Chapter 7 : Memori

1321 Kata
Tawa itu begitu nyata. Aku ingat, saat pertama kali tawa itu menghiasi bibirnya. begitu cantik dan saat itu juga aku merasa, aku tidak sendirian, karena kamu adalah kebahagia itu. Namun Tuhan berkehendak lain. Saat tawa itu hilang. Hilang dari pandanganku, hilang dari ingatanku, Hilang karena Tuhan telah mengambil tawa itu. Tawa yang selalu menemaniku, Tawa yang yang begitu indah Tawa yang membuat aku hidup dalam kebahagiaan. Hilang... Seperti angin ... Ruang Kesehatan. Gadis ini masih terlelap dalam mimpinya. Kehangatan yang diberikan masih terasa, Pelukan tadi sangat tidak asing. Aku pernah merasakannya, dulu dan ini seperti mimpi, lalu dia memanggilku. Memanggil namaku. Aku masih ingat. Ray! Panggilan itu seperti mantra. Ini aneh, kenapa dengan perasaan ini *** Brakkk... Pintu terbuka kasar. Seorang laki-laki masuk dengan perasaan khawatir. "RAY!" teriak Julian masuk ke dalam dengan wajah cemas. "Ray, apa yang terjadi, kenapa dengan Angel?" Julian begitu sangat cemas mendapat kabar Angel pingsan. Tanpa pikir panjang ia langsung bergegas menuju ke ruang kesehatan tempat Angel dirawat. Ray menoleh ke arah Angel yang masih belum sadar. Dokter bilang ia hanya syok dan kondisinya baik-baik saja sekarang. "Dia masih hidup, lo khawatir banget, tuh liat dia lagi tidur." ketus Ray. "Syukurlah" Julian menghela nafas lega melihat Angel. "Gue denger ada segerombolan anak cewek ngejar Angel sampai ke belakang sekolah," ujar Julian. "Thanks ya, udah nolongin Angel." "Gue cuma kebetulan lewat dan denger suara orang, udah itu aja." Ray masih ketus pada Angel. "Tapi tetep aja, lo nemuin Angel, thanks Ray." Julian tersenyum sambil menepuk bahu Ray. "Ya udah gue duluan, lo jagain tuh Angel. Gue mau latihan." ketus Ray sebelum beranjak keluar dari ruang kesehatan. ❤❤❤ Ray keluar dari ruang kesehatan dengan hati berkecambuk. "Perasaan apa ini? Sangat aneh, pelukan tadi seperti pernah aku rasakan, pelukan yang sama yang pernah diberikan Mika dulu, dan saat mendobrak pintu tadi, sosok yang di depannya..." "Mika!" "Enggak ...enggak ini pasti cuma perasaan gue aja, gue hanya rindu Mika dan tiba-tiba gue ngelihat Mika ada di diri Angel. " Ray mencoba menepis semua perasaan aneh yang muncul di pikirannya. Malam harinya. Duk...duk...duk Suara pantulan bola basket di malam hari begitu terdengar jelas. Ray tengah bermain basket di belakang rumah sendirian. Keluh keringat membuat sekujur tubuhnya yang hanya berbalut kaos putih tipis dan celana pendek basah. Dari arah kain Angel yang tak sengaja lewat melihat Ray dari jauh. "Ray." Angel memincingkan kedua matanya heran. "Nggak ada kerjaan banget main basket malam-malam" pikir Angel menggelengkan kepalanya. Datang salah satu pelayan lewat membawa troly makanan menuju dapur. "Bibi tunggu !!" cegah Angel. Pelayan itu berhenti dan menoleh kearah Angel yang memanggilnya. "Iya non, ada yang bisa saya bantu?" ucap pelayan itu sambil menunduk hormat. "Emm, enggak kok, saya cuma nanya, apa yang dilakukan Ray malam-malam begini?" "Oh, Tuan memang suka latihan basket malam hari non, tuan Ray itukan kapten basket," ujar pelayan itu. "Dia? kapten basket ?" kejut Angel setengah tak percaya. "Iya Non." "Cowok tengil itu kapten basket, yang bener aja," batin Angel masih tak percaya. "Permisi non." Pelayan itupun kembali mendorong troly menuju ke dalam rumah. Dari jauh Angel diam-diam mengamatinya. "Kenapa sikapnya hari ini sangat aneh?" Pikir Angel menebak. Ray terlihat sangat kelelahan setelah berlatih lebih dari 30 menit. Ia menghentikan latihannya dan menjatuhkan diri telentang tidur di tengah lapangan sambil mengambil napas panjang. Angel pun memutuskan menghampirinya dengan membawa 2 botol air mineral dingin. "Nih, buat lo!" Mengulurkan botol air mineral padanya saat Ray mulai memejamkan mata. Ray mendongakkan wajah kearahnya dengan pandangan heran, untuk apa gadis ini muncul lagi dihadapannya. "Ngapain lo kesini?" ketus Ray seperti biasa. Angel hanya diam seakan acuh dengan penolakan Ray yang selalu kasar padanya. Hari ini Angel juga tak ingin memulai perdebatan lagi dengannya. "Gue ... gue kebetulan lewat terus ngelihat lo lagi main basket." ujar Angel sewot. "Lo belum tidur?" tanya Ray "Emmt gue nggak bisa tidur." "Nih!"Angel kembali menawarkan minuman itu dan Ray akhirnya mengambil botol itu dan langsung membukanya sekali putar, satu tegukan menyegarkan tenggorokannya yang kering. Ia memang sangat haus dari tadi. Angel mendekatinya. Ia lalu duduk disebelah sambil menyilangkan kedua kakinya mengikuti cara Ray. Ray mendelik sekilas menatap Angel acuh. "Makasih ya," ucap Angel. "Soal apa?" "Tadi siang di sekolah, makasih udah nemuin gue," ucap Angel menyunggingkan senyuman. "Gue cuma kebetulan lewat, dan tiba-tiba dengar suara orang lagi nangis, emangnya kenapa lo bisa ada di dalam, pakai acara kekunci segala, "gerutu Ray. "Gue...gue...nggak tahu, tiba-tiba pintunya kekunci," Angel menundukkan kepala sambil menggigit bibir bawahnya. Mata Angel perlahan mengeluarkan air mata. "Dia menangis lagi, entah kenapa saat melihatnya seperti ini...???" "Cukup! Gue nggak peduli lagi. Jangan liat dia Ray, jangan liat dia." "Tapi kalau lo nggak datang tadi...mungkin sekarang gue masih di gudang itu, gelap dan menakutkan." sambung Angel masih tertunduk takut mengingat kejadian yang tadi dialaminya. "Julian khawatir sama lo." Angel mengangguk masih tertunduk di samping Ray. "Udah jangan cengeng, gitu aja nangis." Ray mendecak kesal. Angel langsung menghapus air matanya dan mulai tersenyum kembali. "Apa lo nggak nyadar kalau Julian itu suka sama lo," tanya Ray kini berbalik menatapnya. "Suka sama gue?" Angel tak percaya dan malah terkekeh geli mendengarnya. "Tadi nangis sekarang ketawa, dasar cewek aneh" batin Ray tak mengerti. "Apa itu lucu?" Angel menahan tawa sambil terkekeh geli. "Lo yang lucu," ucap Angel menahan tawa. Ray seakan tak peduli. "Cewek aneh, takdir apa gue sampai bisa ketemu sama cewek ini, tapi saat melihatnya sekarang, melihatnya tersenyum, senyuman ini, baru kali ini gue ngerasa ...." "Ray!" "Kenapa lo senyum-senyum sendiri?" Angel membuyarkan lamunan Ray hingga membuatnya tersadar kembali, dan mulai memalingkan wajah dari Angel. "Gue tersenyum? Lo pasti salah liat, siapa yang tersenyum" elak Ray memalingkan wajahnya. Jelas-jelas tadi ia melihat Ray tersenyum. Bahkan bisa dibilang ini untuk pertama kalinya melihat Ray tersenyum. "Kayaknya lo harus ke rumah sakit deh!" tukas Angel. "Rumah sakit, buat apa?" "Buat meriksain jiwa lo, kayaknya lo memang lagi banyak masalah" "Jiwa gue?" Ray menunjuk dirinya sendiri "Dan juga sikap lo," ketus Angel. "Sikap gue kenapa?" "Lo pura-pura lupa apa memang bener bener lupa, bukannya kemarin lo marah sama gue, lo bentak gue, tapi sekarang lo baik sama gue, bahkan lo nyelamatin gue!" oceh Angel panjang lebar. "Heh, lo lupa hutang 10 juta sama gue, ditambah lo mecahin kotak musik berharga gue, jadi totalnya lo hutang 20 juta sama gue!" Ray berubah menjadi Ray yang menyebalkan. "Aishhh, Ni cowok seenaknya jidat ngasih gue utang yang nggak gue sengaja, bikin kesel aja, kalau bukan karna dia anak tante malika, udah gue...argghh!!" "Kotak musik jadul itu seharga 10 juta, yang bener aja, ini tuh namanya pemerasan, lagi pula gue juga nggak sengaja," gerutu Angel tak terima. "Apa lo bilang , jadul, lo nggak tahu apa-apa soal kotak musik itu," bentak Ray kembali sifat aslinya lantas bangkit dengan kesal. "Asal lo tahu, kotak musik itu lebih berharga dari siapapun, lo ngerti!" "Eh! kotak musik kaya gitu pasti banyak lagi di toko," bantah Angel. "Berani lo ngomong sekali lagi gue sumpelin mulut lo pakai lakban!" geram Ray marah. "Dia marah, kenapa Ray begitu marah saat membicarakan kotak itu, memang seberapa berharganya kotak itu buat dia, apa kata-kata gue tadi kelewatan?" Ray mendegus kesal menatap Angel. Iapun beranjak dari tempatnya kini. "Lo mau kemana?" tanya Angel. "Bukan urusan lo!" cueknya seraya melangkah menjauh. "Aishh selalu bikin gue kesel" gerutu Angel sambil menyilangkan kedua tangan di dadanya. "Melihatnya dari jauh seakan dia tengah menyembunyikan sesuatu, gue masih nggak ngerti seberapa istimewa kotak musik itu sampai Ray sangat menjaganya," batin Angel bingung. "Cewek itu merubah mood gue, menyebalkan, dia nggak tahu apa-apa soal kotak musik itu, kotak itu sangat berharga, apa kalian pikir menjaga sesuatu yang berharga itu salah, aku hanya menjaganya, menjaga barang terakhir yang diberikan olehnya, seseorang yang sangat aku rindukan." Angel mengambil bola basket yang tadi dimainkan Ray, saat ia menyentuhnya... Flash... Bayangan aneh muncul di otaknya, kepingan puzzle tentang masa lalunya, bayangan tentang anak kecil yang tengah bermain bersama, tapi ia tak ingat siapa anak kecil itu, apakah dirinya, lalu siapa dengan anak laki-laki yang bersamanya, Apa bagian dari masa lalunya?? "Aku hitung sampai 10 ya, 1...2...3...4...5...9....10, aku buka ya?" Bayangan 2 anak bermain petak umpet di sebuah taman. "Argghhhhh!" Kepalanya terasa berdenyut-denyut saat dipaksa mengingatnya peristiwa itu. Flash... "Aku pegang kuncinya, kamu pegang kotaknya, kita akan bertemu lagi dan membuka kotak ini sama sama" "ARGHHHHH" Angel merosot ke bawah seketika sambil memegangi kepalanya yang berusaha mengingat sesuatu. Ray menghentikan langkahnya saat mendengar suara hentakan dari belakang. Ia kembali menoleh untuk memastikan. Bola matanya membulat seketika saat melihat Angel pingsan di tempat dengan bola basket yang memantul perlahan. "ANGEL?" 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN