkin." "Angel nggak mungkin memiliki sangkit paut sama Mika. Tapi—" Ray mulai ragu. "Kenapa Angel memiliki kalung yang pernah gue kasih sama Mika dulu? Apa jangan-jangan, Angel kenal sama Mika?" 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN