Chapter 40: Perasaan aneh Angel

1137 Kata
"Apa ini anak bapak yang bernama Angel?" Leon mengeluarkan sebuah foto Angel di depan Ardiandra. Sontak saja laki-laki terkejut. "Angel!" Langsung saja foto itu dirampas. "Dia anakku, kenapa kalian bisa memiliki foto Angel?" Leon dan Romi saling berpandangan. "Kami mengenalnya, Angel adalah teman saya!" Ucap Leon. "Teman? Apa kalian yang bernama Ray dan Julian?" Kenapa bapak itu justru menyebut nama Ray dan Julian, apa hubungannya dengan kedua orang itu. Leon mengernyit, "Ray dan Julian?" "Syukurlah kalau itu memang kalian, saya yakin Angel akan baik-baik saja." Romi mengelak, "bapak, kami bukan Ray dan Julian. Saya Romi dan dia —" "Saya Leon!" "Bapak, bisa tolong ceritakan semuanya, bagaimana bapak bisa ada di sana dan kenapa ada orang yang berniat jahat sama bapak. Siapa mereka?" Lanjut Leon bertanya lagi. Tampak Ardiandra setengah percaya dengan dua orang ini. Apalagi saat tahu kalau mereka bukan dari keluarga Raveno—bisa sajakan mereka orang jahat yang akan mengancam keselamatannya dan Angel. Melihat Ardiandra yang tampak pucat dan ketakutan, Leon berusaha meyakinkan. "Bapak jangan khawatir. Kami bukan oranf jahat. Kami mengenal Angel." "Tolong bapak ceritakan semuanya!" Pinta Romi. Ardiandra sedikit ragu, namun ia dapat melihat kejujuran dari dua orang di depannya ini, tak ada kebohongan apalagi dengan niatan jahat. Ia yakin dua orang ini adalah orang baik yang memang kenal dengan anaknya—Angel. "Saya dikejar oleh seseorang. Saya ingin dibunuh oleh mereka." "Siapa orang itu pak, mungkin kami bisa membantu." Ardiandra menggeleng, ia begitu takut menjawabnya. "Mereka ingin mengambil putriku, mereka ingin mengambil Angel! Tolong selamatkan anakku Angel." Romi menarik Leon sebentar ke belakangdan berbisik, "Apa mungkin ada kaitannya sama kakek Willy?" "Jangan bercanda, nggak mungkin kakek Willy setega itu. Kalau dia memang ayah Angel mungkin saja—" ucapan Leon terpotong saat ia baru menyadari satu hal. Ayah Angel? Apa benar laki-laki ini adalah ayah kandung Angel. "Jangan-jangan Kak Yudha. Dia pasti tahu sesuatu." Romi mengangguk, rupanya keduanya satu sepemikiran. Kakaknya Yudha adalah tangan kanan Kakek Willy di keluarga William. Leon juga menyadari satu hal—percakapan dalam telepon yang dilakukan Yudha waktu itu pasti berkaitan dengan laki-laki ini. "Apa Nona Angel harus tahu semua ini?" "Kita nggak semudah itu ngasih tahu soal Angel. Kita harus pasang strategi, jangan sampai kakek tahu soal ini." Romi mengangguk. Setelah perundingan keduanya, Leon berbalik dengan wajah tersenyum di depan Ardiandra yang sedang menyantap roti di atas meja dan minuman hangat. "Bapak tenang saja, saya janji akan membawa Angel untuk bertemu dengan Anda." "Terima kasih Nak Leon. Saya berhutang banyak dengan kalian. Angel sangat beruntung memiliki banyak teman di sini." * Malam itu terlihat Ray berlatih basket di belakang rumah sendirian. Dengan hanya memakai kaos oblong hijau dan celana pendeknya, Ray terlihat sangat bersemangat. Setengah jam berlatih, Ray betistirahat sebentar dengan merebahkan diri di lantai lapangan. Nafasnya naik turun karena lelah. Dipandangi langit malam hari ini, hanya da beberapa bintang tengah bersinar. Bola yang tadi menggelinding menghampiri kaki seseorang yang baru saja datang, ia lantas mengambilnya. Tak menyadari kedatangan Angel, Ray tampak memejamkan mata seperti orang tertidur. Angel mendekat, kemudian ia berjongkok di samping Ray yang masih menutup matanya, sesekali Angel tersenyum sambil menyelipkan anak rambut ke belakang. Belum ada respon bahkan Ray benar-benar tak menyadari kehadirannya. Añgel mendekatkan wajahnya pada wajah Ray bermaksud untuk membangunkan laki-laki itu dengan tiupan di mulutnya. Namun belum sempat ia meniup, Ray langsung membuka mata dan bangkit dengan cepat menubruk wajah Angel yang berada di depannya. "Aw!" Kedua jidat mereka berbenturan. Angel meringis merasakan sakit. "Angel, ngapain kamu ke sini?" Kejut Ray. Angel meringis, rupanya rencana mengejutkan Ray gagal. "Sakit nih, kalau mau bangun bilang-bilang dong Ray," gerutu Angel kesal. Ray malah tertawa, "hei, siapa yang nyuruh di depan wajah aku?" Ray mengelak, "jangan-jangan—" Ray menarik sudut bibirnya ke samping. "Kamu mau nyium aku?" "Idih, geer. Siapa yang mau nyium. Enak aja." Angel manyun. Ray yang gemas mengacak-acak rambut Angel dengan gemas."kamu lucu." "Aku bukan pelawak tau!" Cibirnya. Ray mendekatkan tubuh Angel untuk lebih mendekat, ia juga menaruh kepala Angel agar bersandar di bahunya. "Kenapa belum tidur? Nggak bisa tidur lagi?" Angel menggeleng, "aku bisa tidur kok." "Terus kenapa nggak tidur? Ini udah malam Angel." "Kamu sendiri kenapa masih belum tidur?"  Tanyanya balik. "Aku? Aku sedang latihan. Kamu nggak liat?" "Ini sudah malam Ray, latihannya kan bisa besok lagi." "Iya iya." Kali ini Ray menurut. Posisi Angel kembali bersandar di bahu Ray." Ray!" Panggilnya lagi. "Iya?" "Boleh aku tanya sesuatu?" "Boleh, tanya apa?" "Tapi kamu janji jangan marah." "Janji." "Beneran, janji dua kelingking." Angel menunjukkan jari kelingking di depan Ray. Ray langsung menyatukan kedua jari kelingking mereka. "Iya, mau nanya apa?" "Kalau Mika kembali, apa kamu juga bakal balik lagi sama dia?" Mendengar itu membuat Ray tertawa nyaring, "kamu ngomongin apa sih? Mana mungkin Mika kembali, dia udah pergi!" "Yah aku cuma nanya aja, apa kamu bakal milih Mika terus ninggalin aku?" Ray kembali tertawa kecil."Mungkin." "Ih Ray, jadi beneran?" Angel cemberut. Ray kembali mengacak-acak rambut Angel. "Menurut kamu aku bakal pilih siapa?" "Pasti Mika, dia itukan orang yang paling berharga di hidup kamu." "Itu pasti." "Memang Mika udah ngelakuin apa sih sampai kamu suka sama dia?" "Semuanya." "Semuanya?" Angel mengulangi kalimat Ray. "Dia itu satu-satunya orang yang nerima aku  apa adanya. Saat oma, mamah sama papah nggak peduli. Mika selalu ada." "Lalu?" "Kamu kenapa tiba-tiba ngomongin dia?" Ray curiga. "Yah, aku cuma penasaran aja." Angel tampak gugup. "Angel, hampir 7 tahun aku nggak bisa lupain Mika. Bahkan di setiap mimpinya dia selalu datang dan bilang, kalau dia ada disini." Angel menyimak apa yang saat ini dibicarakan Ray intens. "Aku tahu, Mika memang di sini. Dia selalu ada di samping aku. Tapi aku sadar sesuatu, terlalu mengenang masa lalu justru membuatku menjadi sosok yang egois. " Ray tertawa, " kalau Mika masih ada pasti di bakal marahin aku." Angel masih terus menatap Ray lekat. "Tuhan memang mengambil Mika, mungkin dia lebih sayang sama Mika. Tapi ketika Tuhan mengambilnya, dia menggantinya dengan sosok malaikat." "Malaikat yang sudah merubah iblis kaya aku jadi sosok manusia." Angel diam-diam tersenyum. "Apa malaikat itu sangat berharga?" Ray mengangguk, ia menoleh pada Angel. "Sangat!" Mendengar itu, Angel semakin senang. "Mungkin aku bakal lupain Mika sekarang," ucap Ray di depan Angel. Deg! Lupain Mika? Tes Tes Tes Tanpa sadar, Angel yang mendengarnya langsung meneteskan air mata di pelupuk matanya. Dadanya perlahan sesak dipenuhi rasa kesedihan. Melupakan Mika? "Angel, kenapa kamu nangis?" Ray yang melihat Angel berlinang air mata mendadak cemas. "Hei, apa aku salah bicara?" Angel menggelengkan kepala. "Terus kenapa kamu nangis?" "Aku nggak tahu, tiba-tiba air mata ini keluar." Ray semakin panik, ia langsung mengapus air mata Angel dengan kedua jempolnya. "Jangan nangis." "Apa kamu beneran bakal lupain Mika?" Angel semakin terisak. Langsung saja, Ray memeluk Angel. "Aku bakal lupain dia, kamu jangan nangis lagi. Aku mohon. Angel!" Tangis Angel semakin menjadi, ia membalas pelukan Ray. Entah kenapa saat Ray mengucapkan kalimat itu seperti sebuah magnet tak kasat mata yang menghubungkan dirinya dengan perasaan Mika saat ini. Seakan apa yang diucapkan Ray barusan ditujukkan untuk dirinya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN